Pembentukan Karakter Anak

1. Pengertian Karakter

Secara etimologis, kata karakter bisa bermakna tabiat, sifat sifat
kejiwaan, akhlak, atau budi pekerti yang membedakan seseorang dengan
yang lain atau watak.[1] Orang berkarakter berarti orang yang memiliki
watak, kepribadian, budi pekerti atau akhlak, dengan makna seperti
ini berarti karakter identik dengan kepribadian atau akhlak.
Kepribadian merupakan ciri-ciri karakteristik atau sifat khas dari
seseorang yang bersumber dari bentuk-bentukan yang diterima dari
lingkungan, misalnya keluarga pada masa kecil dan juga bawaan sejak
lahir.[2] Karakter sama dengan kepribadian. Kepribadian dianggap
sebagai ciri atau karakteristik atau gaya, atau sifat khas dari diri
seseorang yang bersumber dari bentukan-bentukan yang diterima dari
lingkungan, misalnya keluarga pada masa kecil juga bawaan sejak
lahir.[3] Pendapat lain mengatakan bahwa karakter ialah nilai-nilai
yang khas-baik (tahu nilai kebajikan, mau berbuat baik terhadap
lingkungan) terpatri dalam diri dan terejawantahkan dalam prilaku.[4]

Dari pendapat diatas dapat dipahami bahwa karakter sebenarnya mengacu
kepada serangkaian pengetahuan, sikap dan motivasi serta prilaku dan
kerampilan. Dengan demikan pendidikan karakter tidak sekedar
mengajarkan mana yang benar dan mana yang salah kepada anak, tetapi
lebih dari itu pendidikan karakter menanamkan kebiasaan tentang yang
baik sehingga anak paham, mampu merasakan dan mampu melakukan yang
baik. Pendidikan karakter ini membawa misi yang sama dengan pendidikan
akhlak atau pendidikan moral. Pembudayaan karakter mulia perlu
dilakukan dan terwujudnya karakter mulia merupakan tujuan akhir dari
proses pendidikan. Budaya yang baik di lembaga pendidikan, baik
sekolah, kampus maupun yang lainnya berperan penting dalam membangun
akhlak mulia di kalangan civitas akedmi dan para karyawannya.

Karakter adalah" siapakah dan apakah kamu pada saat orang lain sedang
melihat kamu. Karakter juga adalah sebuah kebiasaan yang menjadi
sifat alamiah kedua. selanjutnya karakter bukanlah reputasi atau apa
yang dipikirkan oleh orang lain terhadapmu.Demikian juga karakter
bukanlah seberapa baik kamu daripada orang lain, hakikatnya karakter
tidaklah tetap atau tidak relatif.[5].

Banyak orang tua yang masih bingung dan bertanya-tanya bagaimana cara
yang benar untuk membentuk karakter anak. Para orang tua yang
menyerahkan seluruhnya pembentukan karakter kepada guru atau
lingkungan di sekolah. Seharusnya karakter anak dibangun dari hal-hal
yang kecil yang ada di lingkungan rumah.

2. Pembelajaran Pendidikan Karakter

Dalam pembentukan karakter, pembelajaran merupakan salah satu hal
terpenting yang harus dilakukan. Dalam proses pembelajaran untuk
tujuan pembentukan karakter setiap lembaga pendidikan harus menerapkan
pembelajaran-pembelajaran yang sesuai diantaranya pembelajaran
berbasis kasih sayang, pembelajaran berbasis kebersamaan, pembelajaran
berbasis ketauhidan, pembelajaran berbasis kreativitas, dan
pembelajaran berbasis lingkungan.[6] Adapun jabaran pembelajaran
pendidikan dalam upaya pembentukan adalah sebagai berikut:

a. Pembelajaran Berbasis Kasih Sayang

Kasih sayang adalah kebutuhan jiwa yang paling pokok bagi manusia
termasuk bagi anak. Kasih sayang merupakan komponen dasar yang paling
utama dalam proses pembentukan karakter atau akhlak anak. Anak yang
kurang kasih sayang cenderung mempunyai karakter yang tidak baik.
Mendidik denan kasih saying selain diajarkan secara langsung dari
keluarga, juga dilaksanakan di sekolah. Mendidik dengan kasih sayang
merupakan usaha tersendiri bagi pendidik.

b. Pembelajaran Berbasis Kebersamaan

Pembelajaran berbasis kebersamaan merupakan strategi belajar dengan
sejumlah siswa sebagai anggota kelompok kecil yang kemampuannya
berbeda-beda, setiap anggota harus saling bekerjasama, belajar belum
dikatakan selesai jika salah satu teman dalam kelompok belum menguasai
pelajaran. Dengan menerapkan konsep pembelajaran berbasis kebersamaan
setiap anak akan mempunyai tanggung jawab tentang pentingnya
menghargai orang lain, bertanggung jawab dan memberikan kesempatan
kepada orang lain untuk berpendapat dan berkeksplorasi.

c. Pembelajaran Berbasis Ketauhidan

Makna tauhid berarti mengesakan Allah atau kuatnya kepercayaan bahwa
Allah hanya satu. Hal ini berkaitan dengan akidah yaitu apa yang
diyakini oleh anak, akidah yang benar akan menjadi landasan seseorang
untuk melakukan amal perbuatannya. Akidah yang benar akan menuntun
anak untuk berbuat yang benar dan nilai-nilai kebenaran.

d. Pembelajaran Berbasis Kemandirian

Belajar mandiri memandang siswa sebagai manajer dan pemilik tanggung
jawab dari proses pelajaran mereka sendiri. Belajar mandiri
mengintegrasikan self-management (manajemen konteks, menentukan
setting, sumber daya dan tindakan) dengan self monitoring (siswa
memonitor, mengevaluasi dan mengatur srategi belajarnya), kemandirian
sangat penting diajarkan kepada anak supaya anak saat beraktivitas
tidak bergantung dengan orang lain.[7]

e. Pembelajaran berbasis kreativitas

Kreativitas merupakan kemampuan yang mencerminkan kelancaran,
keluwesan, fleksibilitas dan orisinilitas dalam berpikir serta
kemampuan untuk berpikir serta kemampuan untuk mengelaborasi,
memperkaya, memerinci suatu gagasan. Sarana bermain adalah salah satu
cara untuk merangsang dorongan eksperimen dan eksploitasi yang penting
untuk mengembangkn kreativitas, pembelajaran ini juga bisa dilakukan
dengan bercerita karena dapat meningkatkan imajinasi dan fantasi
anak.[8]

f. Pembelajaran berbasis lingkungan

Lingkungan merupakan hal yang penting dalam proses pendidikan. Bagi
anak usia dini, lingkungan adalah tempat yang paling dominan untuk
mengembangkan segala potensi yang dimilikinya. Lingkungan berpengaruh
kepada kepribadian anak dan membentuk watak anak. Dalam upya
menanamkan pendidikan karakter sejak dini lingkungan perlu dibuat dan
dijadikan sebaga sarana pembelajran seoptimal mungkin yang pada
gilirannya anak dapat belajar mengenal diri sendiri maupun orang lain
atau bahkan masyarakat, serta lingkungan. [9]

3. Nilai-Nilai Pendidikan Karakter

Nilai-nilai pendidikan karakter harus diimplementasikan dalam
kehidupan sehari-hari dalam kehidupan anak. Pendidikan karakter lebih
menekankan kepada kebiasaan yan positif, kebiasaa-kebiasaan inilah
yang kemudian akan menjadi suatu karakter yang membekas dan tertanam
dalam jiwa anak. Berikut adalah nilai-nilai pendidikan karakter yang
dapat diimplemtasikan dalam kegiatan pembelajaran pada anak usia dini.

a. Relejius, yaitu sikap dan prilaku yang patuh dalam melaksanakan
ajaran agama yang di anutnya, toleran terhadap pelaksanaan agama lain
dan hidup rukun dengan pemeluk agama lain.

b. Jujur, yaitu prilaku yang didasarkan pada upaya menjadikan
dirinya sebgai orang yang selalu percaya dalam perkataan, tindakan dan
pekerjaannya.

c. Torelansi, yakni sikap dan tindakan untuk menghargai setiap
perbedaan, baik agama, suku, etnis, pendapat, sikap dan pendapat orang
lain.

d. Displin, tindakan yang menunjukan prilaku yang tertib dan patuh
pada berbagai ketentuan dan peraturan.

e. Kerja keras, sikap atau prilaku yang menunjukan upaya
sungguh-sungguh dalam mengatasi berbagai hambatan belajar dan tugas,
serta menyelesaikan tugas dengan sebaik-baiknya.

f. Kreatif, berpikir dan melakukan sesuatu untuk menghasilkan cara
atau hasil baru dari sesuatu yang telah dimilikinya.

g. Mandiri, yang merupakan prilaku yang tidak mudah bergantung
kepada orang lain dalam menyelesaikan tugas-tugasnya.

h. Demokratis, cara bersikap dan bertindak yang menilai sama hak
dan kewajiban dirinya dengan orang lain.

i. Rasa ingin tahu, sikap untuk selalu berupaya untuk mengetahui
lebih dalam dari sesuatu yang telah dipelajarinya.

j. Semangat kebangsaan, berwawasan kebangsaan dan menempatkan
kepentingan bangsa diatas kepentingan diri dan kelompoknya.

k. Menghargai prestasi, sikap yang mendorong dirinya untuk
menghasilkan sesuatu yang berguna bagi masyarakat.

l. Bersahabat dan komunikatif, tindakan yang memperlihatkan
senang berbicara, bergaul dan bekerja sama dengan orang lain.

m. Cinta damai, yakni prilaku yang menyebabkan orang lain merasa
senang dan aman atas kehadirannya.

n. Gemar membaca, kebiasaan untuk menyediakan waktu untuk membaca
berbagai bacaan yang memberikan kebajikan dirinya.

o. Peduli lingkungan, sikap untuk perduli terhadap alam sekitar,
menjaga dan mengembangkan lingkungan sekitarnya.

p. Peduli sosial, sikap yang selalu ingin memberikan bantuan
kepada orang lain dan masyarakat yang membutuhkan.

q. Tanggung jawab, sikap atau prilaku untuk melaksanakan tugas dan
kewajibannya.[10]

Berdasarkan uraian diatas dapat disimpulkan bahwa penanaman nilai
karakter anak berarti menanamkan nilai moral agar anak memiliki akhlak
yang baik yang dapat menjadi bekalnya dimasa dewasa. Menurut
Indonesian Heritage Fondation seperti yang dikutip oleh Dharma Kesuma
ada 9 karakter yang perlu ditanamkan pada setiap diri anak Indonesia
yakni:

1. Cinta Tuhan dan segenap ciptaa-Nya (love Allah, Trust,
reverence, loyalty)

2. Kemandirian dan tanggung jawab (responsibility, excellence,
self reliance, discipline, orderliness)

3. Kejujuran/amanah, bijaksana (trustworthiness, reability, honesty)

4. Hormat dan santun (respect, courtesy, obidien)

5. Dermawan, suka menolong dan gotong royong (love, compassion,
caring, emphaty, generousity, moderation, cooperation)

6. Percaya diri, kreatif, dan pekerja keras (confident,
assertiveness, creativity, resourcarefulness, courage,
determinationand anthusiasm)

7. Kepemimpinan dan keadilan (justice, fairness, mercy, leadership)

8. Baik dan rendah hati (kindness, friendliness, humility, modesty)

9. Toleransi dan kedamaian dan kesatuan (tolerance, flexibility,
peacefulness, unity)[11]

Pembentukan karakter melalui penanaman nilai-nilai yang baik harus
dimulai sejak dini. Pembentukan karakter anak dari dini akan membentuk
pemimpin-pemimpin berkarakter yang baik di masa mendatang.






________________________________

[1] Doni Koesoma A (2010) Pendidikan Karakter: Srategi Mendidik Anak
di Zaman Modern Global, Jakarta: Grasindo, hal 80

[2] Doni Koesoma A, Pendidikan Karakter…, hal. 80

[3] Doni Koesoma A, Pendidikan Karakter…, hal. 81

[4] Muhammad Fadlillah dan Lilif Mualifatu Khorida, Pendidikan
Karakter…., hal. 21

[5]Fatchul Mu'in, (2011), Pendidikan Karakter: Kontruksi Teoritik dan
Praktek, Yokyakarta: Ar-Ruzz, hal 161.

[6] Muhammad Fadlillah dan Lilif Mualifatu Khorida, Pendidikan
Karakter…., hal. 21

[7] Muhammad Fadilah, Pendidikan Karakter Anak ....hal 119

[8] Iman Musbikin (2006) Mendidik Anak Kreatif Ala Einstein
Yogyakarta: Mitra Pustaka, hal 7

[9] Rita Mariyana (2010) Pengelolaan Lingkungan Belajar Jakarta:
Kencana Prenada Media Group, hal 34

[10] Muhammad Fadilah, Pendidikan Karakter Anak…,hal 119

[11] Dharma Kesuma, dkk, Pendidikan Karakter…, hal.14

Romeltea Media
JURNALGO PENDIDIKAN Updated at:

Tujuan Pembiasaan

Pembiasaan merupakan proses pembentukan kebiasaan-kebiasaan baru atau
perbaikan kebiasan-kebiasaan yang telah ada. Pembiasaan selain
menggunakan perintah, suri taulan dan pengalaman khusus juga
menggunakan hukuman dan ganjaran. Tujuan agar siswa memperoleh
sikap-sikap dan kebiasaan-kebiasaan baru yang lebih tepat dan positif
dalam arti selaras dengan kebutuhan ruang dan waktu. Selain itu, arti
tepat dan positif ialah selaras dengan norma dan tata nilai mural yang
berlaku, baik yang bersifat religius maupun tradisional dan
kultural.[1]

Dari penjelasan diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa tujuan metode
pembiasaan disekolah adalah untuk melatih serta membiasakan anak didik
secara konsisten dan kontinyu dengan sebuah tujuan, sehingga
benar-benar tertanam pada diri anak dan akhirnya menjadi kebiasaan
yang sulit ditinggalkan di kemudian hari.

Bentuk-bentuk pembiasaan pendidikan dalam pendidikan agama melalui
kebiasaan dapat dilakukan dalam berbagai bentuk yaitu:

a. Pembiasaan dalam akhlak, berupa pembiasan bertingkah laku
yang baik, baik disekolah maupun diluar sekolah seperti: berbicara
sopan santun, berpakaian bersih, hormat kepada orang tua dan
sebagainya.

b. Pembiasaan dalam ibadah, berupa pembiasaan shalat berjamaah di
musholla sekolah, mengucapkan salam ketika masuk kelas, serta membaca
"basmalah" dan "hamdallah" saat memulai dan menyudahi pelajaran.

c. Pembiasaan dalam keimanan, berupa pembiasaan agar anak
beriman dengan sepenuh jiwa dan hatinya. Dengan membawa anak-anak
memperhatikan alam semesta, memikirkan dalam merenungkan ciptaan
langit dan bumi dengan berpindah secara bertahap dari alam narutral
kea lam supranatural.[2]

Pembentukan kebiasaan-kebiasaan tersebut terbentu melalui
pengulangan dan memperoleh bentuknya yang tetap apabila disertai
dengan kepuasaan. Menanamkan kebiasaan itu sulit dan kadang-kadang
memerlukan waktu yang lama. Kesulitan itu disebabkan pada mulanya
seseorang atau anak yang belum mengenal secara praktis sesuatu yang
hendak dibiasakannya. Oleh karena itu pembiasaan hal-hal yang baik
perlu dilakukan sedini mungkin sehingga dewasa nanti hal-hal yang baik
telah menjadi kebiasaannya.

3. Kekurangan dan Kelebihan Metode Pembiasaan

Terdapat kekurangan dan kelebihan metode pembiasaan yaitu sebagai berikut.:

a. Kelebihan

1) Pembentukan kebiasaan yang dilakukan dengan mempergunakan
metode pembiasan akan menambah ketepatan dan kecepatan pelaksanaan.

2) Pemanfaatan kebiasaan membuat gerakan-gerakan yang kompleks
dan rumit menjadi otomatis.

3) Pembiasaan tidak hanya berkaitan dengan lahiriyah tetapi juga
berhubungan dengan aspek batiniyah.[3]



b. Kekurangan

1) Metode ini dapat menghambat bakat dan inisiatif murid,
hal ini oleh murid lebih banyak dibawa konformitas atau kesesuaian dan
lebih diarahkan kepada uniformitas atau keseragaman.

2) Kadang-kadang pelatihan yang dilaksanakan secara
berulang-ulang merupakan hal yang monoton dan mudah membosankan.

3) Membentuk kebiasaan yang sangat kaku karena murid lebih
banyak ditujukan untuk mendapatkan kecakapan memberikan respon
otomatis tanpa intelegensinya.

4) Dapat menimbulkan verbalisme yang bersifat kabur atau
tidak jelas karena murid lebih banyak dilatih menghafal soal-soal dan
menjawab secara otomatis.[4]



Dari gambaran mengenai kelebihan dan kekurangan metode pembiasaan
tersebut selaku pendidik harus melakukannya secara bijak. Agar
pembiasaan tersebut bermanfaat dan menghasilkan perubahan prilaku yang
diharapkan.


________________________________

[1] Muhibbin Syah (2000) Psikologi Pendidikan, Bandung: Remaja Rosda
Karya, hal 123

[2] Ramayulis (1994) Ilmu Pendidikan Islam, Jakarta: Kalam Mulia, hal 187

[3] Muhibbin Syah , Psikologi Pendidikan… hal 123

[4] Saiful Sagala (2003) Konsep dan Makna Pembelajaran, Bandung:
Alfabeta, hal 217

Romeltea Media
JURNALGO PENDIDIKAN Updated at:

Pembiasaan Pada Anak

Terdapat berbagai macam prilaku yang harus dibiasakan kepada anak
yang dengan kebiasaan tersebut maka sang anak kelak akan menjadi
pribadi yang kuat dan berguna bagi sesamanya, perilaku yang harus
dibiasakan kepada anak adalah sebagai berikut:

a. Pembiasaan kesopan santunan, yaitu pembiasaan yang merupakann
prilaku dalam kehidupan bermasyarakat yang tercermin dalam kehidupan
sehari-hari.

b. Suka menolong, yakni merupakan kebiasaan yang melekat pada
diri anak, anak yang terbiasa suka menolong, maka anak akan merasa
ringan tangan membantu orang lain yang memerlukannya, ini merupakan
kebalikan dari sikap cuek atau masa bodo, maka ia kan bersikap cuek
juga terhadap lingkungan sekitarnya.

c. Ketepatan waktu, kebiasan yang merupakan cerminan dari sikap
disiplin dalam segala hal dan juga tercermin dari sikap tanggung
jawab.

d. Rendah hati, pembiasaan ini merupakan penanaman sifat rendah
hati, anak yang memiliki sifat rendah hati lebih mudah diterima dalam
kelompoknya dan dihargai, kelak anak yang bersikap rendah hati maka
akan sangat membantu dalam kehidupan sosial.

e. Kemandirian, yaitu pembiasaan ini akan membentuk anak menjadi
mandiri dan pemberani dan akan sangat bermanfaat pada kehidupan
ditengah-tengah masyarakat.

f. Kedarmawan, pembiasaan ini akan membiasakan anak darmawan
kepada temannya, hal ini mengajarkan kepada anak tersebut untuk peka
pada lingkungan sosial dan sekitarnya.

g. Pembiasaan rajin belajar, pembiasaan ini dilakukan sejak anak
usia dini, anak diberi pengertian bahwa anak senantiasa selalu belajar
untuk meningkatkan wawasan pengetahuan. Penanaman pentingnya
pengetahuan adalah hal yang sangat penting sehingga anak akan berupaya
secara terus menerus untuk bida meraup pengetahuan sejalan dengan
perkembangan jaman.[1]



Hakikat pembiasaan sebenarnya berintikan pengalaman dan inti dari
pembiasaan adalah pengulangan. Dalam pembinaan sikap, pembiasan akan
sangat berguna untuk melatih kebiasaan-kebiasaan yang baik kepada anak
sejak dini, pembiasaan juga merupakan penanaman kecakapan-kecakapan
berbuat dan mengucapkan sesuatu, dalam pembentukan pada anak hendaknya
dibiasakan dengan etika umum yang harus dilakukan dalam pergaulan
sehari-hari, yaitu:

a) Dibiasakan mengambil dan memberi makan serta minum dengan
tangan kanan, jika makan dengan tangan kiri, diperingatkan dan
dipindahkan makannya ketangan kanan.

b) Pembiasaan mendahulukan anggota badan sebelah kanan dalam
berpakaian, ketika mengenakan kain, baju atau lainnya memulai dari
kanan dan ketika melepaskannya mulai dari kiri.

c) dilarang tidur tengkurak dan dibiasakan tidur miring ke kanan.

d) Dihindarkan untuk tidak memakai celana atau pakaian yang
pendek agar anak tumbuh dengan kesadaran menutup aurat dan malu
membukanya.

e) Dicegah menggigit jari dan menggigit kukunya.

f) Dibiasakan sederhana dalam makan minum dan dijauhkan dari sikap rakus.

g) Dibiasakan membaca basmalah ketika hendak makan dan minum.

h) Dibiasakan mengambil makanan terdekat dan tidak memulai makan
sebelum orang lain.

i) Tidak memandang dengan tajam kepada makanan maupun orang yang makan.

j) Dibiasakan tidak makan dengan tergesa-gesa dan supaya
mengunyah makanan dengan baik.

k) Dibiasakan memakan makanan yang ada, dan tidak menginginkan
yang tidak ada.

l) Dibiasakan membersihkan mulut dengan gosok gigi, setelah
makan, sebelum tidur dan sehabis bangun tidur.

m) Membiasakan untuk mendahulukan orang lain dalam makanan dan
permainan yang senangi dengan dibiasakan agar menghormati
saudara-saudaranya, sanak familinya yang masih kecil dan anak-anak
tetangga jika mereka melihatnya sedang menikmati suatu makanan atau
permainan.

n) Mengucapkan salam dengan sopan kepada orang yang dijumpaikanya.

o) Membiasakan mengucapkan terima kasih jika mendapatkan suatu
kebaikan sekalipun hanya sedikit.

p) Diajari kata-kata yang benar dan dibiasakan dengan bahasa yang baik.

q) dibiasakan menuruti perintah orang tua atau siapa saja yang
lebih tua, jika disuruh melakukan sesuatu yang diperbolehkan.

r) bila membantah diperingatkan supaya kembali kepada kebenaran
dengan suka rela, jika memungkinkan, tetapi jika tidak bisa dipaksa
untuk menerima kebenaran karena lebih baik dari pada membandel.[2]



Berdasarkan penjelasan teori diatas, dapat ditarik kesimpulan,
pembiasan pada anak merupakan hal penting yang harus diperhatikan baik
oleh orang tua maupun guru sebagai pendidik disekolah. Dengan
melakukan kebiasaan-kebiasaan secara rutinitas, anak-anak akan
melakukan kebiasaan tersebut tanpa diperintah

________________________________

[1] Tandriyanto (2009) Membentuk Anak Cerdas dan Tangguh, Yogyakarta: hal, 48

[2] Muhammad Fadillah & Lilif Maulifatu Khorida (2013), Pendidikan
Karakter Anak Usia Dini Jokjakarta: Ar Ruzz Media, hal 175-176

Romeltea Media
JURNALGO PENDIDIKAN Updated at:

Pengertian Metode Pembiasaan

Secara etimologi, kata metode berasal dari dua suku kata, yakni meta
dan hodos yang berarti jalan atau cara. Kata metode dapat diartikan
sebagai cara atau jalan yang harus dilalui untuk sampai pada tujuan
tertentu. Di dalam dunia pendidikan metode diartikan sebagai suatu
cara-cara untuk menyampaikan materi pendidikan oleh pendidik kepada
peserta didik, disampaikan dengan efektif dan efisien untuk mencapai
tujuan pendidikan yang telah ditentukan. [1]

Potensi dasar yang ada pada anak merupakan potensi alamiah yang dibawa
anak sejak lahir atau bisa dikatakan sebagai potensi pembawaan oleh
karena itulah, potensi dasar harus selalu diarahkan agar tujuan dalam
mendidik anak dapat tercapai dengan baik. Pengarahan orang tua kepada
anak dalam lingkungan keluarga sebagai faktor eksternal, salah satunya
dapat dilakukan dengan metode pembiasaan, yaitu berupa menanamkan
kebiasaan yang baik kepada anak.

Pembiasaan merupakan sebuah metode dalam pendidikan berupa "proses
penanaman kebiasaan" Sedangkan yang dimaksud dengan kebiasaan itu
sendiri adalah "cara-cara bertindak yang persistent uniform, dan
hampir-hampir otomatis (hampir-hampir tidak disadari oleh
pelakunya).[2] Orang tua berperan sebagai penanggung jawab dan
pendidik dalam keluarga. Dalam mendidik anak perlu diterapkan tiga
metode yaitu "meniru, menghafal dan membiasakan".[3] Pada metode
pembiasakan, operasionalnya adalah dengan melatih anak untuk
membiasakan segala sesuatu supaya menjadi kebiasaan. Sebab menurutnya,
"kebiasaan ini akan menimbulkan kemudahan, keentengan".

Metode pembiasaan ini adalah sebagai bentuk pendidikan bagi manusia
yang prosesnya dilakukan secara bertahap, dan menjadikan pembiasaan
itu sebagai teknik pendidikan yang dilakukan dengan membiasakan
sifat-sifat baik sebagai rutinitas, sehingga jiwa dapat menunaikan
kebiasaan itu tanpa terlalu payah, tanpa kehilangan banyak tenaga, dan
tanpa menemukan banyak kesulitan. Pembiasaan juga merupakan salah satu
metode pendidikan yang sangat penting, terutama bagi anak-anak. Mereka
belum paham tentang apa yang disebut baik dan buruk dalam arti susila.

Demikian pula mereka belum mempunyai kewajiban-kewajiban yang harus
dikerjakan seperti pada orang dewasa. Pada sisi yang lain mereka juga
memiliki kelemahan yaitu belum memiliki daya ingat yang kuat. Mereka
lekas melupakan apa yang telah dan baru terjadi. Sedangkan pada sisi
yang lain, perhatian mereka lekas mudah beralih kepada hal-hal yang
baru dan disukainya. Sehingga berkaitan dengan hal tersebut, mereka
perlu dibiasakan dengan tingkah laku, ketrampilan, kecakapan, dan pola
pikir tertentu. Anak perlu dibiasakan untuk mandi, makan dan tidur
secara teratur, serta bermainmain, berbicara, belajar, bekerja, dan
sebagainya khususnya adalah dibiasakan untuk melaksanakan ibadah.


________________________________

[1] Sugiono (2012), Metode Penelitian Pendidikan: Metode Kuantitatif,
Kualitatif dan R&D, Bandung: Alfabeta, hal 79

[2] Hery Noer Aly (1999),, Ilmu Pendidikan Islam, Jakarta: Logos
Wacana Ilmu, hlm. 184

[3] Muhammad Zein (1995) Methodologi Pengajaran Agama, Yogyakarta: AK
Group hal. 224

Romeltea Media
JURNALGO PENDIDIKAN Updated at:

Tugas-Tugas Perkembangan Masa Anak-anak

Untuk meletakan dasar perkembangan sikap, pengetahuan,
keterampilan dan daya cipta anak didik, guru perlu harus memahami
kemampuan-kemampuan apa yang mesti dikuasai anak didik, perkembangan
tahap awal masa kanak-kanak yang harus diselesaikan. Tugas
perkembangan merupakan tugas-tugas secara umum yang harus dikuasai
anak pada usia tertentu agar dapat hidup bahagia dan mampu
menyelesakan tugas-tugas perkembangan berikutnya. Tugas tugas
perkembangan masa kanak-kanak yang harus dijalani adalah sebagai
berikut:[1]



a. Berkembang menjadi pribadi yang mandiri, yaitu berkembang
menjadi pribadi yang bertanggung jawab untuk melayani dan memenuhi
kebutuhan sendiri pada tingkat kemandirian yang sesuai dengan tingkat
usia Taman Kanak-kanak.

b. Belajar memberi, berbagi dan memperoleh kasih sayang, yaitu
kemampung saling memberi dan berbagi kasih sayang antara anak yang
satu dengan anak yang lain untuk dapat hidup bermasyarakat secara
aman dan bahagai dalam lingkungan baru di sekolah.

c. Belajar bergaul dengan anak lain, mengembangkan berhubungan
dengan anak lain yang dapat menghasilkan dampak tanggapan positif
dari anak lain dalam lingkungan sekolah yang lebih luas daripada
lingkungan keluarga.

d. Mengembangkan pengendalian diri, yakni belajar untuk
bertingkah laku sesuai dengan tuntutan masyarakat. Anak belajar untuk
memahami setiap perbuatan itu memiliki konsekwensi atau akibat .
apabila anak memahami hal tersebut maka ia akan selalu berusaha untuk
memenuhi apa yang ingin ia lakukan sesuai dengan tingkah laku yang
dapat diterima oleh masyarakatnya, begitu dalam lingkungan sekolah.

e. Belajar bermacam-macam peran orang dalam masyarakat, yaitu
anak belajar bahwa di dalam masyarakat itu ada pekerjaan-pekerjaan
yang dilakukan orang-orang tertentu menghasilkan jasa layanan pada
orang lain dan hasil yang dapat memenuhi kebutuhan orang
lain.Contohnya pekerjaan-pekerjaan yang memberikan jasa layanan kepada
orang lain, dokter mengobati orang sakit, pak becak mengantarkan anak
kesekolah, tukang batu membangun rumah dan sebagainya, sedangkan
contoh pekerjaan yang memberikan hasil yang dapat memenuhi kebutuhan
orang lan: pak tani mengerjakan sawah untuk menghasilkan padi, juru
masak menghasilkan masakan untuk dimakan orang lain dan sebagainya.

f. Belajar untuk mengenal tubuh masing-masing, yakni mengenal
panca indra yang dimiliki, anggota tubuh yang dimiliki dan kegunaannya
dalam memperoleh pengetahuan dan dalam kaitan kegiatan makan,
melakukan kebersihan dan memelihara kesehatan serta kegiatan-kegiatan
yang lain.

g. Belajar menguasai keterampilan motork halus dan kasar,
maksudnya adalah anak belajar mengkoordinasi otot-otot halus untuk
melakukan pekerjaan menggambar, melipat, menggunting, membentuk dan
sebagainya. Kegiatan-kegiatan yang memerlukan koordinasi otot kasar
misalnya berlari, meloncat, menendang, menangkap bola dan sebagainya.

h. Belajar mengenal lingkungan fisik dan mengendalikan adalah
merupakan pengenalan terhadap ciri-ciri benda yang ada disekitarnya,
membandingkan ciri benda satu dengan yang lain. Menggolong-golongkan
benda-benda tersebut. Contoh mengenal ciri benda: mengenal bentuk
ukuran dan warna lainnya. Membandingkan antara benda yang satu dengan
yang lainnya berdasarkan bentuk dan warnanya. Dalam
menggolong-golongkan benda dapat menggolongkan berdasarkan bentuk
dan warnanya. Untuk dapat menggunakan secara tepat benda-benda
tersebut anak mendasarkan pada ciri-ciri yang dimiliki benda
tersebut.

i. Belajar menguasai kata-kata baru untuk memahami orang anak
atau orang lain, maksudnya belajar kata-kata baru dalam kaitan
benda-benda yang ada disekitarnya: namanya, ciri-cirinya, kegunaannya
dan sebagainya dari percakapan dengan anak atau orang lain.

j. Mengembangkan perasaan positif dalam berhubungan dengan
lingkungan, yaitu mengembangkan perasaan kasih sayang terhadap
benda-benda yang ada di sekitarnya atau dengan anak-anak atau
orang-orang disekitarnya.[2]



Dari teori diatas dapat disimpulkan bahwa, penguasaan guru
sebagai tenaga pendidik harus mempunyai wawasan tentang tugas
perkembangan anak didiknya. Pengetahuan dan wawasan ini akan sangat
membantu dalam perencaan pembelajaran dan juga dalam proses belajar,
yang pada gilirannya akan akan sangat bermanfaat bagi anak agar anak
dapat menjalani hidup dalam masa kanak- kanaknya dan menyiapkan diri
untuk menjadi orang dewasa kelak.


________________________________

[1] Moeslichatoen (1999) Metode Pengajaran di Taman Kanak-Kanak
Jakarta: Rineka Cipta, hal 4-5

[2] Moeslichatoen, Metode Pengajaran......., hal 4-5

Romeltea Media
JURNALGO PENDIDIKAN Updated at:

Karakteristik Anak Usia Dini

Anak usia dini merupakan pribadi yang memiliki karakter yang sangat
unik. Keunikan karakter tersebut membuat orang dewasa menjadi kagum
dan terhibur melihat tingkah laku lucu dan mengemaskan. Akan tetapi
tidak sedikit pula orang yang merasa kesal dengan tingkah laku anak
yang dianggapnya nakal dan susah diatur. Sebagai orang tua atau
pendidik yang baik, sudah tentu harus mengerti dan memahami berbagai
karakter dasar anak usia dini. Sebab dikarakter itulah yang akan
menjadi pusat perhatian untuk dikembangkan dan diarahkan menjadi
karakter yang positif. Berikut ini adalah beberapa karakteristik anak
usia dini menurut berbagai pendapat:

a. Unik, yaitu sifat anak itu berbeda satu sama lain. Anak
memiliki bawaan, minat, kapabilitas dan latar belakang kehidupan
masing-masing

b. Egosentris, yaitu anak lebih cendrung melihat dan memahami
sesuatu dari sudut pandang dan kepentingannya sendiri. Bagi anak
sesuatu itu sepanjang hal tersebut berkaitan dengan dirinya

c. Aktif dan energik, yaitu anak lazimnya senang melakukan
berbagai aktivitas. Selama terjaga dari tidu, anak seolah-olah tidak
pernah lelah, tidak pernah bosan, dan tidak pernah berhenti dari
aktivitasnya. Terlebih lagi kalau anak dihadapkan pada aktivitas yang
baru.

d. Rasa ingin tahu yang kuat dan antusias terhadap banyak hal.
Yaitu anak cendrung memerhatikan, membicarakan, dan mempertanyakan
berbagai hal yang sempat dilihat dan didengarnya terutama terhadap
hal-hal baru

e. Eksploratif dan berjiwa petualang, yaitu anak terdorong oleh
rasa ingin tahu yang kuat dan senang menjelajah, mencoba dan
mempelajari hal-hal yang baru.

f. Spontan, yaitu prilaku yang ditampilkan anak umumnya relative
asli dan tidak ditutup-tutupi sehingga merefleksikan apa yang ada
dalam perasaan dan pikirannya.

g. Senang dan kaya fantasi, yaitu anak senang dengan hal-hal yang
imajinatif. Anak tidak saja senang dengan cerita-cerita khayal yang
disampaikan oleh orang lain, tetapi juga ia sendiri juga senang
bercerita kepada orang lain.

h. Masih mudah frustasi, yaitu anak masih mudah kecewa bila
menghadapi sesuatu yang tidak memuaskan. Ia mudah menangis dan marah
bila keinginannya tidak terpenuhi.

i. Masih kurang pertimbangan dalam melakukan sesuatu, yaitu
anak masih kurang memiliki pertimbangan yang matang termasuk berkenaan
dengan hal-hal yang mambahayakannya.

j. Daya perhatian yang pendek, yaitu anak lazimnya memiliki
daya perhatian yang pendek, kecuali terhadap hal-hal yang secara
instrinsik menarik dan menyenangkan.

k. Bergairah untuk belajar dan banyak belajar dari pengalaman
yaitu anak melakukan banyak aktivitas yang menyebabkan terjadinya
perubahan tingkah laku pada dirinya.[1]

l. Semakin menunjukkan minat terhadap teman, yaitu anak mulai
menunjukkan untuk bekerjasama dan berhubungan dengan temannya.



Selain karakteristik-kateristik diatas, karakteristik lainya yang tak
kalah penting dan patut dipahami oleh setiap orang tua maupun peneliti
adalah selalu memiliki bekal kebaikan, anak suka meniru, bermain dan
memiliki rasa ingin tahu yang tinggi.[2]

Pada dasarnya anak telah diberi bekal kebaikan oleh Tuhan Yang Maha
Esa. Selanjutnya lingkunganlah yang berperan aktif dalam memepengaruhi
dan mengembangkan bekal kebaikan tersebut. Anak akan menjadi baik,
bila lingkungannya membuat baik dan demikian sebaliknya. Bekal
kebaikan dimiliki anak sejak lahir. Oleh karenanya pada saat usia dini
anak harus dibiasakan dengan hal-hal yang baik, agar potensi kebaikan
anak dapat berkembang sebagaimana mestinya. Dengan demikian, akan
tertanam pada diri anak karakter yang positif.

Sudah menjadi hal yang lumrah kiranya, bila ada anak yang suka meniru
gerakan dan dan prilaku kedua orang tuanya atau lingkungan didekatnya.
Apabila anak melihat dan merasakan akan senantiasa diikuti oleh anak.
Meskipn secara nalar anak belum dapat memilih dan mengerti mana yang
baik dan mana yang burk. Bagi anak apa yang menjadi membuatnya senang
dan menarik maka itulah yang akan diikuti oleh anak. Maka dari itu
dibutuhkan keteladanan yang baik agar membentuk karakter anak yang
baik pula.

Bermain merupakan kesukaan setiap anak usia dini. Bahkan, orang dewasa
pun terkadang juga masih suka bermain. Dalam konteks pendidikan
karakter bermain harus dijadikan dasar dalam kegiatan pembelajaran.[3]
Bagaimana anak dibuat senag dan dapat memperhatikan tujuan
pembelajaran. Harapannya agar anak tidak malas, jenuh dan dan bosan
dalam mengikuti berbagai kegiatan pembelajaran.

2. Karateristik Perkembangan Anak Masa Kanak-Kanak

Untuk meletakkan dasar perkembangan sikap, pengetahuan, keterampilan
dan daya cipta anak didik, guru perlu harus memahami
kemampuan-kemampuan apa yang mesti dikuasai anak didik, perkembangan
tahap awal masa kanak-kanak yang harus diselesaikan. Tugas
perkembangan merupakan tugas-tugas secara umum yang harus dikuasai
anak pada usia tertentu agar dapat hidup bahagia dan mampu
menyelesaikan tugas-tugas perkembangan berikutnya. Tugas tugas
perkembangan masa kanak-kanak yang harus dijalani adalah sebagai
berikut:

1) berkembang menjadi pribadi yang mandiri, 2) belajar memberi,
berbagi dan memperoleh kasih sayang, 3) belajar bergaul dengan anak
lain, Mengembangkan pengendalian diri Belajar bermacam-macam peran
orang dalam masyarakat, 4) belajar untuk mengenal tubuh masing-masing,
Belajar menguasai keterampilan motork halus dan kasar, 5) belajar
mengenal lingkungan fisik dan mengendalikan, 6) belajar menguasai
kata-kata baru untuk memahami orang anak atau orang lain, 7)
mengembangkan perasaan positif dalam berhubungan dengan lingkungan.[4]



Dari teori diatas dapat disimpulkan bahwa, penguasaan
guru sebagai tenaga pendidik harus mempunyai wawasan tentang tugas
perkembangan anak didiknya.

Anak usia dini mempunyai karakteristik perkembangan yang
cukup unik dan pesat. Perkembangan yang dialami anak sangat
dipengaruhi bagaimana pertumbuhannya. Bila anak mempunyai pertumbuhan
baik, secara umum perkembangannyapun akan berjalan dengan baik.

Dalam teori kematangan, Arnod Gesell yang dikutip oleh Uyu
Wahyudin menyebutkan bahwa pola tingkah laku dan perkembangan seorang
anak bisa secara otomatis sejalan dengan pertumbuhan fisik dan
perkembangan motoriknya. Menurutnya anak berkembang sesuai dengan
dengan waktu jadwal alaminya.[5] Dalam konteks ini, ada beberapa
karakteristik perkembangan anak usia dini yang wajib dipahami oleh
setiap orang tua maupun pendidik. Berikut karakteristik-karakteristik
perkembangan anak usia dini yang dimaksud.

a) Perkembangan Fisik-Motorik

Setiap terjadi perkembangan fisik pada anak, secara otomatis pula akan
terjadi perkembangan motoriknya baik itu motorik kasar maupun halus.
Menurut Elizabeth sebagaimana yang dikutip oleh Uyu Wahyudin,
perkembangan fisik sangat penting untuk dipelajari karena, baik secara
langsung maupun secara tidak langsung akan mempengaruhi prilaku anak
sehari-hari.[6] Menurut Beaty yang dijabarkan oleh Sabil,

Kemampuan motorik kasar seorang anak paling tidak dapat dilihat
melalui empak aspek, yaitu (1) berjalan atau walking, dengan indikator
berjalan turun-naik tangga dengan menggunakan dua kaki, (2) berlari
atau running, dengan indikator menunjukkan kekuatan dan kecepatan
berlari, berbelok ke kanan-kiri tanpa kesulitan, dan mampu berhenti
dngan mudah;(3) melompat atau jumping, dengan indikator mampu melompat
ke depan, ke belakang, dan ke samping; (4) memanjat atau climbing,
dengan indikator memanjat naik-turun tangga dan memanjat pepohonan.[7]



Perkembangan fisik-motorik sangat berperan penting bagi seorang anak.
Selain melatih kelincahan dan kecekatan, juga dapat memberikan
motivasi kepada anak dalam berinteraksi dengan lingkungannya. Bahkan,
bila difungsikan dengan baik perkembangan fisik-motorik ini mampu
meningkatkan kecerdasan seorang anak. Untuk itu, perkembanagan ini
tidak boleh di kesampingkan. Sebisa mungkin orang tua atau pendidik
merespon dan memberikan waktu atau kesempatan pada sang anak dalam
melakukan berbagai gerakan yang dapat membantu dalam memgembangkan
fisik-motoriknya. Peran orang tua dan pendidik dapat ditunjukkan
melalui pemberian motivasi, bimbingan, latihan-latihan gerak
sederhana, dan lain sebagainya.



b) Perkembangan kognitif merupakan perkembangan yang terkait
dengan kemampuan berfikir seseoang. Bisa juga di artikan sebagai
perkembangan intelektual. Terjadinya proses perkembangan ini
dipengaruhi oleh kematangan otak yang mampu menunjukkan fungsinya
dengan baik. Misalnya, kemampuan untuk menolak dan sesuatu.[8]
Pendapat lain menyebutkan bahwa kongnisi merupakan bagian intelek yang
merujuk pada penerimaan, penafsiran, pemikiran, pengingatan,
pengkhayalan, pengambilan, keputusan, dan penalaran.

Dengan kemampuan kognisi inilah individu mampu memberikan respons
terhadap kejadian yang terjadi secarara internal dan eksternal.[9]

Tokoh yang mencetuskan kognitif ialah Jean Piget. Dalam teori ini,
Piaget mengungkapkan bahwa asimilasi merupakan proses ketika stimulus
baru dari lingkungan diintregasikan pada pengetahuan yang telah ada
pada diri anak. Proses ini dapat diartikan sebagai suatu obyek atau
ide baru ditafsirkan sehubungan dengan gagasan atau teori yang di
peroleh anak.[10]

Beberapa uraian di atas memberikan suatu penjelasan dan pemahaman
bahwa kemampuan kognisi seorang anak berkembang melalui proses
rangsangan yang di perolehnya dalam kehidupan sehari-hari.
Selanjutnya, rangsangan-rangsangan tersebut di terima dengan di
tafsirkan melalui data pikirnya yang kemudian di wujudkan dengan
perbuatan.

Berikut ini tahapan-tahapan perkembangan kognitif seorang anak menurut
Jean Piaget, sebagaimana yang dikutip oleh Sabil Risaldi.

a) Masa sensori motorik (0-2,5 tahun). Pada masa ini seorang anak
(bayi) mulai menggunakan sistem pengindraan dan aktivitas motorik
untuk mengenal lingkungannya, seperti reflex mencari putting susu ibu,
menangis, dan lain-lain.

b) Masa praoprasional (2-7 tahun). Pada masa ini seorang anak
sudah memiliki kemampuan menggunakan symbol yang mewakili suatu
konsep. Sebagai contoh, seorang anak yang melihat dokter sedang
praktik, ia bermain dokter-dokteran.

c) Masa konkreto prasional (7-11 tahun). Pada masa ini anak sudah
dapat melakukan berbagai tugas yang konkret. Ia mulai mengembangkan
tiga macam operasi berfikir, yaitu identifikasi (mengenali sesuatu),
negasi (mengingat sesuatu), dan reprokasi (mencari hubungan timbal
balik antara beberapa hal).

d) Masa operasional (11-dewasa). Pada masa ini seorang anak sudah
dapat berfikir abstrak dan hipotesis seperti menyimpulkan suatu hal.
[11]



Dari beberapa tahapan perkembangan anak tersebut, yang termasuk
kategori perkembangan anak usia dini adalah masa sensori motorik dan
pra operasional. Pada masa itulah seorang anak akan merespons segala
yang kita berikan kepadanya, tanpa ia mengerti apakah itu hal baik
atau buruk. Semua yang ia dengar dan lihat akan diserap dalam
pikirannya karena anak memang belum memiliki filter yang menyaring
segala sesuatu yang masuk pada dirinya. Para ahli juga berpendapat
bahwa:

Anak mengembangkan kemampuan kognitifnya melalui kegiatan bermain
dengan tiga cara, di antaranya (1) memanipulasi (meniru) apa yang
terjadi dan dilakukan oleh orang dewasa atau obyek yang ada di sekitar
anak; (2) masteri, yaitu menguasai suatu aktifitas dengan mengulangi
suatu kegiatan yang tentunya menjadi kesenangan dan memberikan
bermaknaan pada diri anak; (3) meaning, yaitu memberikan bermaknaan
pada diri anak sehingga menumbuhkan motifikasi anak dalam
melakukannya.[12]

Memahami paparan diatas, mengembangkan kemampuan kognitif
dapat dilakukan melalui berbagai kegiatan diantaranya meniru,
menguasai, dan member makna pada suatu kegiatan dengan bibingan dan
pengawasan dari guru agar pengembangan tersebut berkembang dan terarah
sesuai dengan perkembangan yang sehausnya.

c. Perkembangan Emosi

Emosi adalah suatu perasaan yang dimiliki oleh seorang anak, baik itu
perasan senang maupun sedih. Emosi ini mulai berkembang semenjak ia
lahir kedunia. Meskipun ada anggapan bahwa sejak dalam kandungan
seseorang sudah dapat merasakan sesuatu.

Perkembangan emosi pada diri seorang anak akan muncul manakala ia
mengalami interaksi dengan lingkungan. Pada anak usia dini, ungkapan
perasaan ini ditunjukkan melalui berbagai respons yang dapat
dilakukannya. Sebagai contoh, seorang anak yang meminta suatu
permainan, tetapi tidak segera dipenuhi, perasaan anak akan sedih dan
marah yang kemudian ditunjukkan dengan raut wajah yang memerah atau
menangis dengan sekuat tenaga. Namun apabila permintaaannya segera
dipenuhi, ia akan merasa gembira dan ditunjukkan dengan senyuman yang
manis dan wajah berseri-seri.

Perasaan senang bergairah dan bersemangat dan rasa ingin tahu yang
tinggi yang disebut dengan emosi positif. Sementara perasaan tidak
senang, kecewa, tidak bergairah disebut emosi negatif.[1] Perasaan
seorang anak dapat digolongkan menjadi dua macam, yaitu perasaan yang
menyangkut urusan biologi atau jasmaniah dan perasaan yang menyangkut
urusan ruhaniah.[2]

Dalam kontek diatas, seorang pendidik atau orang tua, harus dapat
menciptakan bagaimana memunculkan emosi positif pada diri
anak-anaknya, sehingga anak dapat belajar dan berinteraksi dengan
lingkungan yang baik.

d. Perkembangan Bahasa

Bahasa merupakan hal yang penting bagi anak, bahasa merupakan suatu
bentuk menyampaikan apa yang dinginkan terhadap segala sesuatu yang
inginkan. Dengan bahasa orang tua atau pendidikan akan tahu yang
menjadi keinginan anak, bahasa ialah bahasa yang ditujnjukan melalui
ekspresi wajah anak, semakin besar usia anak akan terlihat bahasa yang
dikeluarkan dari lisannya mulai perkata sampai pada kalimat yang
kompleks.

Bahasa merupakan semua cara berkomunikasi dengan orang
lain, semua cara untuk berkomunikasi, yang mana pikirannya dan
perasaan dinyatakan dalam bentuk lisan, tulisan, isyarat atau gerak
dengan menggunakan kata-kata, simbol, lambang atau gambar atau
lukisan. Bahasa juga diartikan urutan kata-kata, bahasa digunakan
untuk menyampaikan informasi mengenai tempat berbeda atau waktu yang
berbeda.[3] Bahasa sendiri mempunyai tiga fungsi, yaitu: fungsi
aspek ekspresi yang menyatakan kehendak dan pengalaman jiwa, fungsi
aspek sosial yaitu untuk mengadakan komunikasi dengan orang lain dan
dan aspek intensional yaitu, fungsi aspek untuk menunjukan atau
membanggakan sesuatu.[4] Perkembangan bahasa terbagi menjadi beberapa
tahap sebagai berikut:

1. Prastadium (umur 0;6-1;0) meraba atau keluar suara yang
belum berarti, serta tunggal terutama huruf-huruf bibir.

2. Masa pertama (umur 1;0-1;6) penguasaan kata yang belum lengkap
seperti mem dan mik.

3. Masa kedua (umur 2;0-2;0) masa mama, yaitu masa ketika anak
sudah mulai berbicara dan tanya mama.

4. Masa ketika, (umur 2;0-2;6) masa stadium fleksi (menafsirkan)
yaitu anak mulai dapat menggunakan kata-kata yang dapat ditafsirkan
atau kata-kata yang sudah diubah dan sudah menyusun kalimat pendek.

5. Masa keempat (umur 2;6 keatas) masa stadium anak kalimat
yaitu, anak sudah dapat merangkaikan pokok kalimat dengan penjelasan
berupa anak kalimat.[5]



Dari penjelasan diatas dapat dipahami bahwa, bahasa sangatlah
penting bagi pekembangan anak. Tugas orang tua dan pendidik untuk
mengasah kemampuan anak agar memiliki kemampuan bahasa yang baik saat
sang anak dewasa kelak.

e. Perkembangan Moral

Moral merupakan suatu nilai yang dijadikan
pedoman dalam bertingkah laku. Perkembangan moral pada anak masih
terbatas, anak usia dini belum mampu menguasai nilai-nilai abstrak
benar– salah dan baik-buruk namun penanaman moral harus dikenalkan
sejak dini agar anak terbiasa dan biasa membedakan mana yang benar dan
salah. Terdapat pembagian perkembangan moral anak sebagai berikut:

1) Tahap prakonvesional untuk usia 2-8 tahun, penalaran moral
anak dikendalikan oleh imbalan atau hadiah dan hukuman eksternal.

2) Tahap konvesional untuk usia 9-13 tahun, anak mentaati
standar-standar tertentu. Tetapi mereka tidak mentaati standar yang
lain (eksternal), seperti orang tua atau aturan-aturan masyarakat.
Anak menghargai kebenaran, kepedulian dan kesetian kepada orang lain
sebagai landasan pertimbangan moral.

3) Tahap pascaconvesional untuk anak diatas usia 13, yaitu anak
mengenal tindakan-tindakan moral alternatif dan menjajaki
pilihan-pilihan kemudian memutuskan suatu kode moral pribadi.[6]



Selain tahapan-tahapan perkembangan moral diatas, terdapat juga
perkembangan moral yang didasarkan dengan tata nilai yang ada yaitu:

(a) Usia 1;0- 4;0 tahun, pada tahap ini ukuran baik buruk tergantung
apa yang dikatakan orang tua. Walaupun anak saat belum tahu benar
hakikat atau perbedaan antara yang baik dan buruk sebab saat ini anak
belum bisa menguasai diri sendiri.

(b) Usia 4;0- 8;0 tahun, pada tahap ini ukuran nilai bagi seorang
anak adalah apa yang lahir dari realitas, anak belum bisa menafsirkan
hal-hal yang tersirat dari sebuah perbuatan antara perbuatan yang
disengaja atau tidak. Seseorang menilai sesuai dengan kenyataan.

(c) Usia 13;0-13;0 tahun, anak sudah dapat mengenal ukuran baik
buruk secara, meskipun masih terbatas, yaitu anak sudah dapat
menghargai pendapat atau alasan dari perbuatan orang lain. Anak mulai
dapat menghormati orang lain yang patuh, taat atau sebaliknya.

(d) Usia 13;0-19;0 tahun, seseorang anak sudah mulai sadar betul
tentang tata nilai kesusilaan, anak akan patuh atau melanggar
berdasarkan kepahaman terhadap konsep nilai yang diterima. Pada tahap
ini anak benar-benar berada pada kondisi dapat mengendalikan diri
sendiri. [7]



Dari penjelasan diatas dapat ditarik kesimpulan pada awalnya
pengenalan nilai dan pola tindakan masih bersifat paksaan dan anak
tidak mengetahui maknanya akan tetapi sejalan dengan perkambangan
intelektualnya anak berangsur-ansur mulai mengikuti ketentuan yang
berlaku keluargnya dan lingkungan sekitarnya.

f. Perkembangan Sosial

Perkembangan sosial merupakan perkembangan yang melibatkan hubungan
maupun interaksi anak dengan orang lain. Perkembangan sosial dimulai
sejak lahir, hal ini dibuktikan dengan tangisan anak ketika baru
dilahirkan untuk mengadakan kontak atau hubungan dengan orang lain.
Ketika anak masih berusia kecil, perkembangan sosial anak ditunjukan
dengan senyumang gerakan atau ekpresinya. Namun dalam perkembangannya
kemudian simbol-simbol atau hubungan-hubungan dengan orang lain itu
menjadi nyata dan dilakukan dengan perbuatan-perbuatan yang lebih
konkret. Perkembangan sosial anak meliputi tahap sebagai berikut:

1. Usia 0-2 tahun, yaitu anak mulai tersenyum dan memandang orang lain.

2. Usia 0-3 tahun, yaitu anak tersenyum kembali, mengeluarkan
berbagai suara sebagai jawaban atau ransangan dari luar

3. Usia 0-4 tahun, yaitu anak menangis menolak sebagai tanda
tidak setuju terhadap orang mengadakan hubungan.

4. Usia 0-5 tahun yaitu anak mengikuti dengan gerakan mata atau
terhadap gerakan mata atau terhadap gerakan orang yang sedang lalu
lang.

5. Usia 0-6 tahun, yaitu anak mengadakan reaksi terhadap orang
yang marah atau ramah.

6. Usia 0-7 yaitu anak mulai aktif mengadakan hubungan mencoba
mengadakan anak aksi, baik dalam bentuk gerakan atau suara-suara.

7. Usia 0-8 tahun, yaitu anak dapat bermain, sembunyi-sembunyi
dan memanggil, seperti mama, papa, adik dan lain-lain.

8. Usia 0-1 tahun yaitu anak mencoba menarik perhatian orang dewasa.

9. 0-1 tahun, yaitu anak mulai mengerti akan isyarat-isyarat yang
sederhana, contoh bye-bye dengan melambaikan, atau menunjukan dengan
jari satu dan lain-lain.[8]



Perkembangan sosial sangat dibutuhkan bagi anak usia dini, karena
kelak ketika ia dewasa ia akan hidup dalam lingkungan masyarakat yang
mana satu sama lain saling membutuhkan. Dengan membiasakan anak untuk
bersosialisasi akan memudahkan sang anak hidup dan berinteraksi dengan
orang lain.[9]

g. Perkembangan Imajinasi (Fantasi)

Fantasi atau imajinasi adalah daya cipta untuk menciptakan
tanggapan-tanggapan baru atas bantuan tanggapan-tanggapan yang telah
ada lama imajinasi atau fantasi merupakan kreativitas.[10] Pada anak
usia dini perkembangan imajinasi atau kreativitas anak masih terbatas
atau masih sangat terbatas, sebab anak belum memperoleh pengalaman
yang memadai dari lingkungan. Namun demikian seiring dengan
pertumbuhan dan perkembangan yang semakin dewasa, daya imajinasinya
pun semakin meningkat, perkembangan imajinasi atau fantasi kreativitas
anak dibedakan menjadi dua:

1. Fantas terpimpin (tuntutan) yaitu timbulnya fantasi disebabkan
adanya kesan setelah menggapai hasil ciptakan orang lain atau tuntutan
oleh karya orang lain.

2. Fantasi mencipta, yaitu timbulnya fantasi seseorang yang
muncul karena kekuatan atau potensi yang ada pada dirinya secara murni
tanpa adanya tuntutan dari luar.

Selain penjelasan diatas tentang fantasi atau imajinasi pada
perkembangan anak, terdapat juga tahapan lainnya imajinasi dan fantasi
pada anak sebagai berikut:

a) Usia 0;0-4;0 tahun, masa cerita struweplter, yaitu
anak-anak senang terhadap cerita-cerita anak nakal, rambut panjang,
pakaian kumal, kuku panjang dan lain-lain. Pada masa ini anak tidak
menghiraukan tentang kondisi lingkungan. Senang mementingkan dirinya
sendiri.

b) Usia 0-4;0-8; yaitu masa cerita khayal, apa yang dikhayalkan
itu adalah kondisi sebenarnya, jadi masa ini sangat senang pada
cerita-cerita khayal atau dongeng, walaupun cerita tersebut
diulang-ulang anak tidak merasa bosan, tidak jemu bahkan bila yang
bercerita itu ada kesalahan ia langsung menegurnya.

c) Usia 8;0-12;0 tahun, masa cerita realitas, yaitu anak sudah
mulai senang terhadap cerita-cerita nyata (pahlawan, sejarah, biologi
dan lain-lain, pada masa ini, pengaruh fantasi pada anak sudah mulai
berkurang sebab pengamatan sudah mulai tertib. Ia sudah dapat
membedakan antara yang khayal dengan realita.[11]



Dari penjelasan diatas, dapat diambil kesimpulan bahwa perkembangan
anak berubah sesuai dengan tingkat usia anak. Semakin bertambah usia
anak, semakin matang pula perkembangannya.


________________________________

[1] Syamsu Yusuf dan Nani M. Sugandhi (2011) Perkembangan Peserta
Didik, Jakarta: Rajawali Press, hal 64

[2] Abu Ahmad an Munawar Sholeh, (2005), Psikologi Perkembangan
Jakarta:Rineka Cipta hal, 98

[3] Uyu Wahyudin dan Mubiar Agustin (2011), Penelitian Perkembangan
Anak Usia Dini Bandung : Refika Aditama, hal 36

[4] Abu Ahmadi dan Munawar Sholeh (2005), Psikologi Perkembangan
Jakarta: Rineka Putra, hal 95

[5] Abu Ahmadi, Psikologi Perkembangan..., hal 95

[6] Abu Ahmadi, Psikologi Perkembangan…, hal 103

[7] Abu Ahmadi, Psikologi Perkembangan…, hal 105

[8] Abu Ahmadi, Psikologi Perkembangan..., hal 105

[9] Abu Ahmadi, Psikologi Perkembangan..., hal 100

[10] Abu Ahmadi, Psikologi Perkembangan..., hal 100

[11] Abu Ahmadi, Psikologi Perkembangan..., hal 100


________________________________

[1]Syamsu Yusuf L.N dan Nani M Sugandhi (2013),Perkembangan Peserta
Didik,cet. IV Jakarta: Rajawali Press, hal 48-50

[2] Muhammad Fadlillah dan Lilif Mualifutu Khorida, Pendidikan Karakter…, hal.46

[3] Muhammad Fadlillah dan Lilif Mualifutu Khorida , Pendidikan
Karakter…, hal.83

[4] Moeslichatoen (1999), Metode Pengajaran di Taman Kanak-kanak,
Jakarta: Rineka Cipta, hal 4-5

[5] Uyu Wahyudin dan Mubiar Agustin (2011), Penilaian Perkembangan
Anak Usia Dini, Bandung: Reflika Aditama, hal.22





[7] Sabil Risaldy & Meity (2014), Bimbingan Konseling: Implementasi
Pada Pendidikan Anak Usia Dini, Jakarta: Luxima, hal 45





[9] Syamsu Yusuf, Perkembangan Peserta Didik…, hal. 98

[10] Sabil Risaldy & Meity, Bimbingan Konseling…,hal 45

[11] Sabil Risaldy & Meity, Bimbingan Konseling…,hal 45

[12] Sabil Risaldy & Meity, Bimbingan Konseling…, hal 45

Romeltea Media
JURNALGO PENDIDIKAN Updated at:

Anak Usia Dini dan Karakteristiknya

Usia dini adalah masa yang sangat potensial bagi anak-anak. Masa yang
berlangsung dibawah 7 tahun itu adalah era keemasan bagi tumbuh
kembangnya potensi dan keunikan yang dimiliki oleh anak-anak.[1] Tidak
ada masa yang lebih peka selain pada masa anak-anak. Masa ini diibarat
dengan pondasi untuk membangun rancangan masa depan anak yang baik.
Anak usia dini adalah anak yang berada dalam rentang 0-8 tahun.[2]
Anak usia dini merupakan kelompok yang sedang berada dalam prinsip
pendidikan anak usia dini adalah individu unik yang memiliki pola
pertumbuhan dan perkembangan dalam aspek fisik, kognitif, sosial
emosional, kreatifitas, bahasa dan komunikasi yang khusus sesuai
dengan tahapan yang sedang dilalui oleh anak tersebut. Dalam pasal 28
Undang-undang Sistem Pendidikan Nasional No.20/2003 ayat 1, disebutkan
bahwa anak yang termasuk anak usia dini adalah anak yang masuk dalam
rentang usia 0-6 tahun. Anak usia dini adalah anak yang berkisar
antara usia 0-6 tahun yang memiliki pertumbuhan dan perkembangan yang
luar biasa sehingga muncul berbagai keunikan pada dirinya.[3] Dengan
demikian dapat dipahami bahwa anak usia dini adalah anak yang berkisar
antara 0-6/0-8 tahun yang memiliki pertumbuhan dan perkembangan yang
luar biasa sehingga memunculkan berbagai keunikan pada dirinya.

Usia dini merupakan masa perkembangan yang menentukan perkembangan
masa selanjutnya. Berbagai studi yang dilakukan para ahli menyimpulkan
bahwa pendidikan anak usia dini dapat memperbaiki prestasi dan
meningkatkan produktivitas kerja masa dewasanya.[4] Tidak heran apabla
pendidikan anak usia dini menyita perhatian di belahan dunia. Bermula
dari pertemuan Jomtien, Thailand pada 1990 Forum itu melahirkan
Deklarasi Jomtien yang berikhwal pentingnya pendidikan untuk semua
dari kandungan sampai liang lahat. Ada juga deklarasi " A World Fit
For Children" di New York, Amerika Serikat pada tahun 2002. Pertemuan
itu sangat menekankan untuk menyediakan pendidikan yang berkualitas
bagi anak-anak.

Dalam konsep Islam himbauan dan perhatian beberapa negara untuk
menyegerakan memperhatikan program pendidikan anak usia dini bukanlah
hal baru. Jauh sebelum deklarasi itu diproklamirkan dan penelitian itu
dilakukan,konsep pendidikan Islam sudah sejak awal menganggap penting
untuk pendidikan anak usia dini. Lebih-lebih dalam konteks pendidikan
aqidah dan ibadah dalam lingkungan keluarga.


Pendidikan usia dini merupakan salah satu upaya untuk merangsang
berbagai potensi yang dimiliki anak supaya dapat berkembang dengan
optimal.[6] Sebagaimana disebutkan dalam Sisdiknas No. 20 tahun 2003
yang menyebutkan bahwa pendidikan anak usia dini merupakan suatu upaya
pembinaan yang ditujukan kepada anak sejak lahir sampai dengan usia
enam tahun yang dilakukan melalui pemberian rangsangan pendidikan
untuk membantu pertumbuhan dan perkembangan jasmani dan ruhani agar
anak memiliki kesiapan dan memasuki pendidikan lebih lanjut. Dapat
dipahami bahwa orang tua dan pendidik harus memerhatikan benar
masa-masa pertumbuhan dan perkembangan rentang usia 0-6 tahun dengan
cara memberikan asupan gizi yang baik dan memberikan rangsangan
pendidikan agar anak tumbuh dan berkembang dengan baik pada masa usia
keemasan ini, agar siap memasuki kenjang pendidikan berikutnya.


Usia dini adalah masa yang sangat potensial bagi anak-anak. Masa yang
berlangsung dibawah 7 tahun itu adalah era keemasan bagi tumbuh
kembangnya potensi dan keunikan yang dimiliki oleh anak-anak.[7] Tidak
ada masa yang lebih peka selain pada masa anak-anak. Masa ini diibarat
dengan pondasi untuk membangun rancangan masa depan anak yang baik.
Anak usia dini adalah anak yang berada dalam rentang 0-8 tahun.[8]
Anak usia dini merupakan kelompok yang sedang berada dalam prinsip
pendidikan anak usia dini adalah individu unik yang memiliki pola
pertumbuhan dan perkembangan dalam aspek fisik, kognitif, sosial
emosional, kreatifitas, bahasa dan komunikasi yang khusus sesuai
dengan tahapan yang sedang dilalui oleh anak tersebut. Dalam pasal 28
Undang-undang Sistem Pendidikan Nasional No.20/2003 ayat 1, disebutkan
bahwa anak yang termasuk anak usia dini adalah anak yang masuk dalam
rentang usia 0-6 tahun. Anak usia dini adalah anak yang berkisar
antara usia 0-6 tahun yang memiliki pertumbuhan dan perkembangan yang
luar biasa sehingga muncul berbagai keunikan pada dirinya.[9] Dengan
demikian dapat dipahami bahwa anak usia dini adalah anak yang berkisar
antara 0-6/0-8 tahun yang memiliki pertumbuhan dan perkembangan yang
luar biasa sehingga memunculkan berbagai keunikan pada dirinya.

Usia dini merupakan masa perkembangan yang menentukan perkembangan
masa selanjutnya. Berbagai studi yang dilakukan para ahli menyimpulkan
bahwa pendidikan anak usia dini dapat memperbaiki prestasi dan
meningkatkan produktivitas kerja masa dewasanya.[10] Tidak heran
apabla pendidikan anak usia dini menyita perhatian di belahan dunia.
Bermula dari pertemuan Jomtien, Thailand pada 1990 Forum itu
melahirkan Deklarasi Jomtien yang berikhwal pentingnya pendidikan
untuk semua dari kandungan sampai liang lahat. Ada juga deklarasi " A
World Fit For Children" di New York, Amerika Serikat pada tahun 2002.
Pertemuan itu sangat menekankan untuk menyediakan pendidikan yang
berkualitas bagi anak-anak.

Dalam konsep Islam himbauan dan perhatian beberapa negara untuk
menyegerakan memperhatikan program pendidikan anak usia dini bukanlah
hal baru. Jauh sebelum deklarasi itu diproklamirkan dan penelitian itu
dilakukan,konsep pendidikan Islam sudah sejak awal menganggap penting
untuk pendidikan anak usia dini. Lebih-lebih dalam konteks pendidikan
aqidah dan ibadah dalam lingkungan keluarga.



Pendidikan usia dini merupakan salah satu upaya untuk merangsang
berbagai potensi yang dimiliki anak supaya dapat berkembang dengan
optimal.[12] Sebagaimana disebutkan dalam Sisdiknas No. 20 tahun 2003
yang menyebutkan bahwa pendidikan anak usia dini merupakan suatu upaya
pembinaan yang ditujukan kepada anak sejak lahir sampai dengan usia
enam tahun yang dilakukan melalui pemberian rangsangan pendidikan
untuk membantu pertumbuhan dan perkembangan jasmani dan ruhani agar
anak memiliki kesiapan dan memasuki pendidikan lebih lanjut. Dapat
dipahami bahwa orang tua dan pendidik harus memerhatikan benar
masa-masa pertumbuhan dan perkembangan rentang usia 0-6 tahun dengan
cara memberikan asupan gizi yang baik dan memberikan rangsangan
pendidikan agar anak tumbuh dan berkembang dengan baik pada masa usia
keemasan ini, agar siap memasuki kenjang pendidikan berikutnya.


________________________________

[1] Suyadi (2010), Psikologi Belajar Anak Usia PAUD, Yogyakarta:
Pedagogia, hal. 24

[2] Muhammad Fadlillah dan Lilif Mualifutu Khorida (2013), Pendidikan
Karakter Anak Usia Dini, Jakarta: Ar-Ruzz Media, hal.47

[3] Muhammad Fadlillah (2012), Desain Pembelajaran PAUD,Yogyakarta:
Ar-Ruzz Media hal.19

[4]Syamsu Yusuf L.N dan Nani M. Sugandhi (2013), Perkembangan Peserta
Didik, Jakarta: Raja Grafindo, hal. 47

[5] Departemen Agama RI (2000), Al Qur'an Al Karim dan Terjemahannya,
Semarang: Toha Putra, hal. 329

[6] Muhammad Fadlillah dan Lilif Mualifutu Khorida (2013), Pendidikan
Karakter Anak Usia Dini, Jakarta: Ar-Ruzz Media, hal.46

[7] Suyadi (2010), Psikologi Belajar Anak Usia PAUD, Yogyakarta:
Pedagogia, hal. 24

[8] Muhammad Fadlillah dan Lilif Mualifutu Khorida (2013), Pendidikan
Karakter Anak Usia Dini, Jakarta: Ar-Ruzz Media, hal.47

[9] Muhammad Fadlillah (2012), Desain Pembelajaran PAUD,Yogyakarta:
Ar-Ruzz Media hal.19

[10]Syamsu Yusuf L.N dan Nani M. Sugandhi (2013), Perkembangan Peserta
Didik, Jakarta: Raja Grafindo, hal. 47

[11] Departemen Agama RI (2000), Al Qur'an Al Karim dan
Terjemahannya, Semarang: Toha Putra, hal. 329

[12] Muhammad Fadlillah dan Lilif Mualifutu Khorida (2013), Pendidikan
Karakter Anak Usia Dini, Jakarta: Ar-Ruzz Media, hal.46

Romeltea Media
JURNALGO PENDIDIKAN Updated at:

Assesmen (Penilaian) Pada Anak Usia Dini


Penilaian menurut bahasa artinya proses, cara, perbuatan menilai.[1]Penilaian (assesmen) merupakan istilah yang umum dan mencakup semua metode yang biasa dipakai untuk mengetahui keberhasilan belajar siswa dengan cara menilai unjuk kerja individu peserta didik atau kelompok. Penilaian juga dapat diartikan sebagai suatu upaya untuk memperoleh berbagai informasi secara berkala, berkesinambungan, menyeluruh tentang proses dan hasil belajar, pertumbuhan serta perkembangan sikap dan prilaku yang dicapai siswa.[2] Penilaian adalah proses yang menyediakan informasi tentang individu siswa, kurikulum atau program, institusi atau segala sesuatu yang berkaitan dengan institusi.[3]

Dari beberapa definisi diatas dapat dipahami bahwa penilaian adalah suatu proses secara berkala untuk mengambarkan perubahan diri siswa setelah mengikuti proses pembelajaran.

Penilaian sebagai suatu usaha mengumpulkan dan menafsirkan berbagai informasi secara sistematis, berkala, berkelanjutan, menyeluruh tentang proses dan hasil dari pertumbuhan dan perkembangan yang telah dicapai anak melalui pembelajaran dan menginterprestasikan informasi tersebut untuk membuat keputusan-keputusan.[4] Penilaian merupakan proses pengumpulan, pelaporan, dan penggunaan informasi tentang hasil belajar siswa yang diperoleh melalui pengukuran dan menganalisis unjuk kerja atau prestasi siswa dengan menggerjakan tugas-tugas yang terkait.[5] Definisi lain dari penilaian adalah suatu proses kegiatan untuk mendapatkan informasi data mengenai hasil belajar mengajar yang dialami anak didik dan mengolah atau menafsirkannya menjadi nilai berupa data kualitatif atau kuantitatif sesuai dengan standar tertentu.[6]

Berdasarkan berbagai definisi diatas dapat dipahami bahwa penilaian adalah pengumpulan informasi dari siswa setelah melakukan proses belajar mengajar dikelas, yang disajikan dalam bentuk data kualitatif atau data kuantitatif dengan melakukan tugas-tugas tertentu.

________________________________

[1]Depdiknas (2008), Kamus Bahasa Indonesia, Jakarta: Pusat Bahasa , hal. 1075

[2]Kasful Anwar Us dan Hendra Harmi  (2011), Perencanaan Sistem Pembelajaran Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP), cet. I, Bandung: Alphabeta, hal. 129-130

[3]Hamdani (2011), Strategi Belajar Mengajar,  Bandung: Pustaka Setia, hal.301

[4]Depdiknas (2006), Model Penilaian Kelas Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan Taman Kanak-kanak, Jakarta: Pusat Kurikulum, hal.4

[5]Sutarjo Adisusilo (2013), Pembelajaran Nilai Karakter, Jakarta: Rajawali Press, hal.235

[6]Tatang S (2012), Ilmu Pendidikan, Bandung: Pustaka Setia, hal.228

Romeltea Media
JURNALGO PENDIDIKAN Updated at:

Permainan Ice Breaking

Ice breaking adalah  salah satu teknik pemecah kebekuan untuk mengembalikan suasana bosan dalam pembelajaran kembali bergairah dan bersemangat.[1] Ice breaking merupakan permainan atau kegiatan yang berfungsi untuk mengubah suasana kebekuan dalam kelompok.[2] Ice breaking merupakan "permainan atau kegiatan yang berfungsi untuk mengubah suasana kebekuan dalam kelompok.[3]  Ice breaking adalah "peralihan situasi dari yang membosankan, membuat mengantuk, menjenuhkan, dan tegang menjadi rileks, bersemangat, tidak membuat mengantuk, serta ada perhatian dan ada rasa senang untuk mendengarkan atau melihat orang yang berbicara di depan kelas atau ruangan pertemuan."[4]

Berdasarkan beberapa pendapat di atas, Ice breaking dapat diartikan sebagai pemecah situasi kebekuan fikiran atau fisik siswa. Ice breaking juga dimaksudkan untuk membangun suasana belajar yang dinamis, penuh semangat, dan antusiasme. Hal ini Ice breaking adalah

menciptakan suasana belajar yang menyenangkan (fun) serta serius tapi

santai. Ice breaking adalah permainan yang dapat memecahkan kebekuan fikiran atau fisik siswa. Ice breaking juga dimaksudkan untuk membangun suasana belajar yang dinamis, penuh semangat dan antusiasme.

2.      Manfaat Permainan Ice Breaking

Ice Breaking berfungsi untuk pemantapan konsep dan mengkondisikan kembali ke dalam situasi yang baru. Jadi, Ice breaking sangat bermanfaat bagi siswa karena pikiran yang tadi jenuh menjadi terbuka kembali. Ice breaking sangat ampuh dan tepat untuk membuah siswa kembali ke zona Alfa (zona awal yang masih semangat).

Ice breaking sangat bermanfaat untuk kembali menyegarkan pikiran siswa, dan menumbuhkan kegairahan untuk belajar kembali. Dalam acara-acara yang membutuhkan focus dan konsentrasi pesertanya, maka selingan ice breaking menjadi kebutuhan, seperti seminar, work shop. Begitupun dalam dunia pendidikan. oleh karenanya guru super yang kreatif akan selalu membuat suasana cair dan bergairah dengan menciptakan mode-model ice breaking sendiri.[5]

 

Meski demikian, guru harus hati-hati dalam memilih Ice Breaking yang tepat. Jangan sampai Ice Breaking menghabiskan waktu jam pelajaran. Harus dibedakan Ice Breaking yang digunakan untuk Training, Outbond dengan Ice Breaking di dalam kelas. Guru dalam hal ini ditantang untuk melakukan pemilihan Ice Breaking yang tepat.

3.      Jenis-jenis Permainan Ice Breaking

Banyak jenis permainan ice breaking yang bisa di amati, ditiru dan dimodifikasi antara lain:

1.      Game

Game yang dilakukan bisa perorangan maupun kelompok.

2.      Menyanyi

Menyanyi adalah salah satu ice breaking yang bisa melibatkan siswa seluruhnya. Misalnya menyanyikan lagu yang diciptakan oleh guru sendiri, atau menyanyikan lagu yang sudah dikenaltetapi diubah liriknya.

3.      Senam

Senam adalah bagian dari kegiatan pembelajaran, agar siswa sehat, segar dan bersemangat. Ada senam yang baku yang menjadi senam wajib di sekolah-sekolah, ada juga senam dadakan yang dilakukan guru dan diikuti oleh siswanya. Misalnya bangun dari duduk dan kemudian menggerakkan tubuh.

4.      Yel-yel Pembangkit Semangat

Yel-yel adalah kata-kata pembangkit semangat atau motivasi, dengan intonasi suara tegas, keras , namun bermakna. Yel-yel bisa menggerakkan anggota tubuh sambil menucapkan kata-kata motivasi.

Misalnya:

Guru    : "mana anak yang cerdas?"

Siswa   : "ini anak yang cerdas!" (sambil menunjukkan 2 jari jempol kedada.)

Guru    : "Dimana?"

Siswa   : "disini!"

Guru    : "yang mana?"

Siswa   : "yang ini!"

Guru    : "Bagaimana kalau tidak cerdas?"

Siswa   : "rugi abis" (sambil mengangkat tangan kanan dan mengepal mengeluarkan jari jempol terbalik kebawah)

 

Dan masih banyak yel-yel lain yang dapat diciptakan oleh guru kreatif.

5.      Senam Otak (Brain Game)

Senam otak atau yang biasa dikenal dengan brain game,  adalah teknik senam yang menggerakkan dua belahan otak, yaitu otak kanan dan kiri. Gerakan senam otak adalah menggerakkan tangan kanan dan kiri dengan gerakan yang berbeda.

6.      Tepuk

Tepukpun bisa menjadi salah satu ice breaking, asal tepukannya tidak seperti biasanya. Misalnya: tepuk satu, tepuk dua, tepuk tiga, tepuk anak sholeh, tepuk Islam, tepuk semangat dan lain-lain

7.      Humor

Humor adalah teknik membawa anak bahagia dan bisa tertawa agar suasana pembelajaran bisa menyenangkan

8.      Story telling

Bercerita menjadi bagian pendidikan asal yang diceritakan memiliki makna yang baik dan menggugah. Guru dapat menceritakan sendiri ceritanya atau mengubah jalan cerita yang ada kearah lain.

9.      Tebak-tebakan

Tebak-tebakan menjadi bagian dari ice breaking, yang akan selalu membawa siswa fokus kembali. Apa lagi tebak-tebakan itu dilengkapi dengan reward bagi yang bisa menjawabnya. Suasana akan ramai jika tebak-tebakan dimulai, dan itu memang yang diinginkan guru agar semangat belajar terbangun kembali.[6]

 

Masih banyak lagi jenis-jenis permainan ice breaking yang dapat diciptakan guru untuk memcahkan suasana kebekuan dalam belajar hingga pembelajaran menjadi menyenangkan. Guru harus pandai dan bijak dalam memilih waktu yang tepat ketika melakukan permainan ice breaking.

4.      Teknik Penerapan Ice Breaking

Dalam penerapan ice breaking banyak cara atau teknik yang dapat digunakan untuk membangkitkan gairah belajar anak.Teknik penggunakan ice breaking terbagi dalam dua cara yaitu teknik spontan dan teknik yang direncanakan. [7] Ice breaking digunakan secara spontan dalam proses pembelajaran biasanya digunakan karena situasi pembelajaran biasanya digunakan tanpa rencana tetapi lebih banyak digunakan karena situasi pembelajaran yang ada pada saat itu butuh penyemangat agar pembelajaran dapat fokus kembali. Ice breaking yang demikian bisa digunakan kapan saja melihat dituasi dan kondisi yang terjadi pada saat pembelajaran berlangsung. Ice breaking yang baik dan efektif membantu proses pembelajaran adalah ice breaking yang direncanakan dan dimasukan dalam rencana pembelajaran. "Ice breaking yang direncanakan dan dimasukan dalam renacana pembelajaran dapat mengoptimalkan pencapaian tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan."[8]

Farima Dona Ginting
Mahasiswa STAIN Gajah Putih
________________________________

[1] Ucu Sulastri dan Wahyudi, Super Teaching…, hal. 105

[2]Sunarto (2012), Ice Breaker dalam Pembelajaran Aktif, Surakarta: Cakrawala Media, hal.2

[3] Sunarto (2012), Icebreaker dalam Pembelajaran Aktif. Surakarta : Cakrawala Media, hal.2

[4] Adi Soenarno (2005), Icebraker Permainan Atraktif-Edukatif Untuk Pelatihan Menejemen, Yogyakarta: Andi Offset, hal.1

[5] Ucu Sulastri dan Wahyudi, Super Teaching…, hal.105-106

[6] Ucu Sulastri dan Wahyudi, Super Teaching…, hal.106-109

[7] Sunarto, Icebreaker…. hal.107

[8] Sunarto, Icebreaker…. hal.107

Romeltea Media
JURNALGO PENDIDIKAN Updated at:

Hakekat Bermain pada Anak

Bermain adalah kegiatan yang sangat dekat dengan dunia anak. Kegiatan ini dapat dilakukan secara perorangan maupun berkelompok. Jenis permainan, jumlah peserta serta lamanya waktu yang dialokasikan untuk bermain, bergantung pada keinginan serta kesepakatan yang dibuat oleh para peserta. Menurut Anggani Sudono "Bermain adalah suatu kegiatan yang dilakukan dengan atau tanpa mempergunakan alat yang menghasilkan pengertian atau memberikan informasi, memberi kesenangan maupun mengembangkan imajinasi pada anak".[1]

 

Sejatinya, sebuah permainan merupakan salah satu sarana yang bisa dijadikan sebagai jalan untuk melakukan tranformasi ilmu kepada anak-anak. oleh sebab itu, ketika seseorang anak bermain, berarti ini bukan sebagai permainan yang dapat menghibur atau melakukan aktivitas keceriaan yang tanpa makna, melainkan lebih dari itu, yaitu permainan yang dimainkan oleh siapa pun akan mempunyai arti yang mendidik, walaupun tanpa disadari oleh orang yang melakukannya. Apabila sebuah permainan diartikan demikian maka apapun bentuk permainan yang ingin dilakukan bersama dengan anak-anak, akan melahirkan sebuah jalan untuk membuat mereka semakin berkembang dan maju dalam pendidikan yang sedang dilalui. Lebih dari itu, tidak salah jika dengan melakukan permainan inilah, mereka bertambah cerdas dan pintar.

 

Pada usia yang mungkin sangat belia, anak-anak yang berada di tingkat pendidikan Taman Kanak-Kanak (TK) dan Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) ini pasti memiliki kecenderungan yang cukup tinggi dalam melakukan permainan. Pada usia seperti ini kebanyakan anak selalu disibukkan dengan bermain dalam kehidupan sehari-hari, baik ketika di rumah, sekolah, sewaktu jalan-jalan, makan, menjelang tidur dan segalanya. Anak  TK ( Taman Kanak-Kanak)  dengan karakteristik umur 3-5 tahun kemampuan motoriknya berkembang cukup kuat sehingga mampu melakukan kegiatan dengan baik sehingga dapat mengkoordinasikan otak dan gerak.[2]

 

Selama pertumbuhannya, minat dan permainan anak selalu terkait dengan perkembangan kemampuannya. Oleh karena itu berbagai permainan sebenarnya bisa di rancang secara sengaja dengan maksud agar anak  meningkatkan beberapa kemampuan tertentu berdasarkan pengalaman belajar. Menurut Musfiroh "Bermain adalah kegiatan yang dilakukan atas dasar suatu kesenangan dan tanpa mempertimbangkan hasil akhir, kegiatan tersebut dilakukan secara suka rela, tanpa paksaan atau tekanan dari pihak luar".[3] Sebagian orang menyatakan bermain sama funfsinya dengan bekerja. Meskipun demikian, anak memiliki persepsi sendiri mengenai bermain. Bermain bagi anak berkaitan dengan peristiwa, situasi dan interaksi dan aksi. Bermain mengacu pada aktivitas seperti berlaku pura-pura dengan benda, sosiodrama dan permainan yang beraturan. Bermain berkaitan dengan tiga hal, yakni keikutsertaan dalam kegiatan, asfek afektif dan orientasi tujuan.

 

Permainan adalah tuntutan dan kebutuhan yang esensial bagi anak.[4] Melalui bermain anak akan dapat memuaskan tuntutan dan kebutuhan perkembangan dimensi motorik, kognitif, kreatifitas, bahasa, emosi, sosial, dan sikap hidup. Permainan sebagai suatu aktifitas yang membantu anak mencapai perkembangan yang utuh, baik fisik, intelektual, sosial, moral, dan emosional. Kegiatan bermain yang dilakukan anak memiliki ciri-ciri atau mengandung unsur sebagai berikut:

a.       Menyenangkan dan menggembirakan bagi anak

b.      Dorongan bermain muncul dari anak bukan paksaan dari orang lain

c.       Anak melakuklan karena spontan bukan sukarela dan tidak merasa diwajibkan

d.      Semua anak ikut serta dan secara bersama-sama sesuai pera masing-masing

e.       Anak berlaku pura-pura atau memerankan sesuatu

f.       Anak menetapkan aturan main sendiri, baik aturan yang diadopsi dari orang lain maupun aturan yang baru

g.      Anak berlaku aktif

h.      Anak bebas memilih atau bermain apa saja atau beralih kekegiatan bermain yang lain. [5]

 

Bermain sangat penting bagi anak, penting bagi pertumbuhan dan perkembangan anak bermain dapat dilakukan di sekolah dibawah pengawasan guru dan dapat juga dilakukan dirumah yang diawasi oleh orangtua. Anak dapat mengembangkan rasa harga diri melalui bermain, belajar sambil bermain, karena melalui bermain anak dapat memperoleh kemampuan untuk menguasai tubuh mereka, benda-benda yang ada di sekeliling anak dan keterampilan sosial yang memiliki tujuan dalam kehidupan. Bermain selain berfungsi penting bagi perkembangan pribadi anak, juga memiliki fungsi sosial dan emosional.[6] Melalui bermain anak akan merasakan berbagai pengalaman emosi , senang, sedih, bergairah, kecewa dan bangga, melalui bermain juga anak memahami tata cara pergaulan. Bermain bagi anak usia dini dapat mempelajarai dan belajar banyak hal, dapat mengenal aturan, bersosialisasi, menempatkan diri, menata emosi, toleransi, kerjasama, dan menjunjung tinggi sportivitas. Di samping itu, aktivitas bermain juga dapat mengembangkan kecerdasan mental, spiritual, bahasa dan keterampilan motorik anak usia dini.[7]

 

Farima Dona Ginting

Mahasiswa STAIN Gajah Putih

 


________________________________

[1] Anggani Sandono (2006), Sumber Belajar dan Alat Permainan (untuk Pendidikan Anak Usia Dini), Cetakan kelima, Jakarta: Grasindo,  hal.1-2

[2] Soemiatri Patmonodewo (2003), Pendidikan Anak Prasekolah, Jakarta: Rineka Cipta, hal. 42

[3] Tadrikoatun Musfiroh (2008), Cerdas Melalui Bermain, Yogyakarta: Grasindi, hal.1

[4] Diana Mutiah (2010), Psikologi Bermain Anak Usia Dini, Jakarta: Kencana, hal. 113

[5] Tadrikoatun Musfiroh, Cerdas Melalui ..., hal 4

[6] Diana Mutiah , Psikologi Bermain…, hal. 113

[7] Muhammad Fadlillah dan Lilif Mualifatu (2013), Pendidikan Karakter Anak Usia Dini: Konsep dan Aplikasinya dalam PAUD, hal. 149

Romeltea Media
JURNALGO PENDIDIKAN Updated at:

 
back to top