. Model Pengembangan Kurikulum 2013 Raudhatul Athfal

1. Kerangka Dasar Kurikulum 2013 Raudhatul Athfal

Model pengembangan kurikulum Raudhatul Athfal mengacu pada landasan Pendidikan Anak Usia Dini. Terdapat pengelompokan kurikulum anak usia dini secara umum, yaitu:

a. Model proses pematangan, model ini didasarkan pada teori yang dikembangkan oleh Gassel Freud dan erikson. Menurut model ini anak-anak memiliki blue frint atau cetak biru pola tingkah laku tertentu perubahan tingkah laku terjadi sebagai hasil dari kematangan psikologis atau kesiapan dan situasi lingkungan yang mengandung tingkah laku tertentu yaitu tugas-tugas perkembangan.

b. Model aliran tingkah laku lingkungan, Model ini didasari oleh teori Skinner , Baer, Bijou dan Badura. Menurut model ini anak-anak dilahirkan dengan suatu batu tulis kosong (blank slate) yaitu tingkah laku pasif dibentuk oleh kondisi lingkungan. Perubahan tingkah laku terjadi sebagai hasil dari penguatan peristiwa yang terencana dan tidak terencana,

c. Model interaksi didasarkan pada teori Piaget dan Vygotsky, model ini beranggapan bahwa perkembangan anak merupakan hasil perpaduan antara heriditas dan pengaruh lingkungan. Perkembangan akan terjadi pada seseorang ketika orang melakukan pengorganisasian diri yang dicapai pada tahap optimal oleh peristiwa yang diekprientasikan. [1]



Upaya pendidik dalam mengembangkan potensi anak harus dilakukan seoptimal mungkin, dalam melakukan mengembangkan potensi anak, pendidik dianjurkan untuk memahami perkembangan anak. Hal ini disebabkan masa kanak-kanak merupakan periode perkembangan yang cepat dan terjadi perubahan dalam banyak aspek perkembangan, pengalamanan masa kecil mempunyai pengaruh yang kuat terhadap perkembangan berikutnya.

Selain itu pengetahuan tentang perkembangan anak dapat membantu sang anak mengembangkan diri dan memecahkan masalah yang dihadapinya, begitu juga dengan pemahaman tentang factor-faktor yang mempengaruhi perkembangan anak, dapat diantisipasi tentang berbagai upaya untuk mempasilitasi perkembangan tersebut baik dilingkungan keluarga, sekolah maupun masyarakat. Tujuan kurikulum 2013 Raudhatul Athfal. bertujuan untuk mendorong perkembangan peserta didik secara optimal sehingga memberi dasar untuk menjadi manusia Indonesia yang memiliki kemampuan hidup sebagai pribadi dan warga negara yang beriman, produktif, kreatif, inovatif, dan afektif serta mampu berkontribusi pada kehidupan bermasyarakat, berbangsa, bernegara, dan peradaban dunia.[2]

Kurikulum 2013 Raudhatul Athfal dirancang dengan karakteristik sebagai berikut:

1) Mengoptimalkan perkembangan anak yang meliputi: aspek nilai agama dan moral, fisik-motorik, kognitif, bahasa, sosial emosional, dan seni yang tercermin dalam keseimbangan kompetensi sikap, pengetahun, dan keterampilan.

2) Menggunakan pembelajaran tematik dengan pendekatan saintifik dalam pemberian rangsangan pendidikan.

3) Menggunakan penilaian autentik dalam memantau perkembangan anak

4) memberdayakan peran orang tua dalam proses pembelajaran.[3]

Dalam proses pelaksanaan Kurikulum 2013 Raudhatul Athfal pada hakikatnya bertujuan untuk mendorong berkembangnya potensi anak agar memiliki kesiapan untuk menempuh pendidikan selanjutnya.

2. Standar Tingkat Pencapaian Perkembangan

Standar tingkat pencapaian perkembangan anak merupakan kriteria minimal tentang kualifikasi perkembangan anak yang mencakup aspek nilai agama dan moral, fisik motorik, kognitif, bahasa, sosial-emosional, dan seni.yaitu:

a. Nilai-nilai agama dan moral, mengenal agama yang dianut, mengerjakan ibadah, berperilaku jujur, penolong, sopan, hormat, sportif, menjaga kebersihan diri dan lingkungan, mengetahui hari besar agama, dan menghormati (toleransi) agama orang lain.

b. Fisik Motorik, yaitu 1) motorik kasar: memiliki kemampuan gerakan tubuh secara terkoordinasi, lentur, seimbang, dan lincah dan mengikuti aturan. 2) motorik halus: memiliki kemampuan menggunakan alat untuk mengeksplorasi dan mengekspresikan diri dalam berbagai bentuk. 3) kesehatan dan perilaku Keselamatan: memiliki berat badan, tinggi badan, lingkar kepala sesuai usia serta memiliki kemampuan untuk berperilaku hidup bersih, sehat, dan peduli terhadap keselamatannya.

c. Kognitif yakni, belajar dan pemecahan masalah: mampu memecahkan masalah sederhana dalam kehidupan sehari-hari dengan cara yang fleksibel dan diterima sosial dan menerapkan pengetahuan atau pengalaman dalam konteks yang baru.berfikir logis, mengenal berbagai perbedaan, klasifikasi, pola, berinisiatif, berencana, dan mengenal sebab akibat dan berfikir simbolik: mengenal, menyebutkan, dan menggunakan lambang bilangan 1-10, mengenal abjad, serta mampu merepresentasikan berbagai benda dalam bentuk gambar.

d. Bahasa, meliputi: memahami (reseptif) bahasa: memahami cerita, perintah, aturan, dan menyenangi serta menghargai bacaan, mengekspresikan Bahasa: mampu bertanya, menjawab pertanyaan, berkomunikasi secara lisan, menceritakan kembali apa yang diketahui dan keaksaraan yaitu memahami hubungan bentuk dan bunyi huruf, meniru bentuk huruf, serta memahami kata dalam cerita.

e. Sosial-emosional, yakni, kesadaran diri: memperlihatkan kemampuan diri, mengenal perasaan sendiri dan mengendalikan diri, serta mampu menyesuaian diri dengan orang lain, rasa tanggung jawab untuk diri dan orang lain: mengetahui hak-haknya, mentaati aturan, mengatur diri sendiri, serta bertanggung jawab atas perilakunya untuk kebaikan sesama. Perilaku prososial artinya mampu bermain dengan teman sebaya, memahami perasaan, merespon, berbagi, serta menghargai hak dan pendapat orang lain; bersikap kooperatif, toleran, dan berperilaku sopan.

f. Seni yaitu, mengeksplorasi dan mengekspresikan diri, berimaginasi dengan gerakan, musik, drama, dan beragam bidang seni lainnya (seni lukis, seni rupa, kerajinan), serta mampu mengapresiasi karya seni.[4]



Dari penjelasan diatas dapat disimpulkan bahwa standar tingkat pencapaian perkembangan anak dalam proses pengembangan kurikulum 2013 PAUD harus mencakup semua aspek perkembangan anak. Kriteria-kriteria dalam standar pencapaian perkembangan anak harus memenuhi semua hal yang dibutuhkan anak untuk perkembangan anak selanjut dan jenjang pendidikan selanjutnya, baik dari segi nilai-nilai, agama, moral fisik motorik halus dan kasar, kognitif, sosial emosional, seni dan bahasa. Dengan terpenuhinya standar tingkat pencapaian perkembangan anak maka akan memudahkan sang anak melanjutkan pendidkan ke jenjang selanjutnya dan berinteraksi dengan lingkungan sekitarnya.





2. Prinsip Pengembangan Kurikulum 2013 Raudhatul Athfal

Pengembangan kurikulum 2013 Raudhatul Athfal dikembangkan berdasarkan tiga pilar yaitu, 1) penataan lingkungan di dalam dan di luar kelas, 2) bermain dan alat permainan edukatif, 3) interaksi yang ditunjukan oleh guru dan anak serta orang-orang yang terdapat pada lembaga pendidikan tersebut.[5] Pengembangan kurikulum harus memperhatikan hal-hal sebagai berikut:

a. Bersifat komprehensif, yaitu harus menyediakan pengalaman belajar yang meningkatkan perkembangan anak secara menyeluruh dalam berbagai aspek perkembangan.

b. Dikembangkan atas dasar perkembangan secara bertahap, yaitu, harus menyediakan berbagai kegiatan dan interaksi yang tepat didasarkan pada usia dan tahap perkembangan setiap anak. Program menyediakan berbagai sarana dan bahan untuk anak dengan berbagai kemampuan.

c. Melibatkan orang tua, artinya keterlibatan orang tua sebagai pendidik utama bagi anak, peran orang tua sangat penting dalam melaksanakan pendidikan.

d. Melayani kebutuhan individu, yaitu dapat mewadahi kemampuan, kebutuhan dan minat setiap anak.

e. Merefleksikan kebutuhan dan nilai masyarakat, yaitu harus memberikan dan memperhatikan kebutuhan setiap anak sebagai anggota dari keluarga dan nilai-nilai budaya suatu masyarakat.

f. Mengembangkan standar kompentensi anak, artinya kurikulum harus yang dikembangkan memperhatikan kebutuhan setiap anak sebagai anggota keluarga dan nilai-nilai budaya suatu masyarakat.

g. Mewadahi layanan anak berkebutuhan khusus yaitu memperhatikan semua anak termasuk anak-anak yang berkebutuhan khusus.

h. Menjalin kemitraan dengan keluarga dan masyarakat, dapat menunjukan bagaimana membangun sinergi dengan keluarga dan masyarakat sehingga tujuan pendidikan dapat tercapai.

i. Memperhatikan kesehatan dan keselamatan anak, yaitu memperhatikan aspek keamanan dan kesehatan anak saat anak berada di sekolah.

j. Menjabarkan prosedur pengelolaan lembaga, yaitu menjabarkan dengan jelas prosedur manajemen dan pengelolaan lembaga kepada masyarakat sebagai bentuk akuntabilitas.

k. Manajemen sumber daya manusia, menggambarkan proses manajemen pembinaan sumber daya manusia yang terlibat di lembaga.

l. Penyediaan sarana dan prasarana, yaitu menggambarkan penyediaan sarana dan prasarana yang dimiliki lembaga. [6]



Selain yang disebutkan diatas, terdapat beberapa prinsip pengembangan kurikulum PAUD lainnya menurut para ahli secara rinci sebagai berikut:

1) Relevansi, yaitu relevan dengan kebutuhan dan perkembangan anak secara individu.

2) Adaptasi, yaitu harus memperhatikan dan mengadaptasi perubahan psikologis, iptek dan seni.

3) Kontinuitas, kurikulum harus disusun secara berkelanjutan antara satu tahapan perkembangan ke tahapan perkembangan berikutnya dalam rangka mempersiapkan anak memasuki pendidikan selanjutnya.

4) Fleksibilitas, yaitu harus dipahami, dipergunakan dan dikembangkan secara fleksibilitas sesuai dengan keunikan dan kebutuhan anak serta kondisi lembaga penyelenggara.

5) Kepraktisan dan akseptabilitas, memberikan kemudahan bagi praktisi dan masyarakat dalam melaksanakan kegiatan pendidikan pada anak usia dini.

6) Kelayakan (feasibility) kurikulum anak usia dini harus menunjukan kelayakan dan keterpihakan pada anak usia dini.

7) Akuntabilitas, kurikulum anak usia dini harus dapat dipertanggung-jawabkan kepada masyarakat sebagai pengguna jasa pendidikan usia dini.[7]



Berdasarkan teori diatas dapat ditarik kesimpulan, prinsip pengembangan kurikulum Paud, harus benar-benar berpihak kepada anak dan dapat memenuhi kebutuhan dalam proses pendidikan anak, baik secara psikologis, interaksi sosial dan aspek-aspek lainnya yang bersentuhan langsung dengan anak dalam rangka proses pembelajaran untuk perkembangan anak. Dalam pelaksanaan kurikulum terdapat terdapat tujuh prinsip pelaksanaan, yaitu:

a) Anak harus mendapatkan pelayanan pendidikan yang bermutu serta memperoleh kesempatan untuk mengekpersikan diri secara bebas, dinamis dan menyenangkan.

b) Menegakan lima pilar belajar, yaitu, belajar untuk bertaqwa kepada Tuhan yang Maha Esa, belajar untuk memahami dan menghayati, belajar hidup bersama untuk berbuat secara efektif, belajar untuk berguna bagi orang lain, belajar untuk membangun dan menemukan jati diri melalui proses pembelajaran yang aktif, kreatif, efektif dan menyenangkan.

c) Anak mendapatkan layanan layanan yang bersifat perbaikan, pengayaan dan percepatan.

d) Menggunakan pendekatan multisrategi, sumber belajar dan teknologi yang memadai dan memanfaatkan lingkungan sekitar sebagai sumber belajar.

e) Mendayagunakan kondisi alam, sosial dan budaya serta kekayaan daerah.

f) Diselenggarakan dalam keseimbangan keterkaitan dan kesinambungan yang cocok dan memadai antar kelas dan jenis pendidikan serta jenjang pendidikan. [8]



Sementara menurut Pedoman Pengembangan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan Pendidikan Anak Usia Dini Dalam Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Nomor 146 Tahun 2014 yang termuat dalam Salinan Lampiran III Peraturan Menteri Pendidikan Dan Kebudayaan Republik Indonesia Nomor 146 tahun 2014 Tentang Kurikulum 2013 Pendidikan Anak Usia Dini, penyusunan kurikulum Raudhatul Athfal dilakukan dengan memperhatikan prinsip-prinsip sebagai berikut.

(a) Kurikulum dikembangkan prinsip berpusat pada anak yaitu dengan mempertimbangkan potensi, minat, bakat, perkembangan, dan kebutuhan semua anak, termasuk anak yang mempunyai kebutuhan khusus.

(b) Kurikulum dikembangkan secara kontekstual yaitu dengan mempertimbangkan karakteristik daerah, kondisi sekolah, dan kebutuhan anak.

(c) Substansi kurikulum mencakup semua dimensi kompetensi (sikap, pengetahuan, dan keterampilan) dan mencakup semua program pengembangan yang direncanakan dan disajikan secara terpadu dan berkesinambungan sesuai dengan tahap perkembangan anak.

(d) Kurikulum disusun agar semua program pengembangan menjadi dasar pembentukan kepribadian anak secara utuh dalam pembentukan sikap spiritual dan sikap sosial anak.

(e) Kurikulum disusun dengan memperhatikan tingkat perkembangan anak karena anak akan belajar dengan baik jika kebutuhan fisik terpenuhi serta merasa tenteram, aman dan nyaman.

(f) Kurikulum disusun dengan mempertimbangkan cara anak belajar dari sederhana ke rumit, konkret ke abstrak, dari gerakan ke verbal, dan dari keakuan ke rasa sosial.

(g) Kurikulum disusun dengan mempertimbangkan keterpaduan aspek dalam pengembangan anak usia dini holistik integratif (PAUD-HI) yaitu pendidikan, kesehatan dan gizi, pengasuhan, dan perlindungan anak.

(h) Kurikulum disusun dengan menggunakan pendekatan belajar melalui bermain yang dirancang agar tercipta suasana yang menyenangkan, fungsional, dan efektif dalam proses pembelajaran.

(i) Kurikulum dikembangkan untuk memberikan pengalaman belajar pada anak dengan memperhatikan dan memanfaatkan ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni yang berkembang secara dinamis.

(j) Kurikulum dikembangkan dengan memperhatikan karakteristik sosial budaya masyarakat setempat dan menunjang kelestarian keragaman budaya. Kurikulum perlu memuat keragaman potensi kebutuhan, tantangan, dan karakteristik lingkungan daerah setempat untuk menghasilkan anak yang mengenal, mengapresiasi dan mencintai budaya daerah.[9]



Sementara itu prosedur dan mekanisme pengembangan kurikulum dalam operasional meliputi kegiatan yaitu: satuan Raudhatul Athfal membentuk tim atau kelompok kerja pengembang kurikulum, Tim dan kelompok kerja pengembang melakukan analisis konteks dengan mempelajari dan mencermati pedoman-pedoman yang ada dalam Peraturan Menteri Tentang Kurikulum 2013 Pendidikan Anak Usia Dini ini, menganalisis kondisi, peluang, dan tantangan yang ada di lembaga/satuan PAUD yang berhubungan dengan anak, pendidik dan tenaga kependidikan, sarana dan prasarana, biaya dan program-program yang akan dilakukan.

Selanjutnya adalah Penyusunan draf dokumen kurikulum Raudhatul Athfal sesuai dengan komponen yang telah ditetapkan, kemudian tim atau kelompok kerja melakukan review, revisi, dan penetapan. Dokumen tersebut kemudian disahkan oleh pejabat yang berwenang sesuai dengan kewenangannya, seperti: dinas pendidikan setempat, kantor kementerian agama setempat, dan/atau ketua yayasan atau pengelola. Pelaksanaan KTSP sendiri merupakan tanggung jawab bersama seluruh warga satuan Raudhatul Athfal. [10]

3. Model Pengembangan

Kurikulum dapat dianalogikan sebagai program yang dirancang untuk mencapai tujuan. Jika Tujuannya adalah Tingkat Pencapaian Perkembangan Anak, maka kurikulum sebagai program Pengembangan PAUD untuk mencapai aspek perkembangan tersebut. Karenanya kurikulum memuat program pengembangan sebagai berikut:

a. Pengembangan nilai agama dan moral mengenalkan nilai-nilai moral dan perilaku baik melalui kegiatan rutinitas untuk memunculkan pembiasaan-pembiasaan perilaku baik.

b. Pengembangan motorik mencakup stimulasi terencana untuk mengembangkan kekuatan otot kasar, otot halus. dan perilaku sehat. Pengembangan motorik dilakukan melalui berbagai aktivitas kegiatan bermain dan pembiasaan.

c. Pengembangan kognitif sebagai program fasilitasi agar anak mengenal dunia dengan cara eksplorasi dan bermain aktif sehingga anak memiliki pengalaman yang menunjang kematangan berpikir kritis, analitis, dan problem solving.

d. Pengembangan bahasa merupakan program untuk meningkatkan kemampuan memahami bahasa yang disampaikan (reseptif), mampu menyampaikan dengan jelas dan runtut (ekspresif), dan pengenalan keaksaraan awal melalui interaksi akti anak dengan anak, dan anak dengan orang tua.

e. Pengembangan sosial-emosional mencakup perwujudan suasana untuk tumbuh-kembangnya sikap dan keterampilan sosial dalam konteks bermain.

f. Pengembangan seni mencakup perwujudan suasana untuk tumbuh-kembangnya apresiasi seni dalam konteks bermain.[11]



Muatan pembelajaran pada Raudhatul Athfal berisi materi-materi yang dikenalkan kepada anak sesuai dengan program pengembangan. Muatan pembelajaran pada program anak usia dini lebih menekankan pada pembentukan sikap, etika, pengenalan cinta tanah air. Beban belajar Raudhatul Athfal merupakan keseluruhan pengalaman belajar yang harus diikuti peserta didik dalam satu minggu, satu semester, dan satu tahun.

Beban belajar untuk anak usia 4-6 tahun dilakukan melalui tatap muka per minggu paling sedikit 900 menit. Apabila satuan Raudhatul Athfal hanya melakukan tatap muka 540 menit per minggu maka harus diperkaya dengan pengasuhan terprogram oleh orang tua/wali peserta didik dengan durasi paling sedikit 360 menit per minggu.[12]

Kompetensi Inti Kurikulum 2013 Pendidikan Anak Usia Dini merupakan gambaran pencapaian Standar Tingkat Pencapaian Perkembangan Anak pada akhir layanan PAUD usia 6 (enam) tahun. Kompetensi Inti mencakup:

1) Kompetensi Inti-1 (KI-1) untuk kompetensi inti sikap spiritual, yakni Menerima ajaran agama yang dianutnya

2) Kompetensi Inti-2 (KI-2) untuk kompetensi inti sikap sosial. Yakni Memiliki perilaku hidup sehat, rasa ingin tahu, kreatif dan estetis, percaya diri, disiplin, mandiri, peduli, mampu menghargai dan toleran kepada orang lain, mampu menyesuaikan diri, tanggungjawab, jujur, rendah hati dan santun dalam berinteraksi dengan keluarga, pendidik, dan teman.

3) Kompetensi Inti-3 (KI-3) untuk kompetensi inti pengetahuan, yaitu Mengenali diri, keluarga, teman, pendidik, lingkungan sekitar, agama, teknologi, seni, dan budaya di rumah, tempat bermain dan satuan PAUD dengan cara: mengamati dengan indera (melihat, mendengar, menghidu, merasa, meraba); menanya; mengumpulkan informasi; menalar, dan mengomunikasikan melalui kegiatan bermain

4) Kompetensi Inti-4 (KI-4) untuk kompetensi inti keterampilan. Menunjukkan yang diketahui, dirasakan, dibutuhkan, dan dipikirkan melalui bahasa, musik, gerakan, dan karya secara produktif dan kreatif, serta mencerminkan perilaku anak berakhlak mulia.[13]



Selain kompetensi inti, dalam model pengembangan kurikulum 2013 Raudhatul Athfal terdapat juga Kompetensi Dasar yang merupakan tingkat kemampuan dalam konteks muatan pembelajaran, tema pembelajaran, dan pengalaman belajar yang mengacu pada Kompetensi Inti. Rumusan Kompetensi Dasar dikembangkan dengan memperhatikan karakteristik dan kemampuan awal anak serta tujuan setiap program pengembangan. Kompetensi Dasar dibagi menjadi empat kelompok sesuai dengan pengelompokkan kompetensi inti yaitu:

a) Kelompok Kompetensi Dasar sikap spiritual yakni Mempercayai adanya Tuhan melalui ciptaan-Nya dan Menghargai diri sendiri, orang lain, dan lingkungan sekitar sebagai rasa syukur kepada Tuhan

b) Kelompok Kompetensi Dasar sikap sosial. Kelompok ini merupakan penjabaran dari kompentensi inti kedua (K-2) yang menekankan pada prilaku-prilaku sosial anak dalam interaksi sosial anak, sehingga anak mempunyai kemampuan sosial yang baik, secara rinci dijelaskan sebagai berikut :

1. Memiliki perilaku yang mencerminkan hidup sehat

2. Memiliki perilaku yang mencerminkan sikap ingin tahu

3. Memiliki perilaku yang mencerminkan sikap kreatif

4. Memiliki perilaku yang mencerminkan sikap estetis

5. Memiliki perilaku yang mencerminkan sikap percaya diri

6. Memiliki perilaku yang mencerminkan sikap taat terhadap aturan sehari-hari untuk melatih kedisiplinan.

7. Memiliki perilaku yang mencerminkan sikap sabar (mau menunggu giliran, mau mendengar ketika orang lain berbicara) untuk melatih kedisiplinan

8. Memiliki perilaku yang mencerminkan kemandirian

9. Memiliki perilaku yang mencerminkan sikap peduli dan mau membantu jika diminta bantuannya

10. Memiliki perilaku yang mencerminkan sikap menghargai dan toleran kepada orang lain

11. Memiliki perilaku yang dapat menye-suaikan diri Memiliki perilaku yang mencerminkan sikap tanggungjawab Memiliki perilaku yang mencerminkan sikap jujur Memiliki perilaku yang mencerminkan sikap rendah hati dan santun kepada orang tua, pendidik, dan teman[14]



c) Kelompok Kompetensi Dasar pengetahuan, Kelompok ini merupakan penjabaran dari kompentensi inti ketiga (K-3) yang menekankan pada untuk kompetensi inti pengetahuan, yaitu Mengenali diri, keluarga, teman, pendidik, lingkungan sekitar, agama, teknologi, seni, dan budaya di rumah, tempat bermain dan lingkungan sekitarsecara rinci dijelaskan sebagai berikut :

1. mengenal kegiatan beribadah sehari-hari.

2. Mengenal perilaku baik sebagai cerminan akhlak mulia

3. Mengenal anggota tubuh, fungsi, dan gerakannya untuk pengembangan motorik kasar dan motorik halus

4. Mengetahui cara hidup sehat

5. Mengetahui cara memecahkan masalah sehari-hari dan berperilaku kreatif

6. Mengenal benda-benda disekitarnya (nama, warna, bentuk, ukuran, pola, sifat, suara, tekstur, fungsi, dan ciri-ciri lainnya)

7. Mengenal lingkungan sosial (keluarga, teman, tempat tinggal, tempat ibadah, budaya, transportasi)

8. Mengenal lingkungan alam (hewan, tanaman, cuaca, tanah, air, batu-batuan, dll)

9. Mengenal teknologi sederhana (peralatan rumah tangga, peralatan bermain, peralatan pertukangan, dll)

10. Memahami bahasa reseptif (menyimak dan membaca)

11. Memahami bahasa ekspresif (mengungkapkan bahasa secara verbal dan non verbal)

12. Mengenal keaksaraan awal melalui bermain Mengenal emosi diri dan orang lain Mengenali kebutuhan, keinginan, dan minat diri Mengenal berbagai karya dan aktivitas seni.[15]



d) Kelompok Kompetensi Dasar keterampilan yang merupakan penjebaran dari Kompetensi Inti keempat (KI-4) untuk kompetensi inti keterampilan. Menunjukkan yang diketahui, dirasakan, dibutuhkan, dan dipikirkan melalui bahasa, musik, gerakan, dan karya secara produktif dan kreatif, serta mencerminkan perilaku anak berakhlak mulia

1. Melakukan kegiatan beribadah sehari-hari dengan tuntunan orang dewasa

2. Menunjukkan perilaku santun sebagai cerminan akhlak mulia

3. Menggunakan anggota tubuh untuk pengembangan motorik kasar dan halus

4. Mampu menolong diri sendiri untuk hidup sehat

5. Menyelesaikan masalah sehari-hari secara kreatif

6. Menyampaikan tentang apa dan bagaimana benda-benda di sekitar yang dikenalnya (nama, warna, bentuk, ukuran, pola, sifat, suara, tekstur, fungsi, dan ciri-ciri lainnya) melalui berbagai hasil karya

7. Menyajikan berbagai karya yang berhubungan dengan lingkungan sosial (keluarga, teman, tempat tinggal, tempat ibadah, budaya, transportasi) dalam bentuk gambar, bercerita, bernyanyi, dan gerak tubuh

8. Menyajikan berbagai karya yang berhubungan dengan lingkungan alam (hewan, tanaman, cuaca, tanah, air, batu-batuan, dll) dalam bentuk gambar, bercerita, bernyanyi, dan gerak tubuh

9. Menggunakan teknologi sederhana untuk menyelesaikan tugas dan kegiatannya (peralatan rumah tangga, peralatan bermain, peralatan pertukangan, dll)

10. Menunjukkan kemampuan berbahasa reseptif (menyimak dan membaca

11. Menunjukkan kemampuan berbahasa ekspresif (mengungkapkan bahasa secara verbal dan non verbal)

12. Menunjukkan kemampuan keaksaraan awal dalam berbagai bentuk karya

13. Menunjukkan reaksi emosi diri secara wajar

14. Mengungkapkan kebutuhan, keinginan dan minat diri dengan cara yang tepat

15. Menunjukkan karya dan aktivitas seni dengan menggunakan berbagai media. [16]



IBRAHIM

..................................


[1] Windisyah Putra (2012), Mengadirkan Lembaga Paud Ideal di Indonesia, Takengon: Media Utama bekerjasama dengan STAIN Gajah Putih, hal. 16-17


[2] Direktorat Pembinaan Pendidikan Anak Usia Dini (2014) Kerangka Dasar dan Sruktur Kurikulum 2013 Pendidikan Anak Usia Dini, Jakarta: Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, hal 7


[3] Salinan Lampiran I Peraturan Menteri…hal 2




[4] Direktorat Pembinaan, Kerangka Dasar…, hal. 12


[5] Yuliani Nurani Sujiono, Konsep Dasar…, hal. 210


[6]Departemen Pendidikan Nasional, Standar Kompetensi Taman Kanak-kanak dan Raudhatul Athfal, Jakarta: Balibang Depdiknas


[7] Yuliani Nurani Sujiono, Konsep Dasar..., hal, 214


[8] Windisyah Putra, Mengadirkan Lembaga..., hal 25




[9]Salinan Lampiran III Peraturan Menteri…, hal 4


[10] Salinan Lampiran III Peraturan Menteri…hal 4


[11] Direktorat Pembinaan, Kerangka Dasar..., hal 15


[12] Direktorat Pembinaan, Kerangka Dasar…., hal 15


[13] Salinan Lampiran I Peraturan Menteri, hal 4


[14] Salinan Lampiran I Peraturan Menteri…, hal 4


[15] Salinan Lampiran III Peraturan Menteri…, hal 4


[16] Salinan Lampiran III Peraturan Menteri…, hal 4

Romeltea Media
JURNALGO PENDIDIKAN Updated at:

Pengertian Kurikulum 2013

Kurikulum menurut Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 pasal 1 ayat 19 adalah seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi dan bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai penyelenggara kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu.[1] Sedangkan Kurikulum 2013 adalah langkah lanjutan pengembangan kurkulum berbasis kompentensi yang telah dirintis pada tahun 2004 dan KTSP 2006 yang mencakup kompentensi sikap, pengetahuan dan keterampilan secara terpadu.[2]

Kurikulum 2013 yang berbasis karakter dan kompentensi lahir sebagai jawaban terhadap berbagai kritikan terhadap kurikulum 2006, serta sesuai dengan perkembangan kebutuhan dan dunia kerja. Kurikulum 2013 merupakan salah satu upaya pemerintah untuk mencapai keunggulan masyarakat bangsa dalam penguasaan teknologi sepert yang digariskan dalam haluan negara. Pengembangan kurikulum 2013 didasari oleh pemikiran tentang tantangan masa depan, persepsi masyarakat pengetahuan dan pedagogi, kompentensi masa depan, serta fenomena negatif yang mengemuka.[3]

2. Karateristik Kurikulum 2013

Terdapat sejumlah karakteristik kurikulum 2013 berdasarkan salinan lampiran Permendikbud No. 96 Tahun 2013, yang membedakan dengan kurikulum sebelumnya. Karakteristik tersebut adalah sebagai berikut:[4]

a. Mengembanggkan keseimbangan antara pengembangan sikap spritual dan sosial, rasa ingin tahu, kreativitas, kerja sama dengan kemamuan intelektual dan psikomotorik.

b. Sekolah merupakan bagian dari masyarakat yang memberikan pengalaman belajar terencana dimana peserta didik menerapkan apa yang dipelajari disekolah ke masyarakat dan memanfaatkan masyarakat sebaga sumber belajar.

c. Mengembangkan sikap, pengetahuan dan keterampian serta menerapkan dalam berbagai situasi di sekolah dan masyarakat.

d. Memberi waktu yang cukup leluasa untuk mengembangkan berbagai sikap, pengetahuan dan keterampilan.

e. Kompetensi dinyatakan dalam bentuk kompetensi inti kelas yang dirinci lebih lanjut dalam kompetensi dasa mata pelajaran.

f. Kompentensi inti kelas menjadi unsur pengorganisasian kompentensi dasar, dimana semua kompetensi dasar dan proses pembelajaran dikembangkan mencapai kompetensi yang dinyatakan dalam kompetensi inti.

g. Kompetensi dasar dikembangkan didasarkan pada prinsip akumulatif, saling memperkuat dan memperkaya antar mata pelajaran dan jenjang pendidikan.[5]



Dari sekian banyak unsur sumber daya pendidikan, kurikulum merupakan salah satu unsur yang bisa memberikan kontribusi yang signifikan untuk mewujudkan proses berkembangnya kualitas potensi peserta didik. Kurikulum 2013 yang dikembangkan dengan berbasis pada kompetensi sangat diperlukan sebagai instrumen untuk mengarahkan peserta didik menjadi: (1) manusia berkualitas yang mampu dan proaktif menjawab tantangan zaman yang selalu berubah; dan (2) manusia terdidik yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri; dan (3) warga negara yang demokratis dan bertanggung jawab.

Pengembangan dan pelaksanaan kurikulum 2013 yang berbasis kompetensi merupakan salah satu strategi pembangunan pendidikan nasional sebagaimana yang diamanatkan dalam Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional.[6]

Kurikulum 2013 dalam dimensi proses adalah realisasi ide dan rancangan kurikulum menjadi suatu proses pembelajaran. Guru adalah tenaga kependidikan utama yang mengembangkan ide dan rancangan tersebut menjadi proses pembelajaran. Pemahaman guru tentang kurikulum akan menentukan rancangan guru (Rencana Program Pembelajaran/RPP) dan diterjemahkan ke dalam bentuk kegiatan pembelajaran. Peserta didik berhubungan langsung dengan apa yang dilakukan guru dalam kegiatan pembelajaran dan menjadi pengalaman langsung peserta didik. Apa yang dialami peserta didik akan menjadi hasil belajar pada dirinya dan menjadi hasil kurikulum. Oleh karena itu proses pembelajaran harus memberikan kesempatan yang luas kepada peserta didik untuk mengembangkan potensi dirinya menjadi hasil belajar yang sama atau lebih tinggi dari yang dinyatakan dalam Standar Kompetensi Lulusan.

Kurikulum 2013 yang berbasis kompetensi diarahkan pada pencapaian kompetensi yang dirumuskan dari Standar Kompentensi Lulusan.[7] Demikian pula penilaian hasil belajar dan hasil kurikulum diukur dari pencapaian kompetensi. Keberhasilan kurikulum diartikan sebagai pencapaian kompetensi yang dirancang dalam dokumen kurikulum oleh seluruh peserta didik.

Secara rinci karakteristik kurikulum 2013 yang berbasis kompetensi adalah sebagai berikut:

a) Isi atau konten kurikulum adalah kompetensi yang dinyatakan dalam bentuk Kompetensi Inti (KI) mata pelajaran dan dirinci lebih lanjut ke dalam Kompetensi Dasar (KD).

b) Kompetensi Inti (KI) merupakan gambaran secara kategorial mengenai kompetensi yang harus dipelajari peserta didik untuk suatu jenjang sekolah, kelas, dan mata pelajaran

c) Kompetensi Dasar (KD) merupakan kompetensi yang dipelajari peserta didik untuk suatu mata pelajaran di kelas tertentu.

d) Penekanan kompetensi ranah sikap, keterampilan kognitif, keterampilan psikomotorik, dan pengetahuan untuk suatu satuan pendidikan dan mata pelajaran ditandai oleh banyaknya KD suatu mata pelajaran. Untuk SD pengembangan sikap menjadi kepedulian utama kurikulum.

e) Kompetensi Inti menjadi unsur organisatoris kompetensi bukan konsep, generalisasi, topik atau sesuatu yang berasal dari pendekatan “disciplinary–based curriculum” atau “content-based curriculum”.

f) Kompetensi Dasar yang dikembangkan didasarkan pada prinsip akumulatif, saling memperkuat dan memperkaya antar mata pelajaran.

g) Proses pembelajaran didasarkan pada upaya menguasai kompetensi pada tingkat yang memuaskan dengan memperhatikan karakteristik konten kompetensi dimana pengetahuan adalah konten yang bersifat tuntas (mastery). Keterampilan kognitif dan psikomotorik adalah kemampuan penguasaan konten yang dapat dilatihkan. Sedangkan sikap adalah kemampuan penguasaan konten yang lebih sulit dikembangkan dan memerlukan proses pendidikan yang tidak langsung.

h) Penilaian hasil belajar mencakup seluruh aspek kompetensi, bersifat formatif dan hasilnya segera diikuti dengan pembelajaran remedial untuk memastikan penguasaan kompetensi pada tingkat memuaskan (Kriteria Ketuntasan Minimal/KKM dapat dijadikan tingkat memuaskan). [8]



Kompetensi adalah kemampuan seseorang untuk bersikap, menggunakan pengetahuan dan keterampilan untuk melaksanakan suatu tugas di sekolah, masyarakat, dan lingkungan dimana yang bersangkutan berinteraksi. Kurikulum 2013 dirancang untuk memberikan pengalaman belajar seluas-luasnya bagi peserta didik untuk mengembangkan sikap, keterampilan dan pengetahuan yang diperlukan untuk membangun kemampuan tersebut. Hasil dari pengalaman belajar tersebut adalah hasil belajar peserta didik yang menggambarkan manusia dengan kualitas yang dinyatakan dalam Standar Kompentensi Lulusan.

2. Tujuan Kurikulum 2013

Kurikulum 2013 bertujuan untuk mempersiapkan manusia Indonesia agar memiliki kemampuan hidup sebagai pribadi dan warga negara yang beriman, produktif, kreatif, inovatif dan efektif serta mampu berkontribusi pada kehidupan bermasyarakat berbangsa dan bernegara dan peradaban dunia. Dalam hal ini, pengembangan kurikulum 2013 difokuskan pada pembentukan kompetensi dan karakter peserta didik, berupa paduan pengetahuan, keterampilan dan sikap yang dapat di demontrasikan peserta didik sebagai wujud pemahaman terhadap konsep yang dipelajarinya secara konseptual.[9]




IBRAHIM

-----------------------------------
[1]Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2003 Nomor 78.


[2] E Mulyasa, (2013) Pengembangan dan Implementasi Kurikulum 2013, Bandung: Rosdakarya, hal 163


[3] Pedoman Pelatihan Implementasi Kurikulum 2013, Kementarian Pendidkan dan Kebudayaan Tahun 2013, hal 4


[4] Salinan Lampiran Permendikbud No 69 Tahun 2013 Tentang Kurikulum SMA-MA. hal 1


[5] Salinan Lampiran Permendikbud…hal 2


[6] Dokumen Kurikulum 2013... ha. 1-7


[7] Dokumen Kurikulum 2013..., hal. 1-7


[8] Dokumen Kurikulum 2013..., hal. 1-7


[9] E Mulyasa, Pengembangan dan Implementasi..., hal. 163

Romeltea Media
JURNALGO PENDIDIKAN Updated at:

Kurikulum dan Definisi Kurikulum

Definisi Kurikulum dalam Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional menyebutkan bahwa kurikulum adalah seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi, dan bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu.[1]

Kurikulum juga diartikan merupakan seperangkat rencana dan pengaturan seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan isi dan bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelanggaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu.[2] Kurikulum selanjutnya diartikan segala upaya sekolah untuk mempengaruhi siswa agar dapat belajar baik di dalam ruangan maupun diluar ruangan. Kurikulum berhubungan erat dengan usaha mengembangkan peserta didik sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai.[3]

Secara pedagogis, kurikulum adalah rancangan pendidikan yang memberi kesempatan untuk peserta didik mengembangkan potensi dirinya dalam suatu suasana belajar yang menyenangkan dan sesuai dengan kemampuan dirinya untuk memiliki kualitas yang diinginkan masyarakat dan bangsanya. Secara yuridis, kurikulum adalah suatu kebijakan publik yang didasarkan kepada dasar filosofis bangsa dan keputusan yuridis di bidang pendidikan.

Kurikulum juga diartikan sebagai seluruh usaha atau kegiatan sekolah untuk merangsang anak supaya belajar baik di dalam kelas maupun diluar kelas, anak tidak terbatas belajar dari apa yang diberikan di sekolah saja, seluruh perkembangan aspek seseorang dijangkau dalam kurikulum ini baik aspek fisik, intelektual, sosial maupun emosional. Kurikulum juga merupakan segala pengalaman dan pengaruh yang bercorak pendidikan yang diperoleh anak disekolah, kurikulum ini meliputi segara sarana dan prasarana sekolah. [4]



Dari beberapa pengertian diatas, kurikulum dapat disimpulkan kurikulum adalah upaya institusi pendidikan dalam merencanakan dan mengatur tujuan, isi dan bahan pelajaran beserta cara yang digunakan dalam upaya untuk mempengaruhi siswa agar dapat belajar baik di dalam ruangan maupun diluar ruangan dengan pemberian kegiatan-kegiatan dibawah tanggung-jawab sekolah demi mencapai tujuan pendidikan yang telah ditetapkan sebelumnya. Berdasarkan pengertian diatas juga dapat disimpulkan terdapat dua dimensi kurikulum, yaitu dimensi pertama adalah rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi, dan bahan pelajaran, sedangkan yang kedua adalah cara yang digunakan untuk kegiatan pembelajaran.[5]

Kurikulum dalam bidang pendidikan dan pembelajaran menduduki posisi strategis dalam menentukan arah dan ketercapaian tujuan pendidikan, kurikulum menentukan ragam kompetensi yang ingin dicapai dari suatu proses pendidikan dan pembelajaran. Kurikulum senantiasa terkait dengan perkembangan masyarakat dan ilmu pengetahuan selalu bersifat dinamis, kurikulum tidak hanya sebagai bagian yang menentukan perwujudan masyarakat masa depan sebagaimana dicita citakan bangsa, tapi juga harus selalu mengikuti tuntutan perubahan, sehingga perubahan dan atau perbaikan kurikulum merupakan kebutuhan yang tidak bisa dihindari.[6]

2. Landasan Pengembangan Kurikulum

Pendidikan mempunyai peran penting dalam kehidupan manusia. Maka kehidupan harus diprogram dengan menggunakan kurikulum yang didasarkan dari hasil penelitian dan penelitian yang mendalam serta melibatkan berbagai dispilin ilmu serta pengalaman komprehensif.[7]

Dalam perancangan dan pelaksanaan atau pengembangan kurikulum didasarkan pada sejumlah landasan sebagai berikut:





a. Landasan Yuridis

Landasan yuridis kurikulum adalah pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945, dan Undang-Undang, Peraturan Pemerintah, Peraturan Menteri, tentang pendidikan, Secara konseptual, kurikulum adalah suatu respon pendidikan terhadap kebutuhan masyarakat dan bangsa dalam membangun generasi muda bangsanya.[8]

b. Landasan Filosofis

Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa (UU RI nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional). Untuk mengembangkan dan membentuk watak dan peradaban bangsa yang bermartabat, pendidikan berfungsi mengembangkan segenap potensi peserta didik yaitu watak dan peradaban bangsa dalam rangka mengembangkan potensi peserta didik menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warganegara yang demokratis serta bertanggungjawab.[9]

c. Landasan Teoritis

Kurikulum dikembangkan atas dasar teori pendidikan berdasarkan standar dan teori pendidikan berbasis kompetensi. yaitu peningkatan standar kualitas pendidikan nasional dengan standar kompetensi lulusan. standar kompetensi lulusan tersebut adalah kualitas minimal lulusan suatu jenjang atau satuan pendidikan. Standar Kompetensi Lulusan mencakup sikap, pengetahuan, dan keterampilan.[10]

d. Landasan Empiris

Pengembangan kurikulum berlandaskan dari menyikapi berbagai permasalahan bangsa dan kecendrungan generasi muda terhadap kekerasan yang berakar dari implementasi kurikulum yang terlalu menekankan aspek kognitif dan keterkungkungan peserta didik di ruang belajarnya dengan kegiatan yang kurang menantang peserta didik. kurikulum perlu direorientasi dan direorganisasi salah satunya adalah pentingnya pendidikan karakter.[11]

Kurikulum merupakan salah satu unsur yang bisa memberikan kontribusi yang signifikan untuk mewujudkan proses berkembangnya kualitas potensi peserta didik. Jadi tidak dapat disangkal lagi bahwa kurikulum, yang dikembangkan dengan berbasis pada kompetensi sangat diperlukan sebagai instrumen untuk mengarahkan peserta didik menjadi manusia berkualitas yang mampu dan proaktif menjawab tantangan zaman yang selalu berubah menjadi manusia terdidik yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri; dan menjadi warga negara yang demokratis dan bertanggung jawab.



3. Prinsip pengembangan kurikulum

Model pengembangan kurikulum atau pendekatan-pendekatan yang dilakukan dalam kurikulum hakikatnya adalah bentuk penyempurnaan kurikulum-kurikulum sebelumnya. Dalam perlaksanaannya pengembangan kurikulum didasarkan pada prinsip-prinsip berikut:[12]

a. Kurikulum satuan pendidikan atau jenjang pendidikan bukan merupakan daftar mata pelajaran.

b. Standar kompetensi lulusan ditetapkan untuk satu satuan pendidikan, jenjang pendidikan, dan program pendidikan.

c. Model kurikulum berbasis kompetensi ditandai oleh pengembangan kompetensi berupa sikap, pengetahuan, keterampilan berpikir, dan keterampilan psikomotorik yang dikemas dalam berbagai mata pelajaran.

d. Kurikulum didasarkan pada prinsip bahwa setiap sikap, keterampilan dan pengetahuan yang dirumuskan dalam kurikulum berbentuk Kemampuan Dasar dapat dipelajari dan dikuasai setiap peserta didik (mastery learning) sesuai dengan kaedah kurikulum berbasis kompetensi.

e. Kurikulum dikembangkan dengan memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk mengembangkan perbedaan dalam kemampuan dan minat.

f. Kurikulum berpusat pada potensi, perkembangan, kebutuhan, dan kepentingan peserta didik serta lingkungannya. Kurikulum dikembangkan berdasarkan prinsip bahwa peserta didik berada pada posisi sentral dan aktif dalam belajar.

g. Kurikulum harus tanggap terhadap perkembangan ilmu pengetahuan, budaya, teknologi, dan seni. Kurikulum dikembangkan atas dasar kesadaran bahwa ilmu pengetahuan, budaya, teknologi, dan seni berkembang secara dinamis.

h. Kurikulum harus relevan dengan kebutuhan kehidupan. Pendidikan tidak boleh memisahkan peserta didik dari lingkungannya dan pengembangan kurikulum didasarkan kepada prinsip relevansi pendidikan dengan kebutuhan dan lingkungan hidup.[13]



Kebijakan pemerintah dengan menerapkan kurikulum ini tidak akan berjalan dengan baik dan mencapai kesuksesan apabila tidak didukung semua pihak. Pihak-pihak yang ikut mendukung kesuksesan kurikulum diantaranya adalah peran masyarakat, pendidik dan tenaga kependidikan, pengawas, kepala sekolah, bahkan komite sekolah.

IBRAHIM

---------------------------------------------

[1] Salinan Lampiran 1 Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Nomor 146 tahun 2014 Tentang Kurikulum 2013 Pendidikan Anak Usia Dini.


[2]Rusman, (2008) Manajemen Kurikulum Jakarta: Raja Grafindo Persada, hal.1


[3] Wina Sanjaya (2008) Kurikulum dan Pembelajaran, Jakarta: Kencana Media Group, hal. 3


[4] Soemiarti Patmonodewo (1995) Pendidikan Anak Pra sekolah, Jakarta: Rineka Putra, hal 56


[5] Wina Sanjaya, Kurikulum dan Pengembangan...., hal. 4


[6] Wina Sanjaya, Kurikulum dan Pembelajaran..., hal 16


[7] Ali Nugraha & dkk (2005) Kurikulum dan Bahan Belajar TK, Jakarta: Universitas Terbuka, hal. 2.3


[8] Wina Sanjaya, Kurikulum dan Pembelajaran..., hal 42


[9] Wina Sanjaya, Kurikulum dan Pembelajaran..., hal 42


[10] Rusman, Manajemen Kurikulum..., hal.80


[11] Rusman, Manajemen Kurikulum..., hal.80


[12] Dokumen Kurikulum 2013... hal: 1-7


[13] Dokumen Kurikulum 2013... hal: 1-7

Romeltea Media
JURNALGO PENDIDIKAN Updated at:

Kecerdasan Linguistik Pada Anak dan Perkembangan Bahasa Pada Anak


a. Makna Bahasa

Bahasa merupakan kemampuan untuk berkomunikasi dengan orang lain. Dalam pengertian ini, tercakup semua cara untuk berkomunikasi, dimana pikiran dan perasaan dinyatakan dalam bentuk lambang atau simbol untuk mengungkapkan sesuatu pengertian, seperti dengan menggunakan lisan, tulisan, isyarat, bilangan, lukisan dan mimik muka.[1] Bahasa sangat erat kaitannya dengan perkembangan berpikir individu. Perkembangan pikiran individu tampak dalam perkembangan bahasanya yaitu kemampuan membentuk pengertian menyusun pendapat dan menarik kesimpulan.

Bahasa mencakup komunikasi non verbal dan komunikasi verbal serta dapat dipelajari secara teratur tergantung pada kematangan serta kesempatan belajar yang dimiliki seseorang, demikian juga bahasa merupakan landasan seorang anak untuk mempelajari hal-hal lain. Sebelum dia belajar pengetahuan-pengetahuan lain, dia perlu menggunakan bahasa agar dapat memahami dengan baik . Anak akan dapat mengembangkan kemampuannya dalam bidang pengucapan bunyi, menulis, membaca yang sangat mendukung kemampuan keaksaraan di tingkat yang lebih tinggi.

“Bagi anak-anak usia tiga, empat, lima tahun, tibalah masa pertumbuhan dahsyat di bidang bahasa. Perbendaharaan kata meluas dan struktur semantic dan sintaksis bahasa mereka menjadi semakin rumit. Perubahan dalam hal bahasa ini mewakili perkembangan kemampuan kognitif. Anak-anak menjadi pemikir yang lebih rumit dan, sejalan dengan pertumbuhan mereka, perubahan ini tercermin pada bahasa mereka. Anak-anak usia tiga, empat dan lima tahun ingin tahu tentang bahasa dan semakin percaya kepada bahasa untuk memberitahukan keinginan dan kebutuhan mereka”.[2]

Perkembangan bahasa pada anak usia dini sangat penting karena dengan bahasa sebagai dasar kemampuan seorang anak akan dapat meningkatkan kemampuan-kemampuan yang lain. Pendidik perlu menerapkan ide-ide yang dimilikinya untuk mengembangkan kemampuan berbahasa anak, memberikan contoh penggunaan bahasa dengan benar, menstimulasi perkembangan bahasa anak dengan berkomunikasi secara aktif. Anak terus perlu dilatih untuk berpikir dan menyelesaikan masalah melalui bahasa yang dimilikinya.

b. Perkembangan Bahasa Pada Anak

Anak dituntut untuk menuntaskan atau menguasai empat tugas pokok yang satu sama lainnya saling berkaitan. Apabila anak berhasil menuntaskan tugas yang satu, maka berarti juga ia dapat menuntaskan tugas-tugas yang lainnya. Keempat tugas itu adalah sebagai berikut:

1) Pemahaman, yaitu kemampuan memahami makna ucapana orang lain.

2) Pengembangan pembendaharaan kata, yaitu anak berkembang dimulai secara lambat pada usia dua tahun pertama, kemudian mengalami tempo yang cepat pada usia pra-sekolah dan terus meningkat setelah anak masuk sekolah.

3) Penyusunan kata-kata menjadi kalimat, yaitu kalimat pada umumnya berkembang sebelum usia dua tahun. Bentuk kalimat pertama adalah kalimat tunggal (satu kata), seiring dengan meningkatnya usia anak dan keluasan pergaulannya, tipe kalimat yang diucapkannya pun semakin panjang dan komplekas.

4) Ucapan, yiatu kemampuan mengucapkan kata-kata merupakan hasil belajar melalu imitasi (peniruan) terhadap suara-suara yang didengar anak dari orang lain.[3]



Penjelasan di atas menyatakan bahwa perkembangan bahasa pada anak dapat memberikan manfaat agar anak didik mampu memahami, pengembangan pembendaharaan kata, penyusunan kata-kata menjadi kalimat dan mengembangkan kemampuan mengucapkan kata-kata yang merupakan hasil belajar melalu peniruan terhadap suara-suara yang didengar anak.

c. Tipe Perkembangan Bahasa

Perkembangan bahasa yang terbaik adalah ketika anak-anak bertindak sebagai rekan percakapan dan masuk ke dalam percakapan yang sebenarnya. Perkembangan bahasa anak pada dasarnya memiliki tipe-tipe sendiri. Ada dua tipe perkembangan bahasa anak, yaitu egocentric speech, yaitu anak berbicara kepada dirinya sendiri (monolog) dan socialized speech (komunikasi yang terjadi ketika berlangsung kontak antara anak dengan temannya atau dengan lingkungannya).[4]

Penjelasan diatas menyatakan bahwa ada dua tipe perkembangan bahasa yaitu egocentric speech atau berbicara menolog berfungsi untuk mengembangkan kemampuan berpikir anak yang pada umumnya, misalnya anak terbentur dengan dinding maka ia akan memarahi dinding tersebut, pemikiran anak pada saat ini masih sangat minim, apapun yang ia lakukan, hal tersebut merupakan hal yang paling benar karena kemampuang kognitif yang masih baru berkembang. Sementara socialized speech mengembangkan kemampuan penyesuaian sosial, disini anak telah mampu untuk bersosial dengan anak didik lainnya, hal tersebut yang harus diberika arahan mengenali nilai-nilai kehidupan anak didik untuk saling berbagi, mengalah antara satu sama lain sehingga perkembangan afektif tersebut dapat dikembangkan melalui kegiatan sosial anak.
Kecerdasan Linguistik

Semenjak baru lahir seorang anak sudah memiliki kecerdasan, tetapi masih bergantung kepada orang lain untuk mengembangkannya. Kecerdasan ini akan terus berkembang sejalan dengan bertambahnya umur yang terus menerus dan interaksinya terhadap lingkungan. Sumber kecerdasan seseorang adalah kebiasaannya untuk membuat produk-produk baru yang mempunyai nilai budaya (kreativitas) dan kebiasaannya menyelesaikan masalah secara mandiri (problem solving).[5] Kecerdasan seseorang dapat dilihat dari berbagai dimensi, Gardner mengatakan kecerdasan itu memiliki pengertian yang lebih luas, tidak hanya terpaku pada kemampuan menghitung (kemampuan logika matematika) dan kemampuan menggunakan bahasa (kecerdasan linguistik, akan tetapi kecerdasan yang dimiliki manusia itu berbeda-beda menurut potensi yang dimilikinya.[6] Gardner menyebutnya dengan “multiple intelligences”. Dalam teori multiple intelligences ada terdapat tiga paradigma mendasar tentang kecerdasan manusia yang dapat dijadikan prinsip pelaksanaan pembelajaran, diantaranya sebagai berikut: a) kecerdasan tidak dibatasi tes formal, b) kecerdasan itu multi dimensi, c) kecerdasan, proses discovering ability.[7] Ada 9 kecerdasan anak yakni: kecerdasan linguistik, kecerdasan logika matematika, kecerdasan visual spasial, kecerdasan kinestetik, kecerdasan musical, kecerdasan intrapersonal, kecerdasan interpersonal, kecerdasan natural, kecerdasan spiritual.[8] Pembahasan dalam penelitian ini menitik beratkan pada kecerdasan linguistik pada anak usia Taman Kanak-kanak.

Kecerdasan linguistik adalah kemampuan untuk menggunakan kata-kata secara efektif, baik secara lisan maupun tulisan. Tujuan mengembangkan kecerdasan linguistik yaitu agar anak mampu berkomunikasi baik lisan maupun tulisan dengan baik, memiliki kemampuan bahasa untuk meyakinkan orang lain, mampu mengingat dan menghafal informasi, mampu memberi penjelasan, dan mampu membahas bahasa itu sendiri siswa atau anak yang memiliki kecerdasan bahasa yang tinggi umumnya ditandai dengan kesenangannya pada kegiatan yang berkaitan dengan penggunaan suatu bahasa, seperti membaca, menulis karangan, membuat puisi, menyusun kata-kata mutiara, dan sebagainya. Purwa Atmaja menyatakan:

Anak dengan kecerdasan linguistic cenderung memiliki daya ingat yang kuat, misalnya terhadap nama-nama seseorang, istilah-istilah baru maupun hal-hal yang sifatnya detail. Dalam hal penguasaan suatu bahasa baru, anak-anak ini umumnya memiliki kemampuan yang lebih tinggi dibandingkan dengan anak-anak lainnya.[9]



Kecerdasan linguistik terdiri atas beberapa komponen, termasuk fonologi, sintaksis, semantik dan pragmatika.[10] Orang yang amat berbakat bahasa mempunyai kepekaan yang tajam terhadap bunyi atau fonologi bahasa. Mereka sering menggunakan permainan kata-kata, rima, tongue twister, aliterasi, onomatope, dan tiruan bunyi-bunyian seperti bel.[11] Kecerdasan logika berpikir anak dapat ditunjukkan dari kecerdasan bahasa yang ia miliki. Anak yang mampu berbicara/berbahasa dengan baik dan juga lancar, memungkinkan logika berpikirnya juga akan bagus. Pandai berbahasa bukan hanya berarti menguasai banyak bahasa, tapi juga memiliki kemampuan dalam mengolah bahasa.

Oleh karena itu, sangat penting untuk mengajarkan bahasa ibu terlebih dahulu untuk mendorong logika berpikir seorang anak.[12] Pemikir berciri linguistik biasanya mahir pula memanipulasi sintaksis (struktur atau susunan kalimat) bahasa. Pemikir yang merupakan ahli tata bahasa yang terunggulpun terus menerus mencari kesalahan lisan atau tulisan yang kadang terjadi dalam kehidupannya sendiri atau kehidupan orang lain.[13]

3. Urgensi Kecerdasan Linguistik

Terdapat beberapa alasan mengapa kecerdasan Linguistik itu perlu dimiliki oleh setiap anak. Menurut May Lwin, pentingnya pengembangan kecerdasan linguistik disebabkan oleh hal-hal sebagai berikut:

1. Kecerdasan Linguistik dapat meningkatkan kemampuan membaca.

2. Kecerdasan Linguistik dapat meningkatkan kemampuan menulis.

3. Kecerdasan linguistik dapat membangun pembawaan-diri dan keterampilan linguistik umum.

4. Kecerdasan Linguistik dapat meningkatkan keterampilan mendengarkan.[14]



Kecerdasan yang baik juga berpengaruh terhadap pembawaan diri seseorang. Kecerdasan ini menentukan ketika seseorang berbicara di depan umum. Pendidik perlu melatih kemampuan anak-anak didiknya untuk tampil percaya diri ketika berbicara di depan umum. Pendidik dapat mengikutsertakan anak-anak didiknya pada lomba menyanyi, membaca cerita, membaca puisi atau memberikan kesempatan kepada setiap anak didiknya untuk menyanyi atau membaca cerita di depan kelas. Kegiatan-kegiatan seperti itu dapat melatih anak-anak untuk dapat berbicara di depan umum. Anak-anak pun dapat terasah kemampuan membawakan dirinya ketika berhadapan dengan banyak orang.

4. Karakterstik Kecerdasan Linguistik Anak

Pada umumnya, orang yang memiliki kecerdasan linguistik memiliki beberapa karakteristik sebagai berkut:

1. Mendengar dan merespon setiap suara, ritme, warna dan berbagai ungkapan kata.

2. Menirukan suara, bahasa, membaca, dan menulis dari orang lain,

3. Belajar melalui menyimak, membaca, menulis, dan diskusi,

4. Menyimak secara efektif, memahami, menguraikan, menafsirkan dan mengingat apa yang diucapkan.

5. Membaca secara efektif, memahami, meringkas, menafsirkan atau menerangkan, dan mengingat apa yang telah dibaca.

6. Berbicara secara efektif kepada berbagai pendengar, berbagai tujuan, dan mengetahui cara berbicara secara sederhana, fasih, persuasive, atau bergairah pada waktu-waktu yang tepat.

7. Menulis secara efektif, memahami dan menerapkan aturan-aturan tata bahasa, ejaan, tanda baca, dan menggunakan kosakata yang efektif.

8. Memperlihatkan kemampuan untuk mempelajari bahasa lainnya.

9. Menggunakan keterampilan menyimak, berbicara, menulis dan membaca untuk mengingat, berkomunikasi, berdiskusi, menjelaskan, mempengaruhi, menciptakan pengetahuan, menyusun makna, dan menggambarkan bahasa itu sendiri.

10. Berusaha untuk mengingatkan pemakaian bahasanya sendiri.

11. Menunjukkan minat dalam jurnalisme, puisi, bercerita, debat, berbicara, menulis atau menyunting,

12. Menciptakan bentuk-bentuk bahasa baru atau karya tulis orisinil atau komunikasi oral.[15]



Dari pengertian di atas, dapat disimpulkan bahwa kecerdasan linguistik sangat perlu dikembangkan pada anak usia dini. Karena akan membantu proses belajar anak baik di sekolah maupun di masyarakat. Pada anak usia dini, kecerdasan linguistik muncul dari berbagai bentuk dan aktivitas yang dapat di jabarkan sebagai berikut:

(1) Anak senang berkomunikasi dengan orang lain, baik dengan teman sebaya maupun orang dewasa, biasanya dilakukan anak-anak usia 2 hingga 6 tahun.

(2) Anak senang bercerita panjang lebar tentang pengalaman sehari-hari, apa yang dilihat dan diketahui (usia 3-6 tahun).

(3) Anak mudah mengingat nama teman dan keluarga (usia 2-6 tahun), tempat, hal-hal sepele yang pernah didengar atau dikenal termasuk jingle iklan (usia 3-6 tahun).

(4) anak suka membawa-bawa buku dan pura-pura membaca (usia 2-4 tahun), suka buku dan cepat mengeja melebihi anak-anak usia 4-6 tahun).

(5) Anak mudah mengucapkan kata-kata, menyukai permainan kata, suka melucu (usia 3-6 tahun).

(6) Anak suka dan memperhatikan cerita atau pembacaan cerita dari pendidik (usia 2-6 tahun) dan dapat menceritakan kembali dengan baik (usia 4-6 tahun).

(7) Anak memiliki lebih banyak kosa kata daripada anak-anak seusianya yang ditunjukkan saat anak berbicara (usia 3-6 tahun).

(8) Anak suka meniru tulisan di sekitarnya dan menunjukkan pencapaian di atas anak-anak sebayanya; mampu membuat pengulangan linear (usia 4-6 tahun), huruf acak (usia 3-6 tahun), dan menulis dengan ejaan bunyi atau fonetik (TK A) dan menulis dengan ejaan sebagian sudah benar (TK B).

(9) Anak suka membaca tulisan pada label makanan-elektronik,papan nama, toko-rumah makan, jdul buku, dan sejenisnya.

(10) Anak menikmati permainan linguistic, seperti tebak-tebakan, acak huruf dan mengisi kata pada potongan cerita.[16]

Stimulus dari lingkungan memberikan pengaruh besar pada kemampuan otak anak yang pada akhirnya akan mempengaruhi keterampilan anak dalam mengolah kata-kata dan berbicara. Kurangnya ajakan komunikasi sedari kecil akan berdampak pada kurangnya kemampuan berbahasa seorang anak yang membuat anak cenderung jadi pendiam. Pandai berbahasa bukan hanya berarti menguasai banyak bahasa, tapi juga memiliki kemampuan dalam mengolah bahasa. Oleh karena itu, sangat penting untuk mengajarkan bahasa ibu terlebih dahulu untuk mendorong logika berpikir seorang anak. Kecerdasan logika berpikir seorang anak dapat ditunjukkan dari kecerdasan bahasa yang dimilikinya. Anak yang mampu berbicara/ berbahasa dengan baik dan juga lancar, memungkinkan memiliki logika berpikir yang baik.

5. Aktivitas Pendukung Kecerdasan Linguistik

Pendidik anak usia dini haruslah kreatif. Pendidik anak usia dini harus dapat menciptakan berbagai strategi dan aktivitas yang dapat mengoptimalkan berkembangnya berbagai kemampuan linguistik dalam diri anak. Kemampuan linguistik ini perlu untuk dikembangkan karena dapat membantu anak untuk dapat berinteraksi dan berkomunikasi dengan lingkungannya baik melalui lisan maupun tulisan.

Berikut ini merupakan berbagai cara yang dapat digunakan untuk mengembangkan kecerdasan linguistik anak usia dini:

1. Menanamkan kecintaan terhadap buku.

2. Pengenalan baca-tulis.

3. Pengembangan kemampuan berbicara.

4. Pengesahan kepekaan pragmatik.

5. Kepekaan bahasa dan humor permainan bunyi.

6. Pengembangan kemampuan menyimak.[17]



Combourne seperti yang dikutip oleh Musfiroh menyimpulkan ada tujuh kondisi untuk meningkatkan kecerdasan Linguistik pada anak, yaitu penenggelaman (immersion), demonstrasi (demonstration), harapan (expection), tanggung jawab (responsibility), kegiatan (employment), aproksimasi (approximation) dan umpan balik (feed back).[18] Pada proses penenggelaman atau immersion, anak-anak secara fisik harus berada dalam lingkungan budaya baca tulis (literacy). Ruang kelas juga harus dirancang sesuai dengan tujuan untuk mendukung pengembangan kecerdasan linguistik. Pendidik harus dapat menjadi model dalam pengembangan kecerdasan. linguistik anak karena anak usia dini belajar melalui model. Pendidik memerlukan berbagai media dan sumber belajar untuk menjelaskan materi-materi pembelajaran yang akan disampaikan kepada anak.

Adapun strategi-strategi pengajaran kecerdasan linguistik menurut Amstrong yang dapat diterapkan dalam pembelajaran untuk anak usia dini adalah melalui

(1) Becerita/ mendongeng, Bercerita atau mendongeng bukan hanya kegiatan yang bersifat hiburan untuk anak-anak, melainkan sebuah kegiatan yang memiliki manfaat besar dalam mengembangkan berbagai pengetahuan anak. Pendidik dapat menggabungkan konsep-konsep,ide-ide, dan tujuan-tujuan instruksional yang penting ke dalam cerita yang akan pendidik sampaikan secara langsung kepada anak. Ketika anak diminta untuk bercerita, anak juga akan mengembangkan konsep-konsep, ide-ide yang ada dalam benaknya. Anak juga dapat mengembangkan kemampuan berkomunikasi melalui kegiatan bercerita.

(2) Bertukar Pikiran/ Brainstorming,anak dapat mencurahkan pikiran . yang dapat dikumpulkan dan ditulis di kertas, papan tulis, atau media yang lainnya. Strategi ini membuat semua anak yang mengemukakan gagasan memperoleh penghargaan khusus untuk pemikiran-pemikirannya yang orisinal.

(3) Rekaman, memanfaatkan rekaman sebagai strategi untuk pengembangan kecerdasan . linguistik. Merekam dengan menggunakan tape recorder dapat menjadi media anak untuk belajar menggunakan kecerdasan linguisik dan kemampuan . anak dalam berkomunikasi, memecahkan masalah, dan mengemukakan pendapat pribadi anak. Tape recorder dapat digunakan sebagai pengumpul informasi, pelapor informasi dan penyedia informasi.

(4) Jurnal Penulisan, dapat diterapkan dalam pendidikan anak usia dini adalah menulis jurnal pribadi. Menulis jurnal pribadi mendorong anak untuk membuat catatan tentang suatu bidang tertentu. Jurnal ini dapat dibuat sepenuhnya pribadi, hanya diceritakan kepada pendidik atau juga dapat dibacakan secara teratur di depan kelas. Jurnal pribadi ini juga dapat merangkum kecerdasan majemuk dengan memperbolehkan penggunaan gambar, sketsa, foto, dialog, dan data non . lain.[19]



Strategi pembelajaran bahasa yang dapat dilakukan oleh guru untuk mengembangkan kecerdasan linguistik anak diantaranya dengan menggunakan cara bercerita, bertukar pikiran dalam pengembangannya metode yang digunakan dalam Taman Kanak-kanak ialah metode bercerita, metode bercakap-cakap serta dapat menggunan rekaman dan jurnal penulisan dengan menggunakan media audio dan visual. Kesemua metode yang dilakukan adalah dalam upaya mengembangkan kecerdasan lingustik anak yang berguna untuk kemampuan bersosialisasi anak dimasa yang akan datang.




[1] Nurbiana Dhieni (2005), Metode Pengembangan Bahasa, Jakarta: Universitas Terbuka, hal. 1.8


[2] Seefeldt Carol & A. Wasik Barbara (2008), Pendidikan Anak Usia Dini: Menyiapkan Anak usia Tiga, Empat, dan Lima Tahun Masuk Sekolah, Jakarta: Indeks, hal.73


[3] Syamsu Yusuf (2007), Psikologi Perkembangan Anak & Remaja, Bandung: Remaja Rosdakarya, hal. 119-120


[4] Nurbiana Dhieni, Metode Pengembangan…, hal. 3.5


[5] Munif Chatif (2009), Sekolahnya Manusia: Sekolah Berbasis Multiple Intelegences di Indonesia , Bandung: Kaifa, hal. 71


[6] Howard Gadner dalam Ummu Hayya Nida, Melejitkan Talenta Sang Buah Hati, Jakarta: Pustaka Al Kautsar, hal.194


[7] Muhammad Fadlillah (2012), Desain Pembelajaran PAUD , Jogyakarta: Ar-Ruzz Media, hal.197-199


[8] Ummu Hayya Nida, Melejitkan Talenta…, hal.195


[9] Purwa Atmaja Prawira (2012), Psikologi Pendidikan Dalam Perspektif Baru, Jogjakarta : Ar-Ruzz Media, hal.155


[10] Purwa Atmaja Prawira, Psikologi Pendidikan…,hal. 154


[11] Armstrong,Thomas (2013), Kecerdasan Multiple di dalam Kelas (terjm.). Jakarta: Indeks, hal 23


[12] http://anak-usiadini.blogspot.com/2012/01/kecerdasan-linguistik-verbal.html, diakses

pada hari Senin, 26-07-2015, pukul 17.00


[13] Thomas Amstrong, 7Kinds of Smart..., hal. 20


[14] Lwin, May, dkk, (2005), How to Multiply Your Child’s Intelligences: Cara Mengembangkan Berbagai Komponen Kecerdasan. Jakarta: Indeks, hal 4


[15] Campbell, Linda, dkk. (2002) Multiple Intelligences Metode Terbaru Melesatkan Kecerdasan. Jakarta: Inisiasi Press, hal 34


[16]Musfiroh Tadkirotun (2011), Pengembangan Kecerdasan Majemuk. Jakarta: Universitas Terbuka, hal 87




[17] Tadkiroatun Musfiroh, Pengembangan Kecerdasan…, hal 75


[18] Tadkiroatun Musfiroh, Pengembangan Kecerdasan…, hal 75


[19] Armstrong,Thomas, Kecerdasan…, hal 23

Romeltea Media
JURNALGO PENDIDIKAN Updated at:

Permainan Ice Breaking dan Hakekat Bermain pada Anak

Bermain adalah kegiatan yang sangat dekat dengan dunia anak. Kegiatan ini dapat dilakukan secara perorangan maupun berkelompok. Jenis permainan, jumlah peserta serta lamanya waktu yang dialokasikan untuk bermain, bergantung pada keinginan serta kesepakatan yang dibuat oleh para peserta. Menurut Anggani Sudono “Bermain adalah suatu kegiatan yang dilakukan dengan atau tanpa mempergunakan alat yang menghasilkan pengertian atau memberikan informasi, memberi kesenangan maupun mengembangkan imajinasi pada anak”.[1] Sejatinya, sebuah permainan merupakan salah satu sarana yang bisa dijadikan sebagai jalan untuk melakukan tranformasi ilmu kepada anak-anak. oleh sebab itu, ketika seseorang anak bermain, berarti ini bukan sebagai permainan yang dapat menghibur atau melakukan aktivitas keceriaan yang tanpa makna, melainkan lebih dari itu, yaitu permainan yang dimainkan oleh siapa pun akan mempunyai arti yang mendidik, walaupun tanpa disadari oleh orang yang melakukannya. Apabila sebuah permainan diartikan demikian maka apapun bentuk permainan yang ingin dilakukan bersama dengan anak-anak, akan melahirkan sebuah jalan untuk membuat mereka semakin berkembang dan maju dalam pendidikan yang sedang dilalui. Lebih dari itu, tidak salah jika dengan melakukan permainan inilah, mereka bertambah cerdas dan pintar.

Pada usia yang mungkin sangat belia, anak-anak yang berada di tingkat pendidikan Taman Kanak-Kanak (TK) dan Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) ini pasti memiliki kecenderungan yang cukup tinggi dalam melakukan permainan. Pada usia seperti ini kebanyakan anak selalu disibukkan dengan bermain dalam kehidupan sehari-hari, baik ketika di rumah, sekolah, sewaktu jalan-jalan, makan, menjelang tidur dan segalanya. Anak TK ( Taman Kanak-Kanak) dengan karakteristik umur 3-5 tahun kemampuan motoriknya berkembang cukup kuat sehingga mampu melakukan kegiatan dengan baik sehingga dapat mengkoordinasikan otak dan gerak.[2]

Selama pertumbuhannya, minat dan permainan anak selalu terkait dengan perkembangan kemampuannya. Oleh karena itu berbagai permainan sebenarnya bisa di rancang secara sengaja dengan maksud agar anak meningkatkan beberapa kemampuan tertentu berdasarkan pengalaman belajar. Menurut Musfiroh “Bermain adalah kegiatan yang dilakukan atas dasar suatu kesenangan dan tanpa mempertimbangkan hasil akhir, kegiatan tersebut dilakukan secara suka rela, tanpa paksaan atau tekanan dari pihak luar”.[3] Sebagian orang menyatakan bermain sama funfsinya dengan bekerja. Meskipun demikian, anak memiliki persepsi sendiri mengenai bermain. Bermain bagi anak berkaitan dengan peristiwa, situasi dan interaksi dan aksi. Bermain mengacu pada aktivitas seperti berlaku pura-pura dengan benda, sosiodrama dan permainan yang beraturan. Bermain berkaitan dengan tiga hal, yakni keikutsertaan dalam kegiatan, asfek afektif dan orientasi tujuan.

Permainan adalah tuntutan dan kebutuhan yang esensial bagi anak.[4] Melalui bermain anak akan dapat memuaskan tuntutan dan kebutuhan perkembangan dimensi motorik, kognitif, kreatifitas, bahasa, emosi, sosial, dan sikap hidup. Permainan sebagai suatu aktifitas yang membantu anak mencapai perkembangan yang utuh, baik fisik, intelektual, sosial, moral, dan emosional. Kegiatan bermain yang dilakukan anak memiliki ciri-ciri atau mengandung unsur sebagai berikut:

a. Menyenangkan dan menggembirakan bagi anak

b. Dorongan bermain muncul dari anak bukan paksaan dari orang lain

c. Anak melakuklan karena spontan bukan sukarela dan tidak merasa diwajibkan

d. Semua anak ikut serta dan secara bersama-sama sesuai pera masing-masing

e. Anak berlaku pura-pura atau memerankan sesuatu

f. Anak menetapkan aturan main sendiri, baik aturan yang diadopsi dari orang lain maupun aturan yang baru

g. Anak berlaku aktif

h. Anak bebas memilih atau bermain apa saja atau beralih kekegiatan bermain yang lain. [5]



Bermain sangat penting bagi anak, penting bagi pertumbuhan dan perkembangan anak bermain dapat dilakukan di sekolah dibawah pengawasan guru dan dapat juga dilakukan dirumah yang diawasi oleh orangtua. Anak dapat mengembangkan rasa harga diri melalui bermain, belajar sambil bermain, karena melalui bermain anak dapat memperoleh kemampuan untuk menguasai tubuh mereka, benda-benda yang ada di sekeliling anak dan keterampilan sosial yang memiliki tujuan dalam kehidupan. Bermain selain berfungsi penting bagi perkembangan pribadi anak, juga memiliki fungsi sosial dan emosional.[6] Melalui bermain anak akan merasakan berbagai pengalaman emosi , senang, sedih, bergairah, kecewa dan bangga, melalui bermain juga anak memahami tata cara pergaulan. Bermain bagi anak usia dini dapat mempelajarai dan belajar banyak hal, dapat mengenal aturan, bersosialisasi, menempatkan diri, menata emosi, toleransi, kerjasama, dan menjunjung tinggi sportivitas. Di samping itu, aktivitas bermain juga dapat mengembangkan kecerdasan mental, spiritual, bahasa dan keterampilan motorik anak usia dini.[7]
Pengertian Permainan Ice Breaking

Ice breaking adalah salah satu teknik pemecah kebekuan untuk mengembalikan suasana bosan dalam pembelajaran kembali bergairah dan bersemangat.[8] Ice breaking merupakan permainan atau kegiatan yang berfungsi untuk mengubah suasana kebekuan dalam kelompok.[9] Ice breaking merupakan “permainan atau kegiatan yang berfungsi untuk mengubah suasana kebekuan dalam kelompok.[10] Ice breaking adalah “peralihan situasi dari yang membosankan, membuat mengantuk, menjenuhkan, dan tegang menjadi rileks, bersemangat, tidak membuat mengantuk, serta ada perhatian dan ada rasa senang untuk mendengarkan atau melihat orang yang berbicara di depan kelas atau ruangan pertemuan.”[11]

Berdasarkan beberapa pendapat di atas, Ice breaking dapat diartikan sebagai pemecah situasi kebekuan fikiran atau fisik siswa. Ice breaking juga dimaksudkan untuk membangun suasana belajar yang dinamis, penuh semangat, dan antusiasme. Hal ini Ice breaking adalah

menciptakan suasana belajar yang menyenangkan (fun) serta serius tapi

santai. Ice breaking adalah permainan yang dapat memecahkan kebekuan fikiran atau fisik siswa. Ice breaking juga dimaksudkan untuk membangun suasana belajar yang dinamis, penuh semangat dan antusiasme.

3. Manfaat Permainan Ice Breaking

Ice Breaking berfungsi untuk pemantapan konsep dan mengkondisikan kembali ke dalam situasi yang baru. Jadi, Ice breaking sangat bermanfaat bagi siswa karena pikiran yang tadi jenuh menjadi terbuka kembali. Ice breaking sangat ampuh dan tepat untuk membuah siswa kembali ke zona Alfa (zona awal yang masih semangat).

Ice breaking sangat bermanfaat untuk kembali menyegarkan pikiran siswa, dan menumbuhkan kegairahan untuk belajar kembali. Dalam acara-acara yang membutuhkan focus dan konsentrasi pesertanya, maka selingan ice breaking menjadi kebutuhan, seperti seminar, work shop. Begitupun dalam dunia pendidikan. oleh karenanya guru super yang kreatif akan selalu membuat suasana cair dan bergairah dengan menciptakan mode-model ice breaking sendiri.[12]



Meski demikian, guru harus hati-hati dalam memilih Ice Breaking yang tepat. Jangan sampai Ice Breaking menghabiskan waktu jam pelajaran. Harus dibedakan Ice Breaking yang digunakan untuk Training, Outbond dengan Ice Breaking di dalam kelas. Guru dalam hal ini ditantang untuk melakukan pemilihan Ice Breaking yang tepat.

4. Jenis-jenis Permainan Ice Breaking

Banyak jenis permainan ice breaking yang bisa di amati, ditiru dan dimodifikasi antara lain:

1. Game

Game yang dilakukan bisa perorangan maupun kelompok.

2. Menyanyi

Menyanyi adalah salah satu ice breaking yang bisa melibatkan siswa seluruhnya. Misalnya menyanyikan lagu yang diciptakan oleh guru sendiri, atau menyanyikan lagu yang sudah dikenaltetapi diubah liriknya.

3. Senam

Senam adalah bagian dari kegiatan pembelajaran, agar siswa sehat, segar dan bersemangat. Ada senam yang baku yang menjadi senam wajib di sekolah-sekolah, ada juga senam dadakan yang dilakukan guru dan diikuti oleh siswanya. Misalnya bangun dari duduk dan kemudian menggerakkan tubuh.

4. Yel-yel Pembangkit Semangat

Yel-yel adalah kata-kata pembangkit semangat atau motivasi, dengan intonasi suara tegas, keras , namun bermakna. Yel-yel bisa menggerakkan anggota tubuh sambil menucapkan kata-kata motivasi.

Misalnya:

Guru : “mana anak yang cerdas?”

Siswa : “ini anak yang cerdas!” (sambil menunjukkan 2 jari jempol kedada.)

Guru : “Dimana?”

Siswa : “disini!”

Guru : “yang mana?”

Siswa : “yang ini!”

Guru : “Bagaimana kalau tidak cerdas?”

Siswa : “rugi abis” (sambil mengangkat tangan kanan dan mengepal mengeluarkan jari jempol terbalik kebawah)



Dan masih banyak yel-yel lain yang dapat diciptakan oleh guru kreatif.

5. Senam Otak (Brain Game)

Senam otak atau yang biasa dikenal dengan brain game, adalah teknik senam yang menggerakkan dua belahan otak, yaitu otak kanan dan kiri. Gerakan senam otak adalah menggerakkan tangan kanan dan kiri dengan gerakan yang berbeda.

6. Tepuk

Tepukpun bisa menjadi salah satu ice breaking, asal tepukannya tidak seperti biasanya. Misalnya: tepuk satu, tepuk dua, tepuk tiga, tepuk anak sholeh, tepuk Islam, tepuk semangat dan lain-lain

7. Humor

Humor adalah teknik membawa anak bahagia dan bisa tertawa agar suasana pembelajaran bisa menyenangkan

8. Story telling

Bercerita menjadi bagian pendidikan asal yang diceritakan memiliki makna yang baik dan menggugah. Guru dapat menceritakan sendiri ceritanya atau mengubah jalan cerita yang ada kearah lain.

9. Tebak-tebakan

Tebak-tebakan menjadi bagian dari ice breaking, yang akan selalu membawa siswa fokus kembali. Apa lagi tebak-tebakan itu dilengkapi dengan reward bagi yang bisa menjawabnya. Suasana akan ramai jika tebak-tebakan dimulai, dan itu memang yang diinginkan guru agar semangat belajar terbangun kembali.[13]



Masih banyak lagi jenis-jenis permainan ice breaking yang dapat diciptakan guru untuk memcahkan suasana kebekuan dalam belajar hingga pembelajaran menjadi menyenangkan. Guru harus pandai dan bijak dalam memilih waktu yang tepat ketika melakukan permainan ice breaking.

5. Teknik Penerapan Ice Breaking

Dalam penerapan ice breaking banyak cara atau teknik yang dapat digunakan untuk membangkitkan gairah belajar anak.Teknik penggunakan ice breaking terbagi dalam dua cara yaitu teknik spontan dan teknik yang direncanakan. [14] Ice breaking digunakan secara spontan dalam proses pembelajaran biasanya digunakan karena situasi pembelajaran biasanya digunakan tanpa rencana tetapi lebih banyak digunakan karena situasi pembelajaran yang ada pada saat itu butuh penyemangat agar pembelajaran dapat fokus kembali. Ice breaking yang demikian bisa digunakan kapan saja melihat dituasi dan kondisi yang terjadi pada saat pembelajaran berlangsung. Ice breaking yang baik dan efektif membantu proses pembelajaran adalah ice breaking yang direncanakan dan dimasukan dalam rencana pembelajaran. “Ice breaking yang direncanakan dan dimasukan dalam renacana pembelajaran dapat mengoptimalkan pencapaian tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan.”[15]



Nafiandi

------------------------------------------------------------



[1] Anggani Sandono (2006), Sumber Belajar dan Alat Permainan (untuk Pendidikan Anak Usia Dini), Cetakan kelima, Jakarta: Grasindo, hal.1-2


[2] Soemiatri Patmonodewo (2003), Pendidikan Anak Prasekolah, Jakarta: Rineka Cipta, hal. 42


[3] Tadrikoatun Musfiroh (2008), Cerdas Melalui Bermain, Yogyakarta: Grasindi, hal.1


[4] Diana Mutiah (2010), Psikologi Bermain Anak Usia Dini, Jakarta: Kencana, hal. 113


[5] Tadrikoatun Musfiroh, Cerdas Melalui ..., hal 4


[6] Diana Mutiah , Psikologi Bermain…, hal. 113


[7] Muhammad Fadlillah dan Lilif Mualifatu (2013), Pendidikan Karakter Anak Usia Dini: Konsep dan Aplikasinya dalam PAUD, hal. 149


[8] Ucu Sulastri dan Wahyudi, Super Teaching…, hal. 105


[9]Sunarto (2012), Ice Breaker dalam Pembelajaran Aktif, Surakarta: Cakrawala Media, hal.2


[10] Sunarto (2012), Icebreaker dalam Pembelajaran Aktif. Surakarta : Cakrawala Media, hal.2


[11] Adi Soenarno (2005), Icebraker Permainan Atraktif-Edukatif Untuk Pelatihan Menejemen, Yogyakarta: Andi Offset, hal.1


[12] Ucu Sulastri dan Wahyudi, Super Teaching…, hal.105-106


[13] Ucu Sulastri dan Wahyudi, Super Teaching…, hal.106-109


[14] Sunarto, Icebreaker…. hal.107


[15] Sunarto, Icebreaker…. hal.107

Romeltea Media
JURNALGO PENDIDIKAN Updated at:

Pengenalan Alam Sekitar Pada Anak

Pengenalan lingkungan alam sekitar kepada anak merupakan salah satu komponen terpenting dalam pengembangan tujuan, isi dan proses pendidikan pada anak usia dini (PAUD). Esensi tujuan pendidikan pada anak usia dini diantaranya adalah membantu anak mengenali, memahami dan menyesuaikan diri secara kreatif dengan lingkungannya.[1]

Lingkungan yang dimaksud memiliki konotasi pemahaman yang luas mencakup segala sumber yang ada dalam lingkungan anak (termasuk dirinya sendiri), lingkungan keluarga dan rumah. Pengamatan secara langsung terhadap lingkungan alam sekitarnya, akan menyebabkan kecerdasan anak, terutama kecerdasan terhadap pengenalan lingkungan sekitarnya akan berkembang dan tumbuh. “kecerdasan kinestetik, naturalis, spasial dan kecerdasan logis berkembang ketika anak melakukan tadabbur alam”.[2]

1. Lingkungan Sekitar

Kondisi lingkungan yang sesungguhnya juga akan menarik perhatian spontan anak sehingga anak memiliki pemahaman dan kekayaan pengetahuan yang bersumber dari lingkungannya sendiri. Bahan-bahan pengajaran yang ada pada lingkungan sekitar anak akan mudah diingat, dilihat dan dipraktikan sehingga kegiatan pengajaran menjadi berfungsi secara praktis. Inti pengajaran sesungguhnya adalah mengajak anak pada kondisi lingkungan sesungguhnya. Alam sekitar merupakan apa yang ada diseputar kita, baik yang jauh maupun yang dekat dengan kita, baik masa silam maupun masa yang akan datang tidak terikat pada dimensi waktu dan ruang.[3]

Semua bahan yang ada di lingkungan sekitar anak dapat dipakai sebagai pusat minat atau pusat perhatian anak. Pada dasarnya belajar bagi anak PAUD tidak mesti di dalam kelas namun belajar dapat juga dilakukan di luar kelas, yang tentunya menjadi daya tarik bagi anak usia dini.

Belajar tidak mesti didalam kelas, belajar dapat juga dilaksanakan di alam bebas, tatkala anak-anak sudah jenuh didalam kelas kita sebagai guru dapat membawanya belajar dalam bentuk wisata untuk menumbuhkan minat belajar baru. Kita mengajak anak-anak pergi melihat fenomena-fenomena alam, belajar melalui wisata alam ini akan berkesan dalam pikiran anak, dan mengembangkan pemikirannya, merangsang mereka untuk berbuat karena mereka membuktikan dan menyaksikan sendiri kejadian alam yang terjadi disekitar mereka.[4]



2. Pengenalan Alam Sekitar

Ketika mengajak anak usia dini untuk berinteraksi dengan lingkungan sekitarnya, sehingga pengetahuan anak usia dini terhadap lingkungan bertambah, guru PAUD diharapkan mampu melakukan berbagai aktifitas yang mendorong semangat anak untuk mengetahui apa yang dilihatnya saat berintraksi dengan alam sekitarnya. Seperti mempelajari proses kehidupan yang terjadi di masyarakat, mempelajari masalah lingkungan alam sekitar, dan sebagainya. Pengenalan alam sekitar memberikan manfaat yang sangat besar bagi pertumbuhan dan perkembangan emosional seorang anak.

Perkembangan aspek kognitif, emosi dan aspek lain sangat dipengaruhi oleh lingkungan. Lingkungan yang berpengaruh positif bagi individu akan memungkinkan berkembangnya potensi yang optimal. Anak usia dini dengan karakteristik khusus yang dimiliki, mempunyai cara belajar yang berbeda dengan tahap-tahap perkembangan selanjutnya, salah satu cara belajar anak usia dini adalah melalui bermain.[5]



Pengenalkan akan dunia sekitar akan meningkatkan kepedulian anak terhadap alam sekitar, dapat meningkatkan kemampuan kognitif anak yaitu, “Kemampuan internal seseorang untuk berpikir, memecahkan masalah, dan dalam pengambilan keputusan.”[6] sekaligus dapat meningkatkan perkembangan emosi anak. “Setiap keadaan pada diri seseorang yang disertai warna afektif yaitu perasan-perasaan tertentu yang dialami pada saat menghadapi (menghayati) suatu situasi tertentu, baik pada tingkat lemah (dangkal) maupun pada tingkat yang luas (mendalam)”.[7]

Pengenalan alam sekitar akan meningkatkan perkembangan anak yang lain seperti perkembangan sosial, pribadi dan perkembangan moral anak. Sehingga dengan pengenalan alam sekitar diharapkan dapat mencapai tujuan pembelajaran yang diinginkan yaitu mengenalkan dan meningkatkan kepedulian anak terhadap lingkungan dan alam sekitarnya.

Dengan pengenalan alam sekitar, contohnya dengan berkarya wisata semua anak-anak diharapkan berbaur (membangun kedekatan dengan temannya) sehingga anak akan menjadi satu kelompok. Anak-anak akan saling bekerja sama menyelesaikan tugas yang diberikan oleh guru, seperti tugas yang diberikan guru kepada anak-anak untuk mengumpulkan daun-daun kering yang berserakan. Tentu tugas ini dapat dilakukan anak-anak secara berkelompok atau secara individual. Ketika anak-anak melaksanakan tugas yang diberikan guru, diharapkan anak-anak menyesuaikan diri dengan teman-temannya, berbaur dengan alam sekitar, sehingga interaksi diantara anak dengan alam sekitar serta dengan sesamanya akan semakin terjalin dengan baik.

3. Pembelajaran Melalui Alam Sekitar

Peranan guru sebagai fasilitator pendidikan untuk anak usia dini (anak usiaTK) harus mampu memberikan kemudahan kepada anak untuk mempelajari berbagai hal yang terdapat dalam lingkungannya.kita ketahui bahwa anak usia dini memiliki rasa ingin tahu dan sikap antusias yang kuat terhadap segala sesuatu serta memiliki sikap berpetualang serta minat yang kuat untuk mengobservasi lingkungan.[8] Pengenalan terhadap lingkungan disekitarnya merupakan pengalaman yang positif untuk mengembangkan minat keilmuan anak usia dini. Dalam upaya pengenalan dan peningkatan kepedulian anak terhadap lingkungan, seorang guru perlu memperhatikan bahwa:

1. Nilai-nilai lingkungan sebagai sumber belajar. Lingkungan yang ada disekitar anak merupakan salah satu sumber belajar yang dapat di optimalkan untuk pencapaian proses dan hasil pendidikan yang berkualitas bagi anak usia dini. Lingkungan menyediakan berbagai hal yang dapat dipelajari anak. Jumlah sumber belajar yang tersedia dilingkungan tidak terbatas, sekalipun pada umumnya tidak dirancang secara sengaja untuk kepentingan pendidikan. Sumber belajar dalam lingkungan akan semakin memperkaya wawasan dan pengetahuan anak karena mereka belajar tak terbatas. Anak juga dapat mengoptimalkan potensi panca indranya untuk berkomunikasi dengan lingkungan tersebut. “informasi tentang keadaan lingkungan pegunungan misalnya: udara yang sejuk, pemandangan yang indah, penuh tanaman hijau, penuh lembah dan ngarai, jalannya yang berkelok-kelok dan naik turun”.[9]

2. Penggunaan lingkungan memungkinkan terjadinya proses belajar yang lebih bermakna. Sebab anak dihadapkan dengan keadaan dan situasi yang sebenarnya. Hal ini akan memenuhi prinsip kekongkritan dalam belajar sebagai salah satu prinsip pendidikan anak usia dini.

3. Penggunaan lingkungan sebagai sumber belajar terhadap anak-anak TK akan mendorong pada penghayatan nilai-nilai atau aspek-aspek kehidupan yang ada dilingkungannya. Kesadaran akan pentingnya lingkungan dalam kehidupan sebaiknya mulai ditanamkan pada anak sejak dini, sehingga setelah mereka dewasa kesadaran tersebut tetap terpelihara. Begitu banyak nilai dan manfaat yang dapat diraih dari lingkungan sebagai sumber belajar dalam pendidikan anak usia dini, bahkan hampir semua tema kegiatan dapat dipelajari dari lingkungan. Namun demikian diperlukan adanya kreativitas guru untuk dapat memanfaatkan lingkungan sebagai sumber belajar.[10]

Setiap pendidik (guru dan orang tua) harus menyadari bahwa alam dan lingkungan sekitar merupakan salah satu media belajar yang dapat menstimulasi (merangsang) kecerdasan anak. “Alam merupakan sarana bermain anak yang mampu meningkatkan daya eksplorasi anak”.[11]

Anak merupakan generasi penerus yang mewariskan keberlangsungan bumi, namun seringkali anak tidak ramah terhadap lingkungannya. Untuk itu, orangtua perlu mendidik anak sedini mungkin agar peka dan peduli terhadap lingkungan. Dengan harapan, bumi tetaplah menjadi tempat yang nyaman untuk ditinggali. Menurut Abdul Halim selaku pelaksana tugas relasi media Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI),

Tanamkan hakekat alam terlebih dulu sebelum orangtua mendorong kecintaan anak terhadap lingkungan. Anak memahami, bumi beserta isinya merupakan ciptaan dan anugerah Tuhan YME, yang diberikan kepada manusia agar dimanfaatkan sebaik-baiknya sebagai pendukung kehidupan. Agar manfaatnya maksimal maka alam harus dijaga dan dipelihara.[12]



Kerusakan alam sekitar akibat ulah manusia akan menimbulkan dampak yang merugikan. Jika hal ini tertanam dalam pola pikir anak, maka guru AUD akan lebih mudah memberi teladan. Misalnya, orangtua senantiasa membiasakan diri membuang sampah pada tempatnya. Mendidik anak terkait dengan memerdekakan akal budi dari ketidaktahuan, termasuk memberi jalan agar anak lebih beradab dalam memperlakukan lingkungan hidupnya. Sikap kecintaan anak terhadap alam sekitar merupakan hasil proses pendidikan yang dialaminya, baik dari sekolah maupun orang tua.[13]

Umumnya, anak menghabiskan 2/3 hari di rumah. Maka pengaruh terbesar bersumber dari pendidikan di rumah. Pendidikan yang paling efektif adalah keteladanan dari orang tua. Untuk itu, biasakan pola hidup yang bersih, sehat dan ramah lingkungan dalam keluarga. Tanamkan pula, menjaga alam merupakan bagian dari ibadah, yang memberi manfaat bagi peningkatan kualitas hidup. Anak belajar dengan meniru dan mencontoh. Jadi, kalau orang tua kurang perahatian terhadap lingkungan, anak pun akan terpengaruhi. Dimulai dari meniru, membiasakan, berkarakter hingga menjadi budaya, khususnya budaya cinta lingkungan

Mengajarkan cinta lingkungan juga akan menumbuhkan sikap bersyukur. Umumnya, anak yang mencintai alam cenderung berhati lembut dan juga mengasihi sesamanya. Sejak dini anak harus dikenalkan dengan tugas menjaga dan memelihara lingkungan sekitar, agar setelah dia dewasa dia akan mencintai lingkungannya.

Manfaat yang dapat diperoleh dalam pengenalan alam sekitar adalah sebagai berikut:

1) Guru atau orang tua dapat menanamkan nilai pada anak. Ketika menikmati alam, orang tua bisa memasukkan nilai yang dianggap penting. Misalnya perlunya menjaga kebersihan lingkungan, tidak membunuh hewan, merawat tanaman dan sebagainya.

2) Anak dapat berekspresi lebih bebas, saat berada di alam terbuka, anak bisa lebih bebas berekspresi. Ia bisa berteriak, berlari, atau melompat tanpa mengalami hambatan.

3) Melatih motorik halus anak. Membuat bermacam bentuk dari pasir basah atau adonan tepung akan melatih keterampilan tangan atau motorik halusnya.

4) Mengasah kreativitas anak, Aneka bentuk yang dicoba dan dibuat akan mengasah kreativitasnya. Misalnya bagaimana membuat pola telapak kaki kucing dengan menggunakan salah satu kepalan dan jari-jari tangannya di atas pasir.[14]

Selain itu lingkungan masyarakat juga mempengaruhi sikap anak terhadap lingkungannya. Untuk itu, diperlukan pengawasan orang tua agar pendidikan lingkungan hidup dapat dipraktikkan dalam keseharian anak. Jika mungkin, dengan membentuk sistem pelestarian di daerah tinggal, anak dapat berperan langsung menjaga keberlangsungan lingkungannya. Ilmu tanpa praktek, tak memberi bekas pada pemahaman anak. Begitupun dengan pemahaman seputar lingkungan, perlu didukung oleh keterlibatan anak secara aktif. Karena itulah “Guru perlu menyadari bahwa keterlibatan langsung peserta didik dalam pembelajaran dapat mempercepat penerimaan dan penyerapan terhadap bahan ajar/materi pelajaran yang diberikan. Oleh karena itu guru perlu merancang atau mempersiapkan kegiatan pembelajaran yang mampu melibatkan siswa”.[15] Menyayangi mahluk hidup, baik hewan maupun tumbuhan untuk menjaga keseimbangan alam.Biasakan anak menghemat penggunaan listrik, dengan tidak menyalakan lampu, televisi dan alat elektronik lainnya jika diperlukan. Libatkan anak dalam mengelola kualitas lingkungan sekitarnya, seperti menata cahaya ruangan, mengatur ventilasi udara, melakukan dan memelihara penghijaun, memelihara dan memelihara fasilitas sanitasi.[16]





Budianto
-----------------------------------------------

[1] Riana Mashar, ( 2011) Emosi Anak Usia Dini dan Strategi Pengembangannya, Edisi. I, cetakan. I, Jakarta: Kencana Prenada Media Group, hal. 15


[2]Ariany Syurfah (2009), Multiple Intelligences For Islamic Teaching Panduan Interaktif Melejitkan Kecerdasan Majemuk Anak Melalui Pengajaran Islam, Bandung: Sygma Publishing, hal. 33




[3] Oemar Hamalik (2001)Proses Belajar Mengajar , Jakarta: Bumi Aksara, 65


[4]Martinis Yamin,(2010) Strategi Pembelajaran Berbasis Kompetensi, cetakan. VII, Jakarta: Gaung Persada Press, hal. 94




[5]Riana Mashar (2011) Emosi Anak Usia Dini dan Strategi Pengembangannya, Edisi. I, cetakan. I, (Jakarta: Kencana Prenada Media Group), hal. 15


[6]Martinis Yamin, Strategi Pembelajaran ..., hal.5


[7]Syamsul Yusuf, (2010) Psikologi Perkembangan Anak dan Remaja, cetakan. XI, Bandung, Rosda Karya, hal.115


[8] Oemar Hamalik, Proses Belajar Mengaja,...,65


[9] Moeslichatoen, Metode Pengajaran ..., hal. 76-77




[10] Oemar Hamalik (2001)Proses Belajar Mengajar , Jakarta: Bumi Aksara, 65


[11]Maimunah Hasan, (2010) Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD), cetakan. II, (Jakarta: DIVA Press), hal. 280


[12]Mita Zoe (2010) Tumbuhkan Kepedulian Lingkungan Pada Anak, Diakses pada tanggal 13 Maret 2012, dari http://bakpiajogja.blogspot.com/2010/03/tumbuhkan-kepedulian-lingkungan-pada.html




[13] Oemar Hamalik, Proses Belajar....,65


[14]Maimunah Hasan, (2010) Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD), cetakan. II,Jakarta: DIVA Press, hal. 282-283




[15]Iskandar Agung, (2010) Meningkatkan Kreativitas Pembelajaran Bagi Guru, cetakan. I, (Jakarta: Bestari Buana Murni), hal. 42


[16]Zamharir Mukthi, Tumbuhkan Kepedulian Lingkungan Pada Anak, (versi elektronik) Diakses pada tanggal 13 Maret 2012, dari www.ibudanbalita.com

Romeltea Media
JURNALGO PENDIDIKAN Updated at:

 
back to top