Perkembangan Kreativitas Anak



1. Pengertian Perkembangan Kreativitas Anak

Setiap anak usia dini mempunyai kreativitas yang berbeda-beda karena anak memiliki karakter dan lingkungan yang berbeda . Perbedaan kreativitas yang dimiliki oleh seorang anak dipengaruhi oleh bermacam-macam faktor, diantaranya faktor lingkungan. Anak-anak yang berada dilingkungan yang baik, penuh perhatian dan selalu memberi kegembiraan akan mempunyai kreativitas yang berbeda dengan anak yang berada dilingkungan yang protektif atau lingkungan yang kurang baik.

“Kreativitas dapat terwujud dimana saja dan oleh siapa saja, tidak bergantung pada usia, jenis kelamin, keadaan sosial ekonomi atau tingkat pendidikan tertentu”.[1] Sesungguhnya meningkatkan kreativitas dimiliki oleh semua orang tanpa pandang bulu, yang penting ditinjau dari segi pendidikan ialah bahwa kreativitas dan bakat dapat ditingkatkan, karena itu perlu dipupuk sejak dini. Seorang anak yang kreatif suka berkreasi. Saat anak berkreasi pada proses pembelajaran, anak tersebut akan dapat mengaktualisasikan dan mengekspresikan dirinya melalui kegiatan yang dilakukannya. Aktualisasi diri merupakan hal yang penting dalam kehidupan seseorang. Selain bermanfaat bagi dirinya sendiri dan lingkungannya, orang yang berkreasi akan mendapatkan kepuasan batin setelah melakukannya.“ Dengan kreativitas anak akan terdorong untuk mencoba bermacam cara dalam melakukan sesuatu”.[2]

Kreativitas merupakan suatu potensi pada diri seseorang, potensi itu merupakan kemampuan untuk mengeluarkan gagasan yang kreatif, gagasan-gagasan tersebut dalam bentuk ide-ide baru atau eksplorasi yang dikembangkan lalu dikombinasikan untuk menghasilkan sesuatu yang baru yang diharapkan anak lebih kreatif dan mampu berbuat sesuai dengan keinginannya melalui kegiatan yang dilakukannya.

Kreativitas akan muncul pada diri anak yang memiliki rasa ingin tahu, imajinasi dan eksplorasi. Kreativitas dapat dirumuskan sebagai kemampuan yang mencerminkan kelancaran, keluwesan (Fleksibilitas) dan kemampuan untuk mengkolaborasi (mengembangkan, memperkaya, memperinci) suatu gagasan. Anak yang kreatif akan selalu mencari dan menemukan jawaban, dengan kata lain mereka senang memecahkan masalah.

Anak yang tinggal ditengah-tengah lingkungan masyarakat akan berinteraksi dan berpengaruh pada kehidupan dan kreativitas yang akan muncul pada anak, oleh karena itu pemupukan pengembangan kreativitas dapat terjadi karena suatu kondisi yang dapat mengembangkan potensi anak untuk menjelajah dengan ide-ide yang baru dan lebih kreatif.

Proses pembelajaran “guru berperan penting dalam pengembangan kreativitas anak. hal ini karena guru pada jenjang pendidikan pra sekolah akan dijadikan figur oleh anak-anak, apa yang dikatakan guru akan diiukuti dan dipatuhi oleh anak”.[3] Berdasarkan pendapat tersebut terlihat bahwa kreativitas mencakup segala upaya yang dilakukan oleh seseorang yang berkaitan dengan hasil pemikiran sendiri dan bersifat inovatif dan memerlukan kemampuan yang cukup besar dalam hal pengembangan imajinasi, sehingga mampu menciptakan sesuatu yang baru.

Kreativitas anak dalam menghasilkan produk atau hasil karya perlu diupayakan agar anak memiliki motivasi dan kepuasan dalam menghasilkan hasil karya yang sifatnya baru.

“Anak yang kreatif ingin memuaskan rasa keingintahuannya melalui berbagai cara, seperti bereksplorasi dan bereksperimen dan banyak mengajukan pertanyaan kepada orang lain”.[4] Disinilah orang tua dan anggota keluarga yang lebih tua mestinya harus lebih banyak memberikan kesempatan kepada anak.

Anak yang kreatif akan selalu mencari dan menemukan jawaban, dengan kata lain mereka senang memecahkan masalah. Permasalahan yang muncul selalu dipikirkan kembali, disusun kembali, dan selalu berusaha menemukan hubungan yang baru, mereka selalu bersikap terbuka terhadap sesuatu yang baru dan tidak diketahui sebelumnya.

Anak TK (Taman Kanak-kanak) saat yang tepat untuk para guru untuk memberikan berbagai macam rangsangan perkembangan, diantaranya adalah perkembangan kreativitas. Hal ini menunjukkan bahwa dengan melakukan kegiatan bermain akan menumbuhkan kreativitas anak, karena melalui bermain anak akan senang dan mengungkapkan gagasan-gagasannya secara bebas dalam hubungannya dengan lingkungan, oleh karena itu kegiatan bermain tersebut dapat dijadikan sebagai salah satu dasar dalam mengembangkan kreativitas.

Pengembangan kreativitas menjadi salah satu hal yang memegang peranan penting dalam perkembangan anak, karena dari kreativitas anak belajar untuk mengembangkan kemampuan-kemampuan dalam dirinya dengan lebih optimal, namun anak tidak akan merespon dan mengaktualisasikan kreativitas dengan cara yang sama pada tiap-tiap anak. Berdasarkan pemahaman itu maka setiap anak memiliki hak yang sama untuk menjadi kreatif dan memiliki kesempatan yang seluasnya untuk mengembangkan kreativitas dalam setiap kegiatan bermain yang sekaligus sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai.

Proses kemampuan dapat dilihat dari anak untuk melakukan perkembangan kreativitas anak melalui metode eksperimen yang merupakan proses belajar menyesuaikan diri dengan warna baru dan menggambar dengan saling bekerja sama, saling berhubungan dan merasa bersatu dengan teman dan guru-guru di sekolah pada saat proses pembelajaran.

Kreativitas anak melalui eksprimen dapat meliputi bermacam-macam bidang namun biasanya seseorang mempunyai bakat belajar istimewa dalam salah satu bidang saja, dan tidak pada semua bidang, ada anak yang menunjukkan kemampuan memimpin, tetapi prestasi akademiknya tidak terlalu menonjol, hal ini kadang-kadang dilupakan oleh pendidik. Guru menganggap bahwa seseorang yang telah diidentifikasi sebagai berbakat harus menonjol dalam semua bidang.



1. Perasaan Ingin Tahu

Setiap anak yang aktif melakukan berbagai kegiatan-kegiatan baik yang dilakukan di sekolah maupun di rumah merupakan anak yang memiliki kreativitas. Kegiatan-kegiatan itu menuntut anak untuk berbuat sesuatu demi kehidupan. Melakukan aktivitas manusia mencoba untuk mencari metode-metode yang baru. Hal ini dilakakukan karena terdorong oleh rasa ingin tahu manusia yang besar.

Anak Taman Kanak-kanak meliputi usia 4-6 tahun, pada masa ini perasaan ingin tahu anak mulai berkembang kearah yang lebih komplek, karena perkembangan fungsi perasaan rasa ingin tahu yang semakin tinggi, sehingga dapat mempengaruhi perkembangan aspek-aspek pribadi yang lainnya. Dominannya perkembangan rasa ingin tahu anak terhadap sebuah keinginan makin terarah dan meluas .

“Perilaku kreatif pada dasarnya muncul sebagai cerminan dari rasa ingin tahu yang besar dan dodorong oleh adanya keberanian untuk mencoba”.[5] Hal ini terjadi akibat rasa keingintahuan anak yang sangat besar dan ini merupakan dampak dari perkembangan kognitif yang sedang berkembang dengan pesat pada perkembangan, anak baik dalam proses pembelajaran di sekolah atau kegiatan yang dilakukan anak di rumah.

Sistem indera anak menjadi sangat peka dan rasa ingin tahunya yang tinggi. Anak akan senang bereksplorasi apa saja yang bisa digunakan seperti bermain drama, berolah seni, menari, menyanyi untuk menunjukkan perasaan ingin tahu anak pada usia ini sangat besar.

Pertualangan yang menarik mulai akan terbuka karena kemampuan koordinasi anak semakin baik serta ukuran tubuh dan kekuatannya meningkat. Tantangan baru sering di temui anak pada masa ini, keingintahuan anak tentang suatu hal juga semakin tinggi. Perubahan kemampuan kognitif anak untuk melihat peraturan sebagai sesuatu yang berguna untuk memahami kejadian-kejadian sehari-hari dari prilaku orang lain.

Prilaku kreatif setiap anak berbeda antara satu anak dengan anak lainnya “prilaku kreatif muncul dalam kondisi dimana anak memiliki rasa ingin tahu yang besar, rasa ingin tahu ini memicunya untuk mencoba mengeksplorasi banyak hal”.[6]

2. Eksplorasi Anak

Berdasarkan ciri-ciri yang menandai pertumbuhan dan perkembangan anak pada rentang usia 3-4 tahun ke atas, maka seorang pendidik anak usia dini perlu mengembangkan program kegiatan belajar yang sesuai dengan situasi dan kondisi yang dihadapi anak.

Eksplorasi anak ditandai dengan “suatu keadaan dimana anak tidak pernah diam, mereka kesana kemari untuk mengetahui keadaan lingkungannya, mengamati mengapa suatu peristiwa dapat terjadi dan mereka sangat peka terhadap perubahan yan terjadi di lingkungan”.[7] Hal ini akibat pertumbuhan fisik anak yang sedang mengalami perkembangan pesat baik dari segi ukuran maupun fungsinya. Kegiatan yang dilakukan anak pada masa ini biasanya anak melakukan gerakan coba-coba yang terkadang membawa dampak yang berbahaya bagi mereka.

“Eksplorasi atau penjelajahan dilakukan secara terencana dan ada pengaturan karena biasanya melibatkan sekelompok teman”.[8] Kegiatan eksplorasi dijumpai pada aktivitas berkemah, pramuka, karya wisata ketempat-tempat yang akan memberikan pengalaman-pengalaman baru bagi anak.

Belajar mencari informasi atau temuan baru tidak timbul secara kebetulan tetapi memerlukan persiapan, antara lain dengan menyiapkan lingkungan kelas yan merangsang anak untuk belajar. Suatu kegiatan eksplorasi yang dilakukan anak mendapatkan manfaat “menambah pengetahuan baru, mendukung kepribadian yang positif dan sebagai alat bantu bagi anak untuk bersosialisasi atau menyesuaikan diri dengan teman-teman”.[9]

Merangsang pengembangan eksplorasi, anak tidak luput dari pengaruh lingkungan. Lingkungan merupakan sesuatu dari luar diri anak sebagai media bagi anak untuk dapat mencari suatu informasi yang berguna atau memulai hal-hal yang baru pada lingkungan yang ada untuk ide-ide baru yang datang dari dalam individu anak.

Eksplorasi yang timbul dalam diri anak bisa saja muncul setiap waktu dengan waktu yang tidak dapat ditentukan oleh siapapun, anak dapat mengkolaborasi sesuatu setiap saat dalam proses bersibuk diri dengan kreatif pada hal-hal yang baru.

Faktor yang dapat mengembangkan eksplorasi anak tersebut akan terwujud jika didukung oleh lingkungan sekolah, rumah, orang tua dan guru serta orang-orang terdekat dengan anak agar motivasi untuk mejelajah dan memulai ide-ide baru dapat tercapai sesuai dengan tujuan pendidikan dan kepuasan bagi anak karena dapat memiliki kreativitas.



4. Imajinasi Anak

Kreativitas anak ditentukan oleh sejauh mana anak mampu berimajinasi. Semakin kuat imajinasinya, semakin kreatif pula anak menyikapi dan melakukan sesuatu. Tugas guru anak adalah bagaimana anak mampu mengembangkan imajinasi yang ada dalam diri anak dalam kegiatan belajar dan bermain. “Imajinasi adalah tolak ukur kecerdasan anak, karena itu mengembangkan imajinasi anak secara otomatis juga mengasah kecerdasan anak itu sendiri”.[10]

Tidak semua anak mampu mengembangkan imajinasinya, semua itu tergantung dari lingkungan dimana anak tersebut tingal, jika dirumah orang tualah yang bertanggung jawab, namun pada saat di sekolah guru yang bertanggung jawab. “Imajinasi bermakna sutu proses menciptakan suatu objek atau kejadian tanpa didukung oleh data yang nyata”.[11]

Terlepas dari siapapun yang yang berperan terhadap perkembangan imajinasi anak, harus disadari bahwa imajinasi yang kuat bisa memunculkan bakat anak. Banyak yang tidak menyadari bahwa imajinasi sangat penting bagi perkembangan anak hal ini sesuai dengan apa yang difirmankan Allah, sebagai berikut.









Bahkan seorang guru nyaris tidak memanfaatkan waktunya untuk mengembangkan imajinasi anak terutama di dalam kelas, karena itu perlu diketahui apa saja manfaat imajinasi itu untuk perkembangan anak:



a. Memiliki kemampuan berkomunikasi dan bersosialisasi tinggi.

Kemampuan berimajinasi erat kaitannya dengan kemampuan berkomunikasi, anak yang terlatih imajinasinya pasti lebih cerdas dan berani mengungkapkan segala sesuatu yang ia tangkap dan lihat.

b. Cerdas menganalisa dan kreatif

Anak yang imajinasinya terasah ketika menyikapi fakta yang terjadi disekelilingnya anak yang memiliki imajinasi pasti otaknya aktif menganalisa, tidak mudah kagum dan percaya itulah cirinya.

c. Wawasannya semakin luas

Imajinasi anak yang terlatih sejak kecil pasti akan membuahkan hasil, yakni wawasannya bertambah luas.

d. Semakin percaya diri

Anak yang tekun belajar dan aktif mengembangkan imajinasi, maka kepercayaan dirinya semakin tumbuh dan anak akan semakin bersemangat untuk belajar dan belajar.

e. Imajinasi yang kuat dapat menimbulkan bakat

Anak yang memiliki imajinasi kuat dan mengembangkannya dengan baik, pasti bakatnya lebih menonjol dibandingkan anak yang lainnya.[12]



Anak-anak yang imajinasinya kuat dan terlatih , pasti lebih cerdas dibandingkan anak yang lainnya. Komunikasinya lihai dan kritis, dari kemampuan berkomunikasi itulah proses sosialisasi berlangsung. Ide-idenya mulai disosialisasi kepada teman-temannya, bahkan tidak jarang kepada orang tuanya sendiri. Ide-ide itu sendiri dibangun melalui sekian cerita yang didengar atau fakta-fakta yang didapatnya sendiri.

Imajinasi yang terasah dengan baik memungkinkan anak memiliki kecakapan komunikasi serta sosialisasi yang kuat.Peran aktif guru dalam mengembangkan imajinasi anak dalam proses pembelajaran dapat melalui metode:

a. Lewat cerita atau dongeng

Anak lebih suka mendengarkan cerita atau dongeng dari pada dipaksa belajar seharian penuh atau mengerjakan tugas sekolah. Terdapat keasyikan tersendiri baik anak-anak ketika mendengarkan dongeng-dongeng tersebut.

b. Rekreasi di tempat-tempat wisata terdekat

Disekitar sekolah pasti ada tempat yang layak dan memiliki nuansa alam yang menggugah imajinasi walaupun tempat tersebut tidak termasuk katagori wisata.

c. Nonton film

Film sangat positif bagi pengembangan imajinasi anak, tetapi tidak semua cocok ditonton oleh anak usia dini. Guru harus pandai memilah dan memilih film yang akan dilihat oleh anak.[13]





Anak yang cerdas dalam imajinasi memiliki kepekaan terhadap warna, garis, bentuk, ruang dan bangunan, anak memiliki kemampuan membayangkan sesuatu, melahirkan ide dalam bentuk mencampur warna atau bentuk yang terlihat oleh mata.

Permainan kreatif PAUD untuk melatih imajinasi yang mudah disiapkan dan dilakukan untuk anak-anak adalah melalui permainan seni, sebab seni berarti keahlian untuk mengekpresikan ide-ide dan pemikiran estetika, termasuk mewujudkan kemampuan serta imajinasi penciptaan benda, suasana atau karya yang mampu menimbulkan rasa indah.




[1] Utami Munandar, Mengembangkan Bakat dan,..., hal. 52


[2] Novan Ardy Wiyani dan Barnawi, Format PAUD, (Jogjakarta: AR-Ruzz Media, 2012), hal. 100


[3] Suratno, Pengembangkan Kreativitas ..., hal.17


[4] Suratno,Pengembangkan Kreativitas,..., hal.19


[5] Igrea Siswanto dan Sri Lestari, Pembelajaran Atraktif dan 100 Permainan Kreatif, (Jogjakarta: Andi, 2012), hal.49


[6] Igrea Siswanto dan Sri Lestari, Pembelajaran Atraktif dan,..,hal.50


[7] Bambang Sujiono, Aktivitas Pengembangan Jasmani Anak TK,(Jakarta:Depdiknas, 2005)., hal. 7


[8] Mayke S. Tedjasaputra, Bermain Mainan dan Permainan Untuk Pendidikan Usia Dini, (Jakarta: Gramedia, 2007), hal.59


[9] Mayke S. Tedjasaputra, Bermain Mainan dan,..., hal.60


[10] Ajeng Yusriana, Kiat-Kiat Menjadi Guru PAUD Yang Disukai Anak, (Jogjakarta: DIVA Press,2012), hal. 103


[11] Muh Nur Mustakim, Peranan Cerita Dalam pembentukan perkembangan Anak TK, (Jakarta: Depdiknas, 2005), hal.84


[12] Ajeng Yusriana, Kiat-Kiat Menjadi Guru ..., hal. 103-106


[13] Ajeng Yusriana, Kiat-Kiat Menjadi Guru ..., hal. 107-111

Romeltea Media
JURNALGO PENDIDIKAN Updated at:

Pembelajaran Mencampur Warna



1. Pengertian Mencampur Warna

Kegiatan mencampur warna pada seorang anak dapat mengungkapkan perasaannya, mengembangkan intelektual, fisik, persepsi, kreativitas, estetik dan sosialnya. Mencampur warna juga sebagai salah satu produk kreatif yang dilakukan seorang anak dalam proses pembelajaran di sekolah atau keterampilan yang diberikan di luar jam sekolah tepatnya di rumah oleh orang tua, mencampur warna yang merupakan salah satu media yang dapat digunakan seseorang untuk menyalurkan ekspresi dan perasaannya.

Perkembangan anak dalam pembelajaran mencampur warna dilandasi oleh perkembangan dan dorongan anak untuk berkreativitas sehingga proses belajar terjadi secara terus menerus dalam rangka menjadikan anak lebih kreatif dan mampu melakukan sesuatu.

Permainan mencampur warna dengan cat yang dilanjutkan dengan mengajarkan anak bagaimana cara menggambar merupakan suatu kegiatan yang tidak monoton, dan merupakan permainan bebas yang bertujuan untuk bersenang-senang, permainan tersebut merupakan ajang uji coba bagi anak, karena pada usia ini gambar sikecil masih berupa coretan-coretan yang belum berarti, namun jika dapat bermain bebas seperti ini mereka akan merasa gembira sekali.

“Mencampur warna menggunakan cat yang aman digunakan untuk anak dalam bermain adalah ketika pertama sekali mengajak anak bermain cat, sebaiknya guru dan orang tua menyiapkan cat yang tidak terlalu encer tetapi kental karena cat yang lebih kental biasanya lebih mudah digunakan anak untuk menggambar”[1]. Apalagi ini kali pertama anak belajar menggambar, tekstur gambar yang dihasilkan akan jadi lebih menarik. Contoh cat seperti yang dimaksud adalah cat poster, namun seorang guru dapat membuat cat untuk bermain sendiri dengan cara menyiapkan bahan-bahan terlebih dahulu, berikut bahan yang harus disiapkan:



a. Kanji dingin 1 cangkir

b. Air dingin 1/4 gelas

c. Serpih sabun 1/2 cangkir (sabun yang digunakan sabun padat bukan bubuk)

d. Air panas 1 liter

e. Pewarna[2]

Cara membuatnya adalah dengan melarutkan tepung kanji dengan sedikit air, kemudian tambahkan 1 liter air yang sudah dididihkan, masak semuanya hingga mengental setelah itu, angkat saat masih panas serta masukkan serpihan sabun. Tambahkan zat pewarna sesuai dengan warna yang disukai anak. guru cukup membuat cat dengan satu warna saja sebagai tahap perkenalan. Untuk permainan berikutnya, guru dapat membuat warna sesuai dengan keinginan guru dan anak. Jika pada saat membuat media cat ini guru menambahkan cairan pencuci, maka guru akan lebih mudah mencuci pakaian dan peralatan yang terkena noda cat.

Gambar yang dibuat oleh anak dengan berbagai jenis warna cat dan dengan memberikan anak kanvas atau buku gambar yang baru, guru tidak perlu terlalu repot menyiapkan bahan sebagai tempat menggambar bagi anak. Guru cukup mencarikan benda-benda dengan permukaan yang mudah dicuci dan dalam keadaan baik, misalnya telenan plastik, nampan plastik dan permukaan dari papan yang licin yang dijadikan media untuk membantu pelaksanaan pembelajaran yang dilakukan. Secara teoritis “Warna terdiri atas warna warna primer meliputi warna merah, kuning dan biru serta warna skunder dibentuk dengan mencampur dua warna atau lebih warna primer”.[3]

2. Menggambar dan Melukis Menggunakan Campuran Warna

Kegiatan menggambar pada anak merupakan salah satu cara manusia mengekpresikan pikiran-pikiran atau perasaannya, dengan kata lain, gambar merupakan salah satu bentuk bahasa, lebih dari itu, melalui gambar dapat diketahui perkembangan motorik dan intelektual anak, ini dapat dilihat dari hasil kreativitas dari gambar anak.

Menggambar adalah “latihan yang baik untuk mengendalikan pensil dan untuk mengerti bagaimana menerjemahkan sebuah keinginan dalam tindakan yang terkontrol”.[4] Cara menyenangkan untuk belajar menyelesaikan sebuah aktivitas Anak tetap duduk diam berkonsentrasi dan menciptakan sesuatu yang dianggap bernilai oleh orang lain.

Anak Taman Kanak-kanak harus memahami hal-hal yang berkaitan dengan kegiatan mencampur warna serta dapat melakukannya pada saat proses belajar mengajar. Melalui metode eksperimen diharapkan anak dapat mengekpresikan kekreatifan mereka melalui cat diatas kertas atau kanvas yang menimbulkan rasa senang serta belajar sambil bermain. Anak-anak dapat menikmati “kegiatan melukis dan menggambar apabila memiliki sarana yang cukup, seorang anak yang banyak berlatih menggambar lebih mungkin untuk mempertahankan kenyakinan pada kemampuan artistiknya dikemudian hari”.[5]

Media yang dilakukan untuk kegiatan melukis salah satunya wadah cat yang tidak mudah tumpah, hal ini guru dapat memanfaatkan botol plastik dengan cara potonglah bagian tengah hingga mendapatkan sebuah wadah berbentuk gelas tanpa pegangan, letakkan beberapa batu kali pada wadah tersebut sehingga dapat berdiri dengan stabil. Siapkan cat dan isikan gunakan sebuah tutup botol dari gabus untuk menutup wadah agar cat yang akan digunakan untuk menggambar tidak tumpah.

Menggambar dan melukis menawarkan beberapa dari cara-cara yang terpenting dalam mengekpresikan kreativitas untuk anak kecil, dengan kesempatan bereksperimen dengan serangkaian materi dan tehnik yang berbeda pada anak antara lain:

a. Membuat jiplakan menggunakan, daun, dan tali

1. Siapkan selembar kertas koran didekat anak untuk meletakkkan stempel awal karena biasanya pada stempel yang baru dicelupkan terlalu banyak cat.

2. Guru dapat memotong sebuah bentuk pada kentang atau lebih baik jika menggunakan bengkuang. Memutar kentang akan mengubah pola.

3. Spon juga dapat digunting kedalam bentuk tertentu, siapkan cat dalam wadah berikan spon atau potongan kain pada anak dan ajarkan untuk mencelupkan lalu menekannya diatas kertas

4. Encerkan cat atau gunakan kertas dengan daya serap yang berbeda untuk mengubah efeknya.

5. Buat jiplakan tangan dengan mencelupkan tangan kedalam cat lalu letakkan diatas selembar kertas. Ajarkan kepada anak untuk mengubah posisi jari-jari untuk mendapatkan bentuk yang berbeda.

b. Melukis, memercikan dan meniup

1. Membuat lukisan dengan meniup, mengajarkan kepada anak bagaimana meniup sedotan, siapkan cat encer dan teteskan keatas kertas, lalu meniup cat sambil membuat berbagai pola menggunakn sedotan.

2. Membuat jiplakan dengan ditiup atau sebarkan cat, tiup atau sebarkan cat kepada sebuah meja, baki atau permukaan datar dan padat lainnya dengan perlahan turunkan kertas dengan daya serap yang baik keatas cat tersebut, angkat dan keringkan.

3. Buat kertas marmer dengan menutup bagian dasar sebuah piring menggunakan adonan pasta tanpa warna yang terbuat dari tepung, teteskan satu sendok makan cat minyak keatasnya aduk dengan sumpit, lalu letakkan selembar kertas diatasnya selama 30 detik lalu angkat.



4. Meneteskan dan memercikkan cat.

5. Anak mencelupkan kuas kedalam cat lalu biarkan menetes diatas, tunjukkan kepada anak bagaimana mengarahkan kuas, buatlah percikan dengan cara mengibaskan kuas atau menggerakkan bulu kuas dengan jari.

c. Melipat kertas dan membuat jiplakan

1. Gunakan beberapa warna cat yang telah dikentalkan untuk mendapatkan efek yang berbeda.

2. Bereksperimenlah dengan cat berkilap dan adonan pasta yang terbuat dari tepung.

3. Lipat selembar kertas pada bagian tengah lalu buka, oleskan cat keatas kertas, lipat kembali kertas tersebut dan sebarkan cat dengan cara menggosok kertas, lalu buka kertas dan lihatlah gambar yang telah diciptakan.

d. Menggunakan tinta yang tidak terlihat

1. Tuliskan sebuah pesan rahasia atau buat gambar dengan cara meletakkan selembar kertas yang permukaannya telah digosok dengan lilin menghadap kebawah diatas selembar kertas lalu buatlah tulisan atau gambar pada kertas yang berada dikertas, ungkapkan tulisa atau gambar dengan cara mengecat diatas pesan atau gambar tersebut.

2. Cobalah cara lain untuk membuat tulisan dengan cara yang tidak terlihat, biarkan anak menggunakan kentang atau air perasan jeruk lemon untuk menulis pesan rahasia, hangatkan dalam oven untuk mengungkapkan pesan tersebut, seolah-olah sulap.[6]



Kreativitas yang dilakukan oleh anak akan terlaksana dengan baik apabila didukung oleh sarana dan dukungan dari guru dan orangtua dirumah, sehingga tujuan pembelajaran yang diharapkan dari anak akan tercapai sesuai dengan harapan.


----------------------------------------------------------

[1] Hariwijaya dan Atik Sustiwi, 1001 Pendekatan Multiple Intelligence Anak Prasekolah, (Yogyakarta: Elmatera publishing, 2002), hal. 62


[2] Hariwijaya dan Atik Sustiwi, 1001 Pendekatan Multiple Intelligence ..., hal. 62


[3] Slamet Suyanto, Pembelajaran Untuk Anak TK (Jakarta: Depdiknas, 2005), hal. 107


[4] Dorothy Einon, Permainan Kreatif ..., hal. 36


[5] Dorothy Einon, Permainan Kreatif ..., hal. 62


[6] Dorothy Einon, Permainan Kreatif,..., hal. 39-41

Romeltea Media
JURNALGO PENDIDIKAN Updated at:

Metode Eksperimen Sebagai Metode Pembelajaran



1. Pengertian Metode Eksperimen

Metode pembelajaran yang dilaksanakan harus mampu mendorong proses pertumbuhan perilaku, membina kebiasaan dan mengembangkan kemahiran peserta didik untuk dapat menyesuaian diri dalam interaksi proses pembelajaran. “Metode adalah suatu cara yang dalam bekerjanya merupakan alat untuk mencapai tujuan kegiatan. Metode dipilih berdasarkan strategi kegiatan yang sudah dipilih dan ditetapkan”.[1]

Pembelajaran di Taman Kanak-Kanak menggunakan metode eksperimen mencampur warna untuk meningkatkan kreativitas dalam kegiatan bermain sambil belajar untuk anak, dalam mengembangkan ilmu pengetahuan yang berguna bagi kehidupan anak kelak, hal ini sesuai dengan apa yang difirmankan Allah, sebagai berikut:

Kegiatan pelaksanaan program pembelajaran eksperimen yang dilakukan pada Taman Kanak-Kanak dilakukan dengan berbagai bentuk kegiatan yang menyenangkan sesuai kurikulum dan rancangannya metode, terdapat beberapa metode yang dapat digunakan guru dalam kegiatan Taman Kanak-Kanak yang menuntut guru harus lebih teliti dan kreatif dalam melaksanakannya salah satunya adalah metode eksperimen, yang metode itu sendiri adalah “Metode merupakan cara yang berfungsi untuk mencapai tujuan kegiatan”.[2]

Metode eksperimen merupakan cara memberikan pengalaman kepada anak dalam proses pembelajaran dengan melakukan berbagai percobaan terhadap sesuatu media yang digunakan dengan cara melihat dan mengamati akibatnya. Misalnya, bila balon ditiup, bila warna dicampur, bila air dipanaskan atau didinginkan, tanah liat yang dibentuk, ampas kelapa yang diberi warna berbagai media lain yang digunakan untuk pembelajaran. Pelaksanaan metode eksperimen cukup memerlukan peralatan dan sarana yang memadai sebelum pembelajaran dimulai, tanpa peralatan yang memadai metode ini tidak dapat dilaksanakan.

Metode eksperimen (percobaan) adalah “metode pembelajaran yang memberi kesempatan kepada siswa melakukan percobaan sendiri tentang proses yang dimaksud”.[3] Menciptakan sesuatu bentuk metode eksperimen, merupakan pembaharuan tanpa mengubah fungsi yang telah ada. Mencampur warna adalah menciptakan sesuatu yang baru sesuai dengan kreativitas anak yang berarti membuat sesuatu yang berbeda warna , perbedaan dalam bentuk, dan gaya yang yang dibuat itu sekaligus merupakan pembaharuan tanpa atau dengan mengubah fungsi pokok dari sesuatu yang dibuat dengan tidak mengenyampingkan tujuan dari kurikulum pembelajaran pendidikan anak Taman Kanak-Kanak.

Menghasilkan sesuatu gagasan yang baru melalui berbagai percobaan dari beberapa media yang digunakan sehingga menimbulkan unsur yang baru dikatakan melakukan proses eksperimen, gagasan itu dikombinasikan sehingga menghasilkan sesuatu yang baru seperti dikatakan seorang ahli “metode eksperimen adalah metode kegiatan dengan melakukan suatu percobaan dengan cara mengamati proses dan hasil dari percobaan tersebut”.[4]

Metode eksperimen didefinisikan sebagai kesanggupan untuk memperbaharui, menemukan, metode menempatkan bagian-bagian yang belum pernah ditempatkan seperti nilai atau mempertinggi keindahan.

Metode eksperimen memiliki nilai manfaat sebagai pengisi waktu luang dan kegiatan pembelajaran serta anak dapat berekspresi, karena anak-anak menghabiskan waktu berjam-jam untuk bereksperimen mencampur warna. Anak- anak tidak bisa melihat cat apabila berada dirumah atau di sekolah. Anak-anak tidak berpikir panjang, anak akan segera menggambar di mana saja, baik di kertas atau di tembok. Aktivitas anak yang demikian ini tidak boleh dilarang, namun sebagai guru hendaknya menasehati anak agar menggambar pada kertas atau kanvas.

Mencapai hasil pembelajaran yang baik guru harus membantu anak menggali kemahiran dan melatih keterampilan yang ada pada diri pribadi anak dengan metode eksperimen dan proses pembelajaran mencampur warna yang dilakukan di sekolah dibawah pengawasan dan bimbingan guru.



2. Langkah-Langkah Penerapan Metode Eksperimen

Kegiatan mencampur warna yang akan diberikan kepada anak, seorang harus memperhatikan beberapa hal seperli lingkungan sekolah, fasilitas yang ada, serta keinginan dan kesiapan anak untuk bereksperimen.

Langkah-langkah metode eksperimen, yaitu:

1. Memberikan penjelasan secukupnya tentang apa yang harus dilakukan dalam eksperimen.

2. Membicarakan dengan anak tentang langkah yang ditempuh, materi pembelajaran yang diperlukan, variabel yang perlu diamati dan hal yang perlu dicatat.

3. Menentukan langkah-langkah pokok dalam membantu anak selama eksperimen.

4. Menetapkan apa tindak lanjud eksperimen.[5]



Anak melakukan kegiatan mencampur warna di mulai dari diri anak sendiri dengan demikian anak “dituntut untuk mengalami sendiri, mencari kebenaran, atau mencoba mencari suatu hukum atau dalil, dan menarik kesimpulan atas proses yang dialaminya”.[6] Guru harus mampu mendampingi mereka, mengarahkan dalam mencampur warna dan mampu membuat anak agar memiliki keinginan yang tinggi dalam proses pembelajaran, dan dapat melakukan semua butuh pendekatan tanpa harus mengesampingkan ketegasan.

Berikut ini langkah dasar yang cocok diterapkan pada anak untuk memudahkan pelaksanaan pembelajaran yang perlu diperhatikan oleh guru sebagai pemberi materi memperhatikan hal-hal sebagai berikut yaitu:

1. Merumuskan semua kegiatan belajar yang memungkinkan untuk dilakukan

2. Menetapkan kegiatan-kegiatan yang tidak perlu dilakukan agar mencapai efesiensiproses pembelajaran.

3. Menetapkan kegiatan yang akan dilakukan baik oleh guru maupun anak.[7]



Melalui metode eksperimen, pendidik terlebih dahulu memberitahukan bagaimana cara mencampur warna yang baik dan tepat. Setelah itu, pendidik dan anak-anak melakukan sesi tanya jawab seputar warna dan tema yang sedang dipelajari. Setelah metode tanya jawab selesai, lakukan metode praktek langsung yaitu anak mempraktekkan bagaimana cara mencampur warna suatu obyek di atas sebuah kertas atau kanvas tanpa bantuan pendidik namun tetap dalam pengawasan dan bimbingan pendidik karena dalam proses pembelajaran anak usia dini anak harus selalu dibimbing dan diawasi.

Langkah yang dilakukan orang tua dan guru saling melengkapi dalam pembinaan penggunaan metode eksperimen anak dan diharapkan ada saling pengertian dan kerja sama yang erat antara keduanya, dalam upaya mencapai tujuan bersama yaitu perkembangan penggunaan mencampur warna melalui media yang digunakan untuk kegiatan menggambar oleh anak di bawah pengawasan guru.

Orang tua sebagai penanggung jawab terhadap peningkatkan pembelajaran anak selama anak berada di rumah, maka dilingkungan sekolah guru terutama bertugas merangsang dan membina anak dalam proses pembelajaran dengan menggunakan metode eksperimen sebagai media meningkatkan kreativitas pada anak mencampur warna sebagai metode pembelajaran yang ada di Taman Kanak-kanak. “Sebagai pendidik, baik orang tua dan guru, bertanggung jawab terhadap kesejahteraan jiwa anak. kedua tokoh ini mempunyai wewenang mengarahkan perilaku anak dan menuntutnya mengikuti patokan-patokan perilaku sebagaimana diinginkan ”.[8]



3. Kelebihan dan Kekurangan Metode Eksperimen

Proses belajar mengajar berjalan dengan lancar dan dapat mencapai tujuan pembelajaran, sebaiknya tentukan metode yang akan digunakan sebelum melakukan proses belajar mengajar serta kelebihan dan kekurangan metode yang akan digunakan tersebut. Pemilihan suatu metode harus disesuaikan dengan tujuan pembelajaran dan materi yang akan menjadi objek pembelajaran. Kekurangan suatu metode akan berpengaruh buruk terhadap hasil pembelajaran.

Setiap anak selalu aktif melakukan berbagai kegiatan-kegiatan. Kegiatan-kegiatan itu menuntut anak untuk berbuat sesuatu demi perubahan, dalam melakukan aktivitas tersebut anak mencoba untuk mencari metode-metode yang baru, hal ini dilakakukan karena terdorong oleh rasa ingin tahu anak yang besar.

Kreativitas lebih menekankan pada ekspresi yang dilakukan anak akan lebih baik jika anak dibiarkan memiliki bentuk ekspresi sendiri dari pada diarahkan pada bentuk tertentu dan hanya meniru, misalnya dalam menyusun kepingan bentuk geometri. Kegiatan meniru tidak memberi kesempatan anak untuk membuat sesuatu yang baru yang mengandung cirri- ciri kreativitas.

Metode eksperimen menjadi salah satu hal yang memegang peranan penting dalam perkembangan anak, karena dari metode eksperimen anak belajar untuk mengembangkan kemampuan dalam dirinya melalui berbagai percobaan dengan lebih optimal, namun anak tidak akan merespon dan mengaktualisasikan percobaan dengan cara yang sama pada tiap-tiap anak. Berdasarkan pemahaman itu maka setiap anak memiliki hak yang sama untuk menjadi kreatif dan memiliki kesempatan yang seluasnya untuk mengembangkan kemampuan dalam setiap kegiatan eksperimen yang sekaligus sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai.

Metode eksperimen ada kalanya tidak dapat dilakukan karena berbagai faktor seperti kurangnya sarana warna yang akan digunakan untuk percobaan, metode eksperimen merupakan metode yang melakukan kegiatan dengan menggunakan media yang sesuai dengan rencana pembelajaran. Mencampur warna merupakan kegiatan yang sangat disukai karena anak bebas melakukan kreativitas dengan menemukan hal-hal baru melalui campuran warna yang digunakan anak sehingga mendapatkan warna-warna yang baru.


4. Kesesuaian Metode Eksperimen Dengan Kegiatan

Metode eksperimen merujuk kepada kegiatan yang terjadi di sekolah sehubungan dengan proses pembelajaran baik didalam maupun diluar kelas. Langkah – langkah dalam melaksanakan latihan dan praktek eksperimen baik untuk belajar verbal maupun belajar keterampilan sebagai berikut:

1. Guru memberikan penjelaskan singkat tentang konsep, prinsip atuu aturan yang menjadi dasar dalam melaksanakan pekerjaan yang akan dilatihkan.

2. Guru mempertunjukkan bagaimana melakukan pekerjaan itu dengan baik dan benar sesuai dengan konsep dan aturan tertentu, pada bentuk belajar yang dipertunjukkan adalah pengucapan atau penulisan kata atau kalimat.

3. Jika belajar dilakukannya secara kelompok atau klasikal, guru dapat meminta salah seorang anak untuk menirukan apa yang telah dilakukan guru, sementara anak lain memperhatikannya.

4. Latihan perseorangan dapat dilakukan melalui bimbingan dari guru sehingga dicapai hasil belajar sesuai dengan tujuan.[9]



Anak melakukan berbagai kegiatan untuk mampu mencapai kemandirian sekaligus beradaptasi terhadap berbagai perubahan lingkungan tempat anak berada baik pada saat anak berada dilingkungan sekolah atau pada saat anak berada di lingkungan rumah. Hasil kegiatan belajar anak bisa diamati langsung oleh pendidik merupakan suatu proses yang sebaiknya dilakukan oleh guru untuk dapat melihat perkembangan kreativitas anak dalam pembelajaran metode eksperimen.



Anak memerlukan proses kegiatan metode eksperimen yang panjang karena berkerjasama dan bernegosiasi memerlukan komponen lain, seperti mengenal guru, mengenal berbagai kebutuhan kegiatan, mengetahui cara menyampaikan pendapat, memahami posisi diri dan orang lain dan mengendalikan diri.

Setiap anak memiliki proses ya ng berbeda-beda tentang kegiatan yang dilakukannya. Anak dari kultur masyarakat dan negara yang berbeda akan mengembangkan kegiatan yang berbeda pula. Anak mempelajari berbagai aspek kegiatan dan hasilnya sangat dipengaruhi oleh bakat, minat, kecerdasan dan kultur budaya tempat tinggal anak.


5. Kendala dan Masalah Metode Eksperimen

Belajar atau proses kegiatan adalah “proses perubahan perilaku, akibat interaksi individu dengan lingkungannya”.[10] Ada dua cara memecahkan masalah yaitu cara coba-coba artinya suatu cara yang digunakan mungkin gagal atau mungkin berhasil. Cara yang memungkinkan pada pemikiran yang mendasar, misalnya didasarkan atas pengalaman atau pengetahuan yang telah dimiliki sebelumnya. Ketika berhasil maka orang tersebut memiliki strategi memecahkan masalah lainnya. Kegiatan merupakan suatu proses mengembangkan strategi memecahkan masalah yang dihadapi oleh seseorang.

Mendidik dan mengembangkan anak usia dini, khususnya anak usia Taman Kanak-kanak, maka para orang tua, guru, serta pihak-pihak yang terkait dengan pendidikan dan perkembangan kreativitas anak tersebut perlu mempertimbangkan dengan cermat, paradigma metode yang terbaik yang dapat diterapkan pada anak. “perkembangan manusia dipengaruhi oleh interaksi antara faktor-faktor yang berkaitan dengan biologis, kematangan, lingkungan dan sosial”.[11]

Anak berfikir untuk mencari sesuatu yang lain mengenai warna, dengan pikirannya anak berkreasi menemukan metode baru, untuk memecahkan berbagai masalah. Kemampuan itu diwujudkan menjadi suatu hasil sebagai proses bersibuk diri secara kreatif ini dapat dikatakan kelebihan suatu metode yang digunakan anak.

Guru takut cat mengenai pakaian anak, sebelum kegiatan sebaiknya “guru dan anak memerlukan sebuah celemek untuk menutupi pakaian dan guru perlu menyiapkan sebuah tempat bermain yang boleh dibuat berantakan”[12]. celemek dapat dibuat dari pakaian yang sudah dipakai, celemek membuat anak bebas melakukan kegiatan apa saja yang diinginkan anak tanpa ada batasan karena noda akan menempel pada celemek bukan pada baju sekolah sehingga tidak perlu ada kekhawatiran oleh guru pakaian anak akan kotor.

Guru juga harus menyiapkan pakaian kerja untuk menghindari percikan campuran warna yang sudah digunakan oleh anak dan guru pada saat melakukan metode eksperimen mencampur warna dengan menggunakan media cat dapat dilakukan anak di sekolah dengan pengawasan oleh guru karena banyak anak kurang memperhatikan keselamatnnya dalam melakukan kegiatan.

Kendala mencapai perubahan melalui metode ekperimen , dari tidak tahu menjadi tahu dan dari tidak terampil menjadi terampil, membutuhkan dukungan orang tua dan sarana yang cukup memadai, hal ini yang terkadang tidak diperhatikan oleh sekolah dan orangtua di rumah, sebagian anak-anak untuk belajar dapat dilakukan dengan bermain, aktivitas bermain itu sesungguhnya yang merupakan sarana belajar anak, artinya anak-anak belajar melalui bermain yang sesuai dengan usia anak.

Kegiatan pembelajaran dilakukan berdasarkan proses pembelajaran “suatu proses yang perlu direncanakan secara sistematis, perencanaan yang sistematis membantu pendidik untuk secara menyeluruh aspek yang terkait dalam pembelajaran ”.[13] Anak terlibat dengan materi pembelajaran dan alat-alat yang ditemukan dilingkungan sekolah, akan mampu menggairahkan minat anak mendorong mereka untuk berkreativitas sesuai dengan bakat dan minat anak yang terkadang kurang mendapat perhatian sehingga menjadi kendala dalam menggunakan metode eksperimen di sekolah.

Pengembangan metode menjadi salah satu hal yang memegang peranan penting dalam perkembangan anak, karena dari metode anak belajar untuk mengembangkan kemampuan-kemampuan dalam dirinya dengan lebih optimal, namun anak tidak akan merespon dan mengaktualisasikan mencampur warna dengan cara yang sama pada tiap-tiap anak. Berdasarkan pemahaman itu maka setiap anak memiliki hak yang sama untuk menjadi kreatif dan memiliki kesempatan yang seluasnya untuk mengembangkan eksperimen dalam setiap kegiatan bermain yang sekaligus sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai.

Pembelajaran yang diperoleh “anak di sekolah belum mempertimbangkan bakat-bakat mereka yang istimewa, karena kurikulum yang mereka ikuti saja dengan kurikulum bagi sebagian besar anak yang berkemampuan rata-rata, padahal anak yang berbakat adalah anak yang luar biasa“.[14]




[1] Moeslichatoen, Metode Pengajaran di Taman Kanak-kanak, (Jakarta: PT.Rineka Cipta,2004), hal. 7


[2] Anita Yus, Penilaian Perkembangan Belajar Anak Taman Kanak-Kanak, (Jakarta: Depdiknas, 2005), hal. 145


[3] Sumiati dan dan Asra, Metode Pembelajaran,(Bandung: Wacana Prima, 2007), hal. 101


[4] Depdiknas, Petunjuk Pelaksanaan Kegiatan Belajar Mengajar Penilaian Pembuatan Dan Penggunaan Sarana di Taman Kanak-Kanak, (Jakarta: Depdiknas 2003), hal. 236


[5] Sumiati dan dan Asra, Metode,..., hal. 102


[6] Syaiful Bahri Djamarah, Strategi Belajar Mengajar,(Jakarta: Rineka Cipta),hal. 84


[7] Sumiati dan dan Asra, Metode ..., hal. 12




[8] Utami Munandar, Mengembangkan Bakat dan Kreativitas Anak Sekolah, (Jakarta : PT Gramedia Widiasarana Indonesia 1999), hal. 59


[9] Sumiati dan dan Asra, Metode ..., hal. 105


[10] Sumiati dan dan Asra, Metode ..., hal. 38


[11] Martini Jemaris, Perkembangan Dan Pengembangan Anak Usia Taman Kanak-Kanak (Jakarta: Grasindo, 2005), hal 106


[12] Dorothy Einon, Permainan Kreatif Untuk Anak-Anak, (Jakarta: Karisma Publishing, 2006), hal. 36


[13] Martini Jemaris, Perkembangan dan Pengembangan..., hal. 126


[14] Utami Munandar, Mengembangkan Bakat ..., hal. 23

Romeltea Media
JURNALGO PENDIDIKAN Updated at:

Imajinasi Anak Usia Dini


1. Pengertian Imajinasi Anak Usia Dini

Mengembangkan imajinasi anak merupakan upaya untuk menstimulasi, menumbuhkan dan meningkatkan potensi kecerdasan juga kreativitasnya di masa pertumbuhannya. Imajinasi anak berkembang seiring dengan berkembangnya kemampuan ia berbicara dan berbahasa. Seperti bermain, dunia imajinasi juga merupakan dunia yang sangat dekat dengan dunia anak. Imajinasi anak merupakan sarana untuk mereka berselancar dan belajar memahami realitas keberadaan dirinya juga lingkungannya. Karena itu, orang tua dapat mengembangkan imajinasi anak dengan menstimulasi tumbuh kembangnya potensi dan kemampuan imajinatif anak untuk diekspresikan dengan efektif.

Imajinasi lahir dari proses mental yang manusiawi. Proses ini mendorong semua kekuatan yang bersifat emosi untuk terlibat dan berperan aktif dalam merangsang pemikiran dan gagasan kreatif, serta memberikan energi pada tindakan kreatif. Kemampuan imajinatif anak merupakan bagian dari aktivitas otak kanan yang bermanfaat untuk kecerdasannya. Di masa balita, imajinasi merupakan bagian dari tugas perkembangannya, sehingga anak sangat suka membayangkan sesuatu, mengembangkan khayalannya dan bercerita membagi ide-ide imajinatifnya kepada orang lain, khususnya orang tuanya. Karena itu, berimajinasi mampu membuat anak mengeluarkan ide-ide kreatifnya yang kadang kala mengagumkan. Hal ini sangat wajar karena seiring pertambahan usianya, otak anak lebih aktif merespon setiap rangsangan. Di benaknya muncul banyak pertanyaan yang mendorongnya untuk melakukan banyak pengamatan. Pertanyaan dan pengamatan yang dilakukannya itu, akhirnya membuat anak merasa nyaman berada di dalam imajinasinya.

Imajinasi bagi anak-anak merupakan kebutuhan alaminya dan bukan bentuk kemalasan. Imajinasi anak bisa saja lahir sebagai hasil imitasi, meniru dari tayangan yang ditontonnya atau pengaruh dari dongeng dan cerita yang didengarnya. Namun, imajinasi juga bisa muncul secara murni dan orisinil dari dalam benaknya, sebagai hasil mengolah dan memanfaatkan kelebihan dan kemampuan otak yang dianugerahkan Tuhan. Jika kita mampu mengasah, mengembangkan dan mengelola imajinasi anak, maka berimajinasi akan sangat bermanfaat dalam meningkatkan kecerdasan kreatifnya, serta membuatnya lebih produktif karena potensi dan kemampuan imajinatif anak merupakan proses awal tumbuhkembangnya daya cipta dalam diri anak yang boleh jadi menghasilkan sebuah kreasi yang menarik dan bermanfaat untuk perkembangan kepribadiannya.

2. Imajinasi Anak Usia Dini

Manfaat imajinasi anak berkaitan erat dengan tumbuhkembangnya

kreativitas dalam diri anak. Berikut beberapa manfaat imajinasi anak bagi perkembangan dan kepribadiaan anak.

a. Terampil berkomunikasi dan bersosialisasi.

Anak-anak yang aktif berimajinasi cenderung lebih cerdas dan mudah bersosialisasi saat berada di sekolah. Dengan berimajinasi, anak melibatkan kapasitas otaknya, sehingga kecerdasan otak lebih terasah. Dalam berimajinasi, tentu saja ia sering kali memainkan peran sebagai tokoh tertentu yang tidak selalu sama, sehingga dalam realitas sehari-hari, ia lebih mudah berkomunikasi, memerankan perannya sebagai anak, teman bahkan ibu atau guru. Ia juga memiliki banyak cerita berkaitan dengan imajinasinya yang akan semakin memudahkannya berceloteh, ngobrol dengan teman dan lingkungan sosialnya. Semua ini bisa membuat anak lebih mudah memecahkan suatu persoalan karena ia akan memiliki sudut pandang yang berbeda atas suatu masalah berdasarkan pengalaman dan kemampuan imajinatifnya.

b. Mahir menganalisa, aktif dan berpikir kreatif.

Berimajinasi membuat anak lebih aktif dan kreatif. Imajinasi akan menstimulasi gerak tubuh, emosi dan kinerja otak anak untuk melakukan sebuah tindakan kreatif. Dalam kondisi tertentu, semua yang dilakukannya, dilihatnya dan didengarnya akan dianalisanya, sehingga dengan berimajinasi ia lebih mahir menganalisa kejadian, sesuatu atau masalah yang dihadapinya.Dapat dikatakan, imajinasi membuat anak lebih kreatif dalam berpikir dan bertindak. Ia akan mencoba menganalisa sesuatu dengan kemampuan imajinatifnya itu, menuntun dan merunutnya dengan logika apa saja yang bisa dan mungkin terjadi. Di masa depan, kemampuan ini sangat membantu karena permasalahan hidup akan semakin kompleks dan heterogen.

c. Memperkaya pengetahuan anak.

Dengan berimajinasi, ide-ide kreatif anak semakin bermunculan dan berkembang. Hal ini akan semakin mengasah dan mendorong rasa keingintahuannya. Keingintahuan yang besar akan mendorong mereka untuk mencari, menggali lebih dalam dan berkesperimen untuk memuaskan keingintahuannya tersebut. Semakin banyak yang digali dan dicoba, semakin kaya pula pengetahuannya. Proses menggali dan mencari ini bisa dilakukannya melalui kegiatan bermain dan ragam permainan, membaca atau bertanya langsung.

d. Lebih percaya diri, mandiri dan mampu bersaing.

Berpetualang di dunia imajinasi membuat anak merasa nyaman. Ketika ada dukungan dan dorongan untuk mengekspresikannya, ia akan merasa percaya diri. Kepercayaan diri ini akan membuatnya lebih siap dan mampu bersaing di lingkungannya karena secara tidak langsung keterlibatan emosi, gerak tubuh dan kemampuan otak dalam berimajinasi membekalinya kesiapan mental untuk bersaing. Keberanian dan kesiapan bersaing, tidak selalu berdampak negatif karena kesiapan ini justru bisa membuatnya semakin mandiri dalam melakukan aktivitasnya, tanpa harus selalu tergantung kepada orang tuanya.

e. Memunculkan bakat anak.

Dengan berimajinasi, anak dapat menggali, mengangkat dan memunculkan bakatnya yang mungkin saja terpendam. Bakat merupakan ciri universal yang khusus, pembawaan yang luar biasa sejak lahir yang dapat berkembang dengan adanya interaksi dari pengaruh lingkungan. Berimajinasi bisa membuat anak menemukan arti kenyamanan yang bermuara pada bakatnya, sehingga yang muncul dari imajinasinya tersebut adalah bakatnya sendiri. Penting kita ketahui bahwa dalam imajinasi itu ada dua hal bermakan yakni inovasi dan kreasi. Kedua hal bisa optimal dengan peran bakat, minat serta dukungan lingkungan (suasana) yang menyenangkan.[1]

Orang tua yang mengetahui manfaat imajinasi anak tersebut, diharapkan bisa lebih memahami cara menyikapi, mengasah dan mengembangkan imajinsi anak untuk perkembangan dan kepribadian anak. Orang tua diharapkan dapat menjadi bagian proses tumbuh kembangnya imajinasi anak.

Bermain, berimajinasi dan berkreasi merupakan dunia anak. Permainan, memiliki unsur pleasurable (menyenangkan), enjoyable (menikmati), imajinatif dan aktif, sehingga tanpa bermain, imajinasi tidak akan berkembang dengan baik, menjadi sebuah ide dan tindakan kreatif. Ketiga hal tersebut merupakan rangkaian aktivitas yang melibatkan pikiran, perasaan dan gerak tubuh anak yang sejatinya bermanfaat bagi perkembangan dan kepribadiannya.


...................................................................................

[1] Nia Hidayati, (2013), Mengembangkan Inajinasi Anak, Artikel, diambil dari http://niahidayati.net/mengembangkan-imajinasi-anak.html pada tanggal 12 Januari 2013



Romeltea Media
JURNALGO PENDIDIKAN Updated at:

Penggunaan Media Kotak-kotak



Media dapat diartikan sebagai “alat yang digunakan untuk mengimplementasikan rencana yang sudah disusun dalam bentuk kegiatan nyata dan praktis untuk mencapai tujuan pembelajaran.”[1] Media adalah alat yang dapat digunakan agar proses kegiatan berjalan dengan baik dan tujuan dari kegiatan tersebut dapat tercapai sesuai dengan yang diharapkan.

“Media merupakan cara yang dalam fungsinya merupakan alat untuk mencapai tujuan kegiatan.”[2] Berdasarkan kutipan di atas dapat diterangkan bahwa media adalah alat untuk mencapai tujuan kegiatan. Guru sebagai pendidik dan pengajar dalam memilih suatu media yang akan dipergunakan dalam program kegiatan anak di taman kanak-kanak memerlukan alasan yang kuat dan faktor-faktor yang mendukung pemilihan media tersebut, seperti karakteristik tujuan kegiatan dan karakteristik anak yang diajar.

“Karakteristik tujuan adalah pengembangan kreativitas, pengembangan bahasa, pengembangan emosi, pengembangan motorik dan pengembangan nilai serta pengembangan sikap dan nilai”[3] Berdasarkan kutipan di atas dapat diterangkan bahwa karakteristik tujuan memiliki maksud untuk pengembangan kreativitas, pengembangan bahasa, pengembangan emosi, pengembangan motorik dan pengembangan nilai serta pengembangan sikap dan nilai anak didik.

“Karakteristik anak antara lain anak selalu bergerak, mempunyai rasa ingin tahu yang kuat, senang bereksperimen dan menguji, mampu mengekspresikan diri secara kreatif, mempunyai imajinasi, dan senang berbicara.”[4] Berdasarkan kutipan di atas dapat diterangkan bahwa anak memiliki karakteristik yang berbda satu sama lain. Guru dalam mengajar harus dapat memahami karakteristik anak yang di ajarnya.



B.Bermain Kotak-kotak

1. Bermain Kotak-kotak dalam Mengekpresikan Kreativitas Anak

Bermain adalah hak asasi bagi anak usia dini yang memiliki nilai utama dan hakiki pada masa pra sekolah. Kegiatan bermain bagi anak usia dini adalah sesuatu yang sangat penting dalam perkembangan kepibadiannya. Bermain bagi seorang anak tidak sekedar mengisi waktu, tetapi media bagi anak untuk belajar. Setiap bentuk kegiatan bermain pada anak pra sekolah mempunyai nilai positif terhadap perkembangan kepibadiannya

“Bermain merupakan bentuk kegiatan yang memberikan kepuasan kepada diri anak yang bersifat nonserius, lentur dan bahan mainan terkandung dalam kegiatan dan yang secara imajinatif ditransformasikan sepadan dengan dunia orang dewasa.”[5]

Berdasarkan kutipan di atas dapat diterangkan bahwa di dalam bermain anak memiliki nilai kesempatan untuk mengekspresikan sesuatu yang ia rasakan dan pikirkan. Dengan bermain, anak sebenarnya sedang mempraktekkan keterampilan dan anak mendapatkan kepuasan dalam bermain, yang berarti mengemabngkan dirinya sendiri. Dalam bermain, anak dapat mengembangkan otot kasar dan halus, meningkatkan penalaran, dan memahami keberanaan lingkungannya, membentuk daya imajinasi, daya fantasi, dan kreativitas.

Kenyataan sekarang ini sering dijumpai bahwa kreativitas anak tanpa disadari telah terpasung di tengah kesibukan orang tua. Namun kegiatan bermain bebas sering menjadi kunci pembuka bagi gudang-gudang bakat kreatif yang dimiliki setiap manusia. Bermain bagi anak berguna untuk menjelajahi dunianya, dan mengembangkan kompetensinya dalam usaha mengatasi dunianya dan mengembangkan kreativitas anak. Fungsi bermain bagi anak usia dini dapat dijadikan intervensi yang jika dilaksanakn dengan tepat, baik dilengkapi dengan alat maupun tanpa alat akan sangat membantu perkembangan sosial, emosional, kognitif, dan afektif pada umumnya, dan mengembangkan daya kreativitas anak.

Dunia anak adalah dunia bermain, dalam kehidupan anak-anak, sebagian besar waktunya dihabiskan dengan aktivitas bermain. Filsuf Yunani, Plato, merupakan orang pertama yang menyadari dan melihat pentingnya nilai praktis dari bermain. Anak-anak akan lebih mudah mempelajari aritmatika melalui situasi bermain. Bermain dapat digunakan sebagai media untuk meningkatkan keterampilan dan kemampuan tertentu pada anak. Istilah bermain diartikan sebagai suatu kegiatan yang dilakukan dengan mempergunakan atau tanpa mempergunakan alat yang menghasilkan pengertian, memberikan informasi, memberikan kesenangan, dan dapat mengembangkan imajinasi anak

“Bermain dapat digunakan anak-anak untuk menjelajahi dunianya, mengembangkan kompetensi dalam usaha mengatasi dunianya dan mengembangkan kreativitas anak. Dengan bermain anak memiliki kemampuan untuk memahami konsep secara ilmiah, tanpa paksaan.”[6]

Secara umum sering dikaitkan dengan kegiatan anak-anak yang dilakukan secara spontan. Terdapat lima pengertian bermain:

1. Sesuatu yang menyenangkan dan memiliki nilai intrinsik pada anak

2. Tidak memiliki tujuan ekstrinsik, motivasinya lebih bersifat intrinsik

3. Bersifat spontan dan sukarela, tidak ada unsur keterpaksaan dan bebas dipilih oleh anak

4. Melibatkan peran aktif keikutsertaan anak

5. Memilikii hubungan sistematik yang khusus dengan seuatu yang bukan bermain, seperti kreativitas, pemecahan masalah, belajar bahasa, perkembangan sosial dan sebagainya.[7]



Berdasarkan keterangan di atas, maka bermain adalah kegiatan yang menyenangkan, spontan, sukarela dan melibatkan peran aktif anak. Banyak konsep dasar yang dapat dipelajari anak melalui aktivitas bermain. Pada usia prasekolah, anak perlu menguasai berbagai konsep dasar tentang warna, ukuran, bentuk, arah, besaran, dan sebagainya. Konsep dasar ini akan lebih mudah diperoleh anak melalui kegiatan bermain.

Bermain, jika ditinjau dari sumber kegembiraannya di bagi menjadi dua, yaitu bermain aktif dan bermain pasif. Sedangkan jika ditinau dari aktivitasnya, bermain dapat dibagi menjadi empat, yaitu bermain fisik, bermain kreatif, bermain imajinatif, dan bermain manipulatif. Jenis bermain tersebut juga merupakan ciri bermain pada anak usia pra sekolah dengan menekankan permainan dengan alat (kotak-kotak, bola, dan sebagainya) dan drama.

Umumnya para ahli hanya membedakan atau mengkatergorikan kegiatan bermain tanpa secara jelas mengemukakan bahwa suatu jenis kegiatan bermain lebih tinggi tingkatan perkembangannya dibandingkan dengan jenis kegiatan lainnya.

a. Jean Piaget

Adapun tahapan kegiatan bermain adalah sebagai berikut:

1. Permainan Sensori Motorik (± 3/4 bulan – ½ tahun)

Bermain diambil pada periode perkembangan kognitif sensori motor, sebelum 3-4 bulan yang belum dapat dikategorikan sebagai kegiatan bermain. Kegiatan ini hanya merupakan kelanjutankenikmatan yang diperoleh seperti kegiatan makan atau mengganti sesuatu. Jadi merupakan pengulangan dari hal-hal sebelumnya dan disebut reproductive assimilation.

2. Permainan Simbolik (± 2-7 tahun)

Merupakan ciri periode pra operasional yang ditemukan pada usia 2-7 tahun ditandai dengan bermain khayal dan bermain pura-pura. Pada masa ini anak lebih banyak bertanya dan menjawab pertanyaan, mencoba berbagai hal berkaitan dengan konsep angka, ruang, kuantitas dan sebagainya . Seringkali anak hanya sekedar bertanya, tidak terlalu memperdulikan jawaban yang diberikan dan walaupun sudah dijawab anak akan bertanya terus. Anak sudah menggunakan berbagai simbol atau representasi benda lain. Misalnya sapu sebagai kuda-kudaan, sobekan kertas sebagai uang dan lain-lain. Bermain simbolik juga berfungsi untuk mengasimilasikan dan mengkonsolidasikan pengalaman emosional anak. Setiap hal yang berkesan bagi anak akan dilakukan kembali dalam kegiatan bermainnya.

3. Permainan Sosial yang Memiliki Aturan (± 8-11 tahun)

Pada usia 8-11 tahun anak lebih banyak terlibat dalam kegiatan games with rules dimana kegiatan anak lebih banyak dikendalikan oleh peraturan permainan.

4. Permainan yang Memiliki Aturan dan Olahraga (11 tahun keatas)

Kegiatan bermain lain yang memiliki aturan adalah olahraga. Kegiatan bermain ini menyenangkan dan dinikmati anak-anak meskipun aturannya jauh lebih ketat dan diberlakukan secara kaku dibandingkan dengan permainan yang tergolong games seperti kartu atau kasti. Anak senang melakukan berulang-ulang dan terpacu mencapai prestasi yang sebaik-baiknya.[8]



Berdasarkan kutipan di atas maka dapat disimpulkan bahwa bermain yang tadinya dilakukan untuk keenangan lambat laun mempunyai tujuan untuk hasil tertantu seperti ingin menang, memperoleh hasil kerja yang baik.

b. Hurlock

Adapun tahapan perkembangan bermain adalah sebagai berikut:

1. Tahapan Penjelajahan (Exploratory stage)

Berupa kegiatan mengenai objek atau orang lain, mencoba menjangkau atau meraih benda disekelilingnya lalu mengamatinya. Penjelajahan semakin luas saat anak sudah dapat merangkak dan berjalan sehingga anak akan mengamati setiap benda yang diraihnya.

2. Tahapan Mainan (Toy stage)

Tahap ini mencapai puncknya pada usia 5-6 tahun. Antara 2-3 tahun anak biasanya hanya mengamati alat permainannya. Biasanya terjadi pada usia pra sekolah, anak-anak di Taman Kanak-Kanak biasanya bermain dengan boneka dan mengajaknya bercakap atau bermain seperti layaknya teman bermainnya.



3. Tahap Bermain (Play stage)

Biasanya terjadi bersamaan dengan mulai masuk ke sekolah dasar. Pada masa ini jenis permainan anak semakin bertambah banyak dan bermain dengan alat permainan yang lama kelamaan berkembang menjadi games, olahraga dan bentuk permainan lain yang dilakukan oleh orang dewasa.

4. Tahap Melamun (Daydream stage)

Tahap ini diawali ketika anak mendekati masa pubertas, dimana anak mulai kurang berminat terhadap kegiatan bermain yang tadinya mereka sukai dan mulai menghabiskan waktu untuk melamun dan berkhayal. Biasanya khayalannya mengenai perlakuan kurang adil dari orang lain atau merasa kurang dipahami oleh orang lain.[9]



Berdasarkan penjelasan di atas maka dapat dipahami, bermain merupakan suatu kegiatan yang dilakukan oleh anak dengan spontan, dan perasaan gembira, tidak memiliki tujuan ekstrinsik, melibatkan peran aktif anak, memiliki hubungan sistematik dengan hal-hal diluar bermain (seperti perkembangan kreativitas), dan merupakan interaksi antara anak dengan lingkungannya, serta memungkinkan anak untuk beradaptasi dengan lingkungannya tersebut. Masa bermain pada anak memiliki tahap-tahap yang sesuia dengan perkembangan anak, baik kognitif, afektif, maupun psikomotor dan sejalan juga dengan usia anak.

2. Bermain Kotak-kotak dalam Meningkatkan Kecerdasan Anak

Masa kanak-kanak adalah masa yang setiap orang akan, sedang dan pernah mengalaminya dalam perjalanan kehidupannya. Tahapan kehidupan seorang manusia tidak akan pernah terlepas dari masa anak-anak. Pada umunya orang berpendapat bahwa masa kanak-kanak adalah masa terpanjang dalam rentang kehidupan seseorang, saat individu dimana relatif tidak berdaya dan tergantung dengan orang lain.

Masa kanak-kanak di mulai setelah bayi yang penuh dengan ketergantungan, yaitu kira-kira usia 2 tahun sampai saat anak matang secara seksual, kira-kira 13 tahun untuk wanita dan 14 tahun untuk laki-laki. Masa kanak-kanak di bagi lagi menjadi dua periode yang berbeda, yaitu awal dan akhir masa kanak-kanak. Periode awal berlangsung dari umur 2-6 tahun, dan periode akhir pada masa usia 6 sampai tiba saatnya anak matang secara seksual.[10]



Garis pemisah ini penting, khususnya digunakan untuk anak-anak yang sebelum mencapai wajib belajar diperlakukan sangat berbeda dari anak yang sudah masuk sekolah. Sedangkan para pendidik menyebut sebagai tahun-tahun awal masa kanak-kanak sebagai usia pra sekolah.

Anak yang berusia antara 2 hingga 6 tahun dikatakan sebagai anak usia dini. Anak pada usia dini sebagai usia dimana anak belum memasuki suatu lembaga pendidikan formal, seperti Sekolah Dasar (SD), dan biasanya mereka tetap tinggal di rumah atau mengikuti kegiatan dalam bentuk berbagai lembaga pendidikan pra sekolah seperti kelompok bermain, taman kanak-kanak atau taman penitipan anak

Anak usia dini dapat di katakan sebagai usia yang belum dapat di tuntut untuk berpikir secara logis, yang di tandai dengan pemikiran sebagai berikut:

1. Berpikir secara konkrit, dimana anak belum daat memahami atau memikirkan hal-hal yang bersifat abstrak (seperti cinta dan keadailan)

2. Realisme, yaitu kecenderungan yang kuat untuk menanggapi segala sesuatu sebagai hal yang riil atau nyata

3. Egosentris, yaitu melihat segala sesuatu hanya dari sudut pandangnya sendiri dan tidak mudah menerima penjelasan dari si lain

4. Kecenderungan untuk berpikir sederhana dan tidak mudah menerima sesuatu yang majemuk

5. Animisme, yaitu kecenderungan untuk berpikir bahwa semua objek yang ada dilingkungannya memiliki kualitas kemanusiaan sebagaimana yang dimiliki anak

6. Sentrasi, yaitu kecenderungan untuk mengkonsentrasikan dirinya pada satu aspek dari suatu situasi

7. Anak usia dini dapat dikatakan memiliki imajinasi yang sangat kaya dan imajinasi ini yang sering dikatakan sebagai awal munculnya bibit kreativitas pada anak.[11]



Berdasarkan keterangan di atas dapat disimpulkan bahwa anak usia dini adalah anak yang berusia 2–6 tahun, yang berada pada tahap perkembangan awal masa kanak-kanak, yang memiliki karakteristik berpikir konkrit, realisme, sederhana, animisme, sentrasi, dan memiliki daya imajinasi yang kaya.

Garis-garis besar program kegiatan belajar mengajar taman kanak-kanak, bermain juga merupakan prinsip dalam pengajaran di dalam taman kanak-kanak, dimana bermain merupakan cara yang paling baik untuk mengembangkan kemampuan anak didik. Sebelum bersekolah bermain merupakan cara alamiah untuk anak, karena dengan bermain anak dapat menemukan lingkungannya, orang lain dan dirinya sendiri. Pada prinsipnya “bermain mengandung rasa senang dan lebih mementingkan proses dari pada hasil, perkembangan bermain sebagai cara pembelajaran hendaknya disesuiakan dengan perkembangan umur dan kemampuan anak didik tersebut, yaitu berangsur-angsur dikembangkan bermain sambil belajar.”[12]

Permainan kotak-kotak adalah “salah satu permainan bagi anak usia dini sebagai salah satu sarana untuk mengembangkan kognitif anak, karena dengan permainan kotak-kotak ini anak mampu meningkatkan prestasinya, baik dalam segi berhitung, pengenalan warna, huruf, dan dapat mengasah daya imajinasi anak tersebut.”[13]

Tingkat prestasi melalui bermain kotak-kotak bagi anak dapat dipandu oleh guru untuk melakukan permainan kotak-kotak ini, anak dapat mengikutinya agar lebih rapi, sehingga anak dapat menyalurkan bakat serta imajinasinya melalui permainan kotak-kotak tersebut. Misalnya dengan konsep warna, anak dapat mengelompokan warna dengan baik, antara lain warna merah, kuning, hijau dan seterusnya sesuai panduan yang diberikan oleh guru kepada anak tersebut.

Manfaat lain permainan kotak-kotak bagi anak adalah permainan ini cukup menarik bagi anak untuk melakukan pembelajaran. Anak dapat melakukan belajar dengan memisahkan masing-masing barang berdasarkan kelompoknya dan memahami bahwa barang tersebut bisa dikelompokkan dengan lebih dari satu cara, selain itu anak juga dapat belajar berhitung.

Bermain kotak-kotak ini banyak dilakukan, salah satunya memilih kotak kardus. Aturan permainan dengan kotak kardus adalah jika berada ditangan anak-anak akan diubahnya menjadi sebuah permainan yang menyenangkan, tidak ketinggalan kotak kardus besar, anak-anak seolah-olah hidup didunianya sendiri ketika berada dalam kotak tersebut berikut ini juga terdapat beberapa variasi permainan kotak-kotak kardus kecil.

Caranya ambil sebuah kardus kecil, biasanya kardus mie instan, masukan beberapa kotak kecil didalamnya, yang diberi warna, suruhlah anak-anak untuk memilih warna sebanyak-banyaknya yang terdapat dalam kotak tersebut, warna merah, kuning, hijau dan sebagainya. “Permainan ini bertujuan agar anak dapat mengetahui konsep warna yang ada dalam kotak tersebut.”[14] Permainan kotak bertujuan agar anak dapat bermain dengan menggunakan imajinasi tentang sesuatu yang ada dalam kotak tersebut.

................................................................................................


[1] Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional, (2005), Kamus Besar Bahasa Indonesia, Edisi Ketiga, Jakarta: Balai Pustaka, hal. 52


[2] Moeslichatoen R, (2004), Media Pengajatran di Taman Kanak-Kanak, Jakarta: Rineka Cipta, hal. 9


[3] Moeslichatoen R, (2004), Media Pengajatran..., hal. 9


[4] Moeslichatoen R, (2004), Media Pengajatran..., hal. 10


[5] Moeslichatoen R, (2004), Media Pengajatran..., hal. 24


[6] Devi Ari Mariani, (2008), Bermain dan Kreativitas pada Anak Usia Dini, Artikel, Jakarta, hal. 6


[7] Devi Ari Mariani, (2008), Bermain dan Kreativitas..., hal. 7


[8] Devi Ari Mariani, (2008), Bermain dan Kreativitas..., hal. 8


[9] Devi Ari Mariani, Bermain dan Kreativitas..., hal. 9


[10] Devi Ari Mariani, (2008), Bermain dan Kreativitas..., hal. 3


[11] Devi Ari Mariani, (2008), Bermain dan Kreativitas..., hal. 6


[12] Yeni Rahmawati, (2010), Strategi Pengembangan Kreativitas pada Anak, cet. Ke I, Jakarta: Kencana Prenada Media Group, hal. 14


[13] Devi Ari Mariani, (2008), Bermain dan Kreativitas..., hal. 10


[14] Dwi Sunar Prasetyo, (2010), Biarkan Anak Bermain, cet. Ke-2, Jakarta: Rineka Cipta, hal. 159

Romeltea Media
JURNALGO PENDIDIKAN Updated at:

Media Audio Interaktif


Media pembelajaran saat ini sudah semakin beragam, mulai dari media konvensional seperti buku dan alat peraga tradisional sampai media modern audio visual berupa kaset tape, VCD (VidoeCompactDisk), maupun alat peraga modern lainnya. Oleh karena itu tidak salah jika media audio interaktif merupakan salah satu alternatif media yang dapat menjawab kebutuhan tersebut. Media audio interaktif dalam penelitian ini adalah media audio interaktif berupa kepingan VCD dan sering dikenal dengan VCD Audio Interaktif. Media ini disebut VCD multimedia interaktif, karena media ini memiliki unsur audio yang mana bahan-bahan audio dapat memberikan manfaat asalkan guru berperan aktif dalam proses pembelajaran

1. Pengertian Media Audio Interaktif

Media audio interaktif merupakan program audio interaktif yang dikenal sebagai paket Pembelajaran Audio Interaktif (PAI) yaitu paket materi pendidikan untuk anak-anak usia 5 dan 6 tahun yang terdiri dari materi audio dan cetak yang dapat digunakan untuk mendukung proses pembelajaran di kelas TK B.[1] Dalam model pembelajaran interaktif melalui audio peserta didik diajak untuk berpartisipasi aktif dalam kegiatan pembelajaran, meskipun ajakan untuk ikut berpartisipasi tersebut sebenarnya hanyalah bersifat maya (semu). Dengan model interaktif ini, seolah-olah terjadi komunikasi dua arah antara peserta didik dan narator yang membawakan materi pelajaran dalam media audio interaktif.

Media audio atau media dengar merupakan media yang dapat menyampaikan pesan melalui suara-suara atau bunyi yang diperdengarkan. Media ini sangar mengandalkan kemampuan pendengaran dari para penggunanya. Media audio memang bersifat aditif (suara). Unsur suara ini memiliki komponen bahasa, musik dan soundeffectyang dapat fleksibel, relatif, murah, praktis dan ringkas serta mudah di bawa (portabel). Media ini dapat digunakan baik untuk keperluan belajar berkelompok maupun belajar individu. Sejak lahirnya teknologi audio sekitar pertengahan abad 20, media audio telah digunakan untuk keperluan pembelajaran.

2. Penggunaan Media Audio Interaktif dalam Pembelajaran

Media digunakan untuk mengantarkan pembelajaran secara utuh dapat juga dimanfaatkan untuk menyampaikan bagian tertentu dari kegiatan pembelajaran, memberikan penguatan maupun motivasi. Kembali pada arti penting media dalam proses belajar mengajar yang dapat mengantarkan kepada tujuan pendidikan, maka berikut akan diuraikan berbagai peranan media dalam proses belajar mengajar antara lain:

a. Penggunaan media dalam proses belajar mengajar bukan merupakan fungsi tambahan, tetapi mempunyai fungsi sendiri sebagai alat bantu untuk mewujudkan situasi belajar mengajar yang efektif.

b. Penggunaan media pengajaran merupakan bagian integral dari keseluruhan situasi mengajar.

c. Media pengajaran dalam pengajaran, penggunaannya integral dengan tujuan dari isi pelajaran.

d. Penggunaan media dalam mengajar bukan semata-mata alat hiburan.

e. Penggunaan media dalam pengajaran lebih diutamakan untuk mempercepat proses belajar mengajar dan membantu siswa dalam menangkap pengertian yang diberikan guru.

f. Penggunaan media dalam pengajaran diutamakan untuk mempertinggi mutu belajar mengajar.[2]



Istilah media di sini dilihat dari segi penggunaan, serta faedah dan fungsi khusus dalam kegiatan/proses belajar mengajar, maka yang digunakan adalah media pembelajaran. Media pembelajaran adalah semua alat (bantu) atau benda yang digunakan dalam kegiatan belajar mengajar, dengan maksud untuk menyampaikan pesan (informasi) pembelajaran dari sumber (guru maupun sumber lain) kepada penerima (dalam hal ini anak didik ataupun warga belajar). Pesan yang disampaikan melalui media, dalam bentuk isi atau materi pengajaran itu harus dapat diterima oleh penerima pesan, dengan menggunakan salah satu ataupun gabungan beberapa alat indera anak. Bahkan lebih baik lagi bila seluruh alat indera yang dimiliki mampu dapat menerima isi pesan yang disampaikan.

Pada umumnya keberadaan media muncul karena keterbatasan kata-kata, waktu, ruang, dan ukuran. Ditambahkan juga bahwa media pembelajaran berfungsi sebagai sarana yang mampu menyampaikan pesan sekaligus mempermudah penerima pesan dalam memahami isi pesan.

Secara umum penggunaan media audio interaktif dalam pembelajaran meliputi beberapa langkahyaitu persiapan, pelaksanaan dan tindak lanjut, sebagai berikut:

a. Persiapan, meliputi:

1) Jika memanfaatkan media radio, pastikan bawa jadwalnya sudah tepat dan topik yang disiarkan sesuai dengan topik yang akan dibahas.

2) Pastikan bahwa tuang tempat kegiatan pembelajaran Power listrik yang dibutuhkan untuk memutar program.

3) Ruangan hendaknya sudah diatur sedemikian rupa (cahaya, ventilasi, pengaturan tempat duduk, dan ketenangan) sehingga peserta didik mengikutinya dengan nyaman.

4) Jika memerlukan LKS atau bahan penyerta, pastikan bahwa keduanya telah tersedia dengan jumlah yang mencukupi.[3]



b. Pelaksanaan, meliputi:

1) Jika memanfaatkan media radio, arahkan posisi radio pada gelombang radio yang akan dituju dan tombol siap untuk di “on” Ian.

2) Jika menggunakan media audio, usahakan posisi menyimpan Ike (Kaset, CD, DVD/MP3.Flash) sudah berada di tempat pemutarannya.

3) Usahakan peserta didik sudah berada di tempat kegiatan pembelajaran, setidaknya 15 menit sebelum kegiatan pembelajaran dimulai.

4) Jelaskan kepada mereka tentang jenis mata pelajaran, topik yang akan di bahas dan tujuan pembelajaran yang ingin di capai.

5) Mintalah siswa untuk memperhatikan baik-baik terhadap materi pembelajaran yang akan disampaikan melalui media audio.

6) Putarkan program dengan memutar atau memijat Tobol “Play”

7) Usahakan suasana tetap tenang/kondusif selama pemutaran media.

8) Perhatikan dan catat berbagai reaksi peserta didik selama mereka mengikuti kegiatan pembelajaran.

9) Di samping sebagai nara sumber, pendidik juga sekaligus sebagai fasilitator.[4]



c. Tindak lanjut, meliputi:



1) Mintalah peserta didik untuk menceritakan ringkasan materi pembelajaran yang berhasil mereka serap selama mendengarkan program media audio.

2) Mintalah peserta didik untuk menanyakan berbagai hal yang dianggap sulit.

3) Sebelum anda menjawab pertanyaan-pertanyaan yang diajukan oleh peserta didik, terlebih dahulu berikan kesempatan kepada sesama peserta didik untuk mendiskusikan jawabannya. Peran pendidik di sini adalah sebagai fasilitator.

4) Jika seluruh pertanyaan sudah berhasil dijawab oleh teman-teman sesama peserta maka anda tidak perlu menjawabnya lagi.

5) Berikan tes untuk mengukur tingkat keberhasilan peserta didik dalam mengikuti kegiatan pembelajaran melalui pemanfaatan audio.

6) Jika tugas-tugas atau PR yang harus dikerjakan, sampaikanlah sebelum peserta didik meninggalkan tempat.[5]



Pendidik dalam hal ini berkewajiban untuk memfasilitasi peserta didik agar mereka dapat mengikuti kegiatan pembelajaran dengan baik dan maksimal. Setelah pemutaran program selesai, matikanlah alat pemutar dan mintalah peserta didik untuk tetap tenang di tempatnya masing-masing, jika ada pertanyaan-pertanyaan yang harus di jawab oleh peserta didik atau tugas-tugas singkat yang harus dikerjakan selama mendengarkan program, mintalah peserta didik untuk mengumpulkan lembar jawaban atau lembar tugas tersebut.

3. Keunggulan dan Kelemahan Media Audio Interaktif

Media Pembelajaran saat ini sudah semakin beragam, mulai dari media konvensional seperti buku dan alat peraga tradisional sampai dengan media modern audio berupa kaset, VCD (CideoCompactDisk), maupun alat peraga modern lainnya. Beragamnya media tersebut menjadikan sistem pembelajaran yang dapat menghadirkan suasana menyenangkan. Oleh karena itu tidak salah jika media audio interaktif merupakan salah satu alternatif media yang dapat menjawab kebutuhan tersebut.

Berdasarkan hasil penelitian yang telah di lakukan terdahulu, kelebihan dan kekurangan media audio interaktif antara lain:

a. Penggunaannya bisa berinteraksi dengan program komputer atau media playeraudio lainnya.

b. Menambah pengetahuan.

c. Tampilan audio yang menarik.[6]

Kelebihan pertama yang menyebutkan bahwa penggunaan media audio interaktif dapat berinteraksi dengan komputer adalah bahwa media audio interaktif terdapat menu-menu khusus yang dapat diklik oleh user untuk memunculkan informasi berupa audio maupun fitur lain yang diinginkan adalah materi pembelajaran yang dirancang dengan mudah dalam media audio interaktif bagi pengguna. Kelebihan ke tiga adalah tampilan audio interaktif yang menarik. Menarik di sini tentu saja jika dibandingkan dengan media konvensional seperti buku atau media dua dimensi lainnya. Menarik di sini utamanya karena sistem interaksi yang tidak dimiliki oleh media cetak, maupun media elektronik lainnya. Adapun kekurangan media audio interaktif berupa kepingan VCD antara lain:

a. Medium yang digunakan hanya Komputer dan VCD palayer

b. Membatasi target audiencekarena hanya pemakai media saya yang dapat mengaksesnya.

c. Pemeliharaannya harus lebih hati-hati.[7]

Beberapa keunggulan media audio interaktif, diketahui bahwa media audio interaktif dapat membantu mempertajam pesan yang disampaikan dengan kelebihannya menarik indera dan menarik minat, karena merupakan gabungan antara suara dan gerakan.




[1]DBE 2, Panduan Praktik Terbaik DBE 2 Pembelajaran Audio Interaktif Untuk Taman Kanak-Kanak, (Jakarta: DBE2, 2010), hal. 1


[2]Syaiful Bahri Djamarah dan AzwanZain, Strategi Belajar..., hal. 152


[3]Daryanto, Media Pembelajaran, (Bandung: Satu Nusa, 2010), hal. 45


[4]Daryanto, Media..., hal. 46


[5]Daryanto, Media..., hal. 47


[6]AugusSavara, Program e-Lifestyle Metro TV, Sabtu 9 Agustus 2003


[7]AugusSavara, Program e-Lifestyle Metro TV, Sabtu 9 Agustus 2003

Romeltea Media
JURNALGO PENDIDIKAN Updated at:

Penggunaan Media Pembelajaran



1.Pengertian Media Pembelajaran

Media dalam bahasa Indonesia diartikan sebagai “alat; alat (sarana) komunikasi seperti koran, majalah, radio, televisi, film, poster, dan spanduk; perantara penghubung”.[1]Keberhasilan suatu proses belajar mengajar salah satu penyebabnya adalah karena adanya penggunaan media atau perantara dalam proses belajar mengajar tersebut. Karena “dalam proses belajar mengajar kehadiran media mempunyai arti yang cukup penting”.[2]

Selain ketidakjelasan bahan atau materi yang disampaikan dapat dibantu dengan menghadirkan media sebagai perantara, kerumitan bahan atau materi yang akan disampaikan kepada peserta didik pun dapat disederhanakan dengan bantuan media. Media juga dapat mewakili apa yang kurang terutama dalam menyampaikan bahan pelajaran yang diucapkan dengan kata-kata tertentu.

“Media berasal dari bahasa Latin dan merupakan bentuk jamak dari kata medium yang secara harfiah berarti tengah, perantara, atau pengantar. Medoeadalah perantara atau pengantar pesan dari pengirim ke penerima pesan”.[3] Media juga disebut sebagai alat peraga, audio visual, instruksional material atau sekarang ini media lebih dikenal dengan media pembelajaran atau media instruksional.

Berdasarkan batasan yang disampaikan di atas mengenai media, maka dapat disimpulkan bahwa pengertian media dalam pembelajaran adalah secara bentuk komunikasi yang dapat digunakan untuk menyampaikan pesan atau informasi dari sumber kepada anak didik yang bertujuan agar dapat merangsang pikiran, perasaan, minat dan perhatian anak didik untuk mengikuti kegiatan pembelajaran.

2. Manfaat Media Pembelajaran

Media merupakan bagian integral dari keseluruhan proses pembelajaran. Media pembelajaran merupakan salah satu komponen yang tidak berdiri sendiri, tetapi saling berhubungan dengan komponen lainnya dalam rangka menciptakan situasi belajar yang diharapkan. Tanpa media maka proses pembelajaran tidak akan berjalan dengan efektif. Keefektifan proses pembelajaran akan terjadi apabila ada komunikasi antara sumber pesan dengan penerima pesan.

Manfaat media pembelajaran dalam proses belajar mengajar di antaranya adalah sebagai berikut:

a. Mengkonkretkan konsep-konsep yang abstrak.

Konsep-konsep yang dirasakan masih bersifat abstrak dan sulit dijelaskan secara langsung kepada anak TK bisa dikonkretkan atau disederhanakan melalui pemanfaatan media pembelajaran.

b. Menghadirkan objek-objek yang terlalu berbahaya atau sukar didapat ke dalam lingkungan belajar.

c. Menampilkan objek yang besar

d. Memperlihatkan gerakan yang terlalu cepat. Dengan menggunakan media film (Low motion) guru bisa memperhatikan lintas peluru, melesatnya anak panah, atau memperlihatkan proses suatu ledakan. Demikian juga gerakan-gerakan yang terlalu lambat, seperti mekarnya bunga, pertumbuhan kecambah dan lain-lain, menjadi dapat diamati dalam saku singkat.[4]



Berdasarkan manfaat media yang disebutkan di atas, media pembelajaran mampu memberikan kontribusi yang sangat besar terhadap pencapaian kemampuan-kemampuan belajar anak Taman Kanak-kanak/RaudhatulAthfal yang diharapkan. Sehingga, pembelajaran di menjadi lebih mudah dan sederhana pada akhirnya membantu anak dalam memahami materi-materi yang diajarkan.

3. Klasifikasi Media Pembelajaran

Cukup banyak jenis media yang telah dikenal dewasa ini, dari yang sederhana sampai yang berteknologi tinggi, dari yang mudah dan sudah ada secara natural sampai kepada media yang harus dirancang sendiri oleh guru. Dilihat dari jenisnya, media di bagi ke dalam media auditif, visual dan media audiovisualDapat di jelaskan sebagai berikut:

a. Media Auditif

Media auditif adalah media yang hanya mengandalkan kemampuan suara saja, seperti radio, casseterecorder, piringan hitam.[5]

b. Media Audio

Media visual adalah media yang hanya mengandalkan indera penglihatan. Media visual ini ada yang menampilkan gambar atau simbol yang bergerak seperti film strip (film rangkai), foto, gambar atau lukisan, cetakan. Ada pula media visual yang menampilkan gambar atau simbol yang bergerak seperti film bisu, film kartun.[6]

c. Media Audiovisual

Media audio visual merupakan media yang mempunyai unsur-unsur suara dan unsur gambar. Media audio visual terdiri atas audio visual diam, yaitu media yang menampilkan suara dan gambar diam seperti film bingkai suara, film rangkai suara. Audio visual gerak, yaitu media yang dapat yang dapat menampilkan unsur suara dan gambar yang bergerak seperti film suara dan video cassete.[7]



Pemilihan setiap jenis media mempunyai karakteristik atau sifat-sifat khas tersendiri. Artinya mempunyai kelebihan dan kekurangan satu terhadap yang lain. Sifat-sifat yang biasanya dipakai untuk menentukan kesesuaian penggunaan atau pemilihan media ialah jangkauan seperti: beberapa media tertentu lebih sesuai untuk pengajaran individual misalnya buku teks, modul, program rekaman interaktif (audio, video, dan program komputer). Jenis yang lain lebih sesuai untuk pengajaran kelompok di kelas, misalnya proyeksi (OTH, slide, film) dan juga program rekaman (Aduio dan Video). Ada juga yang lebih sesuai untuk pengajaran asal, misalnya program siaran (radio, televisi, dan konferensi jarak jauh dengan audio).

Berdasarkan kajian pendidikan Islam, para ahli telah mengklasifikasikan media pendidikan kepada dua bagian: yaitu media pendidikan yang bersifat benda (materil) dan media pendidikan yang bukan benda (nonmateril),

a. Media pendidikan yang bersifat benda

1) Media tulis, seperti: Al-Qur’an, Hadits, Tauhid, Fiqih, Sejarah.

2) Benda-benda alam, seperti: hewan, manusia, tumbuh-tumbuhan.

3) Gambar-gambar yang dirancang, seperti: grafik.

4) Gambar-gambar yang diproyeksikan, seperti: Video, transparan, in-focus.

5) Kelima Audio recording (alat untuk didengar), seperti: kaset, tape radio.

b. Media pendidikan yang bukan denda

1) Keteladanan

2) Perintah/Larangan

3) Ganjaran.[8]



Beberapa jenis, bentuk, karakteristik dan klasifikasi media pendidikan sebagaimana diuraikan di atas, kiranya patut menjadi perhatian dan pertimbangan agar dapat memilih media yang dianggap tepat untuk menunjang pencapaian tujuan pengajaran di dalam kelas.

4. Kriteria Pemilihan Media

Ada beberapa kriteria umum yang diperhatikan dalam pemilihan media. Namun demikian secara teoritik setiap media mempunyai kelebihan dan kekurangan yang akan memberikan pengaruh kepada efektivitas program pembelajaran. Kriteria umum dalam pemilihan media yang akan digunakan dalam proses belajar mengajar antara lain adalah:

a. Ketersediaan sumber setempat. Artinya, bila media bersangkutan tidak terdapat pada sumber-sumber yang ada, haru dibeli atau dibuat sendiri.

b. Apakah untuk membeli atau memproduksi sendiri tersebut ada dana, tenaga dan fasilitasnya.

c. Faktor yang menyangkut keluwesan, kepraktisan dan ketahanan media yang bersangkutan untuk waktu yang lama. Artinya media bisa digunakan di mana pun dengan peralatan yang ada di sekitarnya dan kapanpun serta mudah dijinjing dan dipindahkan.[9]



Pemilihan media pengajaran yang dilakukan seorang guru tentunya harus melihat semua komponen dari perencanaan pembelajaran. Jadi pemakaian media harus disesuaikan dengan materi, waktu dan pola pembelajaran yang dipakai, hal ini bertujuan agar pemakaian media menjadi lebih efektif. Adapun kriteria yang mencakup komponen dari perencanaan pembelajaran, di antaranya adalah sebagai berikut:

a. Kesesuaian dengan Tujuan (instructionalgoals)

Perlu dikaji tujuan pembelajaran apa yang ingin dicapai dalam suatu kegiatan pembelajaran, dianalisis media apa yang cocok guna mencapai tujuan tersebut, dan analisis dapat diarahkan pada tujuannya kognitif, afektif dan psikomotorik.

b. Kesesuaian dengan materi pembelajaran

Yaitu bahan atau kajian apa yang diajarkan pada program pembelajaran tersebut. Pertimbangan lainnya dari bahan dan pokok bahasan tersebut sampai sejauh mana kedalaman yang harus dicapai dengan demikian dapat dipertimbangkan media apa yang sesuai untuk penyampaian bahan tersebut.

c. Kesesuaian dengan karakteristik siswa

Dalam hal ini media haruslah familiar dengan karakteristik siswa/guru, yaitu mengkaji sifat-sifat dari ciri media yang akan di gunakan

d. Kesesuaian dengan teori

Pemilihan media harus didasari atas kesesuaian teori, media yang dipilih bukan karena fanatisme guru terhadap suatu media yang dianggap paling disukai dan paling bagus, namun didasarkan atas teori yang diangkat dari penelitian dan riset sehingga telah diuji validitasnya.

e. Kesesuaian dengan gaya belajar siswa

Kriteria ini didasarkan atas kondisi psikologis siswa, bahwa siswa belajar dipengaruhi pula oleh gaya belajar siswa.

f. Kesesuaian dengan kondisi lingkungan, pendukung dan waktu.

Bagaimana bagusnya sebuah media apabila tidak didukung oleh fasilitas dan waktu yang tersedia, maka kurang efektif..[10]



Berdasarkan uraian di atas, kesesuaian media terhadap komponen pembelajaran harus diperhatikan, karena akan membimbing pada keberhasilan dalam proses pembelajaran di kelas, perlu di ingat media yang bagus tidak selalu efektif jika tidak sesuai dengan materi yang diajarkan. Maka kesesuaian dengan berbagai komponen mutlak adanya.

Pemilihan media yang akan diterapkan dalam proses mengajar, sangat di harapkan kepada seorang guru untuk dapat menentukan pilihannya masing-masing, sesuai dengan kebutuhannya pada saat pertemuan dengan harapan media yang dipilih dapat mempercepat proses pelaksanaan pelajaran dan akan mencapai tujuan yang diharapkan. Pada saat alat peraga dipilih maka, “pada saat itulah seorang guru sudah mampu berpikir bagaimana encoding, yaitu proses penuangan pesan kedalam simbol-simbol komunikasi, dan melakukan decoding yaitu proses penafsiran simbol-simbol komunikasi yang mengandung pesan-pesan tersebut”.[11]

Pemilihan alat peraga di dasarkan atas beberapa manfaat menurut Encycloeopdia Of Educational Research dalam merencanakan manfaat media pendidikan sebagai berikut:

a. Meletakkan dasar-dasar konkret untuk berpikir, oleh karena itu mengurangi Verbalisme.

b. Memperbesar perhatian siswa.

c. Meletakkan dasar-dasar yang penting untuk perkembangan belajar, oleh karena itu membuat pelajaran lebih mantap.

d. Memberikan pengalaman nyata yang dapat menimbulkan kegiatan berusaha sendiri di kalangan siswa.

e. Menimbulkan pemikiran yang teratur dan kontinu terutama melalui gambar hidup.

f. Membantu tumbuhnya pengertian yang dapat membawa perkembangan kemampuan berbahasa.

g. Memberikan pengalaman yang tidak mudah di peroleh dengan cara lain dan membantu efisiensi serta keragaman yang lebih banyak dalam belajar.[12]



Begitulah proses dalam pemilihan media di mana seorang guru harus mampu mengambil suatu benda yang akan di jadikan media dan bagaimana media tersebut kita masukan kepada berbagai macam konsep pelajaran dan bagaimana cara menuangkan konsep yang tersimpan dalam benda tersebut kepada peserta didik, sehingga anak didik mengerti dan memahami suatu materi pelajaran. Adapun kriteria dalam pemilihan media untuk jenis media rancangan (yang dibuat sendiri) perlengkapan yang di ajukan sebagai acuan adalah.

1. Apakah materi yang akan disampaikan itu untuk tujuan pengajaran atau hanya informasi tambahan atau hiburan.

2. Apakah media yang dirancang itu untuk keperluan pembelajaran alat-alat bantu pengajaran.

3. Apakah dalam pengajaran akan menggunakan strategi kognitif, Afektif dan psikomotorik.

4. Apakah materi yang akan disampaikan itu masih sangat asing bagi anak didik.

5. Apakah perlu rangsangan suara seperti untuk pengajaran bahasa.

6. Apakah perlu rangsangan gerak seperti untuk pengajaran seni atau olah raga.

7. Apakah perlu rangsangan warna.[13]



Berdasarkan kriteria pemilihan media tersebut, maka seorang guru hendaknya dalam mempergunakan media disesuaikan dengan materi yang diajarkan, perlu diingat bahwa pemilihan media jangan terlalu dipaksakan, sehingga mempersulit proses belajar mengajar di dalam kelas, oleh karena itu media merupakan salah satu unsur untuk mempermudah proses pembelajaran.




[1]Depdiknas, Kamus Besar Bahasa Indonesia, (Jakarta: Balai Pustaka, 2007), hal. 726


[2]Syaiful Bahri Djamarah dan AzwanZain, Strategi Belajar Mengajar,(Jakarta: Rineka Cipta, 2002), hlm. 136


[3]Arif S Sadiman, dik, Media Pendidikan: Pengertian Pengembangan dan Pemanfaatannya, , Cet. 10, (Jakarta: Rajawali Pers, 2010), hal. 6


[4]Badru Zaman, dik, Meid dan Sumber Belajar TK, (Jakarta: Universitas Terbuka, 2005), hal. 33


[5] Pupuh Faturrohman dan M. SobrySutikno, Strategi Belajar Mengajar Melalui Penanaman Konsep Umum dan Konsep Islami, (Bandung: RefikaAditama, 2011), hal 67


[6] Pupuh Faturrohman dan M. SobrySutikno, Strategi..., hal. 68


[7]Pupuh Faturrohman dan M. SobrySutikno, Strategi..., hal. 68


[8]Ramayulis, Ilmu Pendidikan Islam, (Jakarta: Kalam Mulia, 2008), hal. 204-206


[9]Arief, S. Sadiman, dkk, Media..., hal. 86


[10]Rudi Susilana dan CepiRiyana, Media Pembelajaran Hakikat, Pengembangan, Pemanfaatan, dan Penilaian, (Bandung: Wacana Prima, 2009), hal. 69-72


[11]Arief, S. Sadiman, dkk, Media Pendidikan..., hal. 12


[12]Azhar Arsyad, Media Pembelajaran,(Jakarta: Rajawali Pers, 2003), hal. 25-26


[13]Syaiful Bahri Djamarah, AswanZain, Strategi..., hal. 149

Romeltea Media
JURNALGO PENDIDIKAN Updated at:

 
back to top