Kekurangan dan Kelebihan Metode Pembiasaan pada anak

Terdapat kekurangan dan kelebihan metode pembiasaan yaitu sebagai berikut.:

a. Kelebihan

1) Pembentukan kebiasaan yang dilakukan dengan mempergunakan metode pembiasan akan menambah ketepatan dan kecepatan pelaksanaan.

2) Pemanfaatan kebiasaan membuat gerakan-gerakan yang kompleks dan rumit menjadi otomatis.

3) Pembiasaan tidak hanya berkaitan dengan lahiriyah tetapi juga berhubungan dengan aspek batiniyah.[1]



b. Kekurangan

1) Metode ini dapat menghambat bakat dan inisiatif murid, hal ini oleh murid lebih banyak dibawa konformitas atau kesesuaian dan lebih diarahkan kepada uniformitas atau keseragaman.

2) Kadang-kadang pelatihan yang dilaksanakan secara berulang-ulang merupakan hal yang monoton dan mudah membosankan.

3) Membentuk kebiasaan yang sangat kaku karena murid lebih banyak ditujukan untuk mendapatkan kecakapan memberikan respon otomatis tanpa intelegensinya.

4) Dapat menimbulkan verbalisme yang bersifat kabur atau tidak jelas karena murid lebih banyak dilatih menghafal soal-soal dan menjawab secara otomatis.[2]



Dari gambaran mengenai lkelebihan dan kekurangan metode pembiasaan tersebut selaku pendidik harus melakukannya secara bijak. Agar pembiasaan tersebut bermanfaat dan menghasilkan perubahan prilaku yang diharapkan.

B. Pembentukan Karakter Anak

1. Pengertian Karakter

Secara etimologis, kata karakter bisa bermakna tabiat, sifat sifat kejiwaan, akhlak, atau budi pekerti yang membedakan seseorang dengan yang lain atau watak.[3] Orang berkarakter berarti orang yang memiliki watak, kepribadian, budi pekerti atau akhlak, dengan makna seperti ini berarti karakter identik dengan kepribadian atau akhlak. Kepribadian merupakan ciri-ciri karakteristik atau sifat khas dari seseorang yang bersumber dari bentuk-bentukan yang diterima dari lingkungan, misalnya keluarga pada masa kecil dan juga bawaan sejak lahir.[4] Karakter sama dengan kepribadian. Kepribadian dianggap sebagai ciri atau karakteristik atau gaya, atau sifat khas dari diri seseorang yang bersumber dari bentukan-bentukan yang diterima dari lingkungan, misalnya keluarga pada masa kecil juga bawaan sejak lahir.[5] Pendapat lain mengatakan bahwa karakter ialah nilai-nilai yang khas-baik (tahu nilai kebajikan, mau berbuat baik terhadap lingkungan) terpatri dalam diri dan terejawantahkan dalam prilaku.[6]

Dari pendapat diatas dapat dipahami bahwa karakter sebenarnya mengacu kepada serangkaian pengetahuan, sikap dan motivasi serta prilaku dan kerampilan. Dengan demikan pendidikan karakter tidak sekedar mengajarkan mana yang benar dan mana yang salah kepada anak, tetapi lebih dari itu pendidikan karakter menanamkan kebiasaan tentang yang baik sehingga anak paham, mampu merasakan dan mampu melakukan yang baik. Pendidikan karakter ini membawa misi yang sama dengan pendidikan akhlak atau pendidikan moral. Pembudayaan karakter mulia perlu dilakukan dan terwujudnya karakter mulia merupakan tujuan akhir dari proses pendidikan. Budaya yang baik di lembaga pendidikan, baik sekolah, kampus maupun yang lainnya berperan penting dalam membangun akhlak mulia di kalangan civitas akedmi dan para karyawannya.

Karakter adalah” siapakah dan apakah kamu pada saat orang lain sedang melihat kamu. Karakter juga adalah sebuah kebiasaan yang menjadi sifat alamiah kedua. selanjutnya karakter bukanlah reputasi atau apa yang dipikirkan oleh orang lain terhadapmu.Demikian juga karakter bukanlah seberapa baik kamu daripada orang lain, hakikatnya karakter tidaklah tetap atau tidak relatif.[7].

Banyak orang tua yang masih bingung dan bertanya-tanya bagaimana cara yang benar untuk membentuk karakter anak. Para orang tua yang menyerahkan seluruhnya pembentukan karakter kepada guru atau lingkungan di sekolah. Seharusnya karakter anak dibangun dari hal-hal yang kecil yang ada di lingkungan rumah.

2. Pembelajaran Pendidikan Karakter

Dalam pembentukan karakter, pembelajaran merupakan salah satu hal terpenting yang harus dilakukan. Dalam proses pembelajaran untuk tujuan pembentukan karakter setiap lembaga pendidikan harus menerapkan pembelajaran-pembelajaran yang sesuai diantaranya pembelajaran berbasis kasih saying, pembelajaran berbasis kebersamaan, pembelajaran berbasis ketauhidan, pembelajaran berbasis kreativitas, dan pembelajaran berbasis lingkungan.[8] Adapumn jabaran pembelajaran pendidikan dalam upaya pembentukan adalah sebagai berikut:

a. Pembelajaran Berbasis Kasih Sayang

Kasih sayang adalah kebutuhan jiwa yang paling pokok bagi manusia termasuk bagi anak. Kasih sayang merupakan komponen dasar yang paling utama dalam proses pembentukan karakter atau akhlak anak. Anak yang kurang kasih sayang cenderung mempunyai karakter yang tidak baik. Mendidik denan kasih saying selain diajarkan secara langsung dari keluarga, juga dilaksanakan disekolah. Mendidik dengan kasih saying merupakan usaha tersendiri bagi pendidik.

b. Pembelajaran Berbasis Kebersamaan

Pembelajaran berbasis kebersamaan merupakan strategi belajar dengan sejumlah siswa sebagai anggota kelompok kecil yang kemampuannya berbeda-beda, setiap anggota harus saling bekerjasama, belajar belum dikatakan selesai jika salah satu teman dalam kelompok belum menguasai pelajaran. Dengan menerapkan konsep pembelajaran berbasis kebersamaan setiap anak akan mempunyai tanggung jawab tentang pentingnya menghargai orang lain, bertanggung jawab dan memberikan kesempatan kepada orang lain untuk berpendapat dan berkeksplorasi.

c. Pembelajaran Berbasis Ketauhidan

Makna tauhid berarti mengesakan Allah atau kuatnya kepercayaan bahwa Allah hanya satu. Hal ini berkaitan dengan akidah yaitu apa yang diyakini oleh anak, akidah yang benar akan menjadi landasan seseorang untuk melakukan amal perbuatannya. Akidah yang benar akan menuntun anak untuk berbuat yang benar dan nilai-nilai kebenaran.[9]

d. Pembelajaran Berbasis Kemandirian

Belajar mandiri memandang siswa sebagai manajer dan pemilik tanggung jawab dari proses pelajaran mereka sendiri. Belajar mandiri mengintegrasikan self-management (manajemen konteks, menentukan setting, sumber daya dan tindakan) dengan self monitoring (siswa memonitor, mengevaluasi dan mengatur srategi belajarnya), kemandirian sangat penting diajarkan kepada anak supaya anak saat beraktivitas tidak bergantung dengan orang lain.[10]

e. Pembelajaran berbasis kreativitas

Kreativitas merupakan kemampuan yang mencerminkan kelancaran, keluwesan, fleksibilitas dan orisinilitas dalam berpikir serta kemampuan untuk berpikir serta kemampuan untuk mengelaborasi, memperkaya, memerinci suatu gagasan. Sarana bermain adalah salah satu cara untuk merangsang dorongan eksperimen dan eksploitasi yang penting untuk mengembangkn kreativitas, pembelajaran ini juga bisa dilakukan dengan bercerita karena dapat meningkatkan imajinasi dan fantasi anak.[11]

f. Pembelajaran berbasis lingkungan

Lingkungan merupakan hal yang penting dalam proses pendidikan. Bagi anak usia dini, lingkungan adalah tempat yang paling dominan untuk mengembangkan segala potensi yang dimilikinya. Lingkungan berpengaruh kepada kepribadian anak dan membentuk watak anak. Dalam upya menanamkan pendidikan karakter sejak dini lingkungan perlu dibuat dan dijadikan sebaga sarana pembelajran seoptimal mungkin yang pada gilirannya anak dapat belajar mengenal diri sendiri maupun orang lain atau bahkan masyarakat, serta lingkungan. [12]

3. Implementasi Nilai-Nilai Pendidikan Karakter

Nilai-nilai pendidikan karakter harus diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari dalam kehidupan anak. Pendidikan karakter lebih menekankan kepada kebiasaan yan positif, kebiasaa-kebiasaan inilah yang kemudian akan menjadi suatu karakter yang membekas dan tertanam dalam jiwa anak. Berikut adalah nilai-nilai pendidikan karakter yang dapat diimplemtasikan dalam kegiatan pembelajaran pada anak usia dini.

a. Relejius, yaitu sikap dan prilaku yang patuh dalam melaksanakan ajaran agama yang di anutnya, toleran terhadap pelaksanaan agama lain dan hidup rukun dengan pemeluk agama lain.

b. Jujur, yaitu prilaku yang didasarkan pada upaya menjadikan dirinya sebgai orang yang selalu percaya dalam perkataan, tindakan dan pekerjaannya.

c. Torelansi, yakni sikap dan tindakan untuk menghargai setiap perbedaan, baik agama, suku, etnis, pendapat, sikap dan pendapat orang lain.

d. Displin, tindakan yang menunjukan prilaku yang tertib dan patuh pada berbagai ketentuan dan peraturan.

e. Kerja keras, sikap atau prilaku yang menunjukan upaya sungguh-sungguh dalam mengatasi berbagai hambatan belajar dan tugas, serta menyelesaikan tugas dengan sebaik-baiknya.

f. Kreatif, berpikir dan melakukan sesuatu untuk menghasilkan cara atau hasil baru dari sesuatu yang telah dimilikinya.

g. Mandiri, yang merupakan prilaku yang tidak mudah bergantung kepada orang lain dalam menyelesaikan tugas-tugasnya.

h. Demokratis, cara bersikap dan bertindak yang menilai sama hak dan kewajiban dirinya dengan orang lain.

i. Rasa ingin tahu, sikap untuk selalu berupaya untuk mengetahui lebih dalam dari sesuatu yang telah dipelajarinya.

j. Semangat kebangsaan, berwawasan kebangsaan dan menempatkan kepentingan bangsa diatas kepentingan diri dan kelompoknya.

k. Menghargai prestasi, sikap yang mendorong dirinya untuk menghasilkan sesuatu yang berguna bagi masyarakat.

l. Bersahabat dan komunikatif, tindakan yang memperlihatkan senang berbicara, bergaul dan bekerja sama dengan orang lain.

m. Cinta damai, yakni prilaku yang menyebabkan orang lain merasa senang dan aman atas kehadirannya.

n. Gemar membaca, kebiasaan untuk menyediakan waktu untuk membaca berbagai bacaan yang memberikan kebajikan dirinya.

o. Peduli lingkungan, sikap untuk perduli terhadap alam sekitar, menjaga dan mengembangkan lingkungan sekitarnya.

p. Peduli sosial, sikap yang selalu ingin memberikan bantuan kepada orang lain dan masyarakat yang membutuhkan.

q. Tanggung jawab, sikap atau prilaku untuk melaksanakan tugas dan kewajibannya.[13]

Berdasarkan uraian diatas dapat disimpulkan bahwa penanaman nilai karakter anak berarti menanamkan nilai moral agar anak memiliki akhlak yang baik yang dapat menjadi bekalnya dimasa dewasa. Menurut Indonesian Heritage Fondation seperti yang dikutip oleh Dharma Kesuma ada 9 karakter yang perlu ditanamkan pada setiap diri anak Indonesia yakni:

1. Cinta Tuhan dan segenap ciptaa-Nya (love Allah, Trust, reverence, loyalty)

2. Kemandirian dan tanggung jawab (responsibility, excellence, self reliance, discipline, orderliness)

3. Kejujuran/amanah, bijaksana (trustworthiness, reability, honesty)

4. Hormat dan santun (respect, courtesy, obidien)

5. Dermawan, suka menolong dan gotong royong (love, compassion, caring, emphaty, generousity, moderation, cooperation)

6. Percaya diri, kreatif, dan pekerja keras (confident, assertiveness, creativity, resourcarefulness, courage, determinationand anthusiasm)

7. Kepemimpinan dan keadilan (justice, fairness, mercy, leadership)

8. Baik dan rendah hati (kindness, friendliness, humility, modesty)

9. Toleransi dan kedamaian dan kesatuan (tolerance, flexibility, peacefulness, unity)[14]

Pembentukan karakter melalui penanaman nilai-nilai yang baik harus dimulai sejak dini. Pembentukan karakter anak dari dini akan membentuk pemimpin-pemimpin berkarakter yang baik di masa mendatang.










[1] Muhibbin Syah , Psikologi Pendidikan… hal 123


[2] Saiful Sagala (2003) Konsep dan Makna Pembelajaran, Bandung: Alfabeta, hal 217


[3] Doni Koesoma A (2010) Pendidikan Karakter: Srategi Mendidik Anak di Zaman Modern Global, Jakarta: Grasindo, hal 80


[4] Doni Koesoma A, Pendidikan Karakter…, hal. 80


[5] Doni Koesoma A, Pendidikan Karakter…, hal. 81


[6] Muhammad Fadlillah dan Lilif Mualifatu Khorida, Pendidikan Karakter…., hal. 21


[7]Fatchul Mu’in, (2011), Pendidikan Karakter: Kontruksi Teoritik dan Praktek, Yokyakarta: Ar-Ruzz, hal 161.


[8] Muhammad Fadlillah dan Lilif Mualifatu Khorida, Pendidikan Karakter…., hal. 21


[9] Muhammad Fadilah & Lilif Maulifatu Khorida (2013) Pendidikan Karakter Anak Usia Dini: Konsep & Aplikasinya dalam PAUD Jogjakarta: Ar-Ruzz Media, hal 116


[10] Muhammad Fadilah, Pendidikan Karakter Anak ....hal 119


[11] Iman Musbikin (2006) Mendidik Anak Kreatif Ala Einstein Yogyakarta: Mitra Pustaka, hal 7


[12] Rita Mariyana (2010) Pengelolaan Lingkungan Belajar Jakarta: Kencana Prenada Media Group, hal 34


[13] Muhammad Fadilah, Pendidikan Karakter Anak…,hal 119


[14] Dharma Kesuma, dkk, Pendidikan Karakter…, hal.14

Romeltea Media
JURNALGO PENDIDIKAN Updated at:

Pembiasaan Pada Anak

Terdapat berbagai macam prilaku yang harus dibiasakan kepada anak yang dengan kebiasaan tersebut maka sang anak kelak akan menjadi pribadi yang kuat dan berguna bagi sesamanya, perilaku yang harus dibiasakan kepada anak adalah sebagai berikut:

a. Pembiasaan kesopan santunan, yaitu pembiasaan yang merupakann prilaku dalam kehidupan bermasyarakat yang tercermin dalam kehidupan sehari-hari.

b. Suka menolong, yakni merupakan kebiasaan yang melekat pada diri anak, anak yang terbiasa suka menolong, maka anak akan merasa ringan tangan membantu orang lain yang memerlukannya, ini merupakan kebalikan dari sikap cuek atau masa bodo, maka ia kan bersikap cuek juga terhadap lingkungan sekitarnya.

c. Ketepatan waktu, kebiasan yang merupakan cerminan dari sikap disiplin dalam segala hal dan juga tercermin dari sikap tanggung jawab.

d. Rendah hati, pembiasaan ini merupakan penanaman sifat rendah hati, anak yang memiliki sifat rendah hati lebih mudah diterima dalam kelompoknya dan dihargai, kelak anak yang bersikap rendah hati maka akan sangat membantu dalam kehidupan sosial.

e. Kemandirian, yaitu pembiasaan ini akan membentuk anak menjadi mandiri dan pemberani dan akan sangat bermanfaat pada kehidupan ditengah-tengah masyarakat.

f. Kedarmawan, pembiasaan ini akan membiasakan anak darmawan kepada temannya, hal ini mengajarkan kepada anak tersebut untuk peka pada lingkungan sosial dan sekitarnya.

g. Pembiasaan rajin belajar, pembiasaan ini dilakukan sejak anak usia dini, anak diberi pengertian bahwa anak senantiasa selalu belajar untuk meningkatkan wawasan pengetahuan. Penanaman pentingnya pengetahuan adalah hal yang sangat penting sehingga anak akan berupaya secara terus menerus untuk bida meraup pengetahuan sejalan dengan perkembangan jaman.[1]



Hakikat pembiasaan sebenarnya berintikan pengalaman dan inti dari pembiasaan adalah pengulangan. Dalam pembinaan sikap, pembiasan akan sangat berguna untuk melatih kebiasaan-kebiasaan yang baik kepada anak sejak dini, pembiasaan juga merupakan penanaman kecakapan-kecakapan berbuat dan mengucapkan sesuatu, dalam pembentukan pada anak hendaknya dibiasakan dengan etika umum yang harus dilakukan dalam pergaulan sehari-hari, yaitu:

a) Dibiasakan mengambil dan member makan serta minum dengan tangan kanan, jika makan dengan tangan kiri, diperingatkan dan dipindahkan makannya ketangan kanan.

b) Pembiasaan mendahulukan anggota badan sebelah kanan dalam berpakaian, ketika mengenakan kain, baju atau lainnya memulai dari kanan dan ketika melepaskannya mulai dari kiri.

c) dilarang tidur tengkurak dan dibiasakan tidur miring ke kanan.

d) Dihindarkan untuk tidak memakai celana atau pakaian yang pendek agar anak tumbuh dengan kesadaran menutup aurat dan malu membukanya.

e) Dicegah menggigit jari dan menggigit kukunya.

f) Dibiasakan sederhana dalam makan minum dan dijauhkan dari sikap rakus.

g) Dibiasakan membaca basmalah ketika hendak makan dan minum.

h) Dibiasakan mengambil makanan terdekat dan tidak memulai makan sebelum orang lain.

i) Tidak memandang dengan tajam kepada makanan maupun orang yang makan.

j) Dibiasakan tidak makan dengan tergesa-gesa dan supaya mengunyah makanan dengan baik.

k) Dibiasakan memakan makanan yang ada, dan tidak menginginkan yang tidak ada.

l) Dibiasakan membersihkan mulut dengan gosok gigi, setelah makan, sebelum tidur dan sehabis bangun tidur.

m) Membiasakan untuk mendahulukan orang lain dalam makanan dan permainan yang senangi dengan dibiasakan agar menghormati saudara-saudaranya, sanak familinya yang masih kecil dan anak-anak tetangga jika mereka melihatnya sedang menikmati suatu makanan atau permainan.

n) Mengucapkan salam dengan sopan kepada orang yang dijumpaikanya.

o) Membiasakan mengucapkan terima kasih jika mendapatkan suatu kebaikan sekalipun hanya sedikit.

p) Diajari kata-kata yang benar dan dibiasakan dengan bahasa yang baik.

q) dibiasakan menuruti perintah orang tua atau siapa saja yang lebih tua, jika disuruh melakukan sesuatu yang diperbolehkan.

r) bila membantah diperingatkan supaya kembali kepada kebenaran dengan suka rela, jika memungkinkan, tetapi jika tidak bisa dipaksa untuk menerima kebenaran karena lebih baik dari pada membandel.[2]



Berdasarkan penjelasan teori diatas, dapat ditarik kesimpulan, pembiasan pada anak merupakan hal penting yang harus diperhatikan baik oleh orang tua maupun guru sebagai pendidik disekolah. Dengan melakukan kebiasaan-kebiasaan secara rutinitas, anak-anak akan melakukan kebiasaan tersebut tanpa diperintah.

2. Tujuan Pembiasaan

Pembiasaan merupakan proses pembentukan kebiasaan-kebiasaan baru atau perbaikan kebiasan-kebiasaan yang telah ada. Pembiasaan selain menggunakan perintah, suri taulan dan pengalaman khusus juga menggunakan hukuman dan ganjaran. Tujuan agar siswa memperoleh sikap-sikap dan kebiasaan-kebiasaan baru yang lebih tepat dan positif dalam arti selaras dengan kebutuhan ruang dan waktu. Selain itu, arti tepat dan positif ialah selaras dengan norma dan tata nilai mural yang berlaku, baik yang bersifat religius maupun tradisional dan kultural.[3]

Dari penjelasan diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa tujuan metode pembiasaan disekolah adalah untuk melatih serta membiasakan anak didik secara konsisten dan kontinyu dengan sebuah tujuan, sehingga benar-benar tertanam pada diri anak dan akhirnya menjadi kebiasaan yang sulit ditinggalkan di kemudian hari.

3. Bentuk-bentuk Pembiasaan

Bentuk-bentuk pembiasaan pendidikan dalam pendidikan agama melalui kebiasaan dapat dilakukan dalam berbagai bentuk yaitu:

a. Pembiasaan dalam akhlak, berupa pembiasan bertingkah laku yang baik, baik disekolah maupun diluar sekolah seperti: berbicara sopan santun, berpakaian bersih, hormat kepada orang tua dan sebagainya.

b. Pembiasaan dalam ibadah, berupa pembiasaan shalat berjamaah di musholla sekolah, mengucapkan salam ketika masuk kelas, serta membaca “basmalah” dan “hamdallah” saat memulai dan menyudahi pelajaran.

c. Pembiasaan dalam keimanan, berupa pembiasaan agar anak beriman dengan sepenuh jiwa dan hatinya. Dengan membawa anak-anak memperhatikan alam semesta, memikirkan dalam merenungkan ciptaan langit dan bumi dengan berpindah secara bertahap dari alam narutral kea lam supranatural.[4]

Pembentukan kebiasaan-kebiasaan tersebut terbentu melalui pengulangan dan memperoleh bentuknya yang tetap apabila disertai dengan kepuasaan. Menanamkan kebiasaan itu sulit dan kadang-kadang memerlukan waktu yang lama. Kesulitan itu disebabkan pada mulanya seseorang atau anak yang belum mengenal secara praktis sesuatu yang hendak dibiasakannya. Oleh karena itu pembiasaan hal-hal yang baik perlu dilakukan sedini mungkin sehingga dewasa nanti hal-hal yang baik telah menjadi kebiasaannya.


RELIANTI

----------------------------------
[1] Tandriyanto (2009) Membentuk Anak Cerdas dan Tangguh, Yogyakarta: hal, 48


[2] Muhammad Fadillah & Lilif Maulifatu Khorida (2013), Pendidikan Karakter Anak Usia Dini Jokjakarta: Ar Ruzz Media, hal 175-176


[3] Muhibbin Syah (2000) Psikologi Pendidikan, Bandung: Remaja Rosda Karya, hal 123


[4] Ramayulis (1994) Ilmu Pendidikan Islam, Jakarta: Kalam Mulia, hal 187

Romeltea Media
JURNALGO PENDIDIKAN Updated at:

Pengertian Metode Pembiasaan anak



Secara etimologi, kata metode berasal dari dua suku kata, yakni meta dan hodos yang berarti jalan atau cara. Kata metode dapat diartikan sebagai cara atau jalan yang harus dilalui untuk sampai pada tujuan tertentu. Di dalam dunia pendidikan metode diartikan sebagai suatu cara-cara untuk menyampaikan materi pendidikan oleh pendidik kepada peserta didik, disampaikan dengan efektif dan efisien untuk mencapai tujuan pendidikan yang telah ditentukan. [1]

Potensi dasar yang ada pada anak merupakan potensi alamiah yang dibawa anak sejak lahir atau bisa dikatakan sebagai potensi pembawaan oleh karena itulah, potensi dasar harus selalu diarahkan agar tujuan dalam mendidik anak dapat tercapai dengan baik. Pengarahan orang tua kepada anak dalam lingkungan keluarga sebagai faktor eksternal, salah satunya dapat dilakukan dengan metode pembiasaan, yaitu berupa menanamkan kebiasaan yang baik kepada anak.

Pembiasaan merupakan sebuah metode dalam pendidikan berupa “proses penanaman kebiasaan” Sedangkan yang dimaksud dengan kebiasaan itu sendiri adalah “cara-cara bertindak yang persistent uniform, dan hampir-hampir otomatis (hampir-hampir tidak disadari oleh pelakunya).[2]

Menurut Muhammad Zein, orang tua berperan sebagai penanggung jawab dan pendidik dalam keluarga. Menurutnya, dalam mendidik anak perlu diterapkan tiga metode yaitu “meniru, menghafal dan membiasakan”.[3] Pada metode pembiasakan, operasionalnya adalah dengan melatih anak untuk membiasakan segala sesuatu supaya menjadi kebiasaan. Sebab menurutnya, “kebiasaan ini akan menimbulkan kemudahan, keentengan”.

Metode pembiasaan ini adalah sebagai bentuk pendidikan bagi manusia yang prosesnya dilakukan secara bertahap, dan menjadikan pembiasaan itu sebagai teknik pendidikan yang dilakukan dengan membiasakan sifat-sifat baik sebagai rutinitas, sehingga jiwa dapat menunaikan kebiasaan itu tanpa terlalu payah, tanpa kehilangan banyak tenaga, dan tanpa menemukan banyak kesulitan. Pembiasaan juga merupakan salah satu metode pendidikan yang sangat penting, terutama bagi anak-anak. Mereka belum paham tentang apa yang disebut baik dan buruk dalam arti susila.

Demikian pula mereka belum mempunyai kewajiban-kewajiban yang harus dikerjakan seperti pada orang dewasa. Pada sisi yang lain mereka juga memiliki kelemahan yaitu belum memiliki daya ingat yang kuat. Mereka lekas melupakan apa yang telah dan baru terjadi. Sedangkan pada sisi yang lain, perhatian mereka lekas mudah beralih kepada hal-hal yang baru dan disukainya. Sehingga berkaitan dengan hal tersebut, mereka perlu dibiasakan dengan tingkah laku, ketrampilan, kecakapan, dan pola pikir tertentu. Anak perlu dibiasakan untuk mandi, makan dan tidur secara teratur, serta bermainmain, berbicara, belajar, bekerja, dan sebagainya khususnya adalah dibiasakan untuk melaksanakan ibadah.


RELIANTI

--------------------------------------------------------------

[1] Sugiono (2012) Metode Penelitian Pendidikan: Metode Kuantitatif, Kualitatif dan R&D, Bandung: Alfabeta, hal 79


[2] Hery Noer Aly, Ilmu Pendidikan Islam, (Jakarta: Logos Wacana Ilmu, 1999), hlm. 184


[3] Muhammad Zein (1995) Methodologi Pengajaran Agama, Yogyakarta: AK Group hal. 224

Romeltea Media
JURNALGO PENDIDIKAN Updated at:

Tugas-Tugas Perkembangan Masa Anak-anak

Untuk meletakan dasar perkembangan sikap, pengetahuan, keterampilan dan daya cipta anak didik, guru perlu harus memahami kemampuan-kemampuan apa yang mesti dikuasai anak didik, perkembangan tahap awal masa kanak-kanak yang harus diselesaikan. Tugas perkembangan merupakan tugas-tugas secara umum yang harus dikuasai anak pada usia tertentu agar dapat hidup bahagia dan mampu menyelesakan tugas-tugas perkembangan berikutnya. Tugas tugas perkembangan masa kanak-kanak yang harus dijalani adalah sebagai berikut:[1]



a. Berkembang menjadi pribadi yang mandiri, yaitu berkembang menjadi pribadi yang bertanggung jawab untuk melayani dan memenuhi kebutuhan sendiri pada tingkat kemandirian yang sesuai dengan tingkat usia Taman Kanak-kanak.

b. Belajar memberi, berbagi dan memperoleh kasih sayang, yaitu kemampung saling memberi dan berbagi kasih sayang antara anak yang satu dengan anak yang lain untuk dapat hidup bermasyarakat secara aman dan bahagai dalam lingkungan baru di sekolah.

c. Belajar bergaul dengan anak lain, mengembangkan berhubungan dengan anak lain yang dapat menghasilkan dampak tanggapan positif dari anak lain dalam lingkungan sekolah yang lebih luas daripada lingkungan keluarga.

d. Mengembangkan pengendalian diri, yakni belajar untuk bertingkah laku sesuai dengan tuntutan masyarakat. Anak belajar untuk memahami setiap perbuatan itu memiliki konsekwensi atau akibat . apabila anak memahami hal tersebut maka ia akan selalu berusaha untuk memenuhi apa yang ingin ia lakukan sesuai dengan tingkah laku yang dapat diterima oleh masyarakatnya, begitu dalam lingkungan sekolah.

e. Belajar bermacam-macam peran orang dalam masyarakat, yaitu anak belajar bahwa di dalam masyarakat itu ada pekerjaan-pekerjaan yang dilakukan orang-orang tertentu menghasilkan jasa layanan pada orang lain dan hasil yang dapat memenuhi kebutuhan orang lain.Contohnya pekerjaan-pekerjaan yang memberikan jasa layanan kepada orang lain, dokter mengobati orang sakit, pak becak mengantarkan anak kesekolah, tukang batu membangun rumah dan sebagainya, sedangkan contoh pekerjaan yang memberikan hasil yang dapat memenuhi kebutuhan orang lan: pak tani mengerjakan sawah untuk menghasilkan padi, juru masak menghasilkan masakan untuk dimakan orang lain dan sebagainya.

f. Belajar untuk mengenal tubuh masing-masing, yakni mengenal panca indra yang dimiliki, anggota tubuh yang dimiliki dan kegunaannya dalam memperoleh pengetahuan dan dalam kaitan kegiatan makan, melakukan kebersihan dan memelihara kesehatan serta kegiatan-kegiatan yang lain.

g. Belajar menguasai keterampilan motork halus dan kasar, maksudnya adalah anak belajar mengkoordinasi otot-otot halus untuk melakukan pekerjaan menggambar, melipat, menggunting, membentuk dan sebagainya. Kegiatan-kegiatan yang memerlukan koordinasi otot kasar misalnya berlari, meloncat, menendang, menangkap bola dan sebagainya.

h. Belajar mengenal lingkungan fisik dan mengendalikan adalah merupakan pengenalan terhadap ciri-ciri benda yang ada disekitarnya, membandingkan ciri benda satu dengan yang lain. Menggolong-golongkan benda-benda tersebut. Contoh mengenal ciri benda: mengenal bentuk ukuran dan warna lainnya. Membandingkan antara benda yang satu dengan yang lainnya berdasarkan bentuk dan warnanya. Dalam menggolong-golongkan benda dapat menggolongkan berdasarkan bentuk dan warnanya. Untuk dapat menggunakan secara tepat benda-benda tersebut anak mendasarkan pada ciri-ciri yang dimiliki benda tersebut.

i. Belajar menguasai kata-kata baru untuk memahami orang anak atau orang lain, maksudnya belajar kata-kata baru dalam kaitan benda-benda yang ada disekitarnya: namanya, ciri-cirinya, kegunaannya dan sebagainya dari percakapan dengan anak atau orang lain.

j. Mengembangkan perasaan positif dalam berhubungan dengan lingkungan, yaitu mengembangkan perasaan kasih sayang terhadap benda-benda yang ada di sekitarnya atau dengan anak-anak atau orang-orang disekitarnya.[2]



Dari teori diatas dapat disimpulkan bahwa, penguasaan guru sebagai tenaga pendidik harus mempunyai wawasan tentang tugas perkembangan anak didiknya. Pengetahuan dan wawasan ini akan sangat membantu dalam perencaan pembelajaran dan juga dalam proses belajar, yang pada gilirannya akan akan sangat bermanfaat bagi anak agar anak dapat menjalani hidup dalam masa kanak- kanaknya dan menyiapkan diri untuk menjadi orang dewasa kelak.




MARIANTI
-----------------------------------------------------
[1] Moeslichatoen (1999) Metode Pengajaran di Taman Kanak-Kanak Jakarta: Rineka Cipta, hal 4-5


[2] Moeslichatoen, Metode Pengajaran......., hal 4-5

Romeltea Media
JURNALGO PENDIDIKAN Updated at:

Karateristik Perkembangan Anak Masa Kanak-Kanak

Untuk meletakkan dasar perkembangan sikap, pengetahuan, keterampilan dan daya cipta anak didik, guru perlu harus memahami kemampuan-kemampuan apa yang mesti dikuasai anak didik, perkembangan tahap awal masa kanak-kanak yang harus diselesaikan. Tugas perkembangan merupakan tugas-tugas secara umum yang harus dikuasai anak pada usia tertentu agar dapat hidup bahagia dan mampu menyelesaikan tugas-tugas perkembangan berikutnya. Tugas tugas perkembangan masa kanak-kanak yang harus dijalani adalah sebagai berikut:

1) berkembang menjadi pribadi yang mandiri, 2) belajar memberi, berbagi dan memperoleh kasih sayang, 3) belajar bergaul dengan anak lain, Mengembangkan pengendalian diri Belajar bermacam-macam peran orang dalam masyarakat, 4) belajar untuk mengenal tubuh masing-masing, Belajar menguasai keterampilan motork halus dan kasar, 5) belajar mengenal lingkungan fisik dan mengendalikan, 6) belajar menguasai kata-kata baru untuk memahami orang anak atau orang lain, 7) mengembangkan perasaan positif dalam berhubungan dengan lingkungan.[1]



Dari teori diatas dapat disimpulkan bahwa, penguasaan guru sebagai tenaga pendidik harus mempunyai wawasan tentang tugas perkembangan anak didiknya.

Anak usia dini mempunyai karakteristik perkembangan yang cukup unik dan pesat. Perkembangan yang dialami anak sangat dipengaruhi bagaimana pertumbuhannya. Bila anak mempunyai pertumbuhan baik, secara umum perkembangannyapun akan berjalan dengan baik.

Dalam teori kematangan, Arnod Gesell yang dikutip oleh Uyu Wahyudin menyebutkan bahwa pola tingkah laku dan perkembangan seorang anak bisa secara otomatis sejalan dengan pertumbuhan fisik dan perkembangan motoriknya. Menurutnya anak berkembang sesuai dengan dengan waktu jadwal alaminya.[2] Dalam konteks ini, ada beberapa karakteristik perkembangan anak usia dini yang wajib dipahami oleh setiap orang tua maupun pendidik. Berikut karakteristik-karakteristik perkembangan anak usia dini yang dimaksud.

a) Perkembangan Fisik-Motorik

Setiap terjadi perkembangan fisik pada anak, secara otomatis pula akan terjadi perkembangan motoriknya baik itu motorik kasar maupun halus. Menurut Elizabeth sebagaimana yang dikutip oleh Uyu Wahyudin, perkembangan fisik sangat penting untuk dipelajari karena, baik secara langsung maupun secara tidak langsung akan mempengaruhi prilaku anak sehari-hari.[3] Menurut Beaty yang dijabarkan oleh Sabil,

Kemampuan motorik kasar seorang anak paling tidak dapat dilihat melalui empak aspek, yaitu (1) berjalan atau walking, dengan indikator berjalan turun-naik tangga dengan menggunakan dua kaki, (2) berlari atau running, dengan indikator menunjukkan kekuatan dan kecepatan berlari, berbelok ke kanan-kiri tanpa kesulitan, dan mampu berhenti dngan mudah;(3) melompat atau jumping, dengan indikator mampu melompat ke depan, ke belakang, dan ke samping; (4) memanjat atau climbing, dengan indikator memanjat naik-turun tangga dan memanjat pepohonan.[4]



Perkembangan fisik-motorik sangat berperan penting bagi seorang anak. Selain melatih kelincahan dan kecekatan, juga dapat memberikan motivasi kepada anak dalam berinteraksi dengan lingkungannya. Bahkan, bila difungsikan dengan baik perkembangan fisik-motorik ini mampu meningkatkan kecerdasan seorang anak. Untuk itu, perkembanagan ini tidak boleh di kesampingkan. Sebisa mungkin orang tua atau pendidik merespon dan memberikan waktu atau kesempatan pada sang anak dalam melakukan berbagai gerakan yang dapat membantu dalam memgembangkan fisik-motoriknya. Peran orang tua dan pendidik dapat ditunjukkan melalui pemberian motivasi, bimbingan, latihan-latihan gerak sederhana, dan lain sebagainya.



b) Perkembangan kognitif merupakan perkembangan yang terkait dengan kemampuan berfikir seseoang. Bisa juga di artikan sebagai perkembangan intelektual. Terjadinya proses perkembangan ini dipengaruhi oleh kematangan otak yang mampu menunjukkan fungsinya dengan baik. Misalnya, kemampuan untuk menolak dan sesuatu.[5] Pendapat lain menyebutkan bahwa kongnisi merupakan bagian intelek yang merujuk pada penerimaan, penafsiran, pemikiran, pengingatan, pengkhayalan, pengambilan, keputusan, dan penalaran.

Dengan kemampuan kognisi inilah individu mampu memberikan respons terhadap kejadian yang terjadi secarara internal dan eksternal.[6]

Tokoh yang mencetuskan kognitif ialah Jean Piget. Dalam teori ini, Piaget mengungkapkan bahwa asimilasi merupakan proses ketika stimulus baru dari lingkungan diintregasikan pada pengetahuan yang telah ada pada diri anak. Proses ini dapat diartikan sebagai suatu obyek atau ide baru ditafsirkan sehubungan dengan gagasan atau teori yang di peroleh anak.[7]

Beberapa uraian di atas memberikan suatu penjelasan dan pemahaman bahwa kemampuan kognisi seorang anak berkembang melalui proses rangsangan yang di perolehnya dalam kehidupan sehari-hari. Selanjutnya, rangsangan-rangsangan tersebut di terima dengan di tafsirkan melalui data pikirnya yang kemudian di wujudkan dengan perbuatan.

Berikut ini tahapan-tahapan perkembangan kognitif seorang anak menurut Jean Piaget, sebagaimana yang dikutip oleh Sabil Risaldi.

a) Masa sensori motorik (0-2,5 tahun). Pada masa ini seorang anak (bayi) mulai menggunakan sistem pengindraan dan aktivitas motorik untuk mengenal lingkungannya, seperti reflex mencari putting susu ibu, menangis, dan lain-lain.

b) Masa praoprasional (2-7 tahun). Pada masa ini seorang anak sudah memiliki kemampuan menggunakan symbol yang mewakili suatu konsep. Sebagai contoh, seorang anak yang melihat dokter sedang praktik, ia bermain dokter-dokteran.

c) Masa konkreto prasional (7-11 tahun). Pada masa ini anak sudah dapat melakukan berbagai tugas yang konkret. Ia mulai mengembangkan tiga macam operasi berfikir, yaitu identifikasi (mengenali sesuatu), negasi (mengingat sesuatu), dan reprokasi (mencari hubungan timbal balik antara beberapa hal).

d) Masa operasional (11-dewasa). Pada masa ini seorang anak sudah dapat berfikir abstrak dan hipotesis seperti menyimpulkan suatu hal. [8]



Dari beberapa tahapan perkembangan anak tersebut, yang termasuk kategori perkembangan anak usia dini adalah masa sensori motorik dan pra operasional. Pada masa itulah seorang anak akan merespons segala yang kita berikan kepadanya, tanpa ia mengerti apakah itu hal baik atau buruk. Semua yang ia dengar dan lihat akan diserap dalam pikirannya karena anak memang belum memiliki filter yang menyaring segala sesuatu yang masuk pada dirinya. Para ahli juga berpendapat bahwa:

Anak mengembangkan kemampuan kognitifnya melalui kegiatan bermain dengan tiga cara, di antaranya (1) memanipulasi (meniru) apa yang terjadi dan dilakukan oleh orang dewasa atau obyek yang ada di sekitar anak; (2) masteri, yaitu menguasai suatu aktifitas dengan mengulangi suatu kegiatan yang tentunya menjadi kesenangan dan memberikan bermaknaan pada diri anak; (3) meaning, yaitu memberikan bermaknaan pada diri anak sehingga menumbuhkan motifikasi anak dalam melakukannya.[9]

Memahami paparan diatas, mengembangkan kemampuan kognitif dapat dilakukan melalui berbagai kegiatan diantaranya meniru, menguasai, dan member makna pada suatu kegiatan dengan bibingan dan pengawasan dari guru agar pengembangan tersebut berkembang dan terarah sesuai dengan perkembangan yang sehausnya.

c. Perkembangan Emosi

Emosi adalah suatu perasaan yang dimiliki oleh seorang anak, baik itu perasan senang maupun sedih. Emosi ini mulai berkembang semenjak ia lahir kedunia. Meskipun ada anggapan bahwa sejak dalam kandungan seseorang sudah dapat merasakan sesuatu.

Perkembangan emosi pada diri seorang anak akan muncul manakala ia mengalami interaksi dengan lingkungan. Pada anak usia dini, ungkapan perasaan ini ditunjukkan melalui berbagai respons yang dapat dilakukannya. Sebagai contoh, seorang anak yang meminta suatu permainan, tetapi tidak segera dipenuhi, perasaan anak akan sedih dan marah yang kemudian ditunjukkan dengan raut wajah yang memerah atau menangis dengan sekuat tenaga. Namun apabila permintaaannya segera dipenuhi, ia akan merasa gembira dan ditunjukkan dengan senyuman yang manis dan wajah berseri-seri.

Untuk mengetahui karakteristik emosi seorang anak, perhatikan tabel berikut ini:[10]

Tabel.1

Perbedaan Karakteristik Emosi


Emosi yang stabil (sehat)

Emosi yang tidak stabil (tidak sehat)


1. Menunjukkan wajah yang ceria

2. Mau bergaul dengan teman secara baik

3. Bergairah dalam belajar

4. Dapat berkonsentrasi dalam belajar

5. Bersikap respek atau menghargai terhadap diri sendiri dan orang lain



1. Menunjukkan wajah yang murung

2. Mudah tersinggung

3. Tidak mau bergaul dengan orang lain

4. Suka marah-marah

5. Suka mengganggu teman

6. Tidak percaya diri




Perasaan senang bergairah dan bersemangat dan rasa ingin tahu yang tinggi yang disebut dengan emosi positif. Sementara perasaan tidak senang, kecewa, tidak bergairah disebut emosi negatif.[11] Perasaan seorang anak dapat digolongkan menjadi dua macam, yaitu perasaan yang menyangkut urusan biologi atau jasmaniah dan perasaan yang menyangkut urusan ruhaniah.[12]

Dalam kontek diatas, seorang pendidik atau orang tua, harus dapat menciptakan bagaimana memunculkan emosi positif pada diri anak-anaknya, sehingga anak dapat belajar dan berinteraksi dengan lingkungan yang baik.

d. Perkembangan Bahasa

Bahasa merupakan hal yang penting bagi anak, bahasa merupakan suatu bentuk menyampaikan apa yang dinginkan terhadap segala sesuatu yang inginkan. Dengan bahasa orang tua atau pendidikan akan tahu yang menjadi keinginan anak, bahasa ialah bahasa yang ditujnjukan melalui ekspresi wajah anak, semakin besar usia anak akan terlihat bahasa yang dikeluarkan dari lisannya mulai perkata sampai pada kalimat yang kompleks.

Bahasa merupakan semua cara berkomunikasi dengan orang lain, semua cara untuk berkomunikasi, yang mana pikirannya dan perasaan dinyatakan dalam bentuk lisan, tulisan, isyarat atau gerak dengan menggunakan kata-kata, simbol, lambang atau gambar atau lukisan. Bahasa juga diartikan urutan kata-kata, bahasa digunakan untuk menyampaikan informasi mengenai tempat berbeda atau waktu yang berbeda.[13] Bahasa sendiri mempunyai tiga fungsi, yaitu: fungsi aspek ekspresi yang menyatakan kehendak dan pengalaman jiwa, fungsi aspek sosial yaitu untuk mengadakan komunikasi dengan orang lain dan dan aspek intensional yaitu, fungsi aspek untuk menunjukan atau membanggakan sesuatu.[14] Perkembangan bahasa terbagi menjadi beberapa tahap sebagai berikut:

1. Prastadium (umur 0;6-1;0) meraba atau keluar suara yang belum berarti, serta tunggal terutama huruf-huruf bibir.

2. Masa pertama (umur 1;0-1;6) penguasaan kata yang belum lengkap seperti mem dan mik.

3. Masa kedua (umur 2;0-2;0) masa mama, yaitu masa ketika anak sudah mulai berbicara dan tanya mama.

4. Masa ketika, (umur 2;0-2;6) masa stadium fleksi (menafsirkan) yaitu anak mulai dapat menggunakan kata-kata yang dapat ditafsirkan atau kata-kata yang sudah diubah dan sudah menyusun kalimat pendek.

5. Masa keempat (umur 2;6 keatas) masa stadium anak kalimat yaitu, anak sudah dapat merangkaikan pokok kalimat dengan penjelasan berupa anak kalimat.[15]



Dari penjelasan diatas dapat disimpulkan, bahasa sangatlah penting bagi pekembangan anak. Tugas orang tua dan pendidik untuk mengasah kemampuan anak agar memiliki kemampuan bahasa yang baik saat sang anak dewasa kelak.

e. Perkembangan Moral

Moral merupakan suatu nilai yang dijadikan pedoman dalam bertingkah laku. Perkembangan moral pada anak masih terbatas, anak usia dini belum mampu menguasai nilai-nilai abstrak benar– salah dan baik-buruk namun penanaman moral harus dikenalkan sejak dini agar anak terbiasa dan biasa membedakan mana yang benar dan salah. Terdapat pembagian perkembangan moral anak sebagai berikut:

1) Tahap prakonvesional untuk usia 2-8 tahun, penalaran moral anak dikendalikan oleh imbalan atau hadiah dan hukuman eksternal.

2) Tahap konvesional untuk usia 9-13 tahun, anak mentaati standar-standar tertentu. Tetapi mereka tidak mentaati standar yang lain (eksternal), seperti orang tua atau aturan-aturan masyarakat. Anak menghargai kebenaran, kepedulian dan kesetian kepada orang lain sebagai landasan pertimbangan moral.

3) Tahap pascaconvesional untuk anak diatas usia 13, yaitu anak mengenal tindakan-tindakan moral alternatif dan menjajaki pilihan-pilihan kemudian memutuskan suatu kode moral pribadi.[16]



Selain tahapan-tahapan perkembangan moral diatas, terdapat juga perkembangan moral yang didasarkan dengan tata nilai yang ada yaitu:

(a) Usia 1;0- 4;0 tahun, pada tahap ini ukuran baik buruk tergantung apa yang dikatakan orang tua. Walaupun anak saat belum tahu benar hakikat atau perbedaan antara yang baik dan buruk sebab saat ini anak belum bisa menguasai diri sendiri.

(b) Usia 4;0- 8;0 tahun, pada tahap ini ukuran nilai bagi seorang anak adalah apa yang lahir dari realitas, anak belum bisa menafsirkan hal-hal yang tersirat dari sebuah perbuatan antara perbuatan yang disengaja atau tidak. Seseorang menilai sesuai dengan kenyataan.

(c) Usia 13;0-13;0 tahun, anak sudah dapat mengenal ukuran baik buruk secara, meskipun masih terbatas, yaitu anak sudah dapat menghargai pendapat atau alasan dari perbuatan orang lain. Anak mulai dapat menghormati orang lain yang patuh, taat atau sebaliknya.

(d) Usia 13;0-19;0 tahun, seseorang anak sudah mulai sadar betul tentang tata nilai kesusilaan, anak akan patuh atau melanggar berdasarkan kepahaman terhadap konsep nilai yang diterima. Pada tahap ini anak benar-benar berada pada kondisi dapat mengendalikan diri sendiri. [17]



Dari penjelasan diatas dapat ditarik kesimpulan pada awalnya pengenalan nilai dan pola tindakan masih bersifat paksaan dan anak tidak mengetahui maknanya akan tetapi sejalan dengan perkambangan intelektualnya anak berangsur-ansur mulai mengikuti ketentuan yang berlaku keluargnya dan lingkungan sekitarnya.

f. Perkembangan Sosial

Perkembangan sosial merupakan perkembangan yang melibatkan hubungan maupun interaksi anak dengan orang lain. Perkembangan sosial dimulai sejak lahir, hal ini dibuktikan dengan tangisan anak ketika baru dilahirkan untuk mengadakan kontak atau hubungan dengan orang lain. Ketika anak masih berusia kecil, perkembangan sosial anak ditunjukan dengan senyumang gerakan atau ekpresinya. Namun dalam perkembangannya kemudian simbol-simbol atau hubungan-hubungan dengan orang lain itu menjadi nyata dan dilakukan dengan perbuatan-perbuatan yang lebih konkret. Perkembangan sosial anak meliputi tahap sebagai berikut:

1. Usia 0-2 tahun, yaitu anak mulai tersenyum dan memandang orang lain.

2. Usia 0-3 tahun, yaitu anak tersenyum kembali, mengeluarkan berbagai suara sebagai jawaban atau ransangan dari luar

3. Usia 0-4 tahun, yaitu anak menangis menolak sebagai tanda tidak setuju terhadap orang mengadakan hubungan.

4. Usia 0-5 tahun yaitu anak mengikuti dengan gerakan mata atau terhadap gerakan mata atau terhadap gerakan orang yang sedang lalu lang.

5. Usia 0-6 tahun, yaitu anak mengadakan reaksi terhadap orang yang marah atau ramah.

6. Usia 0-7 yaitu anak mulai aktif mengadakan hubungan mencoba mengadakan anak aksi, baik dalam bentuk gerakan atau suara-suara.

7. Usia 0-8 tahun, yaitu anak dapat bermain, sembunyi-sembunyi dan memanggil, seperti mama, papa, adik dan lain-lain.

8. Usia 0-1 tahun yaitu anak mencoba menarik perhatian orang dewasa.

9. 0-1 tahun, yaitu anak mulai mengerti akan isyarat-isyarat yang sederhana, contoh bye-bye dengan melambaikan, atau menunjukan dengan jari satu dan lain-lain.[18]



Perkembangan sosial sangat dibutuhkan bagi anak usia dini, karena kelak ketika ia dewasa ia akan hidup dalam lingkungan masyarakat yang mana satu sama lain saling membutuhkan. Dengan membiasakan anak untuk bersosialisasi akan memudahkan sang anak hidup dan berinteraksi dengan orang lain.[19]

g. Perkembangan Imajinasi (Fantasi)

Fantasi atau imajinasi adalah daya cipta untuk menciptakan tanggapan-tanggapan baru atas bantuan tanggapan-tanggapan yang telah ada lama imajinasi atau fantasi merupakan kreativitas.[20] Pada anak usia dini perkembangan imajinasi atau kreativitas anak masih terbatas atau masih sangat terbatas, sebab anak belum memperoleh pengalaman yang memadai dari lingkungan. Namun demikian seiring dengan pertumbuhan dan perkembangan yang semakin dewasa, daya imajinasinya pun semakin meningkat, perkembangan imajinasi atau fantasi kreativitas anak dibedakan menjadi dua:

1. Fantas terpimpin (tuntutan) yaitu timbulnya fantasi disebabkan adanya kesan setelah menggapai hasil ciptakan orang lain atau tuntutan oleh karya orang lain.

2. Fantasi mencipta, yaitu timbulnya fantasi seseorang yang muncul karena kekuatan atau potensi yang ada pada dirinya secara murni tanpa adanya tuntutan dari luar.

Selain penjelasan diatas tentang fantasi atau imajinasi pada perkembangan anak, terdapat juga tahapan lainnya imajinasi dan fantasi pada anak sebagai berikut:

a) Usia 0;0-4;0 tahun, masa cerita struweplter, yaitu anak-anak senang terhadap cerita-cerita anak nakal, rambut panjang, pakaian kumal, kuku panjang dan lain-lain. Pada masa ini anak tidak menghiraukan tentang kondisi lingkungan. Senang mementingkan dirinya sendiri.

b) Usia 0-4;0-8; yaitu masa cerita khayal, apa yang dikhayalkan itu adalah kondisi sebenarnya, jadi masa ini sangat senang pada cerita-cerita khayal atau dongeng, walaupun cerita tersebut diulang-ulang anak tidak merasa bosan, tidak jemu bahkan bila yang bercerita itu ada kesalahan ia langsung menegurnya.

c) Usia 8;0-12;0 tahun, masa cerita realitas, yaitu anak sudah mulai senang terhadap cerita-cerita nyata (pahlawan, sejarah, biologi dan lain-lain, pada masa ini, pengaruh fantasi pada anak sudah mulai berkurang sebab pengamatan sudah mulai tertib. Ia sudah dapat membedakan antara yang khayal dengan realita.[21]



Dari penjelasan diatas, dapat diambil kesimpulan bahwa perkembangan anak berubah sesuai dengan tingkat usia anak. Semakin bertambah usia anak, semakin matang pula perkembangannya.

MARIANTI
----------------------------------------------------------

[1] Moeslichatoen (1999), Metode Pengajaran di Taman Kanak-kanak, Jakarta: Rineka Cipta, hal 4-5


[2] Uyu Wahyudin dan Mubiar Agustin (2011), Penilaian Perkembangan Anak Usia Dini, Bandung: Reflika Aditama, hal.22





[4] Sabil Risaldy & Meity (2014), Bimbingan Konseling: Implementasi Pada Pendidikan Anak Usia Dini, Jakarta: Luxima, hal 45





[6] Syamsu Yusuf, Perkembangan Peserta Didik…, hal. 98


[7] Sabil Risaldy & Meity, Bimbingan Konseling…,hal 45


[8] Sabil Risaldy & Meity, Bimbingan Konseling…,hal 45


[9] Sabil Risaldy & Meity, Bimbingan Konseling…, hal 45


[10] Sabil Risaldy & Meity, Bimbingan Konseling..., hal 45


[11] Syamsu Yusuf dan Nani M. Sugandhi (2011) Perkembangan Peserta Didik, Jakarta: Rajawali Press, hal 64


[12] Abu Ahmad an Munawar Sholeh, (2005), Psikologi Perkembangan Jakarta:Rineka Cipta hal, 98


[13] Uju Wahyudin dan Mubiar Agustin (2011), Penelitian Perkembangan Anak Usia Dini Bandung : Refika Aditama, hal 36


[14] Abu Ahmadi dan Munawar Sholeh (2005), Psikologi Perkembangan Jakarta: Rineka Putra, hal 95


[15] Abu Ahmadi, Psikologi Perkembangan..., hal 95


[16] Abu Ahmadi, Psikologi Perkembangan…, hal 103


[17] Abu Ahmadi, Psikologi Perkembangan…, hal 105


[18] Abu Ahmadi, Psikologi Perkembangan..., hal 105


[19] Abu Ahmadi, Psikologi Perkembangan..., hal 100


[20] Abu Ahmadi, Psikologi Perkembangan..., hal 100


[21] Abu Ahmadi, Psikologi Perkembangan..., hal 100

Romeltea Media
JURNALGO PENDIDIKAN Updated at:

Karakteristik Anak Usia Dini

Anak usia dini merupakan pribadi yang memiliki karakter yang sangat unik. Keunikan karakter tersebut membuat orang dewasa menjadi kagum dan terhibur melihat tingkah laku lucu dan mengemaskan. Akan tetapi tidak sedikit pula orang yang merasa kesal dengan tingkah laku anak yang dianggapnya nakal dan susah diatur. Sebagai orang tua atau pendidik yang baik, sudah tentu harus mengerti dan memahami berbagai karakter dasar anak usia dini. Sebab dikarakter itulah yang akan menjadi pusat perhatian untuk dikembangkan dan diarahkan menjadi karakter yang positif. Berikut ini adalah beberapa karakteristik anak usia dini menurut berbagai pendapat:

a. Unik, yaitu sifat anak itu berbeda satu sama lain. Anak memiliki bawaan, minat, kapabilitas dan latar belakang kehidupan masing-masing

b. Egosentris, yaitu anak lebih cendrung melihat dan memahami sesuatu dari sudut pandang dan kepentingannya sendiri. Bagi anak sesuatu itu sepanjang hal tersebut berkaitan dengan dirinya

c. Aktif dan energik, yaitu anak lazimnya senang melakukan berbagai aktivitas. Selama terjaga dari tidu, anak seolah-olah tidak pernah lelah, tidak pernah bosan, dan tidak pernah berhenti dari aktivitasnya. Terlebih lagi kalau anak dihadapkan pada aktivitas yang baru.

d. Rasa ingin tahu yang kuat dan antusias terhadap banyak hal. Yaitu anak cendrung memerhatikan, membicarakan, dan mempertanyakan berbagai hal yang sempat dilihat dan didengarnya terutama terhadap hal-hal baru

e. Eksploratif dan berjiwa petualang, yaitu anak terdorong oleh rasa ingin tahu yang kuat dan senang menjelajah, mencoba dan mempelajari hal-hal yang baru.

f. Spontan, yaitu prilaku yang ditampilkan anak umumnya relative asli dan tidak ditutup-tutupi sehingga merefleksikan apa yang ada dalam perasaan dan pikirannya.

g. Senang dan kaya fantasi, yaitu anak senang dengan hal-hal yang imajinatif. Anak tidak saja senang dengan cerita-cerita khayal yang disampaikan oleh orang lain, tetapi juga ia sendiri juga senang bercerita kepada orang lain.

h. Masih mudah frustasi, yaitu anak masih mudah kecewa bila menghadapi sesuatu yang tidak memuaskan. Ia mudah menangis dan marah bila keinginannya tidak terpenuhi.

i. Masih kurang pertimbangan dalam melakukan sesuatu, yaitu anak masih kurang memiliki pertimbangan yang matang termasuk berkenaan dengan hal-hal yang mambahayakannya.

j. Daya perhatian yang pendek, yaitu anak lazimnya memiliki daya perhatian yang pendek, kecuali terhadap hal-hal yang secara instrinsik menarik dan menyenangkan.

k. Bergairah untuk belajar dan banyak belajar dari pengalaman yaitu anak melakukan banyak aktivitas yang menyebabkan terjadinya perubahan tingkah laku pada dirinya.[1]

l. Semakin menunjukkan minat terhadap teman, yaitu anak mulai menunjukkan untuk bekerjasama dan berhubungan dengan temannya.



Selain karakteristik-kateristik diatas, karakteristik lainya yang tak kalah penting dan patut dipahami oleh setiap orang tua maupun peneliti adalah selalu memiliki bekal kebaikan, anak suka meniru, bermain dan memiliki rasa ingin tahu yang tinggi.[2]

Pada dasarnya anak telah diberi bekal kebaikan oleh Tuhan Yang Maha Esa. Selanjutnya lingkunganlah yang berperan aktif dalam memepengaruhi dan mengembangkan bekal kebaikan tersebut. Anak akan menjadi baik, bila lingkungannya membuat baik dan demikian sebaliknya. Bekal kebaikan dimiliki anak sejak lahir. Oleh karenanya pada saat usia dini anak harus dibiasakan dengan hal-hal yang baik, agar potensi kebaikan anak dapat berkembang sebagaimana mestinya. Dengan demikian, akan tertanam pada diri anak karakter yang positif.

Sudah menjadi hal yang lumrah kiranya, bila ada anak yang suka meniru gerakan dan dan prilaku kedua orang tuanya atau lingkungan didekatnya. Apabila anak melihat dan merasakan akan senantiasa diikuti oleh anak. Meskipn secara nalar anak belum dapat memilih dan mengerti mana yang baik dan mana yang burk. Bagi anak apa yang menjadi membuatnya senang dan menarik maka itulah yang akan diikuti oleh anak. Maka dari itu dibutuhkan keteladanan yang baik agar membentuk karakter anak yang baik pula. Bermain merupakan kesukaan setiap anak usia dini. Bahkan, orang dewasa pun terkadang juga masih suka bermain. Dalam konteks pendidikan karakter bermain harus dijadikan dasar dalam kegiatan pembelajaran.[3] Bagaimana anak dibuat senag dan dapat memperhatikan tujuan pembelajaran. Harapannya agar anak tidak malas, jenuh dan dan bosan dalam mengikuti berbagai kegiatan pembelajaran


RELIANTI
----------------------------------------------------------
[1]Syamsu Yusuf L.N dan Nani M Sugandhi (2013),Perkembangan Peserta Didik,cet. IV Jakarta: Rajawali Press, hal 48-50


[2] Muhammad Fadlillah dan Lilif Mualifutu Khorida, Pendidikan Karakter…, hal.46


[3] Muhammad Fadlillah dan Lilif Mualifutu Khorida , Pendidikan Karakter…, hal.83

Romeltea Media
JURNALGO PENDIDIKAN Updated at:

Anak Usia Dini dan Karakteristiknya


1. Pengertian Anak Usia Dini

Usia dini adalah masa yang sangat potensial bagi anak-anak. Masa yang berlangsung dibawah 7 tahun itu adalah era keemasan bagi tumbuh kembangnya potensi dan keunikan yang dimiliki oleh anak-anak.[1] Tidak ada masa yang lebih peka selain pada masa anak-anak. Masa ini diibarat dengan pondasi untuk membangun rancangan masa depan anak yang baik. Anak usia dini adalah anak yang berada dalam rentang 0-8 tahun.[2] Anak usia dini merupakan kelompok yang sedang berada dalam prinsip pendidikan anak usia dini adalah individu unik yang memiliki pola pertumbuhan dan perkembangan dalam aspek fisik, kognitif, sosial emosional, kreatifitas, bahasa dan komunikasi yang khusus sesuai dengan tahapan yang sedang dilalui oleh anak tersebut. Dalam pasal 28 Undang-undang Sistem Pendidikan Nasional No.20/2003 ayat 1, disebutkan bahwa anak yang termasuk anak usia dini adalah anak yang masuk dalam rentang usia 0-6 tahun. Anak usia dini adalah anak yang berkisar antara usia 0-6 tahun yang memiliki pertumbuhan dan perkembangan yang luar biasa sehingga muncul berbagai keunikan pada dirinya.[3] Dengan demikian dapat dipahami bahwa anak usia dini adalah anak yang berkisar antara 0-6/0-8 tahun yang memiliki pertumbuhan dan perkembangan yang luar biasa sehingga memunculkan berbagai keunikan pada dirinya.

Usia dini merupakan masa perkembangan yang menentukan perkembangan masa selanjutnya. Berbagai studi yang dilakukan para ahli menyimpulkan bahwa pendidikan anak usia dini dapat memperbaiki prestasi dan meningkatkan produktivitas kerja masa dewasanya.[4] Tidak heran apabla pendidikan anak usia dini menyita perhatian di belahan dunia. Bermula dari pertemuan Jomtien, Thailand pada 1990 Forum itu melahirkan Deklarasi Jomtien yang berikhwal pentingnya pendidikan untuk semua dari kandungan sampai liang lahat. Ada juga deklarasi “ A World Fit For Children” di New York, Amerika Serikat pada tahun 2002. Pertemuan itu sangat menekankan untuk menyediakan pendidikan yang berkualitas bagi anak-anak.

Dalam konsep Islam himbauan dan perhatian beberapa negara untuk menyegerakan memperhatikan program pendidikan anak usia dini bukanlah hal baru. Jauh sebelum deklarasi itu diproklamirkan dan penelitian itu dilakukan,konsep pendidikan Islam sudah sejak awal menganggap penting untuk pendidikan anak usia dini. Lebih-lebih dalam konteks pendidikan aqidah dan ibadah dalam lingkungan keluarga.



Allah Swt berfirman:

“hai anakku, dirikanlah sholat dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu temasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah). Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlan kamu berjalan dimuka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri dan sederhanalah kamu dalam berjalan dan lunakkanlah suaramu. Sesungguhnya seburuk buruk suara adalah suara keledai.(Q.S Lukman: 17-19).



Dari ayat diatas dijelaskan betapa pentingnya pendidikan usia dini terutama pendidikan karakter anak.

Pendidikan usia dini merupakan salah satu upaya untuk merangsang berbagai potensi yang dimiliki anak supaya dapat berkembang dengan optimal.[5] Sebagaimana disebutkan dalam Sisdiknas No. 20 tahun 2003 yang menyebutkan bahwa pendidikan anak usia dini merupakan suatu upaya pembinaan yang ditujukan kepada anak sejak lahir sampai dengan usia enam tahun yang dilakukan melalui pemberian rangsangan pendidikan untuk membantu pertumbuhan dan perkembangan jasmani dan ruhani agar anak memiliki kesiapan dan memasuki pendidikan lebih lanjut. Dapat dipahami bahwa orang tua dan pendidik harus memerhatikan benar masa-masa pertumbuhan dan perkembangan rentang usia 0-6 tahun dengan cara memberikan asupan gizi yang baik dan memberikan rangsangan pendidikan agar anak tumbuh dan berkembang dengan baik pada masa usia keemasan ini, agar siap memasuki kenjang pendidikan berikutnya.


RELIANTI
===========================

[1] Suyadi (2010), Psikologi Belajar Anak Usia PAUD, Yogyakarta: Pedagogia, hal. 24


[2] Muhammad Fadlillah dan Lilif Mualifutu Khorida (2013), Pendidikan Karakter Anak Usia Dini, Jakarta: Ar-Ruzz Media, hal.47


[3] Muhammad Fadlillah (2012), Desain Pembelajaran PAUD,Yogyakarta: Ar-Ruzz Media hal.19


[4]Syamsu Yusuf L.N dan Nani M. Sugandhi (2013), Perkembangan Peserta Didik, Jakarta: Raja Grafindo, hal. 47


[5] Muhammad Fadlillah dan Lilif Mualifutu Khorida (2013), Pendidikan Karakter Anak Usia Dini, Jakarta: Ar-Ruzz Media, hal.46

Romeltea Media
JURNALGO PENDIDIKAN Updated at:

Pengertian Perpustakaan Mini


Perpustakaan adalah sebuah ruangan, bagian sebuah gedung, ataupun gedung itu sendiri yang digunakan untuk menyimpan buku dan terbitan lainnya yang biasanya disimpan menurut tata susunan tertentu untuk digunakan pembaca, bukan untuk dijual. Perpustakaan sekolah adalah kumpulan bahan pustaka, baik berupa buku-buku maupun bukan buku (non book material) yang diorganisasi secara sistematis dalam suatu ruang sehingga dapat membantu murid-murid dan guru-guru dalam proses belajar mengajar di sekolah.[1] Perpustakaan sekolah sesungguhnya adalah sarana bahan pustaka, baik berupa buku maupun bukan buku. Kumpulan bahan pustaka tersebut diorganisasi secara sistematis dalam satu ruang sehingga dapat membantu murid-murid dan para guru dalam proses pembelajaran. Sehingga, dengan demikian, perpustakaan turut serta dalam menyukseskan pencapaian tujuan lembaga pendidikan yang menaunginya.

Dari pengertian di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa perpustakaan sekolah adalah suatu gedung atau ruangan bagian dari sekolah yang digunakan untuk menyimpan kumpulan bahan pustaka, baik buku maupun non buku yang tersusun secara sistematis sehingga dapat membantu murid-murid dan guru-guru dalam proses belajar mengajar di sekolah.

Sekolah dan perpustakaan memiliki keterkaitan karena keduanya saling mendukung untuk perkembangan dunia pendidikan. Seperti yang tercantum dalam Undang-Undang RI No. 20 Tahun 2003 tentang sistem pendidikan nasional, dalam pasal 45 ayat 1: setiap satuan pendidikan formal dan non formal menyediakan sarana dan prasarana yang memenuhi keperluan pendidikan sesuai dengan pertumbuhan dan perkembangan potensi fisik, kecerdasan, intelektual, sosial, emosional dan kejiwaan peserta didik. Perpustakaan sekolah sebagai salah satu sarana pendidikan yang jga bias merupakan sarana meningkatkan minat baca.

Penyelenggaraan perpustakaan sekolah bukan hanya untuk mengumpulkan dan menyimpan bahan-bahan pustaka, tetapi dengan adanya perpustakaan sekolah diharapkan murid-murid secara lambat laun memiliki kesenangan membaca yang merupakan alat yang fundamental untuk belajar, baik di sekolah maupun di luar sekolah.[2]



Dari kedua pernyataan dapat kita lihat bahwa sekolah sebagai satuan pendidikan harus menyediakan sarana dan prasarana untuk memenuhi kebutuhan pendidikan, salah satunya adalah perpustakaan sekolah. Perpustakaan sekolah tidak hanya menyediakan bahan pustaka, tetapi perpustakaan sekolah harus mampu membina pemustaka untuk gemar membaca agar mempermudah cara belajar siswa. Sehingga siswa dapat belajar sesuai dengan kemampuan intelektual, kecerdasan, emosional dan kejiwaan siswa.



2. Pemanfaatan Perpustakaan



Kata pemanfaatan berasal dari kata dasar manfaat yang berarti guna, faedah. pemanfaatan memiliki makna “Proses, cara atau perbuatan memanfaatkan.”[3] Dari pengertian di atas dapat diartikan bahwa pemanfaatan perpustakaan adalah suatu proses kegiatan yang dilakukan oleh pengguna dengan menggunakan berbagai layanan dan fasilitas yang ada di perpustakaan. Perpustakaan dikatakan berhasil jika pemustaka dapat memanfaatkan perpustakaan dengan baik dan dari pemanfaatan perpustakaan itu, pemustaka dapat memenuhi kebutuhan informasinya.

Bimbingan pemanfaatan perpustakaan merupakan salah satu bentuk layanan perpustakaan yang sering dilakukan oleh berbagai jenis perpustakaan. Tujuan layanan ini adalah untuk membantu pengguna perpustakaan agar dapat memanfaatkan semua bentuk sarana layanan perpustakaan dengan mudah. [4]



Bimbingan pemanfaatan perpustakaan merupakan salah satu cara untuk membantu memperkenalkan perpustakaan dan membantu pemustaka agar pemustaka dapat memanfaatkan perpustakaan dengan baik, secara tidak langsung pun pemustaka dapat mengetahui manfaat perpustakaan. Lebih lanjut manfaat dari perpustakaan sekolah adalah :

1. Perpustakaan sekolah dapat menimbulkan kecintaan murid-murid terhadap membaca

2. Perpustakaan dapat memperkaya pengalaman belajar murid-murid.

3. Perpustakaan sekolah dapat menanamkan kebiasaan belajar mandiri yang akhir-akhirnya murid-murid mampu belajar mandiri.

4. Perpustakaan sekolah dapat mempercepat proses penguasaan teknik membaca

5. Perpustakaan sekolah dapat membantu perkembangan kecakapan berbahasa

6. Perpustakaan sekolah dapat melatih murid-murid ke arah tanggung jawab

7. Perpustakaan sekolah dapat memperlancar murid-murid menyelesaikan tugas-tugas sekolah

8. Perpustakaan sekolah dapat membantu guru-guru menemukan sumber-sumber pengajaran

9. Perpustakaan sekolah dapat membantu murid-murid, guru-guru dan anggota staf sekolah dalam mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. [5]





Dari pernyataan tersebut dapat dilihat bahwa banyak manfaat yang didapat dalam memanfaatkan perpustakaan sekolah. Tidak hanya untuk siswa, manfaat perpustakaan juga didapat oleh guru dan staf sekolah untuk menemukan sumber-sumber ajar dan mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.

F. Pemanfaatan Perpustakaan Mini Untuk Meningkatkan Minat Membaca Permulaan

Perpustakaan merupakan institusi yang berperan dalam pengembangan kebiasaan membaca. Perpustakaan mini adalah satu ruangan kecil yang berisikan kumpulan buku-buku yang diciptakan untuk menarik minat baca peserta didik.

Peran perpustakaan sangat sentral dalam meningkatkan minat dan kebiasaan membaca. Kegiatan membaca tidak bisa dilepaskan dari keberadaan dan tersedianya bahan bacaan yang memadai baik dari segi jumlah maupun kualitas bacaan. Banyak peran yang dapat dilakukan oleh perpustakaan dalam menciptakan tumbuhnya kondisi minat membaca dilingkungan sekolah adalah:

1. Memilih bahan bacaan yang menarik bagi pengguna perpustakaan

2. Menganjurkan berbagai cara penyajian pelajaran disekolah dikaitkan dengan tugas-tugas diperpustakaan

3. Memberikan berbagai kemudahan dalam mendapatkan bacaan yang menarik untuk pengguna perpustakaan

4. Memberi kebebasan membaca secara leluasa kepada pengguna perpustakaan, untuk merangsang anak dalam mencari dan menemukan sendiri bacaan yang sesuai dengan minatnya.

5. Perpustakaan perlu dikelola dengan baik agar pengguna merasa betah dan kerasan berkunjung keperpustakaan.

6. Perpustakaan perlu melakukan berbagai promosi kepada masyarakat berkaitan dengan pemanfaatan perpustakaan dan berkaitan dengan peningkatan minat dan kegemaran membaca siswa.

7. Menanamkan kesadaran diri pemakai perpustakaan bahwa membaca sangat penting dalam kehidupan, terutama dalam mencapai keberhasilan perpustakaan sekolah.

8. Melakukan berbagai kegiatan seperti lomba minat dan kegemaran membaca untuk anak sekolah.

9. Melakukan kegiatan pameran buku diperpustakaan.

10. Memberikan penghargaan kepada siswa yang paling banyak meminjam buku di perpustakaan dalam kurun waktu tertentu misalnya sekali dalam setahun.[6]



Selain melakukan kegiatan pembinaan minat baca disekolah guru juga harus bekerjasama dengan orang tua, dengan menyarankan kepada orang tua agar mendirikan perpustakaan mini dirumah agar kegiatan meningkatkan minat baca berkesinambungan.


RELIANTI

=======================

[1] Ibrahim Bafadal (2009), Pengelolaan Perpustakaan Sekolah, Jakarta: Bumi Aksara, hal. 4




[2] Ibrahim Bafadal, Pengelolaan Perpustakaan …, hal. 189


[3] Tim Penyusun Kamus Pusat Bahasa (2008), Kamus Bahasa Indonesia, Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional, hal. 928


[4] Darmono (2004), Manajemen dan Tata Kerja Perpustakaan Sekolah, Jakarta: Grasindo, hal.199


[5]Ibrahim Bafadal, Pengelolaan Perpustakaan …,, hal. 5-6


[6] Darmono, Manajemen dan Tata Kerja …, hal.188-189

Romeltea Media
JURNALGO PENDIDIKAN Updated at:

Perkembangan Membaca Anak Usia Dini

Menurut para ahli, anak telah memiliki alat pemerolehan bahasa dan keupayaan membaca sejak ia dilahirkan. Membaca hakikatnya adalah kegiatan fisik dan mental untuk menemukan makna dari tulisan. Disebut kegiatan fisik, karena ada bagian tubuh yang melakukannya, disebut bagian dari kegiatan mental karena ada bagian pikiran terutama dan ingatan terlibat didalamnya.

Membaca dini adalah membaca yang diajarkan secara terprogram kepada anak prasekolah. Program ini dititik beratkan pada perkataan-perkataan utuh, bermakna dalam konteks pribadi anak-anak dan bahan diajarkan melalui permainan dan kegiatan menarik sebagai perantara pembelajaran.

Membaca dini sebagai persiapan anak usia Taman Kanak-kanak, agar dapat membaca kata-kata sederhana atau mengetahui dan memahami kata-kata bemakna untuk persiapannnya memasuki tingkat pendidikan selanjutnya. Membaca juga dapat diartikan menterjemahkan simbol-simbol atau gambar kedalam suara yang dikombinasikan dengan kata-kata, kata-kata disusun agar orang lain dapat memahaminya.[1]

Membaca dini adalah membaca yang diajarkan secara terprogram kepada anak prasekolah dan merupakan usaha persiapan anak memasuki pendidikan berikutnya. Program ini menumpukan perhatian pada perkataan-perkatan utuh dan bermakna dalam berbagai macam konteks pribadi anak-anak. Beberapa prinsip yang harus diperhatikan dalam mengajarkan membaca dini adalah:

a. Materi bacaan harus terdiri dari kata-kata, fase-fase dan kalimat. Ini berarti bahwa bacaan itu harus mempunyai makna yang dapat dipahami oleh anak. Bahan-bahan pembelajaran harus berhubungan erat dengan pengalaman anak atau yang pernah mengalaminya.

b. Membaca terutama didasarkan pada kemampuan memahami bahasa lisan, dengan adanya kemampuan memahami makamakna dari tulisan juga dapat dilakukan dengan mudah, kalau anak memahami makna roti bakar, berenang dalam bahasa lisan, akan mudah bagi anakuntuk belajar dengan bahan-bahan itu (gambar), kemampuan memahami bahasa lisan adalah suatu dasar yang penting untuk belajar membaca dini.

c. Mengajarkan membaca bukan mengajarkan aspek-aspek kebahasaan seperti tata bahasa, oleh karena itu bahan pembelajaran membaca dini haruslah yang berada dalam ruang lingkup kemampuan bahasa dan berpikir anak.

d. Pengajaran membaca dini haruslah menyenangkan bagi anak, ini sesuai dengan sifat dan perkembangan anak dimana anak suka bermain dan lekas merasa bosan.[2]



Berdasarkan pendapat diatas pengenalan kata-kata, penekanannya pada pengenalan persamaan antara apa yang diucapkan dan apa yang ditulis sebagai symbol dan dapat mengucapkan, dalam membaca hal terpenting adalah mengerti apa yang dibaca.

Tahapan perkembangan membaca dini yaitu anak sudah mulai belajar menggunakan buku, mulai berpikir bahwa buku itu penting, melihat atau membolak balik buku dan terkadang anak membawa buku-buku kesukaannya. Ada beberapa tahapan dalam perkembangan membaca anak yakni:

a) Tahap Fantasi (magical stage)

Pada tahap ini, anak mulai belajar menggunakan buku dan kadang-kadang anak membawa buku kesukannya.

b) Tahap Pembentukan Konsep Diri (self concept stage)

Anak memandang dirinya sebagai pembaca, dan mulai melibatkan diri dalam kegiatan membaca, pura-pura membaca buku, memberi makna pada gambar atau pengalaman sebelumnya dengan buku, menggunakan bahasa buku meskipun tidak cocok dengan tulisan.

c) Tahap Membaca Gambar (Bridging reading stage)

Anak menjadi sadar pada cetakan yang tampak serta dapat menemukan kata yang sudah dikenal, dapat mengungkapkan kata-kata yang memilki makna dengan dirinya, dapat mengulang kembali cerita yang tertulis, dapat mengenal cetakan kata dari puisi atau lagu yang dikenalnya serta sudah mengenal abjad.

d) Tahap Pengenalan Bacaan(Take-off reader stage)

Anak mulai menggunakan tiga sistem isyarat (graphoponic, semantic, dan syntatic) secara bersama-sama. Anak tertarik pada bacaan, mulai mengingat kembali cetakan pada konteknya, berusaha mengenal tanda-tanda pada lingkungan serta membaca berbagai tanda seperti kotak susu, pasta gigi, atau papan iklan.

e) Tahap Membaca Lancar (Independent reader stage)

Anak dapat membaca berbagai jenis buku yang berbeda secara bebas. [3]



Untuk mendukung tahap-tahap membaca anak maka guru harus mengetahui kesiapan anak dalam membaca dini. Adapun prilaku kesiapan membaca dini dapat diperlihatkan anak sebagai berikut:

a) Rasa ingin tahu tentang benda-benda dalam lingkungan, manusia, proses dan sebagainya.

b) Mampu untuk menterjemahkan atau membaca gambar dengan mengidentifikasikannya dan menggambarkannya.

c) Menyeluruh dalam pembelajaran anak.

d) Melalui kemampuan berkomunikasi dengan bahasa percakapan khususnya dengan kalimat.

e) Memiliki kemampuan untuk membedakan persamaan dan perbedaan dalam suara secara cukup baik untuk mencocokkan satu suara dengan yang lainnya.

f) Keinginan untuk belajar membaca.

g) Memiliki kematangan emosional yang cukup untuk dapat berkonsentrasi dan terus menerus dalam tugas.

h) Memiliki kepercaan diri dan stabilitas emosi.[4]

2. Manfaat Membaca Permulaan

Manfaat membaca bagi anak usia dini antara lain

a) Mengembangkan kemampuan otak dan kecerdasan,

b) Meningkatkan kemampuan anak,

c) Mempersiapkan pendidikan anak,

d) Mencegah kerusakan saraf otak,

e) Melatih daya ingat,

f) Memperbanyak kosakata dan meningkatkan kemampuan menyusun kalimat. [5]



Secara khusus membaca memiliki dampak positif bagi kecerdasan sebagai berikut:

a. mempertinggi kecerdasan verbal/linguistik karena banyak membaca akan memperkaya kosakata,

b. meningkatkan kecerdasan matematis-logis dengan memaksa untuk menalar serta mengurutkan secara teraturdan berpikir logis untuk mengurutkan jalan cerita atau memecahkan suatu misteri,

c. mengembangkan kecerdasan interpersonal dengan mendesak untuk akan cita-cita hidup,[6]

Berdasarkan uraian diatas dapat disimpulkan bahwa terdapat banyak manfaat membaca dini pada anak diantaranya meningkatkan kecerdasan-kecerdasan anak serta mempersiapkan anak menuju jenjang pendidikan berikutnya. Menurut hemat penulis pada anak usia dini yang utama bukanlah hanya mengajarinya bisa membaca, tapi bagaimana cara kita untuk menumbuhkan minat baca buah hati kita

3. Meningkatkan Minat Membaca Anak Usia Dini

Membaca bukan hanya sekedar mampu melafalkan tulisan saja. Kegiatan membaca buku merupakan kegiatan kognitif yang mencakup proses penyerapan pengetahuan, pemahaman, analisis, sintesis, dan evaluasi. Dengan terbiasa melakukan kegiatan itu, pengetahuan, imajinasi, dan krativitas anak terbuka lebar. Tidak berlebihan jika buku disebut sebagai jendela dunia sekaligus investasi masa depan. Anak boleh membaca buku apa saja selama isinya membawa nilai – nilai kebaikan. Jangan lupa, sifat pembelajar adalah salah satu kunci sukses di masa depan. Untuk menjadikan anak memiliki budaya baca yang baik, maka perlu melakukan pembinaan minat baca anak. Pembinaan minat baca anak merupakan langkah awal sekaligus cara yang efektif menuju bangsa berbudaya baca. Masa anak-anak merupakan masa yang tepat untuk menanamkan sebuah kebiasaan, dan kebiasaan ini akan tumbuh dewasa kelak.

Upaya menumbuhkan dan meningkatkan minat baca di Taman Kanak-kanak, bukannya tidak dilakukan pemerintah melalui lembaga relevan telah mencanangkan program minat baca. Hanya saja yang dilakukan pemerintah ataupun institusi swasta belum optimal. Karena itu perlu menumbuhkan minat baca anak sejak dini. Dengan menumbuhkan minat baca sejak dini diharapkan budaya membaca masyarakat Indonesia dapat ditingkatkan. Menumbuhkan minat baca anak harus melibatkan beberapa kompenen diantaranya:.

a. Orang tua

Banyak orang tua berpikir bahwa pendidikan anakdimulai ketika mereka memasuki sekolah setidaknya pada saat anak mereka memasuki play group dan Taman Kanak-kanak. Namun fakta menunjukkan bahwa sesaat setelah bayi lahir, otak bayi mulai berfungsi penuh dan siap menyerap semua informasi untuk digunakan kemudia oleh bayi tersebut. Karena itu mulailah proses pengajaran sejak kelahiran. Buanglah pemikiran bahwa pengajaran dan pendidikan hanya bisa dilakukan oleh guru disekolah atau mereka yang ahli dalam bidang pendidikan formal.

Orang tua yang kurang/tidak memperhatikan pendidikan anaknya misalnya mereka acuh tidak acuh terhadap belajar anaknya, tidak memperhatikan sama sekali kepentingan-kepentingan dan kebutuhan-kebutuhan anaknya dalam belajar, tidak mengatur waktu belajarnya, tidak menyediakan /melengkapi alat belajarnya, tidak memperhatikan anaknya belajar atau tidak, tidak mau tahu kesulitan belajar anaknya, kesulitan-kesulitan dalam belajar dapat menyebabkan anak tidak berhasil dalam belajar.[7]



Orang tua berperan aktif untuk membantu anak mereka yang masih kecil untuk menguasai yang masih kecil untuk menguasai kemampuan membaca agar mereka terhindar dari dari masalah dikemudian hari dalam pendidikan disekolah. “ tentunya untuk menumbuhkan rasa suka membaca orang tua harus menjadi contoh baginya. Rasa suka membaca akan tumbuh bika ia sering melihat orang tuanya membaca buku dalam kesehariannya”.[8] Ada beberapa langkah yang dapat dilakukan oleh lingkungan sekitar agar dapat menimbulkan minat baca pada anak:

1. Jadilah orang tua yang suka membaca

Anak adalah peniru ulung. Apa yang dilihat dan didengarnya akan mudah diserap dan ditiru. Ketika orang tua suka sekali nongkrong di depan TV untuk melihat telenovela, maka anak akan mengikuti apa yang dilakukan orang tuanya. Begitu pula ketika melihat orang tuanya serius membaca buku anak akan termotivasi untuk melakukan apa yang dilihatnya dari oang tuanya. Pada awalnya anak akan termotivasi untuk meniru orang tuanya ketika membaca buku, tetapi lama kelamaan anak akan menemukan keasyikan dan kenikmatan sendiri untuk membaca buku.

Orang tua tidak perlu memaksa anak untuk membaca. Karena pada dasarnya anak adalah suka meniru, maka dengan sendirinya mereka akan mengikuti apa yang dilakukan orang tua atau orang-orang yang ada disekitarnya.

2. Jadilah orang tua pendongeng

Orang tua dapat memperkenalkan anaknya yang masih balita dengan buku-buku yang terdapat gambar berwarna-warni. Anak usia dua tahun keatas umumnya sudah mengenal beberapa binatang dan beberapa benda. Pilihan buku cerita yang menceritakan hal-hal yang berhubungan dengan binatang kesukaannnya atau benda-benda yang ada disekitarnya.

Bukan berarti anak harus membaca sendiri buku tersebut. Tetapi orang tua harus pandai-pandai menjadi pendingeng yang aktif dan menarik, dengan bahasa yang mudah dimengerti.

Dengan memperkenalkan anak-anak pada nuku sejak dini untuk mencintai buku dan rajin membaca.

3. Berawal dari bacaan ringan

Langkah awal yang dapat dilakukan orang tua untuk menumbuhkan minat baca pada anak selain orang tua harus menjadi teladan adalah dengan memberikan bacaan-bacaan ringan tetapi menarik. Bacaan yang ringan tapi disukai anak adalah buku cerita yang bergambar tetapi sedikit teks.

4. Membuat perpustakaan mini

Salah satu usaha yang perlu dilakukan orang tua dalam membangun minat baca adalah membuatkan tempat khusus untuk buku-buku yang dimiliki anak. Ini adalah salah satu motivasi yang besar bagi orang tua untuk menumbuhkan dan membiasakan anak membaca.

5. Motivasi bukan paksaan

Dalam hal apapun pasti diperlukan motivasi, begitu pula menumbuhkan minat baca pada anak. Banyak sekali motivasi yang dapat diberikan orang tua untuk membiasakan anaknya membaca. Karena keinginan orang tua yang begitu kuat untuk membiasakan anaknya membaca maka banyak orang tua yang memaksakan anaknya rajin belajar dan membaca. Hal ini bukan memberi motivasi akan tetapi mematikan motivasi. Bila anak dipaksa yang terjadi adalah keinginan anak untuk membaca adalah karena paksaan bukan karena keinginanya sendiri, jadi anak akan mau membaca jika disuruh atau dipaksa.

6. Hindari kebiasaan menonton TV /VCD/play station secara berlebihan.

Berbagai penelitaian diungkapkan bahwa menonton televise bisa berpengaruh pada daya konsentrasi anak. Gambar yang berwarna-warni dengan gerak yang begitu cepat bisa menganggu konsentrasi belajar anak. Tayangan yang hanya memperlihatkan bacaaan dengan durasi waktu yang begitu cepat sehingga susah untuk dibaca dan diikuti mambuat anak malas membaca. Padahal untuk menikmati dan memahami bacaan dibutuhkan konsentrasi dan waktu yang lama bagi anak-anak. [9]



Untuk membudayakan minat baca orang tua dan lingkungan haruslah berperan aktif dalam menciptakan lingkungan yang mendukung anak untuk mulai menyukai kegiatan membaca. Diantaranya dengan menjadi orang tua yang gemar membaca dan suka membacakan dongeng untuk anak, tidak membiasakan anak menonton televisi secara berlebihan dan tanpa pengawasan, serta selalu memberikan motivasi agar anak menjadi anak yang percaya diri dan tertarik dengan kegiatan membaca.

b. Sekolah dan lingkungan

Faktor sekolah dan lingkungan juga mempengaruhi kemampuan membaca anak. Factor lingkungan itu mencakup latar belakang dan pengalaman dirumah, dan sosial ekonomi keluarga anak. Selanjutnya dalam kaitannya dengan pengembangan minat membaca anak di Taman Kanak- kanak, sekolah dalam hal ini Taman Kanak-kanak perlu memperhatikan:

1. Dimensi Edukatif Pedagogik

Dimensi ini menekankan pada tindak tanduk motivasional apa yang dilakukan oleh para guru dikelas, untuk semua bidang studi yang pada akhirnya anak akan tertarik dan memiliki minat terhadap kegiatan membaca untuk tujuan apa saja. Karena pengajaran saat ini adalah berpusat pada anak didik mak pengembangan minat baca hendaknya dimulai dari aktivitas belajar sehari-hari.

2. Dimensi Sosio Cultural

Dimensi ini mengandung makna bahwa minat baca anak dapat digalakkan berdasarkan hubungan dan kebiasaan anak didik sebagai anggota masyarakat , misalnya dalam masyarakat paternalistic, orang tua atau pemimpin selalu menjadi panutan . jika yang diajar memiliki panutan yang memiliki minat baca yang tinggi mak dapat diprediksikan bahwa anak juga dengan sendirinya terbawa situasi tersebut, artinya anak akan memiliki kegemaran membaca juga.


RELIANTI


--------------------------------------------------

[1] Sudjana (1996), Konsep Dasar Pendidikan Prasekolah, Bandung: Remaja Rosda Karya, hal.31


[2]Salehuddin (2000), Upaya Guru dalam Menumbuhkan Minat Baca pada Anak, Bandung: Asa Mandiri, hal.23


[3] Depdiknas. 2007. Persiapan Membaca dan Menulis Melalui Permainan. Jakarta: Depdiknas, hal.4-6


[4] Jasni Herlani (2008), Metode Pengembangan Bahasa, Jakarta: Gema Insani, hal. 24


[5] Taufik Adi Susilo (2011), Calistung,Jogjakarta: Hak cipta, hal. 11-13


[6] Jordan E. Ayan dalam Taufik Adi Susilo (2011), Calistung,Jogjakarta: Hak cipta, hal. 12-13




[7]Slameto (2010), Belajar & Faktor-Faktor yang Mempengaruhinya, cet. V, Jakarta: Rineka Cipta, hl.61


[8] Maimunah Hasan (2010), Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD), cet. II, Jogjakarta: DIVA Press, hal.318


[9] Ummu Hayya Nida (2009), Melejitkan Talenta Sang Buah Hati, Jakarta: Pustaka Al Kautsar, hal.216

Romeltea Media
JURNALGO PENDIDIKAN Updated at:

Perkembangan Bahasa Anak

Perkembangan anak diawali dari lingkungan keluarga, orang tua adalah Pembina pertama dalam kehidupan anak-anak begitu lahir yang mulai mengenali lingkungan dan orang-orang terdekatnya. Jiwa mereka yang masih lembut itu sangat dibentuk dan dicorak oleh lingkungan pertamanya yaitu keluarganya sendiri, anak adalah amanah Allah kepada orang tuanya. Anak yang baru lahir hatinya masih suci bagaikan kertas putih yang masih bersih dari segala corak dan warna, jika dibiasakan dan dibina untuk menjadi baik maka ia akan menjadi baik. Kalau anak sudah mampunyai prilaku baik maka kedua orang tuanya, para guru dan pendidikpun akan menuai kebahagian dunia dan akhirat. Keluarga adalah lingkungan pertama yang menjadi pangkal dan dasar hidup dikemudian hari.

Kehidupan keluarga yang aman dan tentram, prilaku yang baik hendaknya dapat dipraktekkan dalam kehidupan sehari-hari di lingkungan terdekat anak.

Dalam kehidupan keluarga cara membentuk prilaku anak adalah dengan cara membiasakan melakukan hal-hal yang baik. Pendidikan langsung diberikan oleh orang tua. pendidikan akan dinilai rampung bila anak mereka sudah dewasa siap untuk berumah tangga dan mampu mandiri setelah menguasai sejumlah keterampilan praktis sesuai dengan tuntutan dan kebutuhan hidup di masyarakat lingkungannya.

Pengembangan berbahasa anak dimulai dari menyimak, bercakap-cakap, bercerita, berkomunikasi. Perkembangan bahasa pada anak-anak yang baru dapat terlihat setelah anak memasuki usia satu tahun. Pada usia Taman Kanak-kanak yang umumnya berusia tiga sampai lima tahun serta terbagi dalam dua golongan,”golongan pertama yang berusia tiga sampai empat tahun diperkirakan menguasai 1.500 kosa kata dan menyukai bunyi dan irama la la la, sementara golongan kedua berusia empat sampai lima tahun menggunakan kalimat sudah mulai gramatis dengan penguasaan kosa kata sekitar 2.500 kosa kata”.[1]

Kegiatan menyimak anak hampir semuanya berpusat pada diri anak, terutama pada masa prasekolah, dimana perkembangan anak sangat egois, anak melihat dirinya sebagai pusat dunianya, segala sesuatu disekitar dirinya adalah untuk kepentingan dirinya, anak pada masa ini menciptakan dunianya sendiri. Kegiatan menyimak memang berawal dari kegiatan mendengar semua hal yang anak-anak dengar dan akan mereka simpan dalam memori mereka.

Kemudian bercakap-cakap dimana anak saling berkomunikasi lewat perasaan dan kebutuhan secara verbal, selain itu bercakap-cakap untuk terjadinya komunikasi yang merupakan proses dua arah yang diperlukan keterampilan mendengar, menyimak, dan berbicara. Keterampilan menyimak cukup berperan bagi anak dalam mengajak lawan bicaranya, tanpa keterampilan menyimak yang baik anak tidak akan mampu berkomunikasi dengan baik dan efektif, komunikasi yang efektif ditandai dengan adanya respon dari masing-masing yang berkomunikasi, baik berupa tanggapan jawaban atau pertanyaan. Bercakap terdiri dari dua jenis kegiatan yaitu monolog dan dialog.[2]

1. Monolog adalah berbicara aktif sedangkan yang lain hanyalah mendengarkan. Monolog merupakan kegiatan bercakap-cakap yang dilakukan olehsatu orang yang berbicaratanpa diberi tanggapan selain mendengarkan.[3]

Kegaitan monolog seperti guru meminta anak didik untuk menceritakan keadaan keluarganya, satu demi satu anak diminta berbicara didepan kelas untuk menceritakan keadaan keluarganya dan orang yang paling dekat dengan anak tersebut apakah nenek dan kakek atau mungkin tante dan pamannya bahkan pengasuhnya. Biasanya anak didik berbicara semau mereka, selama topic yang dibicarakan tidak menympang guru hanya memberi arahan jika anak didik sudah mulai kehabisan ide-ide dalam penyampaiannya.

2. Dialog, kegiatan dialog minimal dilakukan oleh dua orang pembicara yang berkomunikasi dua arah dan saling member tanggapan, kegiatan dialog yang terjadi pada anak didik bisa terjadi secara sengaja atau tidak sengaja. Kegiatan yang disebngaja terjadi dalam kelas baik antara anak dengan anak yang lain maupun antara guru dan anak didik.

Beberapa aspek yang dapat dikembangkan lewat dialog diantaranya adalah:

a. Perkembangan kognitif yang mampu meningkatkan kemampuan menalar, memecahkan masalah mengenal lingkungan fisik dan lingkungan sosial, mengenal symbol, mengenal orang dan lingkungan.

b. Perkembangan emosi, menunjang kemampuan menyatakan senang atau tidak senang mengenal orang, benda, situasi, kejadian dan pekerjaan.

c. Perkembangan sosial, menunjang perkembangan prilaku bergaul dan bekerjasama dengan orang lain.[4]



Berdasarkan pada pernyataan diatas guru menyediakan kesempatan seluas-luasnya kepada anak didik untuk mengembangkan kemampuan bercakap-cakap dengan memberikan pertanyaan-pertanyaan yang menunjang penambahan wawasan dan ilmu pengetahuan bagi peserta didik.



BUDIANTO

------------------------------------------------------

[1] E. Nuraeni (2000), Metode Pengembangan Kemampuan Berbahasa, Jakarta: Erlangga, hal.14


[2] E. Nuraeni, Metode Pengembangan…, hal. 13


[3] E. Nuraeni, Metode Pengembangan…, hal. 13


[4] E. Nuraeni, Metode Pengembangan…, hal. 16

Romeltea Media
JURNALGO PENDIDIKAN Updated at:

 
back to top