Peran Guru dalam Mengelola Kelas

Peran guru adalah mengarahkan perubahan dan perkembangan peserta didik dengan potensi yang dianugrahkan Allah Swt berupa akal yang kemudian dengan akal itu anak didik memperoleh ilmu pengetahuan yang bermanfaat bukan hanya untuk dirinya melainkan untuk masyarakat sekitar serta dengan ilmu itu anak didik dapat menjalankan perintah sebagai khalifah dimuka bumi ini.

Belajar merupakan aktivitas yang menghasilkan perubahan pada diri individu, baik yang actual maupun potensial, perubahan itu pada dasarnya berupa apa yang didapat kan lewat kemampuan baru, yang berlaku dalam waktu yang relative lama. Perubahan terhadap pandangan belajar mengajar membawa konsekuensi kepada guru untuk meningkatkan peran dan kompetensinya karena proses belajar mengajar dan hasil belajar anak didik sebagian besar ditentukan oleh peranan dan kompetensi guru. Guru yang kompeten akan mampu menciptakan lingkungan belajar yang efektif dan akan lebih mampu mengelola kelasnya dengan baik sehingga hasil belajar anak didik akan berhasil.

Guru hendaknya mampu mengelola kelas sebagai lingkungan belajar serta merupakan aspek yang perlu diorganissikan. Khususnya pada sekolah tingkat pemulaatau yang dikenal dengan Taman Kanak-kanak yang mana anak didiknya masih sangat memerlukan perhatian guru khuhsusnya dalam perspektif pengelolaan kelas.

Dunia pendidikan tidak bisa lepas dari apa yang dinamakan dengan keprofesionalan guru agar tujuan pendidikan dapat diraih sebagaimana yang diharapkan baik dalam hal psikologis anak, dilihat dari sudut pandang yang spesifik pengelolaan kelas yang baik merupakan tuntutan yang mampu harus dipenuhi oleh seorang guru. “peran guru dalam mengelola kelas dirumuskan dalam empat bagian yang merupakan kemampuan dasar bagi seorang guru yang meliputi bahan pelajaran, mengelola program pembelajaran pembelajaran, menggunakan media serta menilai prestasi anak. Berikut akan diuraikan tentang peran guru dalam mengelolaan kelas diantaranya:

1. Bahan Pelajaran

Sebelum seorang guru tampil di depan kelas, terlebih dahulu harus menguasai bahan yang dikontrakan sekaligus bahan yang dapat mendukung jalannya proses pembelajaran. Dalam hal ini yang dimaksud menguasai bahan bagi guru mengandung dua lingkup penguasaan materi yaitu menguasai bahan bidang studi dalam kurikulum sekolah dan menguasai bahan yang akan disajikan.

2. Mengelola program

Guru yang kompeten harus mampu mengelola program pembelajaran dengan baik, dalam hal ini ada beberapa langkah yang harus ditempuh antara lain:

a. Merumuskan tujuan intruksional pembelajaran

b. Mengenal dan dapat merumuskan proses instruktusional yang tepat

c. Melaksanakan proses pembelajaran

d. Mengenal kemampuan anak didik

e. Merencanakan dalam melaksanakan remedial.

Program pembelajaran merupakan dasar dan sarana pendukung bagi guru dalam melakukan kegiatan interaksi pembelajaran disekolah, dimana seorang guru dituntut untuk bisa menguasai keadaan anak didik. Karena tidak semua anak didik bisa diam dikala seorang guru sedang menyampaikan materi pembelajaran, sehingga guru harus betul-betul dapat menguasai keadaan anak.

3. Menggunakan media/sumber belajar

Menggunakan media atau sumber belajar, ada beberapa langkah yang perlu diperhatikan oleh guru antara lain:

a. Mengenal, memilih dan menggunakan suatu media

b. Alat bantu dalam pelajaran yang sederhana agar mudah didapat dan tidak menimbulkan penafsiran yang berbeda

c. Menggunakan buku sumber yang diperlukan lebih dari satu serta ditambah buku lain yang dapat menunjang

d. Menggunakan fasilitas perpustakaan dalam proses pembelajaran baik yang berhubungan langsung seperti buku panduan atau tidak langsung seperti gambar-gambar yang dibutuhkan dalam praktek belajar.



4. Menilai prestasi anak

Setiap anak pada dasarnya memiliki perbedaan antara satu dengan yang lain, perbedaan semacam ini dapat membawa akibat perbedaan-perbedaan pada pada kegiatan yang lain, seperti perbedaan dalam hal belajar. Persoalan ini perlu diperhatikan oleh seorang guru, karena dengan itu berarti guru dapat mengambil tindakan-tindakan instruktusional yang lebih tepat dan memadai.

Romeltea Media
JURNALGO PENDIDIKAN Updated at:

Konsep Pengelolaan (pengorganisasian) Kelas


1. Definisi Pengelolaan Kelas

Istilah mengelola kelas berasal dari dua suku kata, yaitu mengelola dan kelas. Mengelola merupakan arti kata dari manajemen. Kata ini berasal dari kata to manage yang berarti mengelola, memimpin atau mengarahkan.[1]

Menurut Kathryn M. Betrol dan David C Martin manajemen adalah proses untuk mencapai tujuan-tujuan organisasi dengan melakukan empat fungsi utama yaitu merencanakan (planing), pengorganisasian (organazing), memimpin (leading), dan mengendalikan (controlling).[2]

Kemudian untuk kelas sendiri akar katanya berasal dari bahasa yunani, yaitu scholea yang berarti tempat bermain-main atau bersenang-senang. Kelas juga bisa diartikan sebagai tempat untuk berinteraksi antara guru dan siswa dalam melakukan proses pembelajaran. Dalam hal ini kelas tidak tidak harus berada diruangan yang tertutup oleh tembok atau pembatas yang lain. Akan tetapi kelas ialah tempat dimana saja yang dapat digunakan untuk pembelajaran, seperti laboratorium, taman, sawah, kebun maupun meseum sejarah.

Pengelolaan kelas adalah suatu usaha yang dilaksanakan penganggung jawab kegiatan belajar mengajar atau membantunya dengan maksud tercapai kondisi optimal sehingga terlaksana kegiatan belajar mengajar seperti yang diharapkan. Sementara menurut Djama’an Satori, manajemen (pengelolaan) kelas adalah diartikan sebagai keseluruhan proses kerjasama dengan memanfaatkan semua sumber personel dan material yang tersedia dan sesuai untuk mencapai tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan.[3] Arikunto berpendapat bahwa pengelolaan kelas adalah suatu usaha guru (penanggung jawab) dalam membantu murid sehingga mencapai kondsi optimal pelaksanaan kegiatan belajar mengajar seperti yang diharapkan.[4]

Berdasarkan definisi diatas dapat disimpulkan bahwa pengorgasisasian (pengelolaan) kelas adalah suatu upaya mengatur dan mengarahkan proses interaksi antara peserta didik dan pendidik dalam satu tempat tertentu yang digunakan untuk melakukan kegiatan pembelajaran dengan tujuan mencapai hasil pembelajaran yang optimal.

2. Tujuan dan fungsi pengelolaan kelas

Mengelola kelas dalam proses pembelajaran sangat penting untuk dilakukan, lebih-lebih untuk pendidikan anak usia dini. Hal ini dilakukan supaya pembelajaran dapat berlangsung dengan baik dan optimal. Berikut beberapa tujuan pengelolaan kelas yang baik.

a. Mendorong siswa mengembangkan tingkah lakunya sesuai dengan tujuan pembelajaran.

b. Membantu siswa menghentikan tingkah lakunya yang yang menyompang dari tujuan pembelajaran.

c. Mengendalikan siswa dan sarana pembelajaran dalam suasana pembelajaran yang menyenangkan.

d. Membina hubungan interpersonal yang baik antara guru dengan siswa dan siswa dengan siswa sehingga kegiatan pembelajaran menjadi efektif. [5]



Adapun untuk fungsi-fungsi pengelolaan ini ada pendapat yang bebeda-beda. Namun diantara pendapat-pendapat tersebut dapat diambil benang merahnya sebagai berikut:

a) Perencanaan (planning)

Perencanaan ialah pemilihan atau penetapantujuan organisasi dan penentuan strategi, kebijaksanaan, proyek, program, metode, system, anggaran dan standar yang dibutuhkan untuk mencapai tujuan. Arti penting perencanaan terutama terutama untuk memberikan kejelasan arah bagi setiap kegiatan sehingga kegiatan dapat diusahakan dan dilaksanakan seefesien dan seefektif mungkin.

b) Pengorganisasian (Organizing)

Goeorge R Terry mengemukakan bahwa pengorganisasian adalah tindakan mengusahakan hubungan-hubungan kelakuanyang efektif antara orang-orang sehingga mereka dapat bekerjasama secara efesien, dan memperoleh kepuasan pribadi dalam melaksanakan tugas-tugas tertentu, dalam kondisi lingkungan tertentu guna mencapai tujuan atau sasaran tertentu.

c) Pelaksanaan (actuating)

Kegiatan pelaksanaan yaituusaha menggerakkan anggota-anggota kelompokagar mereka berkeinginan dan berusaha untuk mencapai sasaran tertentu yang ditentukan. Dengan kata lain, suatu upaya untuk mewujudkan perencanaan menjadi kenyataan.

d) Pengawasan (controling)

Pengawasan ialah suatu kegiatan yang berusaha untuk mengendalikan agar pelaksanaan dapat berjalan sesuai dengan rencana dan memastikan apakah tujuan organisasi tercapai.[6]



Berdasarkan uraian diatas dapat simpulkan bahwa fungsi-fungsi pengelolaan kelas tersebut saling melengkapi sehingga tidak dapat dipisahkan satu sama lain hingga proses pembelajaran berjalan dengan baik

3. Prinsip-prinsip Mengelola Kelas

Keterampilan mengelola kelas berkaitan dengan kemampuan guru dalam mengambil inisiatif dan mengendalikan kegiatan pembelajaran sehingga berjalan secara optimal. Untuk itu perlu adanya prinsip-prinsip dalam mengelola kelas. Berikut adalah beberapa prinsip mengelola kelas:

a. Menunjukkan sikap tanggap

Tanggap terhadap perhatian, keterlibatan, ketidakacuhan, dan ketidak terlibatan dalam tugas-tugas kelas. Siswa merasa guru hadir bersama mereka dan tahu apa yang mereka perbuat.

b. Memberi perhatian

Pengelolaan kelas yang efektif terjadi apabila guru mampu membagi perhatiannya kepada beberapa kegiatan yang berlangsung dalam waktu yang sama.

c. Memusatkan perhatian kelompok

Kegiatan siswa dalam belajar dapat dipertahankan apabila dari waktu ke waktu guru mampu memusatkan perhatian kelompok pada tugas-tugas yang dilakukan.

d. Memberikan petunjuk yang jelas

Penyampaian informasi maupun pemberian petunjuk oleh guru harus secara jelas sehingga siswa tidak kebingungan.

e. Menegur

Apabila ada siswa atau kelompok yang bertingkah laku mengganggu dikelas, hendaknya guru memberikan teguran secara tegas dan jelas.

f. Memberi penguatan

Guru bisa memberikan penguatan terhadap hasil pembelajaran yang dicapai oleh peserta didik, seperti memberikan penghargaanataupun yang lainnya.[7]


Hasanahtun
----------------------------------------------------
[1] Suyadi (2011), Manajemen PAUD, Yogyakarta:Pustaka Pelajar, hal.67


[2] Rusman (2011), Manajemen Kurikulum, Jakarta: Rajawali Press, hal. 121


[3] Syarifuddin dan Irwan Nasution (2005), Manajemen Pembelajaran, Ciputat: Quantum Teaching, hal. 118


[4] Syarifuddin dan Irwan Nasution, Manajemen Pembelajaran…, hal. 118


[5]Muhammad Fadlillah dan lilif Mualifatu Khorida (2013), Pendidikan Karakter Anak Usia Dini, Jogjakarta: Ar-Ruzz Media, hal.142


[6] Muhammad Fadlillah dan Lilif Mualifatu Khorida, Pendidikan Karakter…, hal. 143-144


[7] Muhammad Fadlillah dan lilif Mualifatu Khorida, Pendidikan Karakter…, hal. 144-145

Romeltea Media
JURNALGO PENDIDIKAN Updated at:

Tugas dan Peran guru


Sebagai guru pastinya akan berusaha agar apa yang diajarkan dapat dimengerti dan dipahami melalui berbagai cara, strategi, metode dan semua itu betujuan untuk mencapai tujuan yang telah diprogramkan sebelum berlangsungnya pembelajarann.

Sebagaimana diketahui tugas guru dalam proses belajar adalah membentuk prilaku anak yang bertakwa kepada Allah SWT, mengajarkan pengetahuan serta mengembangkan kepribadian anak.[1] Dari uraian uraian tersebut maka akan dijelaskan berbagai tugas guru sebagai berikut:

1. Membentuk Prilaku anak yang bertakwa kepada Allah SWT.

Membentuk prilaku yang bertakwa kepada Allah SWT diperlukan adanya bimbingan dari guru untuk mengarahkan manusia kepada jalan Allah SWT, sebab dalam pendidikan mencakup semua aspek kehidupan dunia dan akhirat, sebagaimana sabda Nabi Muhammad SAW “setiap anak itu dilahirkan dalam keadaan fitrah kedua orang tuanyalah yang membuatnya menjadi seorang Yahudi seorang Nasrani maupun seorang Majusi.”[2]

Berdasarkan hadist di atas dalam pembentukan watak anak menjadi manusia yang beriman, peran guru selaku orang tua kedua setelah orang tua anak dirumah, peran guru sangat dibutuhkan agar manusia dapat bermasyarakat, mempunyai tata karma dalam sikap dan tingkah laku sesuai dengan ajaran Islam. Islam mengajarkan tentang penetahuan agama serta memberikan pengetahuan umum.

Proses pendidikan hanya berjalan dengan baik apabila lingkungan yang diciptakan oleh guru mempunyai sifat yang utuh, sehat dan seimbang, dan yang paling penting ialah lingkungan sekeliling anak akan mempengaruhi terhadap perkembangan anak.

2. Mengajarkan pengetahuan

Tugas guru selanjutnya adalah mengajarkan ilmu pengetahuan bagi anak. Ilmu pengetahuan sangatlah diperlukan karena dengan adanya ilmu dan keterampilan anak akan mudah hidup mandiri dan mampu membangun diri sendiri, karena zaman sekarang sangat diperlukan keterampilan untuk menyonsong masa depan yang lebih baik. Seperti yang diungkapkan oleh Ahmad Sabri “mengajar adalah meneruskan dan mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi” [3]

Keberhasilan anak didik merupakan objek atau sasaran yang paling utama bagi guru dalam proses pembelajaran selain dari pada tugas orang tua dirumah sebagai lembaga pendidikan yang pertama. Keberhasilan suatu pembelajaran yang hakiki tidak hanya terkait dengan ilmu pengetahuan yang bersifat duniawi akan tetapi harus adanya keterpaduan antara pengetahuan umum dan pengetahuan agama , yang tujuannya tidak lain agar pengamalan ilmu tersebut dapat mensejahterakan masyarakat pada umumnya. Dengan kata lain guru tidak hanya mengharapkan upah bulanan dari pemerintah akan tetapi harus adanya kesadaran bahwa mengajar ilmu pengetahuan itu merupakan tugas yang mulia dari Allah SWT.

3. Mengembangkan kepribadian anak

Didalam kehidupan proses interaksi tidak bisa terlepas dari setiap individu anak didik, itu artinya anak akan bergaul dengan orang lain. Hal ini kita jumpai dalam kehidupan bermasyarakat yang tentunya pasti adanya perbedaan dari sisi sifat, kemauan, serta keinginan yang berbeda antara yang satu dengan yang lain yang kemauannya itu merupakan implementasi dari apa yang dinamakan kepribadian bagi setiap individu peserta didik. Secara teoritis setiap manusia dibekali dengan akal dan nafsu jadi tugas guru menurut hemat penulis salah satunya adalah mendorong dan mengembangkan serta membimbing peserta ddik kearah yang positif (kepribadian yang baik.)

Peran guru dalam mendidik anak dilakukan secara bertahap sesuai dengan tingkat dan usia anak, peranan guru pada anak dilaksnakan secara lisan maupun dengan contoh dengan tujuan untuk membentuk dan membina prilaku anak agar memiliki kebiasaan baik dalam kehidupan sehari-hari.

Peran guru yang paling dominan dalam proses belajar mengajar dapat diklasifikasikan sebagai berikut:

a. Peran guru secara psikologis

Berbicara mengenai pembinaan sikap mental anak, maka bahasan tersebut memasuki ranah psikologis, sebagai guru profesiomal dituntut untuk dapat berbuat banyak hal berkaitan dengan pendidikan selain mengajar guru juga melakukan pendidikan, pembinaan terhadap anak didiknya. Maka tidak salah jika guru berperan sebagai psikolog bagi anak didiknya. Peran guru secara psikologis, karena guru dipandang sebagai berikut:

1. Ahli psikologis pendidikan yaitu petugas dalam bidang pendidikan, yang melaksanakan tugas-tugasnya atas dasar prinsip psikologi

2. Seniman dalam hubungan antara manusia (artist in human relation) yaitu orang yang membuat hubungan antar manusia untuk tujuan tetentu, dengan menggunakan teknik tertentu, khususnya dalam kegiatan pendidikan.

3. Pembentuk kelompok sebagai jalan atau jalan pendidikan.

4. Catalytic, yaitu orang yang mempunyai pengaruh dalam menimbulkan pembaharuan sering pula peranan ini disebut sebagai inovator (pembaharu).

5. Petugas kesehatan mental (mental hygiene worker) yang bertanggung jawab terhadap pembinaan kesehatan mental khususnya kesehatan mental siswa.[4]



Perbedaan karakter yang dimiliki masing-masing anak menjadikan guru sebagai pendidik harus mampu memahami perbedaan setiap individu murid.

Peran guru secara psikologis juga harus dapat membimbing, anak didiknya atas kelancaran proses pembentukan jati diri. Guru berkewajiban memberikan bantuan kepada murid agar mereka mampu menemukan masalahnya sendiri, mengenal diri sendiri dan menyesuaikan diri dengan lingkungannya.[5] Anak didik membutuhkan bantuan guru dalam mengatasi kesulitan-kesulitan pribadi, kesulitan pendidikan, kesulitan dalam hubungan sosial dan lain-lain. Oleh karenanya guru perlu memahami dengan baik tentang teknik bimbingan kelompok, penyuluhan individual, teknik evaluasi, psikologi kepribadian, psikologi belajar sehingga dapat dipahami bahwa pembimbing yang terdekat dengan anak didik adalah guru. Sebagai pembimbing dalam belajar guru diharapkan mampu untuk:

1. Mengenal dan memahami setiap siswa baik secara individu maupun kelompok.

2. Memberikan penerangan kepada siswa mengenai hal-hal yang diperlukan dalam proses belajar.

3. Memberikan kesempatan yang memadai agar setiap siswa dapat belajar sesuai dengan kemampuan pribadinya.

4. Membantu setiap siswa dalam mengatasi masalah-masalah pribadi yang dihadapinya.

5. menilai keberhasilan setiap langkah kegiatan yang telah dilakukannya.[6]


Berdasarkan paparan diatas dapat disimpulkan bahwa peran guru secara psikologis memang mutlak adamnya karena yang dihadapi guru adalah makhluk sosial dengan berbagai permasalahan yang muncul, serta tantangan hidup yang dihadapi anak semakin kompleks.

b. Peran guru sebagai Pembina

Peran guru sebagai Pembina pada dasarnya adalah peran guru dalam upaya membantu anak agar dapat mengembangkan segenap potensi yang dimilikinya melalui hubungan interpersonal yang akrab dan saling percaya. Salah satu peran yang dijalankan oleh guru sebagai Pembina dan untuk menjadi pembimbing yang baik guru harus memiliki pemahaman tentang anak yang sedang dibinanya.

Guru berusaha membina anak agar dapat menemukan berbagai potensi yang dimilikinya, membina anak agar dapat mencapai dan melaksanakan tugas perkembangan mereka, sehingga dengan ketercapaian itu ia dapat tumbuh dan berkembang sebagai individu yang mandiri dan produktif.

Agar guru dapat mengoptimalkan perannya sebagai Pembina, berikut ini beberapa hal yang perlu dipehatikan:

1. Guru harus memiliki pemahaman tentang anak yang sedang dibimbingnya. Misalnya pemahaman tentang gaya dan kebiasaan belajar serta pemahaman tentang potensi dan bakat yang yang dimiliki anak, dan latar belakang kehidupannya.

2. Guru dapat memperlakukan anak sebagai individu yang unik dan memberikan kesempatan kepada anak untuk belajar sesuai dengan keunikan yang dimilikinya.

3. Guru seyogyanya dapat menjalin hubungan yang akrab, penuh kehangatan dan saling percaya, termasuk didalamnya berusaha menjaga kerahasiaan data anak yang dibimbingnya, apabila data itu bersifat pribadi.

4. Guru senantiasa memberikan kesempatan kepada anak untuk mengkonsultasikan berbagai kesulitan yang dihadapi siswanya, baik ketika berada di dalam kelas maupun di luar kelas.

5. Guru sebaiknya memahami prinsip-prinsip umum konseling dan menguasai teknik-teknik dasar konseling untuk kepentingan pembimbingan anak, khususnya ketika anak mengalami kesulitan-kesulitan tertentu dalam belajarnya.[7]



Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa peran guru sebagai Pembina adalah menjaga, mengarahkan, dan membimbing agar anak tumbuh dan berkembang sesuai dengan potensi, minat dan bakatnya.

c. Peran guru secara pribadi

Sebagai guru yang berkecimpung dalam pendidikan, guru harus memiliki kepribadian yang mencerminkan seorang pendidik. Tuntutan akan kepribadian sebagai pendidik kadang-kadang dirasakan lebih berat dibandingkan profesi lainnya.

Ujian berat bagi guru dalam hal kepribadian ini adalah “rangsangan yang memancing emosi. Kestabilan emosi amat diperlukan namun tidak semua orang mampu menahan emosi terhadap rangsangan yang menyinggung perasaan, dan memang diakui bahwa setiap orang mempunyai tempramen yang berbeda.”[8] Guru yang mudah marah akan membuat peserta didik takut, dan ketakutan mengakibatkan kurangnya minat untuk mengikuti pembelajaran serta rendahnya konsentrasi, karena ketakutan mengakibatkan kekuatiran untuk dimarahi dan hal ini membelokkan konsentrasi peserta didik.

Kematangan emosi guru akan berkembang sejalan dengan pengalaman kerja, selama guru mau memanfaatkan pengalamannya. Dilihat dari segi dirinya sendiri, seorang guru berperan sebagai berikut:

1. Petugas sosial, yaitu seorang guru harus membantu untuk kepentingan masyarakat. Dalam kegiatan-kegiatan masyarakat guru senantiasa merupakan tugas-tugas yang dapat dipercaya untuk berpartisipasi di dalamnya.

2. Pelajar dan ilmuan, yaitu senantiasa terus menerus menuntut ilmu pengetahuan.

3. Orang tua, yaitu mewakili orang tua murid di sekolah dalam pendidikan anaknya.

4. Pencari teladan, yaitu senantiasa mencari teladan yang baik untuk siswa bukan untuk seluruh masyarakat.

5. Pencari keamanan, yaitu yang senantiasa mencarikan rasa aman bagi siswa.[9]



Berdasarkan uraian diatas dapat disimpulkan bahwa seorang guru yang patut di gugu dan ditiru harus memiliki kepribadian yang baik yang selalu dapat menjadi teladan, petugas sosial dan orang tua bagi peserta didiknya.

d. Peran guru dalam proses belajar mengajar

1. Guru sebagai demonstrator

Melalui peranannya sebagai demonstrator, lecturer, atau pengajar, guru hendaknya senantiasa mengusai bahan atau materi pelajaran yang akan diajarkan serta senantiasa mengembangkan dalam arti meningkatkan kemampuannya dalam hal ilmu yang dimilikinya karena hal ini akan sangat menentukan hasil belajar yang dicapai oleh siswa.

2. Guru sebagai pengelola kelas

Peran guru dalam mengelola kelas, hendaknya guru mampu mengelola kelas sebagai lingkungan belajar serta merupakan aspek dari lingkungan sekolah yang perlu diorganisasikan. Lingkungan ini diatur dan diawasi agar kegiatan-kegiatan belajar terarah kepada tujuan pendidikan

3. Guru sebagai mediator dan fasilitator

Sebagai mediator guru hendaknya memiliki pengetahuan dan pemahaman yang cukup tentang media pendidikan karena media pendidikan merupakan alat komunikasi untuk mengefektifkan proses belajar mengajar. Guru tidak cukup hanya memiliki memiliki kterampilan memilih media pendidikan, tetapi juga harus memiliki keterampilan memilih dan mengunakan serta mengusahakan media itu dengan baik.

Sebagai mediator gurupun menjadi perantara dalam hubungan antar manusia untuk keperluan itu guru harus terampil mempergunakan pengettahuan tentang bagaimana orang berinteraksi dan berkomunikasi. Tujuannya agar guru dapat menciptakan secara maksimal kualitas lingkungan yang interaktif. Dalam hal ini ada tiga macam kegiatan yang dapat dilakukan oleh guru, yaitu mendorong berlangsungnya tingkah laku sosial yang baik, mengembangkan gaya interaksi pribadi dann menumbuhkan hubungan yang positif dengan para siswa.

Sebagai fasilitator guru hendaknya mampu mengusahakan sumber belajar yang berguna serta dapat menunjang pencapaian tujuan dari proses belajar mengajar, baik yang berupa nara sumber, buku teks, majalah ataupun surat kabar.

4. Guru sebagai evaluator

Guru hendaknya menjadi evaluator yang baik, kegiatan ini dimaksudkan untuk mengetahui apakah tujuan yang telah dirumuskan itu tercapai atau belum, dan apakah materi yang diajarkan sudah cukup tepat.

Dengan penilaian, guru dapat mengetahui keberhasilan pencapaian tujuan, penguasaan siswa terhadap pelajaran serta ketepatan atau kefektifan metode mengajar. Informasi yang diperoleh melalui evaluasi ini merupakan umpan balik yang akan dijadikan titik tolak untuk memperbaiki dan meningkatkan proses belajar selanjutnya. Dengan demikian proses belajar mengajar akan terus menerus ditingkatkan untuk memperoleh hasil yang optimal.[10]



Hasanatun
-------------------------------------------------

[1] Saiful Bahri Djamarah (2002), Strategi Belajar Mengajar, Jakarta: Asdi Mahasatya, hal.8


[2] Syamsu Yusuf L.N. (2011), Perkembangan Peserta Didik, Jakarta: Rajawali Press,hal.21


[3]Ahmad Sabri (2010), Strategi belajar Mengajar & Micro Teaching, Bandung:Quantum Teaching, hal.66


[4] Ahmad Sabri, Strategi belajar…, hal.74


[5] Oemar Hamalik (2010), Proses Belajar Mengajar, Jakarta: Bumi Aksara, Cet XI, hal.124


[6] Slameto (2003), Belajar dan Faktor-faktor yang Mempengaruhinya, Jakarta: Rineka Cipta, hal. 100


[7] Depdiknas (2010), Pedoman Penilaian di Taman Kanak-kanak, Jakarta: Direktorat Pembinaan TK dan SD, hal 10-11


[8] E. Mulyasa (2010), Menjadi Guru Profesional, Menciptakan Pembelajaran Kreatif dan Menyenangkan, Cet. IX, Bandung: Remaja Rosda Karya, hal. 48.


[9] Moh. Uzer Usman (2006), Menjadi Guru Profesional, Cetakan. Ke-19, Bandung Remaja Rosda Karya, hal.13


[10] Ahmad Sabri, Strategi belajar…, hal.68-71

Romeltea Media
JURNALGO PENDIDIKAN Updated at:

Syarat Menjadi Tenaga Pendidik PAUD


Syarat untuk menjadi tenaga pendidik (guru) PAUD di Indonesia telah diatur dalam Permendiknas No. 16 tahun 2007 tentang Standar Kualifikasi Akademik dan Kompetensi Guru. Dalam Permendiknas tersebut dijelaskan bahwa untuk menjadi tenaga pendidik PAUD seseorang harus memiliki kualifikasi akademik minimum diploma empat (D-IV) atau sarjana (S1) dalam bidang pendidikan atau psikologi yang diperoleh dari program studi yang terakreditasi. Guru juga merupakan sosok pendidik yang mampu untuk menjadi panutan dan selalu memberikan keteladan, yang memberikan sejumlah ilmu pengetahuan kepada anak didiknya.[1]


Selain memenuhi syarat kualifikasi akademik sebagaimana yang disebutkan diatas, seorang guru TK/PAUD wajib pula memiliki kompetensi-kompetensi sebagai pendidik anak usia dini. Kompetensi ini sebagai tolak ukur kemampuan seseorang dalam melakukan proses pembelajaran. Adapun macam-macam kompetensi yang harus dimiliki guru TK/PAUD adalah sebagai berikut:

a. Kompetensi pedagogi, yaitu: kemampuan mengelola pembelajaran siswa yang meliputi pemahaman terhadap siswa yang meliputi pemahaman terhadap siswa, perancangan dan pelaksanaan pembelajaran, evaluasi hasil belajar dan pengembangan siswa untuk mengaktalisasikan potensi yang dimilikinya.[2]

Adapun kompetensinya sebagai berikut:

1. Memahami karakteristik peserta didik usia TK/PAUD yang berkaitan dengan aspek fisik, intelektual, sosial emosional, moral, dan latar belakang sosial-budaya.

2. Mengidentifikasikan potensi (kemampuan) awal peserta didik usia TK/PAUD dalam berbagai bidang pengembangan.

3. Mengidentifikasi kesulitan peserta didik usia TK/PAUD dalam berbagai bidang pengembangan.

4. Memahami berbagai teori belajar dan prinsip-prinsip bermain sambil belajar yang mendidik terkait dengan berbagai bidang pengembangan di TK/PAUD.

5. Menerapkan berbagai pendekatan, strategi, metode, dan teknik bermain sambil belajar yang bersifat holistik, otentik, dan bermakna, yang terkait dengan berbagai bidang pengembangan kurikulum.

6. Menentukan tujuan kegiatan pengembangan yang mendidik.

7. Menentukan kegiatan bermain sambil belajar yang sesuai untuk mencapai tujuan pengembangan.

8. Memilih materi kegiatan pengembangan yang mendidik yaitu kegiatan bermain sambil belajar sesuai dengan tujuan pengembangan.

9. Menyusun rencana semester, mingguan dan harian dalam berbagai kegiatan pengembangan di TK/PAUD

10. Mengembangkan indikator dan instrument penilaian.

11. Memahami prinsip-prinsip perancangan kegiatan pengembangan yang mendidik dan menyenangkan.

12. Mengembangkan komponen-komponen rancangan kegiatan pengembangan yang mendidik dan menyenangkan.

13. Menyusun rancangan kegiatan pengembangan yang mendidik yang lengkap baik untuk kegiatan didalam kelas maupun di luar kelas.

14. Menerapkan kegiatan bermain yang bersifat holistic, otentik dan bermakna.

15. Menciptakan suasana bermain yang menyenangkan, inklusif dan demokratis.

16. Memanfaatkan media dan sumber belajar yang sesuai dengan pendekatan bermain sambil belajar.

17. Menerapkan tahapan bermain anak dalam kegiatan pengembangan di TK/PAUD

18. Mengambil keputusan transaksional dalam kegiatan pengembangan di TK/PAUD sesuai dengan situasi yang berkembang.

19. Memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi untuk meningkatkan kualitas kegiatan pengembangan yang mendidik.

20. Menyediakan berbagai kegiatan bermain sambil belajar untk mendorong peserta didik mengembangkan potensinya secara optimal termasuk kreativitasnya.

21. Memahami berbagai strategi komunikasi yang efektif, empatik dan santun, baik secara lisan maupun tulisan.

22. Berkomunikasi secara efektif, empatik dan santun dengan peserta didik dengan bahasa yang khas dalam interaksi pembelajaran yang terbangun secara siklikal .

23. Menyelenggarakan penilaian dan evaluasi proses dan hasil belajar.

24. Menggunakan informasi hasil penilaian dan evaluasi untuk menentukan ketuntasan belajar.

25. Menggunakan informasi hasil untuk penilaian dan evaluasi untuk pemangku kepentingan.

26. Memanfaatkan informasi hasil penilaian dan evaluasi pembelajaran untuk meningkatkan kualitas pembelajaran.

27. melakukan refleksi terhadap pembelajaran yang telah dilaksanakan[3]



b. Kompetensi kepribadian, yaitu: kemampuan kepribadian yang mantap, stabil, dewasa dan arif, dan berwibawa yang akan menjadi teladan bagi peserta didik serta berakhlak mulia.

Adapun kompetensinya sebagai berikut:

1. Menghargai peserta didik tanpa membedakan keyakinan yang dianut, suku, adat-istiadat, daerah asal, dan gender.

2. Bersikap sesuai dengan norma agama yang dianut, hokum dan norma sosial yang berlaku dalam masyarakat, serta kebudayaan nasional Indonesia yang beragam.

3. Berprilaku jujur, tegas, dan manusiawi. Berprilaku yang mencerminkan ketakwaan dan akhlak mulia.

4. Berprilaku yang dapat diteladani oleh peserta didik dan anggota masyarakat disekitarnya.

5. Menampilkan diri sebagai pribadi yang mantap dan stabil.

6. Menampilkan diri sebagai pribadi yang dewasa, arif dan berwibawa.

7. Menunjukkan etos kerja dan tanggung jawab yang tinggi.

8. Bangga menjadi guru dan percaya pada diri sendiri.

9. Bekerja mandiri secara profesional.

10. Memahami kode etik profesi guru.

11. Berprilaku sesuai kode etik guru.[4]



c. Kompetensi sosial, yaitu: kemampuan pendidik sebagai bagian dari masyarakat untuk berkomunikasi dan bergaul secara efektif diantara peserta didik, sesama pendidik, tenaga kependidikan, orangtua/wali peserta didik, dan masyarakat sekitar.

Adapun kompetensinya sebagai berikut:

1. Bersikap inklusif dan objektif terhadap peserta didik dan teman sejawat, dan lingkungan sekitar dalam melaksanakan pembelajaran.

2. Tidak bersikap diskriminatif terhadap peserta didik, teman sejawat, orang tua peserta didik dan lingkungan sekolah karena perbedaan agama, suku, jenis kelamin, latar belakang keluarga, dan status sosial ekonomi.

3. Berkomunikasi dengan teman sejawat dan komunitas ilmiah lainnya secara santun, empatik dan efektif

4. Berkomunikasi dengan orang tua peserta didik dan masyarakat secara santun, empatik dan efektif tentang program pembelajaran dan kemajuan peserta didik.

5. Mengikut sertakan orang tua peserta didik dan masyarakat dalam program pembelajaran dan dalam mengatasi kesulitan belajar peserta didik.

6. Beradaptasi dengan lingkungan tempat bekerja dalam rangka meningkatkan efektifitas secagai pendidik, termasuk memahami bahasa daerah setempat.

7. Melaksanakan berbagai program dalam lingkungan kerja untuk mengembangkan dan meningkatkan kualitas pendidikan di daerah yang bersangkutan.

8. Berkomunikasi dengan teman sejawat, profesi ilmiah dan komunitas ilmiah lainnya melalui berbagai media dalam rangka meningkatkan kualitas pendidikan.

9. Mengkomunikasikan hasil-hasil inovasi pembelajaran kepada komunitas profesi sendiri secara lisan dan tulisan atau bentuk lain.[5]



d. Kompetensi professional, yaitu: penguasaan materi pembelajaran secara luas dan mendalam sehingga guru dapat membimbing siswa memenuhi secara standar kompetensi yang ditetapkan.

Adapun kompetensinya sebagai berikut:

1. Menguasai konsep dasar matematika, sains, bahasa, pengetahuan sosial, agama, seni, pendidikan jasmani, kesehatan, dan gizi sebagai sarana pengembangan untuk setiap bidang pengembangan TK/PAUD.

2. Menguasai berbagai macam alat permainan untuk mengembangkan aspek fisik kognitif, sosial-emosional, nilai moral, sosial budaya, dan bahasa anak TK/PAUD.

3. Menguasai berbagai permainan anak.

4. Memahami kemampuan anak TK/PAUD dalam setiap bidang pengembangan.

5. Memahami kemajuan anak didik dalam setiap bidang pengembangan di TK/ PAUD.

6. Memahami tujuan setiap kegiatan pengembangan.

7. Memilih materi bidang pengembangan yang sesuai dengan tingkat perkembangan peserta didik.

8. Mengolah materi bidang pengembangan secara kreatif sesuai dengan tingkat perkembangan peserta didik.

9. Melakukan refleksi terhadap kinerja sendiri secara terus menerus.

10. Memanfaatkan hasil refleksi dalam rangka peningkatan keprofesionalan.

11. Melakukan penelitian tindakan kelas untuk peningkatan keprofesionalan.

12. Mengikuti kemajuan zaman dengan belajar dari berbagai sumber.

13. Memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi dalam berkomunikasi.

14. Memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi untuk pengembangan diri.[6]



Hasanahtun

---------------------------------------------------------------------------





[1] Windisyah Putra (2014), Menghadirkan Lembaga PAUD Ideal di Indonesia, Takengon: Media Utama, hal.92


[2]Muhammad Fadlillah, Desain Pembelajaran…, hal.87


[3] Muhammad Fadlillah, Desain Pembelajaran…, hal.91-93


[4]Muhammad Fadlillah, Desain Pembelajaran…, hal. 93-94


[5]Muhammad Fadlillah, Desain Pembelajaran…, 94-95


[6] Muhammad Fadlillah, Desain Pembelajaran…, hal.95-95

Romeltea Media
JURNALGO PENDIDIKAN Updated at:

Strategi Guru


Strategi dapat diarti sebagai suatu upaya yang dilakukan oleh seseorang atau organisasi untuk mencapai tujuan. Strategi adalah suatu prosedur yang digunakan untuk memberikan suasana yang kondusif kepada siswa dalam rangka mencapai tujuan tujuan pembelajaran.[1] Strategi juga diartikan sebagai perencanaan yang berisi tentang serangkaian kegiatan yang di desain untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu.[2] Strategi dalam penelitian ini adalah suatu upaya yang dilakukan oleh guru dalam mengelola kelas untuk memberikan rasa kondusif pada anak dalam rangka mencapai tujuan pendidikan. Berbicara masalah strategi guru, pembahasan awal adalah mengenai guru dan kompetensinya sebagai pelaku dan pelaksana pencapaian tujuan pembelajaran melalui pengorganisian kelas.



Guru adalah orang yang berpengalaman dalam profesinya, dengan keilmuan yang dimilikinya dia dapat menjadikan anak didik menjadi orang yang cerdas.[3] Menurut Peraturan Pemerintah Republik Indonesia No 74 Tahun 2008 tentang guru dalam Bab I ketentuan umum dipasal 1 menjelaskan bahwa “ guru adalah pendidik professional dengan tugas utama mendidik,mengajar, dan membimbing, mengararahkan, melatih, menilai dan mengevaluasi peserta didik pada pendidikan anak usia dini jalur pendidikan formal, pendidikan dasar dan pendidikan menengah.



Pendidik (guru) Taman Kanak-kanak adalah pendidik yang bertugas di berbagai jenis layanan baik pada jalur pendidikan formal maupun non formal seperti, TK/RA, KB, TB dan bentuk lain yang sederajat.[4] Pendidik dalam konteks ini adalah setiap orang yang melakukan bimbingan, pembinaan, dan pengasuhan terhadap anak usia dini yang diwujudkan melalui proses pembelajaran yang telah direncanakan.


HASANAHTUN

-------------------------------------------------------

[1]Hamdani (2011),Strategi Belajar Mengajar, Bandung: Pustaka Setia, hal.18


[2] Sutarjo Adi Susilo (2012), Pembelajaran Nilai Karakter, Jakarta: Rajawali Press, hal.85


[3] Syaiful Bahri Djamarah dalam Windisyah Putra (2014), Menghadirkan Lembaga PAUD Ideal di Indonesia, Takengon: Media Utama, hal.166


[4] Muhammad Fadlillah (2012), Desain Pembelajaran PAUD Tinjauan Teoritik dan Praktik, Jogyakarta: Ar-Ruzz Media, hal.80

Romeltea Media
JURNALGO PENDIDIKAN Updated at:

Pembentukan Karakter Anak

1. Pengertian Karakter

Secara etimologis, kata karakter bisa bermakna tabiat, sifat sifat
kejiwaan, akhlak, atau budi pekerti yang membedakan seseorang dengan
yang lain atau watak.[1] Orang berkarakter berarti orang yang memiliki
watak, kepribadian, budi pekerti atau akhlak, dengan makna seperti
ini berarti karakter identik dengan kepribadian atau akhlak.
Kepribadian merupakan ciri-ciri karakteristik atau sifat khas dari
seseorang yang bersumber dari bentuk-bentukan yang diterima dari
lingkungan, misalnya keluarga pada masa kecil dan juga bawaan sejak
lahir.[2] Karakter sama dengan kepribadian. Kepribadian dianggap
sebagai ciri atau karakteristik atau gaya, atau sifat khas dari diri
seseorang yang bersumber dari bentukan-bentukan yang diterima dari
lingkungan, misalnya keluarga pada masa kecil juga bawaan sejak
lahir.[3] Pendapat lain mengatakan bahwa karakter ialah nilai-nilai
yang khas-baik (tahu nilai kebajikan, mau berbuat baik terhadap
lingkungan) terpatri dalam diri dan terejawantahkan dalam prilaku.[4]

Dari pendapat diatas dapat dipahami bahwa karakter sebenarnya mengacu
kepada serangkaian pengetahuan, sikap dan motivasi serta prilaku dan
kerampilan. Dengan demikan pendidikan karakter tidak sekedar
mengajarkan mana yang benar dan mana yang salah kepada anak, tetapi
lebih dari itu pendidikan karakter menanamkan kebiasaan tentang yang
baik sehingga anak paham, mampu merasakan dan mampu melakukan yang
baik. Pendidikan karakter ini membawa misi yang sama dengan pendidikan
akhlak atau pendidikan moral. Pembudayaan karakter mulia perlu
dilakukan dan terwujudnya karakter mulia merupakan tujuan akhir dari
proses pendidikan. Budaya yang baik di lembaga pendidikan, baik
sekolah, kampus maupun yang lainnya berperan penting dalam membangun
akhlak mulia di kalangan civitas akedmi dan para karyawannya.

Karakter adalah" siapakah dan apakah kamu pada saat orang lain sedang
melihat kamu. Karakter juga adalah sebuah kebiasaan yang menjadi
sifat alamiah kedua. selanjutnya karakter bukanlah reputasi atau apa
yang dipikirkan oleh orang lain terhadapmu.Demikian juga karakter
bukanlah seberapa baik kamu daripada orang lain, hakikatnya karakter
tidaklah tetap atau tidak relatif.[5].

Banyak orang tua yang masih bingung dan bertanya-tanya bagaimana cara
yang benar untuk membentuk karakter anak. Para orang tua yang
menyerahkan seluruhnya pembentukan karakter kepada guru atau
lingkungan di sekolah. Seharusnya karakter anak dibangun dari hal-hal
yang kecil yang ada di lingkungan rumah.

2. Pembelajaran Pendidikan Karakter

Dalam pembentukan karakter, pembelajaran merupakan salah satu hal
terpenting yang harus dilakukan. Dalam proses pembelajaran untuk
tujuan pembentukan karakter setiap lembaga pendidikan harus menerapkan
pembelajaran-pembelajaran yang sesuai diantaranya pembelajaran
berbasis kasih sayang, pembelajaran berbasis kebersamaan, pembelajaran
berbasis ketauhidan, pembelajaran berbasis kreativitas, dan
pembelajaran berbasis lingkungan.[6] Adapun jabaran pembelajaran
pendidikan dalam upaya pembentukan adalah sebagai berikut:

a. Pembelajaran Berbasis Kasih Sayang

Kasih sayang adalah kebutuhan jiwa yang paling pokok bagi manusia
termasuk bagi anak. Kasih sayang merupakan komponen dasar yang paling
utama dalam proses pembentukan karakter atau akhlak anak. Anak yang
kurang kasih sayang cenderung mempunyai karakter yang tidak baik.
Mendidik denan kasih saying selain diajarkan secara langsung dari
keluarga, juga dilaksanakan di sekolah. Mendidik dengan kasih sayang
merupakan usaha tersendiri bagi pendidik.

b. Pembelajaran Berbasis Kebersamaan

Pembelajaran berbasis kebersamaan merupakan strategi belajar dengan
sejumlah siswa sebagai anggota kelompok kecil yang kemampuannya
berbeda-beda, setiap anggota harus saling bekerjasama, belajar belum
dikatakan selesai jika salah satu teman dalam kelompok belum menguasai
pelajaran. Dengan menerapkan konsep pembelajaran berbasis kebersamaan
setiap anak akan mempunyai tanggung jawab tentang pentingnya
menghargai orang lain, bertanggung jawab dan memberikan kesempatan
kepada orang lain untuk berpendapat dan berkeksplorasi.

c. Pembelajaran Berbasis Ketauhidan

Makna tauhid berarti mengesakan Allah atau kuatnya kepercayaan bahwa
Allah hanya satu. Hal ini berkaitan dengan akidah yaitu apa yang
diyakini oleh anak, akidah yang benar akan menjadi landasan seseorang
untuk melakukan amal perbuatannya. Akidah yang benar akan menuntun
anak untuk berbuat yang benar dan nilai-nilai kebenaran.

d. Pembelajaran Berbasis Kemandirian

Belajar mandiri memandang siswa sebagai manajer dan pemilik tanggung
jawab dari proses pelajaran mereka sendiri. Belajar mandiri
mengintegrasikan self-management (manajemen konteks, menentukan
setting, sumber daya dan tindakan) dengan self monitoring (siswa
memonitor, mengevaluasi dan mengatur srategi belajarnya), kemandirian
sangat penting diajarkan kepada anak supaya anak saat beraktivitas
tidak bergantung dengan orang lain.[7]

e. Pembelajaran berbasis kreativitas

Kreativitas merupakan kemampuan yang mencerminkan kelancaran,
keluwesan, fleksibilitas dan orisinilitas dalam berpikir serta
kemampuan untuk berpikir serta kemampuan untuk mengelaborasi,
memperkaya, memerinci suatu gagasan. Sarana bermain adalah salah satu
cara untuk merangsang dorongan eksperimen dan eksploitasi yang penting
untuk mengembangkn kreativitas, pembelajaran ini juga bisa dilakukan
dengan bercerita karena dapat meningkatkan imajinasi dan fantasi
anak.[8]

f. Pembelajaran berbasis lingkungan

Lingkungan merupakan hal yang penting dalam proses pendidikan. Bagi
anak usia dini, lingkungan adalah tempat yang paling dominan untuk
mengembangkan segala potensi yang dimilikinya. Lingkungan berpengaruh
kepada kepribadian anak dan membentuk watak anak. Dalam upya
menanamkan pendidikan karakter sejak dini lingkungan perlu dibuat dan
dijadikan sebaga sarana pembelajran seoptimal mungkin yang pada
gilirannya anak dapat belajar mengenal diri sendiri maupun orang lain
atau bahkan masyarakat, serta lingkungan. [9]

3. Nilai-Nilai Pendidikan Karakter

Nilai-nilai pendidikan karakter harus diimplementasikan dalam
kehidupan sehari-hari dalam kehidupan anak. Pendidikan karakter lebih
menekankan kepada kebiasaan yan positif, kebiasaa-kebiasaan inilah
yang kemudian akan menjadi suatu karakter yang membekas dan tertanam
dalam jiwa anak. Berikut adalah nilai-nilai pendidikan karakter yang
dapat diimplemtasikan dalam kegiatan pembelajaran pada anak usia dini.

a. Relejius, yaitu sikap dan prilaku yang patuh dalam melaksanakan
ajaran agama yang di anutnya, toleran terhadap pelaksanaan agama lain
dan hidup rukun dengan pemeluk agama lain.

b. Jujur, yaitu prilaku yang didasarkan pada upaya menjadikan
dirinya sebgai orang yang selalu percaya dalam perkataan, tindakan dan
pekerjaannya.

c. Torelansi, yakni sikap dan tindakan untuk menghargai setiap
perbedaan, baik agama, suku, etnis, pendapat, sikap dan pendapat orang
lain.

d. Displin, tindakan yang menunjukan prilaku yang tertib dan patuh
pada berbagai ketentuan dan peraturan.

e. Kerja keras, sikap atau prilaku yang menunjukan upaya
sungguh-sungguh dalam mengatasi berbagai hambatan belajar dan tugas,
serta menyelesaikan tugas dengan sebaik-baiknya.

f. Kreatif, berpikir dan melakukan sesuatu untuk menghasilkan cara
atau hasil baru dari sesuatu yang telah dimilikinya.

g. Mandiri, yang merupakan prilaku yang tidak mudah bergantung
kepada orang lain dalam menyelesaikan tugas-tugasnya.

h. Demokratis, cara bersikap dan bertindak yang menilai sama hak
dan kewajiban dirinya dengan orang lain.

i. Rasa ingin tahu, sikap untuk selalu berupaya untuk mengetahui
lebih dalam dari sesuatu yang telah dipelajarinya.

j. Semangat kebangsaan, berwawasan kebangsaan dan menempatkan
kepentingan bangsa diatas kepentingan diri dan kelompoknya.

k. Menghargai prestasi, sikap yang mendorong dirinya untuk
menghasilkan sesuatu yang berguna bagi masyarakat.

l. Bersahabat dan komunikatif, tindakan yang memperlihatkan
senang berbicara, bergaul dan bekerja sama dengan orang lain.

m. Cinta damai, yakni prilaku yang menyebabkan orang lain merasa
senang dan aman atas kehadirannya.

n. Gemar membaca, kebiasaan untuk menyediakan waktu untuk membaca
berbagai bacaan yang memberikan kebajikan dirinya.

o. Peduli lingkungan, sikap untuk perduli terhadap alam sekitar,
menjaga dan mengembangkan lingkungan sekitarnya.

p. Peduli sosial, sikap yang selalu ingin memberikan bantuan
kepada orang lain dan masyarakat yang membutuhkan.

q. Tanggung jawab, sikap atau prilaku untuk melaksanakan tugas dan
kewajibannya.[10]

Berdasarkan uraian diatas dapat disimpulkan bahwa penanaman nilai
karakter anak berarti menanamkan nilai moral agar anak memiliki akhlak
yang baik yang dapat menjadi bekalnya dimasa dewasa. Menurut
Indonesian Heritage Fondation seperti yang dikutip oleh Dharma Kesuma
ada 9 karakter yang perlu ditanamkan pada setiap diri anak Indonesia
yakni:

1. Cinta Tuhan dan segenap ciptaa-Nya (love Allah, Trust,
reverence, loyalty)

2. Kemandirian dan tanggung jawab (responsibility, excellence,
self reliance, discipline, orderliness)

3. Kejujuran/amanah, bijaksana (trustworthiness, reability, honesty)

4. Hormat dan santun (respect, courtesy, obidien)

5. Dermawan, suka menolong dan gotong royong (love, compassion,
caring, emphaty, generousity, moderation, cooperation)

6. Percaya diri, kreatif, dan pekerja keras (confident,
assertiveness, creativity, resourcarefulness, courage,
determinationand anthusiasm)

7. Kepemimpinan dan keadilan (justice, fairness, mercy, leadership)

8. Baik dan rendah hati (kindness, friendliness, humility, modesty)

9. Toleransi dan kedamaian dan kesatuan (tolerance, flexibility,
peacefulness, unity)[11]

Pembentukan karakter melalui penanaman nilai-nilai yang baik harus
dimulai sejak dini. Pembentukan karakter anak dari dini akan membentuk
pemimpin-pemimpin berkarakter yang baik di masa mendatang.






________________________________

[1] Doni Koesoma A (2010) Pendidikan Karakter: Srategi Mendidik Anak
di Zaman Modern Global, Jakarta: Grasindo, hal 80

[2] Doni Koesoma A, Pendidikan Karakter…, hal. 80

[3] Doni Koesoma A, Pendidikan Karakter…, hal. 81

[4] Muhammad Fadlillah dan Lilif Mualifatu Khorida, Pendidikan
Karakter…., hal. 21

[5]Fatchul Mu'in, (2011), Pendidikan Karakter: Kontruksi Teoritik dan
Praktek, Yokyakarta: Ar-Ruzz, hal 161.

[6] Muhammad Fadlillah dan Lilif Mualifatu Khorida, Pendidikan
Karakter…., hal. 21

[7] Muhammad Fadilah, Pendidikan Karakter Anak ....hal 119

[8] Iman Musbikin (2006) Mendidik Anak Kreatif Ala Einstein
Yogyakarta: Mitra Pustaka, hal 7

[9] Rita Mariyana (2010) Pengelolaan Lingkungan Belajar Jakarta:
Kencana Prenada Media Group, hal 34

[10] Muhammad Fadilah, Pendidikan Karakter Anak…,hal 119

[11] Dharma Kesuma, dkk, Pendidikan Karakter…, hal.14

Romeltea Media
JURNALGO PENDIDIKAN Updated at:

Tujuan Pembiasaan

Pembiasaan merupakan proses pembentukan kebiasaan-kebiasaan baru atau
perbaikan kebiasan-kebiasaan yang telah ada. Pembiasaan selain
menggunakan perintah, suri taulan dan pengalaman khusus juga
menggunakan hukuman dan ganjaran. Tujuan agar siswa memperoleh
sikap-sikap dan kebiasaan-kebiasaan baru yang lebih tepat dan positif
dalam arti selaras dengan kebutuhan ruang dan waktu. Selain itu, arti
tepat dan positif ialah selaras dengan norma dan tata nilai mural yang
berlaku, baik yang bersifat religius maupun tradisional dan
kultural.[1]

Dari penjelasan diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa tujuan metode
pembiasaan disekolah adalah untuk melatih serta membiasakan anak didik
secara konsisten dan kontinyu dengan sebuah tujuan, sehingga
benar-benar tertanam pada diri anak dan akhirnya menjadi kebiasaan
yang sulit ditinggalkan di kemudian hari.

Bentuk-bentuk pembiasaan pendidikan dalam pendidikan agama melalui
kebiasaan dapat dilakukan dalam berbagai bentuk yaitu:

a. Pembiasaan dalam akhlak, berupa pembiasan bertingkah laku
yang baik, baik disekolah maupun diluar sekolah seperti: berbicara
sopan santun, berpakaian bersih, hormat kepada orang tua dan
sebagainya.

b. Pembiasaan dalam ibadah, berupa pembiasaan shalat berjamaah di
musholla sekolah, mengucapkan salam ketika masuk kelas, serta membaca
"basmalah" dan "hamdallah" saat memulai dan menyudahi pelajaran.

c. Pembiasaan dalam keimanan, berupa pembiasaan agar anak
beriman dengan sepenuh jiwa dan hatinya. Dengan membawa anak-anak
memperhatikan alam semesta, memikirkan dalam merenungkan ciptaan
langit dan bumi dengan berpindah secara bertahap dari alam narutral
kea lam supranatural.[2]

Pembentukan kebiasaan-kebiasaan tersebut terbentu melalui
pengulangan dan memperoleh bentuknya yang tetap apabila disertai
dengan kepuasaan. Menanamkan kebiasaan itu sulit dan kadang-kadang
memerlukan waktu yang lama. Kesulitan itu disebabkan pada mulanya
seseorang atau anak yang belum mengenal secara praktis sesuatu yang
hendak dibiasakannya. Oleh karena itu pembiasaan hal-hal yang baik
perlu dilakukan sedini mungkin sehingga dewasa nanti hal-hal yang baik
telah menjadi kebiasaannya.

3. Kekurangan dan Kelebihan Metode Pembiasaan

Terdapat kekurangan dan kelebihan metode pembiasaan yaitu sebagai berikut.:

a. Kelebihan

1) Pembentukan kebiasaan yang dilakukan dengan mempergunakan
metode pembiasan akan menambah ketepatan dan kecepatan pelaksanaan.

2) Pemanfaatan kebiasaan membuat gerakan-gerakan yang kompleks
dan rumit menjadi otomatis.

3) Pembiasaan tidak hanya berkaitan dengan lahiriyah tetapi juga
berhubungan dengan aspek batiniyah.[3]



b. Kekurangan

1) Metode ini dapat menghambat bakat dan inisiatif murid,
hal ini oleh murid lebih banyak dibawa konformitas atau kesesuaian dan
lebih diarahkan kepada uniformitas atau keseragaman.

2) Kadang-kadang pelatihan yang dilaksanakan secara
berulang-ulang merupakan hal yang monoton dan mudah membosankan.

3) Membentuk kebiasaan yang sangat kaku karena murid lebih
banyak ditujukan untuk mendapatkan kecakapan memberikan respon
otomatis tanpa intelegensinya.

4) Dapat menimbulkan verbalisme yang bersifat kabur atau
tidak jelas karena murid lebih banyak dilatih menghafal soal-soal dan
menjawab secara otomatis.[4]



Dari gambaran mengenai kelebihan dan kekurangan metode pembiasaan
tersebut selaku pendidik harus melakukannya secara bijak. Agar
pembiasaan tersebut bermanfaat dan menghasilkan perubahan prilaku yang
diharapkan.


________________________________

[1] Muhibbin Syah (2000) Psikologi Pendidikan, Bandung: Remaja Rosda
Karya, hal 123

[2] Ramayulis (1994) Ilmu Pendidikan Islam, Jakarta: Kalam Mulia, hal 187

[3] Muhibbin Syah , Psikologi Pendidikan… hal 123

[4] Saiful Sagala (2003) Konsep dan Makna Pembelajaran, Bandung:
Alfabeta, hal 217

Romeltea Media
JURNALGO PENDIDIKAN Updated at:

Pembiasaan Pada Anak

Terdapat berbagai macam prilaku yang harus dibiasakan kepada anak
yang dengan kebiasaan tersebut maka sang anak kelak akan menjadi
pribadi yang kuat dan berguna bagi sesamanya, perilaku yang harus
dibiasakan kepada anak adalah sebagai berikut:

a. Pembiasaan kesopan santunan, yaitu pembiasaan yang merupakann
prilaku dalam kehidupan bermasyarakat yang tercermin dalam kehidupan
sehari-hari.

b. Suka menolong, yakni merupakan kebiasaan yang melekat pada
diri anak, anak yang terbiasa suka menolong, maka anak akan merasa
ringan tangan membantu orang lain yang memerlukannya, ini merupakan
kebalikan dari sikap cuek atau masa bodo, maka ia kan bersikap cuek
juga terhadap lingkungan sekitarnya.

c. Ketepatan waktu, kebiasan yang merupakan cerminan dari sikap
disiplin dalam segala hal dan juga tercermin dari sikap tanggung
jawab.

d. Rendah hati, pembiasaan ini merupakan penanaman sifat rendah
hati, anak yang memiliki sifat rendah hati lebih mudah diterima dalam
kelompoknya dan dihargai, kelak anak yang bersikap rendah hati maka
akan sangat membantu dalam kehidupan sosial.

e. Kemandirian, yaitu pembiasaan ini akan membentuk anak menjadi
mandiri dan pemberani dan akan sangat bermanfaat pada kehidupan
ditengah-tengah masyarakat.

f. Kedarmawan, pembiasaan ini akan membiasakan anak darmawan
kepada temannya, hal ini mengajarkan kepada anak tersebut untuk peka
pada lingkungan sosial dan sekitarnya.

g. Pembiasaan rajin belajar, pembiasaan ini dilakukan sejak anak
usia dini, anak diberi pengertian bahwa anak senantiasa selalu belajar
untuk meningkatkan wawasan pengetahuan. Penanaman pentingnya
pengetahuan adalah hal yang sangat penting sehingga anak akan berupaya
secara terus menerus untuk bida meraup pengetahuan sejalan dengan
perkembangan jaman.[1]



Hakikat pembiasaan sebenarnya berintikan pengalaman dan inti dari
pembiasaan adalah pengulangan. Dalam pembinaan sikap, pembiasan akan
sangat berguna untuk melatih kebiasaan-kebiasaan yang baik kepada anak
sejak dini, pembiasaan juga merupakan penanaman kecakapan-kecakapan
berbuat dan mengucapkan sesuatu, dalam pembentukan pada anak hendaknya
dibiasakan dengan etika umum yang harus dilakukan dalam pergaulan
sehari-hari, yaitu:

a) Dibiasakan mengambil dan memberi makan serta minum dengan
tangan kanan, jika makan dengan tangan kiri, diperingatkan dan
dipindahkan makannya ketangan kanan.

b) Pembiasaan mendahulukan anggota badan sebelah kanan dalam
berpakaian, ketika mengenakan kain, baju atau lainnya memulai dari
kanan dan ketika melepaskannya mulai dari kiri.

c) dilarang tidur tengkurak dan dibiasakan tidur miring ke kanan.

d) Dihindarkan untuk tidak memakai celana atau pakaian yang
pendek agar anak tumbuh dengan kesadaran menutup aurat dan malu
membukanya.

e) Dicegah menggigit jari dan menggigit kukunya.

f) Dibiasakan sederhana dalam makan minum dan dijauhkan dari sikap rakus.

g) Dibiasakan membaca basmalah ketika hendak makan dan minum.

h) Dibiasakan mengambil makanan terdekat dan tidak memulai makan
sebelum orang lain.

i) Tidak memandang dengan tajam kepada makanan maupun orang yang makan.

j) Dibiasakan tidak makan dengan tergesa-gesa dan supaya
mengunyah makanan dengan baik.

k) Dibiasakan memakan makanan yang ada, dan tidak menginginkan
yang tidak ada.

l) Dibiasakan membersihkan mulut dengan gosok gigi, setelah
makan, sebelum tidur dan sehabis bangun tidur.

m) Membiasakan untuk mendahulukan orang lain dalam makanan dan
permainan yang senangi dengan dibiasakan agar menghormati
saudara-saudaranya, sanak familinya yang masih kecil dan anak-anak
tetangga jika mereka melihatnya sedang menikmati suatu makanan atau
permainan.

n) Mengucapkan salam dengan sopan kepada orang yang dijumpaikanya.

o) Membiasakan mengucapkan terima kasih jika mendapatkan suatu
kebaikan sekalipun hanya sedikit.

p) Diajari kata-kata yang benar dan dibiasakan dengan bahasa yang baik.

q) dibiasakan menuruti perintah orang tua atau siapa saja yang
lebih tua, jika disuruh melakukan sesuatu yang diperbolehkan.

r) bila membantah diperingatkan supaya kembali kepada kebenaran
dengan suka rela, jika memungkinkan, tetapi jika tidak bisa dipaksa
untuk menerima kebenaran karena lebih baik dari pada membandel.[2]



Berdasarkan penjelasan teori diatas, dapat ditarik kesimpulan,
pembiasan pada anak merupakan hal penting yang harus diperhatikan baik
oleh orang tua maupun guru sebagai pendidik disekolah. Dengan
melakukan kebiasaan-kebiasaan secara rutinitas, anak-anak akan
melakukan kebiasaan tersebut tanpa diperintah

________________________________

[1] Tandriyanto (2009) Membentuk Anak Cerdas dan Tangguh, Yogyakarta: hal, 48

[2] Muhammad Fadillah & Lilif Maulifatu Khorida (2013), Pendidikan
Karakter Anak Usia Dini Jokjakarta: Ar Ruzz Media, hal 175-176

Romeltea Media
JURNALGO PENDIDIKAN Updated at:

Pengertian Metode Pembiasaan

Secara etimologi, kata metode berasal dari dua suku kata, yakni meta
dan hodos yang berarti jalan atau cara. Kata metode dapat diartikan
sebagai cara atau jalan yang harus dilalui untuk sampai pada tujuan
tertentu. Di dalam dunia pendidikan metode diartikan sebagai suatu
cara-cara untuk menyampaikan materi pendidikan oleh pendidik kepada
peserta didik, disampaikan dengan efektif dan efisien untuk mencapai
tujuan pendidikan yang telah ditentukan. [1]

Potensi dasar yang ada pada anak merupakan potensi alamiah yang dibawa
anak sejak lahir atau bisa dikatakan sebagai potensi pembawaan oleh
karena itulah, potensi dasar harus selalu diarahkan agar tujuan dalam
mendidik anak dapat tercapai dengan baik. Pengarahan orang tua kepada
anak dalam lingkungan keluarga sebagai faktor eksternal, salah satunya
dapat dilakukan dengan metode pembiasaan, yaitu berupa menanamkan
kebiasaan yang baik kepada anak.

Pembiasaan merupakan sebuah metode dalam pendidikan berupa "proses
penanaman kebiasaan" Sedangkan yang dimaksud dengan kebiasaan itu
sendiri adalah "cara-cara bertindak yang persistent uniform, dan
hampir-hampir otomatis (hampir-hampir tidak disadari oleh
pelakunya).[2] Orang tua berperan sebagai penanggung jawab dan
pendidik dalam keluarga. Dalam mendidik anak perlu diterapkan tiga
metode yaitu "meniru, menghafal dan membiasakan".[3] Pada metode
pembiasakan, operasionalnya adalah dengan melatih anak untuk
membiasakan segala sesuatu supaya menjadi kebiasaan. Sebab menurutnya,
"kebiasaan ini akan menimbulkan kemudahan, keentengan".

Metode pembiasaan ini adalah sebagai bentuk pendidikan bagi manusia
yang prosesnya dilakukan secara bertahap, dan menjadikan pembiasaan
itu sebagai teknik pendidikan yang dilakukan dengan membiasakan
sifat-sifat baik sebagai rutinitas, sehingga jiwa dapat menunaikan
kebiasaan itu tanpa terlalu payah, tanpa kehilangan banyak tenaga, dan
tanpa menemukan banyak kesulitan. Pembiasaan juga merupakan salah satu
metode pendidikan yang sangat penting, terutama bagi anak-anak. Mereka
belum paham tentang apa yang disebut baik dan buruk dalam arti susila.

Demikian pula mereka belum mempunyai kewajiban-kewajiban yang harus
dikerjakan seperti pada orang dewasa. Pada sisi yang lain mereka juga
memiliki kelemahan yaitu belum memiliki daya ingat yang kuat. Mereka
lekas melupakan apa yang telah dan baru terjadi. Sedangkan pada sisi
yang lain, perhatian mereka lekas mudah beralih kepada hal-hal yang
baru dan disukainya. Sehingga berkaitan dengan hal tersebut, mereka
perlu dibiasakan dengan tingkah laku, ketrampilan, kecakapan, dan pola
pikir tertentu. Anak perlu dibiasakan untuk mandi, makan dan tidur
secara teratur, serta bermainmain, berbicara, belajar, bekerja, dan
sebagainya khususnya adalah dibiasakan untuk melaksanakan ibadah.


________________________________

[1] Sugiono (2012), Metode Penelitian Pendidikan: Metode Kuantitatif,
Kualitatif dan R&D, Bandung: Alfabeta, hal 79

[2] Hery Noer Aly (1999),, Ilmu Pendidikan Islam, Jakarta: Logos
Wacana Ilmu, hlm. 184

[3] Muhammad Zein (1995) Methodologi Pengajaran Agama, Yogyakarta: AK
Group hal. 224

Romeltea Media
JURNALGO PENDIDIKAN Updated at:

Tugas-Tugas Perkembangan Masa Anak-anak

Untuk meletakan dasar perkembangan sikap, pengetahuan,
keterampilan dan daya cipta anak didik, guru perlu harus memahami
kemampuan-kemampuan apa yang mesti dikuasai anak didik, perkembangan
tahap awal masa kanak-kanak yang harus diselesaikan. Tugas
perkembangan merupakan tugas-tugas secara umum yang harus dikuasai
anak pada usia tertentu agar dapat hidup bahagia dan mampu
menyelesakan tugas-tugas perkembangan berikutnya. Tugas tugas
perkembangan masa kanak-kanak yang harus dijalani adalah sebagai
berikut:[1]



a. Berkembang menjadi pribadi yang mandiri, yaitu berkembang
menjadi pribadi yang bertanggung jawab untuk melayani dan memenuhi
kebutuhan sendiri pada tingkat kemandirian yang sesuai dengan tingkat
usia Taman Kanak-kanak.

b. Belajar memberi, berbagi dan memperoleh kasih sayang, yaitu
kemampung saling memberi dan berbagi kasih sayang antara anak yang
satu dengan anak yang lain untuk dapat hidup bermasyarakat secara
aman dan bahagai dalam lingkungan baru di sekolah.

c. Belajar bergaul dengan anak lain, mengembangkan berhubungan
dengan anak lain yang dapat menghasilkan dampak tanggapan positif
dari anak lain dalam lingkungan sekolah yang lebih luas daripada
lingkungan keluarga.

d. Mengembangkan pengendalian diri, yakni belajar untuk
bertingkah laku sesuai dengan tuntutan masyarakat. Anak belajar untuk
memahami setiap perbuatan itu memiliki konsekwensi atau akibat .
apabila anak memahami hal tersebut maka ia akan selalu berusaha untuk
memenuhi apa yang ingin ia lakukan sesuai dengan tingkah laku yang
dapat diterima oleh masyarakatnya, begitu dalam lingkungan sekolah.

e. Belajar bermacam-macam peran orang dalam masyarakat, yaitu
anak belajar bahwa di dalam masyarakat itu ada pekerjaan-pekerjaan
yang dilakukan orang-orang tertentu menghasilkan jasa layanan pada
orang lain dan hasil yang dapat memenuhi kebutuhan orang
lain.Contohnya pekerjaan-pekerjaan yang memberikan jasa layanan kepada
orang lain, dokter mengobati orang sakit, pak becak mengantarkan anak
kesekolah, tukang batu membangun rumah dan sebagainya, sedangkan
contoh pekerjaan yang memberikan hasil yang dapat memenuhi kebutuhan
orang lan: pak tani mengerjakan sawah untuk menghasilkan padi, juru
masak menghasilkan masakan untuk dimakan orang lain dan sebagainya.

f. Belajar untuk mengenal tubuh masing-masing, yakni mengenal
panca indra yang dimiliki, anggota tubuh yang dimiliki dan kegunaannya
dalam memperoleh pengetahuan dan dalam kaitan kegiatan makan,
melakukan kebersihan dan memelihara kesehatan serta kegiatan-kegiatan
yang lain.

g. Belajar menguasai keterampilan motork halus dan kasar,
maksudnya adalah anak belajar mengkoordinasi otot-otot halus untuk
melakukan pekerjaan menggambar, melipat, menggunting, membentuk dan
sebagainya. Kegiatan-kegiatan yang memerlukan koordinasi otot kasar
misalnya berlari, meloncat, menendang, menangkap bola dan sebagainya.

h. Belajar mengenal lingkungan fisik dan mengendalikan adalah
merupakan pengenalan terhadap ciri-ciri benda yang ada disekitarnya,
membandingkan ciri benda satu dengan yang lain. Menggolong-golongkan
benda-benda tersebut. Contoh mengenal ciri benda: mengenal bentuk
ukuran dan warna lainnya. Membandingkan antara benda yang satu dengan
yang lainnya berdasarkan bentuk dan warnanya. Dalam
menggolong-golongkan benda dapat menggolongkan berdasarkan bentuk
dan warnanya. Untuk dapat menggunakan secara tepat benda-benda
tersebut anak mendasarkan pada ciri-ciri yang dimiliki benda
tersebut.

i. Belajar menguasai kata-kata baru untuk memahami orang anak
atau orang lain, maksudnya belajar kata-kata baru dalam kaitan
benda-benda yang ada disekitarnya: namanya, ciri-cirinya, kegunaannya
dan sebagainya dari percakapan dengan anak atau orang lain.

j. Mengembangkan perasaan positif dalam berhubungan dengan
lingkungan, yaitu mengembangkan perasaan kasih sayang terhadap
benda-benda yang ada di sekitarnya atau dengan anak-anak atau
orang-orang disekitarnya.[2]



Dari teori diatas dapat disimpulkan bahwa, penguasaan guru
sebagai tenaga pendidik harus mempunyai wawasan tentang tugas
perkembangan anak didiknya. Pengetahuan dan wawasan ini akan sangat
membantu dalam perencaan pembelajaran dan juga dalam proses belajar,
yang pada gilirannya akan akan sangat bermanfaat bagi anak agar anak
dapat menjalani hidup dalam masa kanak- kanaknya dan menyiapkan diri
untuk menjadi orang dewasa kelak.


________________________________

[1] Moeslichatoen (1999) Metode Pengajaran di Taman Kanak-Kanak
Jakarta: Rineka Cipta, hal 4-5

[2] Moeslichatoen, Metode Pengajaran......., hal 4-5

Romeltea Media
JURNALGO PENDIDIKAN Updated at:

 
back to top